Yumna tiba-tiba saja diculik oleh seseorang yang ternyata adalah kakak dari sahabat baiknya sendiri. Yumna lantas dikurung di villa milik Zayn, kakak dari sahabat baik Yumna, Zunia, yang baru saja meninggal karena sebuah kecelakaan mobil. Dan kenyataan bahwa ternyata Zayn sudah resmi menikahi Yumna membuat Yumna sangat syok.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa Zayn ( kakak Zunia ) sampai menculik dan mengurung Yumna, bahkan sampai menikahi Yumna secara paksa? Dan ada rahasia apa sebenarnya dibalik kecelakaan yang sudah menewaskan Zunia itu?
Bahkan rahasia dari identitas Yumna yang sesungguhnya pun akhirnya diungkap secara mengejutkan oleh Zayn. Bagaimana Yumna menjalani takdir hidupnya yang tiba-tiba berubah drastis ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Permohonan Seorang Ayah
Sudah hampir satu minggu Yumna menghilang. Malik, Yusuf, dan keluarganya yang lain juga tidak pernah berhenti berusaha untuk mencari keberadaan Yumna saat ini. Malik dan Yusuf juga sudah melaporkan tentang hilangnya Yumna kepada pihak kepolisian, bahkan mereka berdua juga sampai menyewa detektif pribadi untuk mencari keberadaan Yumna. Tetapi semua usaha Malik, Yusuf, dan keluarganya yang lain itu masih tetap belum membuahkan hasil sama sekali.
Tetapi ternyata, tanpa sepengetahuan Yusuf maupun keluarganya yang lain, Malik diam-diam melakukan penyelidikan sendiri tentang hilangnya Yumna dan juga tentang kecelakaan yang hampir dialami oleh Yuki kemarin itu. Malik bahkan juga menyelidiki tentang hubungan antara Yusuf dan Zunia. Dan ternyata, hasil yang didapatkan oleh Malik benar-benar sesuatu yang sangat mengejutkan.
🌿🌿🌿
Siang ini Malik sengaja datang ke perusahaan Zayn untuk menemui Zayn secara pribadi.
"Selamat siang, Tuan Zayn," sapa Malik begitu memasuki ruangan kantor Zayn.
"Selamat siang, Tuan Malik," balas Zayn.
Zayn berdiri dari kursi CEO kebesarannya. Zayn dan Malik kemudian saling berjabat tangan.
"Mari, silahkan duduk, Tuan Malik," kata Zayn mempersilahkan.
"Terima kasih, Tuan Zayn," balas Malik dengan tersenyum.
Zayn kemudian kembali mendudukkan dirinya di kursi CEO kebesarannya, sementara Malik juga mendudukkan dirinya di kursi yang terdapat di depan meja kerja Zayn tersebut.
"Jadi, ada masalah apa yang membuat Tuan Malik sampai datang ke sini siang ini?" tanya Zayn kemudian.
"Tuan Zayn, saya datang ke sini secara pribadi, bukan atas nama perusahaan saya. Dan, bolehkah kalau kita membicarakan tentang masalah pribadi juga? Masalah di luar pekerjaan maksud saya," jawab Malik, sekaligus bertanya kepada Zayn juga.
"Ah, tentu saja boleh, Tuan Malik. Silahkan. Hal apa yang ingin Tuan Malik bicarakan dengan saya?" Zayn pun mengiyakan.
"Tuan Zayn, bagaimana dengan kabar Yumna sekarang?"
Zayn tersentak kecil mendengar pertanyaan dari Malik tersebut. Tetapi sebisa mungkin Zayn berusaha untuk bersikap tetap tenang. Baru saja Zayn hendak membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu, tetapi Malik sudah lebih dulu melanjutkan perkataannya.
"Tuan Zayn, saya tahu kalau saat ini Yumna ada bersama Anda. Tetapi saya datang ke sini bukan untuk meminta Anda mengembalikan Yumna kepada saya dan keluarga saya. Karena saya juga sudah mengetahui kalau Anda sudah menikahi Yumna secara sah. Jadi secara tidak langsung, Yumna sekarang adalah tanggung jawab Anda," kata Malik.
Zayn terdiam. Tidak menyangka kalau Malik akan bisa mengetahui tentang masalah Yumna dan pernikahan mereka berdua secepat ini.
"Kalau begitu, kenapa Ayah harus seformal itu bicara denganku?" tanya Zayn yang mulai memanggil Malik dengan sebutan 'ayah'.
"Ah, iya. Baiklah, Zayn," ucap Malik yang juga mulai memanggil Zayn langsung dengan namanya, tanpa embel-embel 'tuan' lagi.
"Zayn, Ayah ingin meminta maaf sama kamu tentang masalah Yusuf. Ayah juga sudah mengetahui tentang masalah Yusuf dan adik kamu, Zunia. Ayah akui kalau Yusuf sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Dan Ayah juga bisa memahami kenapa sampai akhirnya kamu membawa Yumna pergi. Meski jujur saja Ayah belum bisa menebak alasan yang sebenarnya kenapa kamu sampai harus menikahi Yumna seperti ini," kata Malik, berusaha mulai membiasakan untuk mengakrabkan diri dengan Zayn.
Diingatkan tentang masalah Yusuf dan Zunia, rahang Zayn seketika mengeras. Amarah itu seakan kembali dirasakan oleh Zayn saat ini.
