"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 19
Sore setelah usai, aku bersiap kembali ke hotel. Suasana ballroom sudah mulai sepi, bahkan beberapa bridesmaid sudah pamit undur diri, karena malam harinya hanya acara khusus keluarga dekat dan kolega Papanya Mbak Wina.
Mbak Alina bahkan sudah menghilang sejak tragedi tadi, sampai bahuku menabrak seseorang yang langkahnya tergesa dengan pandangan mata ke sembarang arah seperti sedang mencari seseorang.
"Kamu Hanin, kan? Eh maaf tadi gak sengaja."
"Bapak mengenal saya?" jelas aku terkejut, siapa lagi ini ya Tuhan.
"Saya Kenaan, kekasih Alina. Dia gak bisa dihubungi sejak tadi, aku pikir dia sudah pulang."
"Pacar? Bukannya pacar Mbak Alina itu Mas Reyhan?"
"intinya, dimana Alina?" tanya laki-laki bernama Kenaan itu.
"Tadi dia berdebat dengan seseorang, bajunya basah lalu ditolong sepupunya Mbak Wina. Mending Mas cek cctv, biar lebih jelas kejadiannya."
Laki-laki itu pergi, setelah menyetujui ideku.
Aku pun tak kalah khawatirnya, sampai memilih kembali ke kamar dan menghubungi Sagara, karena pasti laki-laki itu tahu dimana mantan boss-ku.
Tok tok tok...
Ketukan pintu membuatku segera berlari membukanya, "ada apa?"
Sagara, ia berdiri menatapku dengan kening mengkerut.
"Kamu tadi nolongin Mbak Alina, sekarang dia dimana?"
"Nggak tau!" Sagara mengedihkan bahunya lalu menatapku dari atas sampai bawah.
"Seksi, tapi lempeng!"
Sialan, bisa-bisanya dia memuji sekaligus menghinaku bersamaan.
"Yaudah sana!" Aku bersedekap, meliriknya sinis.
"Keluar yuk?"
"Aku capek," keluhku. Dan benar, aku memang capek, rasanya ingin segera merebah lalu tidur sampai pagi. Menikmati waktu terakhirku di tempat nyaman sebelum pindah ke kosan sempit low budget.
"Emang udah makan? Bukannya tadi aku lihat kamu gak nyentuh apa-apa selain cake dan minum?"
Mataku membelalak, bagaimana ia bisa tahu?
"Kamu tahu?" tanyaku penasaran.
"Kamu lagi diet, atau frustasi?" Gara menaikkan alisnya menatapku. Tak berselang lama, ia melepas tuxedonya dan menyampirkan di bahuku.
"Pakai ini buat menutupi tubuhmu, ayo keluar cari makan."
"Uangku gak cukup buat ylaktir kamu!" sungutku, meski sebenarnya tak seperti itu. Plan pertama, aku memang harus menghemat pengeluaran.
"Aku yang naksir, eh tlaktir." Gara menarikku keluar kamar hotel dan membawaku ke restoran yang juga masih berada di area yang sama.
"Nanti uang kamu habis?"
"Pesan aja, aku tahu kamu lapar. Dibanding uangku yang habis, aku lebih takut kamu dibawa duda lalu dipelihara."
"Sagara! tega banget, dikira aku cewek apaan, hm?"
"Cewek yang kabur dari nikahan kakakmu karena calon suaminya adalah mantanmu! Itu yang aku tangkap dari kepingan-kepingan puzzle ceritamu kemarin!"
"Ya, emang bener sih." Aku pasrah, akhirnya cerita juga. Sagara sepertinya bukan orang yang jahat, dan selain pendengar yang baik, ia juga mengingat dengan baik ceritaku kemarin. Dan jujur, itu membuatku terharu.
"Aku sempet jadi pelakor karena ulah kakakku, tapi ya gitu."
"Endingnya? Dia malah main serong sama pacarmu? Ikan terbang banget gak sih?" ledek Sagara.
Aku tertawaaa, Gara punya bakat jadi komedian rupanya karena berhasil menghiburku.
"Terus-terus?"
"Ya bersambung, gak tau sekarang di kampung heboh apa!" sambil menunggu pesanan yang lumayan lama, kami saling cerita banyak hal.
'Aku ke kalimantan sementara untuk pengalihan isu, agar mereka tak mencarimy ke Jakarta. Dengar-dengar, Ibu jatuh sakit sejak kamu kabur. Tapi, Nin berita itu belum valid juga. Siapa tahu, Nau hanya memancing agar dirimu pulang.'
Pesan panjang Mas Firman membuatku menghela napas kasar.
"Kenapa? Ada masalah?" Gara rupanya memperhatikan gerak-gerikku sampai diri ini tak sadar, pesanan kami sudah di meja.
"Aku dituduh kabur sama laki orang?" gumamku pelan.
"Kok bisa?"
"Mantan suami kakakku, aku dituduh kabur dengannya."
"Jangan bilang, yang kamu jadi pelakor karena kakakmu itu untuk membalas mantan suaminya?"
"Benar, tapi suaminya gak salah. Dari awal, pacarku sudah lebih dulu masuk di hubungan mereka sampai menghasilkan anak."
"Ini rumit, Hanin!"
"Aku tahu, makanya aku sembunyi disini. Aku gak mau berada dalam lingkar kerumitan itu. Selama kakakku dan pacarku gak ngaku semuanya, aku mungkin gak akan kembali ke Bandung!"
"Ibumu?" tanya Sagara.
"Ibuku?" Ah Ibu, andai ibu tak menyuruhku menjual diri, mungkin aku akan lebih memikirkan beliau.