Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenal ibu Clara
"Apakah ibu mu galak?" tanya Arimbi saat Clara menjemputnya untuk tinggal di Mansion.
"Kalau aku bagaimana?" Clara bukannya menjawab malah bertanya balik pada Arimbi.
"Awalnya aku pikir kau sombong Ra, tapi makin lama aku merasa kau orang yang pertama begitu baik pada ku. Kau tahu sendiri kalau di kampung ku, tidak ada perempuan seumuran aku yang mau bergaul dengan ku. Mereka takut dicap jelek. Katanya berteman sama keluarga yang ada orang gilanya, lama-lama bisa ikut gila," sahut Arimbi.
"Aish, pikiran mereka mengapa bisa seperti itu? Sungguh terlalu!" omel Clara .
"Nah! yang namanya ibu dan anak tidak beda jauh, kalau menurut mu aku baik berarti ibu ku juga baik," sambung Clara lagi.
"Kalau begitu ibu ku gila berarti aku juga gila dong! Pantas banyak orang yang bilang sakit jiwa bisa menurun!" ujar Arimbi tertunduk lesu lagi. Bagaimanapun dia tetap khawatir kalau Hugo tahu dia punya ibu yang gila, mau kah Hugo mempunyai anak bersamanya?
Belum nikah saja kok sudah mikir masalah anak! tegur Arimbi pada dirinya sendiri.
"Itu dua hal yang beda, Bi! Sudah, pokoknya kalau kau sudah tinggal di mansion sambil menunggu hari pernikahan mu, kau jangan pernah kelepasan mengatakan kalau kau punya ibu yang sakit jiwa! Ingat itu!" pesan Clara.
"Baiklah," sahut Arimbi. Walaupun dalam hatinya merasa tidak enak dan bersalah, bagaimanapun dia merasa sedih tidak bisa mengakui sang ibu, tapi neneknya bahkan sudah setuju dengan Clara, mau tidak mau dia harus menurut walaupun dia merasa sudah menjadi anak durhaka.
*********
Begitu tiba di Mansion, Arimbi langsung disambut ibu Clara yang memang sejak tadi sudah penasaran, seperti apa calon istri Hugo.
Cantik sekali, pantas saja si Hugo berpaling dari si Fani! pikir Ibu Clara tersenyum ramah pada Arimbi. Membuat Arimbi menjadi salah tingkah. Clara segera menyenggol Arimbi, agar Arimbi memberi salam pada ibunya.
"Tante, kenalkan saya Arimbi, calon istri kak Hugo. Senang bertemu tante. Tante dan Clara mirip saudara saja, tante masih muda dan cantik," puji Arimbi dengan mulut manisnya.
"Bisa saja kau Arimbi! Panggil mama saja, toh sebentar lagi kau akan menjadi istri Hugo. Kini mama sudah punya dua anak gadis yang cantik-cantik," ujar Ibu Clara yang langsung suka pada pertemuan pertama, apalagi Arimbi bermulut manis.
"Aku yang masih gadis ma, bentar lagi kan Arimbi sudah bukan gadis kalau menikah dengan kak Hugo!" canda Clara menggoda sang ibu.
"Dasar iseng kau ini! Tuh lihat wajah Arimbi langsung memerah gara-gara omongan mu yang nyeleneh!" omel ibu Clara sambil memukul lengan Clara, sedangkan Clara hanya menanggapi ibunya dengan tertawa senang.
Huh! Clara pasti meledek aku. Dia kan tahu kalau aku sudah bukan gadis lagi! gerutu Arimbi dalam hati dan menunduk malu setiap teringat kejadian malam itu.
**********
"Aku tidak menyangka kalau ibu mu begitu baik, Ra. Ibu mu begitu lembut dan keibuan. Andai saja ibu ku normal, pasti akan seperti ibu mu!" ujar Arimbi. Saat itu Arimbi sedang memasukkan bajunya yang tidak terlalu banyak ke dalam lemari di kamar yang disediakan untuknya.
"Ibu ku memang lembut dan keibuan, makanya ibu berhasil mengikat ayah Hugo yang sudah tiga kali ganti istri, Ra!" sahut Clara dengan bangga.
"Makanya kau harus belajar pada ibu ku bagaimana cara mengikat seorang laki-laki agar tidak berpaling," sambung Clara lagi.
"Masak gituan juga harus pakai belajar?"
"Segala sesuatu harus dipelajari neng! Nanti kalau kau sudah dikasih uang belanja sama Hugo, sebaiknya kau ikuti beberapa les, biar bisa mengimbangi Hugo! Kalau perlu kuliah, bi!" anjur Clara.
"Aduh! Aku suka banget belajar Ra! Sayang dulu aku tidak ada kesempatan sekolah karena kekurangan biaya. Tapi bagaimana aku bisa kuliah kalau tidak mempunyai ijazah SMA, Ra?" tanya Arimbi semangat.
"Gampang Bi, kau ikut kejar paket saja. Mungkin sekitar dua tahun bisa lulus kalau otak mu tokcer. Kalau kau yakin bisa ikuti kuliah langsung, aku sarankan kau langsung beli ijazah saja. Bukankah lebih kilat dan praktis!" sahut Clara tersenyum nakal.
"Tapi itu kan artinya aku gak belajar dong!" protes Arimbi.
"Gak pa pa, minimal kan biar Hugo tahunya kau itu lulusan SMA bi! Ku lihat kau juga gak bodoh-bodoh banget. Langsung kuliah saja juga gak masalah bi!" tawar Clara.
"Tapi....," Arimbi menjadi ragu.
Rasanya kok semakin banyak kebohongan yang aku perbuat demi menikah dengan kak Hugo? Aku tidak ingin berbohong lagi, menyembunyikan keberadaan ibu ku saja hati ku sudah tidak tenang dan merasa bersalah! pikir Arimbi dalam hati
"Gak pa pa Ra! Aku sudah tidak mau berbohong lagi, biarlah aku ikut paket saja kalau memang aku mau sekolah. Tapi rasanya aku juga sudah tidak mau kuliah lagi, Ra! Biarkan saja, aku kalau sudah menikah paling juga sudah sibuk dengan urusan Rumah tangga ku!" sahut Arimbi memutuskan.
"Ya sudah, aku gak akan memaksa mu, aku hanya memberikan pilihan pada mu Bi! Kalau begitu, kau bisa ikuti les saja. Benar juga sih, kalau kau sudah menikah dengan Hugo, buat apa kau punya ijazah? Gak mungkin dong istri seorang Presdir kerja sama orang lain!" sahut Clara tidak memaksa lagi.
Tok..tok..tok
Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan percakapan Arimbi dan Clara, Arimbi segera menuju ke pintu dan membuka pintu kamar. Tampak ibu Clara berdiri di pintu dan tersenyum pada Arimbi.
"Ayo makan dulu Arimbi! Makan bareng, Hugo hari ini bisa kebetulan pulang Mansion. Padahal biasanya Hugo cuman pulang setiap hari Sabtu dan Minggu saja. Jangan-jangan kalian sudah janjian ya?" goda Ibu Clara.
"Enggak Tante," sahut Arimbi cepat sambil menggelengkan kepalanya. Hatinya tiba-tiba langsung berdetak cepat begitu mendengar nama Hugo disebutkan.
"Ha-ha-ha, kalau begitu kalian memang pasangan yang sehati. Hugo seperti tahu saja kalau kau ke sini." goda Ibu Clara.
"Ah Tante, ini hanya kebetulan saja? sahut Clara malu, sedangkan jantungnya berdetak semakin kencang.
Bersambung.............
langsung 2 bab ya
.
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan