NovelToon NovelToon
LUDIRA

LUDIRA

Status: tamat
Genre:Romantis / Janda / Chicklit / Tamat
Popularitas:244.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Bahureksa

Namaku Ludira.
Janda berusia kepala tiga dengan anak perempuan berusia dua belas tahun. Hidup kami, aku dan putriku begitu tenang Damai dan lurus seperti jalan tol, hingga usaha pria bernama Narendra membuat kehidupan kami berdua menjadi berbeda.

Dekat dengan Narendra membuatku juga mengenal semua anggota keluarga Narendra, pria tampan baik hati cerdas dan bonusnya dia memang sedikit mirip dengan suamiku.

Narendra, pria yang membuatku harus berada di zona rumit dengan kondisi perasaan yang tidak menentu. Rasa ingin pergi meninggalkan Narendra begitu besar, namun saat menatap wajah berseri milik Almeera, putriku. Aku lelah, aku memilih bertahan dan menjalani semua ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahureksa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan Belas

"Assalamu'alaikum, Bu?" sapaku begitu sambungan telepon di angkat.

"Waalaikumsalam, Sayang. Lagi apa ini?"

"Ludira menganggu tidak ya? ini habis sholat subuh tadi."

"Enggak doong, Cucu Ibu lagi apa ya?"

"Lagi bantu masukin baju kotor ke mesin cuci, Bu. Maaf, Bu.. Hari ini Ibu ada agenda tidak ya?" tanyaku pelan.

"Tidak, Ra. Ini bapak ngajak Ibu buat bercocok taman di lahan belakang rumah, kemarin Narendra habis beli bibit sayur sayur."

"Saya sama Almeera mau silahturahim ke rumah Ibu."

"Ya Alloh, Alhamdulillah. Bapaaak!" Pekik kebahagian di ujung sana membuatku tersenyum meskipun rasa haru dan hatiku yang tersentuh ini membuat sedikit nyeri.

"Apa si, Bu. Teriak teriak." ucap Pak Basuki yang terdengar oleh telingaku.

"Nanti cucu kita mau pulang. Ibu masak apa ya Pak?" ujar ibu Basuki, seakan lupa bahwa aku masih terhubung di panggilan ini.

"Tanya saja sama Ludira atau Narendra, mau di masakin apa gitu." suara bapak yang tenang dan berwibawa itu menyadarkanku dari rasa haru biru.

Pulang? ah, terlalu berlebihan.

"Eh iya, aduh.. maaf ya Ludiraa. Kelewat bahagia sampai ibu lupa, mau jam berapa kesininya?"

"Jangan repot masak ini itu, Bu. InsyaAllah selepas sarapan kita berangkat. Terlalu pagi atau tidak ya, Bu?" tanyaku ragu, sebenarnya aku lebih memilih untuk datang sekitar pukul sepuluh. Namun putri kecilku itu bahkan meminta selepas berbenah kita berangkat. Rasanya tidak sopan jika harus bertamu di waktu sarapan.

"Sarapan di sini aja sekalian. Di jemput sama Narendra ya?"

Ah, Ibu. "Tidak bu, biar kita sendiri saja yang kesana,"

"Oke deh, tapi sarapan di sini saja ya? sekarang baru pukul segini. Lebih cepat lebih baik, syukur kalau nginap ya sayang."

Aku sedikit merasa bahwa Narendra ini cenderung mirip sama ibunya di banding bapaknya.

"Besok senin, Bu. Jadi maaf nggak bisa nginap." jawabku pelan.

"Kan bisa berangkat dari sini, sayaaang." ucap Ibu Basuki yang di susul suara deheman Bapak. Membuatku tertawa kecil.

"Ibu itu emang tipe di kasih jantung minta semuanya." Sahut Bapak keras.

Aku semakin tertawa lepas, aku yang sebatang kara dan setelah kehilangan Mas Dodi, kebahagian kecil seperti ini terasa mewah untukku.

"Bapak itu loo, sejelek jeleknya ibu... Bapak buktinya tidak bisa lepas dari ibu."

Aku berdehem, jangaaan sampai telingaku kembali menjadi bukti berapa romantisnya mereka berdua.

