Pertemuan kembali dua sahabat lama yang kini telah sama-sama memiliki anak. Mereka berniat menjodohkan kedua anak mereka untuk lebih mempererat hubungan pertemanan yang telah lama terjalin.
Namun siapa sangka jika sebelum pertemuan dua sahabat lama itu, anak-anak mereka justru lebih dulu dipertemukan oleh takdir melalui kejadian-kejadian yang tidak pernah mereka duga sama sekali.
Arumi Nasha Razeta dan Arsyad Dzaki Mahendra, akan memulai kisah mereka di sini.
Apakah cinta dalam perjodohan itu benar adanya? Apakah pepatah Jawa yang mengatakan Witing Tresno Jalaran Soko Kulino itu akan berlaku di kehidupan keduanya? Dan akankah kehidupan mereka dipenuhi dengan kebahagiaan ataukah justru sebaliknya?
Jangan lupakan juga kehidupan kedua kakak mereka yang pastinya akan menambah bumbu sedap cerita ini..
WARNING:
Sisi lain cerita cinta dalam perjodohan. Tidak ada unsur penyiksaan maupun kekerasan terhadap pasangan. Cerita ringan dan semoga bisa menghibur para pembaca semua...
UPDATE
SELASA, KAMIS & SABTU
Happy reading semua, salam love, love, love😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19. Dua Minggu Lagi
Seluruh anggota keluarga Arum dan juga Arsyad nampak sedang menikmati kudapan yang ada di meja makan. Malam ini mereka terlihat begitu bahagia dengan acara lamaran yang baru saja selesai digelar. Meski hanya melibatkan kedua keluarga namun tidak sedikitpun mengurangi kebahagiaan mereka.
"Nit, aku seneng banget, akhirnya kita besanan", ucap ibu Risma sembari menyantap kue lapis yang ada di depannya.
Ibu Anita menyunggingkan senyumnya lebar. "Aku juga Ris, gak nyangka ya jika pertemanan kita dari SMA akan berlanjut ke sebuah hubungan keluarga seperti sekarang ini".
Ibu Risma pun mengangguk dan tersenyum tipis. "Lalu kira-kira kapan acara pernikahan anak kita akan diadakan Nit?".
Ibu Anita mengarahkan pandangannya ke arah suaminya. "Pa, gimana?, menurut papa, kapan pernikahan Arum dan Arsyad akan diadakan?".
Pak Herman terlihat seperti sedang berpikir. "Kalau papa sih terserah anak-anak saja ma". Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke arah Arumi. "Sayang, kamu pengen menikah kapan?".
Arum sedikit terperangah. Mengapa ayahnya menanyakan hal itu kepadanya. Ia bahkan tidak bisa memutuskan apa-apa. "A-Arum________"
"Dua minggu lagi om", timpal Arsyad memotong ucapan Arumi. Ia pun menghela nafas dalam. "Arsyad mau dua minggu lagi pernikahan kami diadakan".
Semua yang ada di sana pun terperangah. Dan bibir mereka sama-sama membentuk huruf O. Terlebih Arumi, ia tidak menyangka jika Arsyad akan memberikan sebuah keputusan seperti itu. Ia mengira pernikahannya akan diadakan tiga bulan yang akan datang atau mungkin tahun depan, ini malah dua minggu yang akan datang.
"Kamu serius nak?", tanya pak Herman sedikit ragu.
Arsyad mengangguk. "Arsyad serius om, dua minggu lagi, pernikahan Arsyad dan Arumi diadakan". Ia kemudian melirik ke arah Arumi. "Bukankah segala sesuatu yang baik itu harus disegerakan?".
Arumi yang saat itu juga menatap wajah Arsyad pun hanya tersenyum kikuk. "I-iya pa, Arumi setuju dengan mas Arsyad".
Pak Hendra yang sedari membisu kini terlihat terkekeh. "Pak Herman lihatlah, ternyata anak kita sudah menentukan hari pernikahan mereka sendiri. Jadi kita tidak perlu repot-repot memilihkan hari untuk mereka".
Pak Herman tersenyum sumringah. "Iya pak, tidak menyangka ya, saat awal mereka bertemu, mereka masih malu-malu, eh taunya diam-diam sudah menentukan waktu pernikahan mereka sendiri".
