Deswita Anggraeni, seorang wanita berkepribadian baik dan ramah yang berasal dari keluarga sederhana. Di tengah kemelut hidup setelah kepergian kedua orang tuanya, dia dinikahi seorang pria yang berasal dari keluarga kaya, yakni Zidan Fakhrul Ghani.
Namun, di tengah kehidupan rumah tangga yang dijalaninya, dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibu mertuanya sangat tak menyukai kehadirannya sebagai menantu di keluarga itu. Berbagai cara telah dilakukan Deswita untuk mengambil hati sang mertua, tetapi kenyataan lain justru harus dia hadapi.
Hasutan demi hasutan dilakukan oleh ibu mertuanya, agar Zidan segera menceraikannya dan menikah dengan wanita pilihan ibunya.
Mampukah, Deswita meyakinkan sang suami dari segala hasutan tersebut? Dan apakah Zidan akan bertahan dengan pernikahannya atau justru terhasut oleh sang ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Bertahan Demi Sebuah Kebenaran
"Mau ke mana kamu, Mah?"
Mama Riana yang semula berjalan dengan sangat bersemangat, kini terlihat merengut karena pertanyaan suaminya.
"Mau arisan sama temen-temen."
"Sepagi ini?" Dahi Papa Fikar berkerut mendengar jawaban dari sang istri yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Kalau iya kenapa? Salah, kalau mama pergi pagi?" ketus Mama Riana.
"Mah, hormati Papa sebagai kepala keluarga di sini. Harusnya Mama bisa lebih sopan terhadap Papa," tegur Zidan.
"Diam kamu, Zi. Selagi kamu masih berhubungan dengan wanita kampungan itu, jangan harap mama akan bersikap baik di rumah ini." Tanpa mendengar ucapan dari suami dan anaknya, Mama Riana langsung berlalu pergi dari rumah.
"Maafin Zidan, Pah. Gara-gara Zidan, Papa jadi ikutan kena."
"Nggak apa-apa, Zi. Papa sudah biasa karena sudah hafal betul perangai mamamu seperti apa. Kamu nggak usah merasa bersalah," ucap Papa Fikar.
Di satu sisi, Silvia kembali mengaktifkan ponsel milik Zidan yang diambilnya tanpa ketahuan siapa pun. Dia ingin melihat pesan yang dikirmkan pada Deswita sebulan lalu.
"Sudah dibaca, tapi nggak dibalas. Sial," umpat Silvia.
"Jangan-jangan wanita itu tahu kalau isi pesan itu bukan dari Zidan," gumam Silvia sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Aku harus cepat lakukan sesuatu untuk menghancurkan hubungan mereka. Supaya Zidan merasakan apa yang aku rasakan dulu saat harus berpisah dan kehilangan Kak Rayhan untuk selama-lamanya."
**
Baru saja tiba di kantor, Revan sudah menunggu di ruangannya. Zidan pun langsung mendekati sang kakak yang duduk di sofa.
"Tumben banget ke sini pagi-pagi, ada apa, Kak?"
Revan menegakkan tubuhnya yang bersandar di sofa sambil menatap serius pada sang adik. "Kakak sudah menemukan pelaku utama dalam permasalahanmu."
"Kakak serius? Siapa orangnya?" tanya Zidan dengan antusias, sudah lama dia menunggu hingga harus rela menahan rindu yang teramat besar pada sang istri.
"Kamu akan tahu nanti. Yang terpenting sekarang, kita harus mulai membuat rencana untuk menjebak orang itu. Karena kakak sangat yakin, orang itu punya niat tersembunyi untuk menghancurkan hubunganmu dengan Deswita," ungkap Revan.
"Iya, Kak. Sore nanti kita bahas di rumah Kakak karena nggak mungkin kalau harus membahasnya di rumah papa atau di sini."
"Iya, nanti kamu langsung ke sana saja."
"Iya, Kak."
Setelah memberitahu Zidan tentang orang yang sedang dicurigai itu, Revan langsung berlalu pergi dari ruangan sang adik dan bergegas ke perusahaan milik sang mertua, yang tak lain orang tua Zhia.
Hati Zidan sudah sedikit lega karena tak lama lagi akan kembali bertemu dengan sang istri tercinta. Selama ini dia mencoba menahan segala rasa yang bergejolak demi mengungkap sebuah kebenaran.
......................
"Dhara," rengek Deswita saat putri kecilnya itu menolak untuk digendong dan lebih nyaman digendong oleh Aisyah.
