"Kamu manggil dosen kamu abang?!"
"Iya, gimana dong. Gak sengaja."
"Mampus Elvia, kuliah kamu kayaknya gak bakal tenang." Emang salah curhat sama Devi, bukannya bantuin cari solusi malah diketawain.
---
"Nanti saya telat, Pak. Saya gak mau dimarahin sama dosen saya. Dosen saya galak."
"Dosen kamu itu saya, Elvia."
"Ntar boss saya marahin saya lagi. Boss saya juga galak!"
"Harus berapa kali saya bilang ke kamu?" Elvia tertawa melihat wajah kesal Arfa.
"Saya bossnya, Elvia!"
---
Kisah tentang Elvia, mahasiswi yang hobi nitip absen. Lalu Arfa, dosen mulut samyang yang karena satu dan lain hal dipanggil abang oleh Elvia.
Mampir dulu yuk, siapa tahu nyantol. Cerita tentang dosen memang banyak, tapi cerita ini dijamin mampu membuat kalian menahan kesal saking gemasnya. Happy Reading!
Update seminggu dua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juliahsn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semalam Bobok Dimana?
Perjalanan selama kurang-lebih 3 jam kami lewati dengan perdebatan yang sengit.
Sebenarnya bukan perdebatan sih, karena aku selalu salah dan Pak Arfa selalu benar.
"Pak, laper."
"Kamu ga makan?"
"Enggak. Saya pikir nanti dinner-nya di pesawat aja gitu."
"Salah sendiri. Kalau mau cepat sampai, ga usah banyak minta." Tuh kan.
Salah aku? Jelas-jelas ini salahnya Pak Arfa!
"Salah Bapak lah ga ngode kalau mau anterin." Kilahku kesal.
"Memang kamu berharap saya kode seperti apa?"
"Kodelah, Pak. Telepon kek apa kek."
"Bukannya kamu blokir nomor saya?"
Mampus. Karena terlalu menghayati kegalauan yang melanda tadi. Aku pun memutuskan untuk memblokir nomor Pak Arfa. Biar kayak cinta aku juga yang sudah aku putuskan hubungan.
"Abang kamu tadi telepon saya. Kalau nggak, mana mau saya capek-capek anterin kamu."
Yah, padahal udah ngefly duluan. Dikirain cemburu tadi sama Mas Tamvan.
"Abang ngapain telepon?" Tanyaku. Sebenarnya gapapa sih, malah aku berterimakasih sama Bang Kelvin hehe. Berkat dia aku bisa berduaan sama Pak Arfa.
Modus akunya?
Gapapa, hehehe.
"Dia takut kalau kamu masuk pesawat. Trus pesawatnya bledug." Jawab Pak Arfa yang sama sekali tidak masuk akal.
Apaan coba?!
Jadi adegan dramatis tadi cuma gara-gara khayalan fantastisnya Bang Kelvin?
"Bohong."
"Ngaku aja, Pak. Memang pengen jemput saya kan?" Lanjutku.
Pak Arfa menjitak kepalaku pelan, "Pede banget kamu."
"Kalau ga pede, bukan saya berarti Pak."
"Salah apa saya bisa ketemu kamu."
"Malah mukjizat, Pak."
"Kamu bawel daritadi. Jadi laper gak?"
"Gak, Pak. Lapernya udah kepending gara-gara Bapak."
Pak Arfa menghela napasnya, "Yaudah. Gak jadi makan."
Yaelah, Pak.
Bercanda doang ini. Huhu.
💥💥💥
"Abang!!" Teriakku ketika baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah Papa.
Kalau rumahku saja sudah cukup gede, maka rumah Papa itu sudah semacam istana barbie. Hehe.
"Gak usah berisik lu!" Balas Bang Kelvin dari ruang tamu.
Huhu. Kangen Bang Kelvin.
"Bang, peluk ayoo.." Ucapku sembari merentangkan tangan.
Bang Kelvin menatapku jengah, "Mending lu balik deh dek. Repotin. Mana Arfa?"