"Haha, jangan lupa ya sayang. Sarapan di sini atau di jemput Narendra."

"Iya, Bu. Kami usahakan sebelum waktunya sarapan sudah di sana. Tapi tolong biar kami berangkat sendiri saja."

"Duuh, nggak sabar ini ibu. Ibu tunggu yaaa."

"iya, sudah ya bu, Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

Setelah mematikan sambungan telepon, senyum masih saja mengembang di wajahku. Tentu saja bukan karena Narendra, tapi kebahagiaan bernama keluarga yang baru saja aku rasakan.

"Mamaaa.. Tolongin Almeera angkat ini, Maa." teriak putriku dari ruang laundry.

Mengenal Narendra itu bukan hanya memberikan efek positif bagi putriku, efek negatif nya juga begitu terasa nyata. Ini dari anak perempuan yang kalem, sekarang bisa teriak teriak begini.

"Ada apa sih sayang? Perlu banget ya teriak teriak begitu?" tegur kau halus yang di jawab permintaan maaf serta senyum penyesalan yang malu malu.

"Susah gini, Ma. Ini berat bangeet."

Aku menoleh ke arah bedcover yang di cuci oleh putriku, "Kok nggak bilang mau nyuci inii." ucapku pelan sambil mengambil bedcover tersebut. "Tadi Almeera sudah bilang, tapi mama lagi asyik telepon."

"Oh ya? Maaf ya. Tadi mama habis menghubungi Eyang. Terus kata Eyang kita harus sampai di sana sebelum waktunya sarapan."

"Horee Horeeee, Terima kasih mama."

"Terima kasih kembali sayang."

"Almeera siap siap aja kali ya maah?"

Aku mengangguk setuju dan putriku berlari ke arah kamarnya sendiri.

Ah, Sayangku. Betapa resah nya hati mama mu ini. Ini bukan hal sederhana bagi mama, sarapan di tempat orang lain? Terlebih keluarga Narendra? Apa tidak justru membuat harga diri mama jadi kurang baik.

****

"Dek, di rumah ini ada siapa aja ya?" tanyaku pelan begitu mobil yang aku kendarai masuk ke area parkir yang pak satpam tunjukkan.

"Ada Eyang kakung putri, terus om Narendra terus embak yang bantu masak sama bersih bersih ada tiga, terus pak satpam." jawab putriku mantap sekali, yakiin sekalii. "Ayo maa, turun. Itu Eyang kakung sama Eyang putri sudah di depan pintu." Ajak Almeera sambil menoleh ke arah pintu. Bergegas keluar mobil dan hal yang membuat ku kaget adalah putriku berlari ke arah dia orang yang tersenyum sangat lebar.

"Aduh, Almeera nggak sopan!" Ucapku di belakang putriku. "Eh--iya. Maaf."

Ibu Basuki memandang ke arahku, setelah melepaskan pelukannya di tubuh putriku, kini beliau memeluk tubuhku. "Jangan seperti orang asing, Ludira. Biarkan tidak ada jarak di antara kami." pinta ibu basuki setengah berbisik.

"Aku yakin dia adalah anak perempuan pingin sopan di antara sebayanya. Biarkan dia seperti ini bersama keluarganya, Ra." Ucap pak Basuki begitu putriku di tuntun masuk oleh Eyang putrinya.

Aku menoleh ke arah pria Sepuh yang masih terlihat segar bugar ini. "Tapi, Pak--"

"Selama ini kamu sudah mendidik dia dengan sangat baik, biarkan kami memanjakan Almeera sedikit. Saya yakin Almeera bukan gadis yang tidak cerdas dalam bersosialisasi." Potong Pak Basuki pelan.

Aku mengangguk saja, kalah dengan wibawa beliau yang memang begitu kuat. Mengikuti beliau saat beliau mengajak masuk kedalam rumah.

"Langsung ke kamar saja, Ayo sayang." Ajak ibu Basuki.

Aku mengerutkan kening tidak mengerti, menoleh ke arah Pak Basuki untuk mencoba mencari jawaban.