"Wah, wah, kakak sekarang jadi uminya Dhara, ya. Kalau gitu, ikut kakak ke kampung halaman akung aja, ya."
"Eh, enak aja. Kalau mau punya anak, nikah dulu sana," protes Deswita.
"Nggak, ah. Anak aku, Dhara aja. Mending Kak Tata bikin lagi, jadi biar nggak rebutan," ujar Aisyah sambil cengengesan.
"Enak di kamu, eneg di aku."
Aisyah seketika terpingkal-pingkal mendengar ucapan terakhir Deswita. Dia memang sangat suka menjahili umi Dhara karena dia bisa merasakan rasanya punya saudara.
"Aisyah." Suasana mendadak hening saat Deswita terlihat hendak mengatakan sesuatu, tetapi ragu.
"Ada apa, Kak?" tanya Aisyah.
"Kalau aku ikut pindah kamu ke kampung halaman abah, gimana?"
"Hah? Kak Tata jangan aneh-aneh, deh. Kalau Kakak ikut ke sana, yang ada malah timbul masalah. Dikiranya aku, emak, dan abah ngajarin yang gak bener karena Kak Tata pergi tanpa izin dan sepengetahuan dari suami."
Deswita menundukkan kepalanya, ingin rasanya dia meluapkan beban yang dipendamnya saat ini.
"Kak Tata sebenarnya kenapa, sih? Coba cerita, barangkali bisa mengurangi beban Kakak," sambung Aisyah.
Deswita menghela napas panjang, sedikit mengurai sesak di dada. "Aku sebenarnya mau cerita sesuatu, tapi aku malu, Syah. Karena hanya bisa mengeluh tentang masalah yang aku hadapi."
Deswita mengambil ponsel miliknya, kemudian memerlihatkan pesan yang dikirim dari nomor suaminya. Sebelumnya dia juga sudah mengambil tangkapan layar untuk dijadikan bukti, jika memang itu pesan dari sang suami.
Aisyah menerima ponsel yang diberikan Deswita dan mulai membaca isi pesan tersebut.
"Kakak percaya dengan pesan ini? Maksudku, percaya kalau yang mengirim pesan ini Bang Zidan sendiri?" tanya Aisyah setelah selesai membaca pesan itu.
"Entahlah, antara percaya dan tidak. Karena nomor ponsel itu hanya khusus untuk aku, bahkan nomor orang lain pun ada di ponsel yang satunya," terang Deswita.
"Berarti Bang Zidan punya dua ponsel dan salah satu ponsel itu hanya khusus untuk menghubungi Kakak saja?"
"Iya, Syah. Makanya aku bingung, harus percaya atau tidak dengan isi pesan itu."
Aisyah terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. "Saran aku, sebaiknya Kak Tata cari kebenarannya dulu dan jangan bertindak gegabah. Atau enggak gini aja, Kakak perhatikan betul-betul setiap kata yang ada di pesan itu. Mirip ketikan Bang Zidan bukan."
Ya, apa yang dikatakan Aisyah ada benarnya, bahkan Deswita tak berpikir sampai ke situ.
"Iya, kamu benar. Nanti malam Kakak akan cari tahu."
"Semoga memang bukan ketikan Bang Zidan, ya, Kak. Walaupun aku belum lama mengenal kalian, tapi dari sorot mata dan perlakuan Bang Zidan, aku sangat yakin dia itu orang yang benar-benar tulus dan setia." Aisyah memberikan semangat pada Deswita agar tak mudah terhasut sesuatu.
"Iya, semoga saja memang bukan dari Mas Zidan. Makasih, ya, kamu udah mau dengerin cerita aku."
"Sama-sama, aku udah anggap Kak Tata seperti saudaraku sendiri, jadi jangan sungkan bercerita supaya nggak menjadi beban yang nantinya malah bikin perasaan nggak tenang. Kalau perlu rutinkan salat malam supaya dihindarkan dari prasangka buruk," ujar Aisyah.
"Iya, Syah."
Ada rasa lega setelah ada yang mau mendengarkan keluh kesahnya, beban yang memenuhi dada dan kepalanya kini sedikit terangkat. Dan Deswita hanya tinggal mencari tahu pasti siapa yang mengirim pesan itu menggunakan nomor ponsel sang suami.
"Aku harap, pesan ini memang bukan dari kamu, Mas. Jujur, dari lubuk hati yang terdalam, aku masih mengharapkanmu kembali bersama seperti dulu," batin Deswita.
menggantung ???