Aku mengangkat bahuku tanda tak tahu, "Ga tahu, Bang. Katanya ada urusan."
Bang Kelvin menganggukan kepalanya seperti tahu sesuatu, "Oh, dia mau ke rumah calon mertua kali."
Siapa? Camer?
Berarti Pak Arfa sudah punya calon?
Kok rasanya ada suara kretek kretek yang muncul.
"Hah?"
"Apaan hah hih huh heh hoh. Pantes Arfa ga mau sama lu."
"Pak Arfa buta berarti kalau gak terjerumus dalam pesona seorang Elvia."
Aku pun menempatkan diriku di samping Bang Kelvin. Melihat aktivitas apa yang sedang ia kerjakan.
"Bang, lu ngapain sih daritadi?" Tanyaku kepo.
Bang Kelvin menjauhkan laptopnya dari pandanganku, "Anak kecil ga perlu kepo."
"Trus Abang ngapain disini?"
Bang Kelvin menggodaku, "Mau tau banget atau mau tau aja?"
Aku pun mendenguskan napasku kesal, "Bodo amat."
"Ciee, ngambek."
Aku pun menolehkan kepalaku ke laptop Bang Kelvin, "Ini kop suratnya perusahaan Papa kan?"
Aku gak bodoh kok sampai tidak tau mengenai hal-hal seperti itu. Aku tau kok hehe.
"Bang?" Tanyaku kembali.
Tumben-tumben Bang Kelvin diam.
"Abang jadi kerja di perusahaan Papa?" Tanyaku lagi ketika tidak mendapat jawaban yang pasti. Diam dari Bang Kelvin itu biasanya ada 2 pertanda. Pertanda baik dan buruk.
"Iya." Jawab Bang Kelvin pada akhirnya.
"Serius? Jadi sekarang aku punya abang CEO?" Ucapku dengan nada antusias.
Ya ampun, bayangin aja.
Punya abang CEO itu kayak habis menang lotre.
Kenapa?
Karena pasti kalau mau minta tiket konser EXO, album EXO, merchandise EXO gampang.
Tinggal pakek kartu kredit Abang aja. Hehe.
Tapi, yang jadi masalahnya tuh...
Bang Kelvin sama Papa gak akrab. Kok bisa?
"Apa? Mau tanya kok bisa?" Tebak Bang Kelvin.
"Iya, hehe." Aku mengangguk mengiyakan.
"Perusahaan Papa lagi ada masalah. Mau gak mau Abang harus turun tangan. Toh, dia juga masih ayah kita." Jelas Bang Kelvin dengan singkat, jelas, dan padat. Kayaknya Bang Kelvin belum mau cerita banyak alasannya ke aku.
"Yes! Bang, jangan lupa beliin tiket EXO ntar." Pintaku sembari memijat bahu Bang Kelvin.
"Tergantung gimana kelakuan lu ya. Duit gak jadi masalah. Malah, abang udah kebanyakan duit. Bingung mau buang kemana." Songong nih Bang Kelvin.
Untung Abang kaya..
Ga boleh durhaka, Elvia.
"Papa mana Bang?" Tanyaku melihat rumah gede tapi kayak gak berpenghuni.
"Papa lembur di kantor." Jawab Bang Kelvin.
Lembur atau selingkuh tuh di kantor?
Haha. Ga beda tipis kali ya?
"Dek." Panggil Abang.
"Apa?"
"Lu suka Arfa gak sih?"
Aku terdiam sejenak. Apaan sih Abang kok tiba-tiba kasih pertanyaan ga mutu.
"Apaan sih, Bang."
"Gue serius, kutil onta."
"Emang kenapa?"
"Siap-siap patah hati aja."
"Kenapa?"
"Kayaknya dia udah punya calon deh."
Jantungku berdetak tidak karuan, seperti ada yang nyeri. Moodku juga tiba-tiba anjlok.
Apakah ini yang dinamakan patah hati?
"Yaudah sih, Bang."
Jadi, selama ini aku cuman one sided love doang nih?
perasaan dulu pertama ketemu panggil Abang fotocopy 🤔