"Ayooo.. " Ulang ibu Basuki sambil menggandeng tanganku. "ibu sudah siapkan kamar kusus untuk kamu dan Almeera. Masih jadi satu sih, ibu pengennya Almeera punya kamar juga di rumah ini." Jelas ibu Basuki, namun tetap saja aku masih sedikit sulit mencerna semua ini.

"Apa tidak berlebihan yaa, Bu?" tanyaku pelan, begitu mendapat kekuatan untuk memberanikan diri bertanya setelah masuk kedalam kamar yang sepertinya memang sudah di siapkan jauh hari untuk putriku.

"Tidak ada yang namanya berlebihan jika menyangkut kalian. Jadi tolong, Diraa. Anggap kami benar-benar keluarga kalian."

Aku memeluk perempuan Sepuh ini, "Terima kasih, Bu. Ini sungguh terlalu berlebihan untuk kami. Lagi pula akan banyak persoalan di depan nantinya, Bu."

"Jangan memusingkan persoalan yang belum pasti, karena yang pasti adalah apapun yang terjadi, Almeera dan kamu adalah bagian keluarga Bagaskara. Tidak bisa di ganggu gugat."

Air mata baru tumpah di wajah ini, speechless akunya.

"Almeera lagi sama bapak di ruang perpustakaan. Kata Narendra dia suka sekali ya sama buku buku." ujar ibu Basuki, seperti membaca gerakan mataku yang mencari keberadaan putriku itu.

"Iya, Bu."

Aku masih syok tidak percaya, semua ini di luar ekspektasi ku. Aku hanya membayangkan akan menjadi tamu. Iya, tamu. Bukan justru di perlakukan layaknya keluarga yang lama sekali tidak pulang pulang.

Bagiku, ini tidaklah masuk akal.

1
matcha
duuuh hiruk pikuk bgt sih hatinya mbk ludira..pusiiing
matcha
duuh lelah..ludira sma Narendra tarik ulur terus..
matcha
rumit sekalih batiniahnya semua tokoh2 dsni..jd terbawa batin ini ikutan lelah
Wiwin Jazf
benar benar cerita dg banyak moral values di dalam nya, salut. berharap ada season 2 nya, sayangnya baru Nemu cerita ini sekarang
Oka Luthfia
jane salahe janda ki opo to ,kok di rendahkan bgt
Erni Fitriana
mampir thor
Deti Endung Aufa
dr part² pertama hgga part ini...Ludira kesannya jd seorang ibu yg egois..memaksakan kehendak dan pikirannya serta zona nyamannya kepada anak semata wayangnya...yg terpaksa harus menutupi segala ingin dan rasanya hanya untuk membuat sang ibu bahagia..
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓.
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓
Noorhayati Noorhayati
ceritanya bagus...dari bab pertama ampe sini mataku pedih thor...smgt ya thor buat promosiin novelnya...
Kiki Dhevin
ahaha sesuai ekspektasi gw thanks you
Kiki Dhevin
yampun berarti aksara anak nya rendra? pantesan kata nya mirip rendra astaga..
itu syailendra kasian bgt ya idup nya..
untung dia ga selemah rendra mental nya..
pliss ludira sama syailendra aja, lebih hidup dia tuh kalo sama lendra
Kiki Dhevin
fix gw ngeship syailendra aja..
ga labil, dewasa, walopun konyol..
tapi dia bisa nge cover kelemahan nya dira..
Queen Bee
nggak ada kelanjutannya?
Astri Yunianti
vote dan bunga sekebon untuk ending nya.. terimakasih author 😘🥰
Astri Yunianti
berarti Aksara tuh anak nya Narendra 😯
Lili Faiz
ini asli ludira yang rempong,gampang nyaman sama orang lain,lama² aku jadi ilfil sama ludira,
Astri Yunianti
yg bilang novel ini bagus, yg bilang novel ini keren, yg suka baca novel ini...bagi vote dan hadiah donk..biar tambah semangat author nya..💕
Lili Faiz
iya kayanya Dira kesannya murahan ya,dipeluk² sampai dikelonin juga loh.....padahal udah dihormati banget sama rendra
Lili Faiz
tambah runyammmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!