"Sungguh Zayn, seandainya Ayah tau tentang masalah ini dari awal, Ayah pasti akan memaksa Yusuf untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada Zunia. Apalagi Zunia juga sedang mengandung saat itu. Keturunan selanjutnya dari keluarga Wicaksono, dan juga keluarga Hartawan. Seandainya Ayah mengetahui semuanya ini lebih awal, Zayn. Ayah pasti tidak akan membiarkan semuanya sampai menjadi seperti ini. Tolong maafkan kami, Zayn," sesal Malik.
Malik tidak sedang mencari simpati. Penyesalan dan permohonan maaf yang disampaikan oleh Malik itu adalah tulus. Zayn tau itu.
Katakanlah itu adalah sebuah kelebihan yang dimiliki oleh Zayn. Zayn sangatlah peka. Dia bisa menilai niat atau maksud seseorang melalui gestur tubuh, raut wajah, dan juga perkataan dari orang tersebut.
"Tapi aku dan keluargaku sudah kehilangan Zunia, Yah. Kami kehilangan Zunia untuk selamanya. Sementara kalian, aku hanya mengambil Yumna. Kalian masih bisa bertemu dengan Yumna suatu saat nanti," ucap Zayn, penuh penekanan.
"Kamu benar, Zayn. Dan mau sebanyak apapun Ayah meminta maaf, itu tidak akan pernah bisa mengubah semua yang sudah terjadi ini. Tapi Ayah tetap mau meminta maaf sama kamu, Zayn. Tolong maafkan kami. Terutama Yusuf, jika kamu memang bisa," pinta Malik.
"Ayah dan yang lainnya tidak bersalah, tidak perlu meminta maaf. Tapi kalau untuk Yusuf, maaf Yah, tapi tidak semudah itu," balas Zayn.
Malik membuang nafasnya kasar.
"Hmh, Ayah bisa memahaminya, Zayn," ucap Malik. "Oh iya, Ayah juga mau mengucapkan terima kasih sama kamu, terutama sama nak Dennis juga. Terima kasih banyak karena kalian sudah menyelamatkan Yuki kemarin," lanjut Malik kemudian, berterima kasih.
"Apa Ayah juga sudah tau siapa dalang di balik kejadian kemarin itu?" tanya Zayn, sengaja memancing Malik.
"Davin. Adik sepupu dari almarhum Cakra, ayah kandung Yumna. Kamu pasti juga sudah mengetahui tentang rahasia asal usul Yumna yang sebenarnya kan, Zayn?" jawab Malik, sekaligus bertanya kepada Zayn.
"Ya. Aku udah tau, Yah," jawab Zayn.
"Baguslah. Jadi Ayah tidak perlu menjelaskan lagi sama kamu," ucap Malik.
"Tapi kenapa Yuki yang dijadikan sasaran, Yah?" tanya Zayn.
"Untuk mengancam Ayah. Davin sudah mengetahui tentang rahasia kalau ternyata putri Cakra masih hidup. Davin juga sudah tau kalau Ayah-lah yang sudah merawat Yumna selama ini. Dan mungkin karena sekarang Yumna menghilang, jadi Davin menduga kalau Ayah sengaja menyembunyikan keberadaan Yumna. Itu kenapa dia mau mengancam Ayah dengan mencelakai Yuki," jawab Malik, menjelaskan.
Ternyata semuanya tepat seperti apa yang sudah dipikirkan oleh Zayn kemarin itu.
"Apa Tuan Davin sudah pernah menemui Ayah dan menanyakan tentang masalah Yumna secara langsung kepada Ayah?" tanya Zayn lagi.
"Tentu saja tidak. Kalau sampai Davin melakukan hal itu, itu berarti Davin mengumumkan kepada semua orang bahwa putri kandung Cakra memang masih hidup. Kamu juga pasti tau kan kalau selama ini Tante Amira, ibu Cakra, yang berarti adalah nenek kandung dari Yumna, beliau juga masih selalu berusaha untuk mencari kebenaran tentang kejadian kecelakaan yang sudah menewaskan Cakra dan Yunita. Dan juga tentang menghilangnya Alisha, yaitu Yumna," jawab Malik.
"Ah, iya. Ayah benar juga," ucap Zayn.
"Zayn, karena kamu sudah mengetahui tentang kebenaran asal usul Yumna dan masalah Davin yang ingin merebut harta warisan Om Chandrawinata, Ayah ingin meminta tolong sama kamu. Tolong lindungi Yumna dengan baik, Zayn. Karena Ayah sangat yakin, Davin tidak akan berhenti hanya sampai di sini saja," kata Malik, meminta tolong kepada Zayn.
"Ayah tidak perlu khawatir. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti orangku. Apalagi hanya seorang Tuan Davin. Aku pastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuh Yumna," ucap Zayn, penuh keyakinan.
"Terima kasih banyak, Zayn. Ayah sudah merasa tenang sekarang," kata Malik dengan tersenyum.
Menarik nafasnya dalam, Malik pun kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Zayn.
"Hmm, Zayn, kapan kamu akan mengijinkan kami untuk menemui Yumna lagi?"
"Maaf Yah, tapi tidak dalam waktu dekat ini," jawab Zayn. "Aku masih ingin melihat kebingungan dan keputus-asaan Yusuf," lanjut Zayn.
"Ah, iya. Ayah bisa memahaminya. Ayah hanya berharap agar kamu bisa memperlakukan Yumna dengan baik, Zayn. Karena bukan Yumna, tetapi Yusuf yang bersalah dalam hal ini," kata Malik kemudian.
"Iya Yah, aku tau itu," balas Zayn.