Yang ada di ruangan itupun seketika terbahak. Arum hanya tersenyum tipis.Ia melirik ke arah Arsyad mencoba meminta sebuah jawaban namun hanya dijawab dengan senyum simpul saja oleh Arsyad.
Pak Herman berganti melirik ke arah Haki yang saat itu sedang menikmati brownies kukus yang ada di hadapannya. "Ki, gimana?, kamu gak keberatan jika adikmu dua minggu lagi akan menikah?".
Haki meneguk air putih yang ada di depannya. "Ya gak masalah pa, memang kenapa?".
"Ya takutnya kamu merasa dilangkahi gitu Ki, secara kamu kan kakaknya", jawab pak Herman asal.
Haki terbahak. "Gak perlu pikirkan Haki pa, bentar lagi Haki juga akan nyusul. Justru sekarang Haki harus berbahagia". Ia kemudian menautkan pandangan ke arah Arum. "Karena adikku tersayang yang tidak pernah berhubungan dengan laki-laki mana pun ini, sebentar lagi ada yang menikahinya, hihihihi".
Mata Arumi membulat, bibirnya mengerucut. Ia tahu jika kakaknya itu sedang mengejeknya secara halus. "Kak Haki?!".
"Uppzzz, tapi bener kan dek?, ini untuk pertama kalinya kamu kenal dengan makhluk yang bernama laki-laki, eh taunya langsung akan dinikahi", timpal Haki masih dengan senyum jahatnya.
Lagi, semua yang ada di ruangan itu sontak tertawa renyah mendengar ucapan Haki. Arsyad melirik ke arah Arumi yang saat itu wajahnya sudah merah merona karena malu. Arsyad menyunggingkan sedikit senyumnya.
Ternyata aku adalah yang pertama. Dan tidak pernah aku sangka jika kamu benar-benar menjaga kehormatanmu untuk calon suamimu kelak.
***
Arsyad dan Arumi duduk di teras rumah. Sedangkan para orang tua, masih berada di ruang keluarga untuk membahas semua urusan yang di perlukan untuk acara pernikahan yang akan diadakan dua minggu lagi.
"Mas, sampeyan serius untuk menikah dua minggu lagi?", tanya Arumi membuka obrolan dengan Arsyad.
Arsyad memandang lekat netra wanita yang ada di hadapannya itu. Sedang yang ditatap tiba-tiba jantungnya berdegup tak beraturan. "Kamu keberatan?, ragu?, atau apa?".
"Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja rasanya kok terlalu cepat", jawab Arum.
"Lebih cepat lebih baik. Lagipula jika terlalu lama, takutnya malah tidak jadi", jawab Arsyad dengan nada getir. Saat ia mengatakan hal itu, seketika ingatannya tertuju pada kisah cintanya yang kandas di tengah jalan bersama Linda.
Arum terperangah. Ia menangkap sesuatu yang berbeda dari nada bicara Arsyad. "Maksud sampeyan?".
Arsyad mencoba menguasai gejolak dalam dadanya dan ia sunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pernikahan ini disegerakan. Dan aku rasa tidak perlu diundur-undur. Bukankah kamu juga sudah menyetujuinya?".
"Iya sih, tapi kita kenal juga baru saja lho mas, kita belum saling mengenal pribadi masing-masing, dan pastinya tidak ada cinta diantara kita", jawab Arumi lirih.
Arsyad tersenyum penuh arti. "Kamu bisa mengenal aku lebih dekat setelah kita menikah". Ia kemudian menghela nafas panjang, dipandangnya pohon mangga yang ada di halaman rumah Arum itu dengan pandangan kosong. "Tidak masalah jika belum ada cinta diantara kita. Karena yang sudah saling mencintai pun belum pasti akan sampai ke sebuah jenjang pernikahan".
Arumi mengernyitkan dahi memahami setiap kata yang terucap dari bibir Arsyad. Dari perkataan yang ia ucapkan seperti tersimpan sebuah cerita yang ada di dalam hidupnya.
Arsyad menautkan kedua alisnya melihat ekspresi Arum yang penuh tanda tanya itu. Ia kemudian tersenyum tipis. "Tidak perlu mencari tahu apa yang pernah ada dalam hidupku. Yang perlu kamu tahu, dua minggu yang akan datang, kamu akan menjadi istriku".
Bluussshhhh....
Seketika wajah Arumi memerah. Istri, sebuah kata yang begitu simpel namun begitu terasa menggetarkan jiwanya. Arumi tidak pernah menyangka jika akan secepat ini ia akan menyandang gelar sebagai seorang istri. Dia yang tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki di luar sana (pacaran), kini tiba-tiba ada seorang laki-laki yang akan segera memperistri nya.
"A-aku______"
Arsyad terkekeh. "Tidak perlu malu seperti itu. Kamu pasti amat bersyukur kan, bisa menikah dengan laki-laki tampan dan juga berkharisma seperti aku ini?".
Arumi mencibirkan bibirnya. "Issssshhh ternyata sampeyan itu memang narsis ya".
"Hahahaha memang kenyataannya seperti itu kan?", tanyanya pula. Hanya di jawab oleh cibiran kecil dari bibir Arum. "Oh iya, aku boleh minta sesuatu dari kamu?", sambung Arsyad pula.
Arumi terperangah. Belum apa-apa lelaki di depannya ini sudah berani meminta sesuatu. "Apa itu?".
"Kalau lagi ngobrol sama aku, jangan pakai kata sampeyan. Aku merasa seperti orang yang sudah tua kalau kamu menggunakan kata itu, padahal aku ini masih amat muda".
Cihh, muda apanya?, umur hampir kepala tiga kok dibilang amat muda! Muda dari Hongkong?
"Lalu?", tanya Arumi sedikit tidak paham.
"Ya aku, kamu saja, jangan pakai kata sampeyan", jawab Arsyad.
"Uuummmm baiklah kalau begitu", jawab Arumi.
Obrolan mereka pun terhenti ketika para orang tua keluar dari dalam rumah.
"Syad, kamu masih betah di sini?, kalau masih betah, tinggal di sini saja gimana, biar bisa berlama-lama dengan Arumi?", tanya pak Hendra dengan nada bercanda.
"Iihhhh si papa ini gimana?, belum boleh dong, mereka kan belum jadi menikah", timpal ibu Risma.
Pak Hendra terkekeh, kemudian menautkan pandangan ke arah calon besannya. "Atau kita nikahkan mereka malam ini saja gimana pak Herman, tinggal panggil penghulu sama saksi?".
Pak Herman terbahak. "Ide yang bagus itu pak, yang penting sah di mata agama dulu baru kita urus ke KUA, dan biar kita bisa cepet-cepet menimang cucu".
Mata Arumi dan Arsyad sama-sama membulat. Mereka terperangah mendengarkan ucapan pak Herman.
Sedangkan ibu Anita hanya menggelengkan kepalanya. "Papa, sudah dong, lihat tuh wajah anak-anak kita sudah memerah seperti itu", ucapnya sembari menunjuk ke wajah Arum juga Arsyad.
Pak Herman dan pak Hendra semakin terbahak. Melihat anak-anak mereka tersipu malu seperti itu.
Pak Hendra kemudian merangkul pundak Arsyad. "Sabar ya nak, dua minggu lagi, tidurmu akan ada yang menemani dan tidak akan sendiri lagi".
Mata Arsyad terbelalak "Papa?!!!!!!!"
.
.
. bersambung
Hai-hai para pembaca tersayang, terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel keduaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yaahh... happy Reading kakak... 😘
Salam love, love, love💗💗💗
bagus critanya
sprtinya prnh baca tp lupa
Iya lah anggap aja gang lain ngontrak.
Sekarang Arumi sudah menjadi istri yang seutuhnya.
Smoga aja Arsyad sudah mantap hatinya dan mencintai Arumi.
Kalau minta baik2 pun pasti Arumi kasih koq karena dia juga mengharapkan lebih dari perbuatan kamu tadi.
Emang sikap kamu manis sama Arum, tapi aku agak kecewa aja yang sepertinya kamu menghindari sesuatu.
Aku pikir .mulai ada rasa di hati Arsyad tapi liat dia memilih tidur di lantai rasanya koq sedih ya......