Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Aku Pasti Bisa
"Apakah Mbak Lexsa, sudah siap?" Tanya Gus Fariz, yang mendadak sudah memanggil Lexsa.
"Kenapa Gus curang, bukankah Gus bilang masih tgl 3. Ini masih tanggal 1 Gus.'' Ujar Lexsa.
"Belum hafal ya,"
"Jangan meremehkah saya Gus, meski saya santri baru, tapi saya bisa. Mulai dari surat: An-Naba. An-Naazi'aat. Abasa. At-Takwiir. Al-Infithaar. Al-Muthaffifiin. Al-Insyiqaaq. Al-Buruuj. Ath-Thaariq. Al-A'laa. Al-Ghaasyiyah. Al-Fajr. Al-Balad. Asy-Syams. Al-Lail. Adh-Dhuhaa. Al-Insyirah. At-Tin. Al-Alaq. Al-Qadr. Al-Bayyinah. Al-Zalzalah. Al-Aadiyaat. Al-Qaari’ah. At-Takaatsur. Al-Ashr Al-Humazah. Al-Fiil. Quraisy. Al-Maa'uun. Al-Kautsar. Al-Kaafiruun. An-Nashr. Al-Lahab. Al-Ikhlash. Al-Falaq . An-Naas."
Gus Fariz terkejut, menyebut satu persatu surat-surat di Juz 30 dengan urut.
"Tapi kamu bisa membacanya sampai sampai selesai."
"Bisa."
"Kalau begitu baca 10 surat terakhir besok 10 lagi. Lusa sisanya, dimulai dari Surat An-Naas sampai Surat Al-Fiil, dibaca dari sekarang."
"Baik, Gus. Bismillahirrohmannirrohim."
Gus Fariz, Mendengarkan Lexsa, membaca. Dengan seksama, husuk dan penuh penghayatan.
setelah hampir dua puluh menit, tugas menghafal Lexsa selesai. Meski belum semua, tapi setidaknya sudah selesai tahap pertama.
"Bagus, kamu bisa memghafal dengan baik, dari tajwid juga sudah bagus. Saya harap kamu bisa menekuni semua pelajaran disini."
"Terimakasih Gus."
"Besok saya tunggu disini di jam yang sama."
Lexsa memgangguk, dia tidak ingin banyak bicara tentang apapun.
"saya boleh pergi Gus?"
"Iya, monggo silahkan."
"Assalamualaikum," pamit Lexsa lalu pergi
"Waalaikumsalam."
Lexsa sudah menghilang dari pandangan Gus Fariz, sepintas terpikir dibenak Gus Fariz, jika dirinya sudah berpikir salah. Tapi sebuah ucapan harus dilaksanakan agar tidak di anggap plimpan.
Gus Fariz segera kembali ke rumah, saat sampai di ruang keluarga, ada Ibu Nyai Ainun yang akrab di panggil Umik, dan Kiai Furqon.
"Fariz," panggil Umik
"Iya, Umik."
"minggu depan Umik mau ke surabaya, tapi sopir disini pada pulang ada acara nikahan, kamu bisa antar umik Nak?"
"Fariz ada undangan Umik, apa penting sekali ke surabaya,"
"Bisa kamu carikan sopir, biar umik ngajak santri buat nemani Umik, abamu juga ada acara."
"Oh, itu Umik, santri putri ada yang bisa bawa mobil. Umik bisa minta antar." Ujar Fariz yang tiba-tiba ingat Lexsa.
"Kamu tahu dari siapa? Kamu kok sampai paham kalau ada yang bisa bawa mobil."
"Pernah ketemu Umik, sebelum mondok."
"siapa?"
"Anak baru, yang bernama Lexsa."
"Kok sampai tahu namanya juga," Ujar Kiai Furqon.
"Pernah menolongnya Abah, waktu perjalanan menuju ke pondok. Ban mobilnya pecah, Haikal yang bantu gantikan."
"Walah, kenal ceritanya," Ledek Kiai Furqon.
"Yang di antar pak iman dulu itu kan?" tanya Umik Ainun.
"Iya umik."
"Ya wes, Umik panggil nanti, biar umik tanya, bisa bawa mobil tidak, punya Sim tidak. Kalau punya, biar Umik minta Lexsa mengantar kesurabaya."
"Panggil ustazah Hana, suruh dia yang manggil." Ujar Kiai Furqon.
"Fariz kekamar dulu, mau mandi," Pamit Gus Fariz lalu pergi.
Kiai Furqon mengangguk. Tersenyum geleng kepala.
"Abah kenapa senyum-senyum."
"Anak kita sudah dewasa, bahkan sudah seharusnya menikah, tapi belum dapat yang cocok. Bicara masalah nikah, pasti bikin Fariz jarang pulang kerumah, lebih sering tinggal di pondok sama guru-guru."
"Ya semoga saja menemukan yang cocok, dan segera menikah." Jawab Umik.
"Amin,"
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Di kediaman Zaen. Jam menunjukkan pukul 15.00, Zaen yang duduk di depan kamarnya merasa was-was, karena Aulya tidak kunjung keluar kamar. Pikirannya mulai takut, takut masih berada di dalam kamar mandi.
Zaen memutuskan masuk, dan melihat Aulya. ternyata Aulya belum keluar juga dari kamar mandi. Zaen mencoba memanggil Aulya. Tapi, tidak ada jawaban. Setelah lama tidak ada jawaban akhirnya pintu di dorong. Ternyata benar, Aulya sudah tidak sadarkan diri di kamar mandi.
Segera zaen membawa Aulya yang sudah basah kuyup, karena berada di bawah shower. Wajahnya pucat, tanpa pikir panjang, dia langsung mengganti baju Aulya, tanpa harus memikirkan apapun. Meski melihat tubuh bugil Aulya, tapi semua demi menolong Aulya.
Setelah selesai mengganti bajunya, dan memberinya selimut. Zaen menelpon sahabatnya yang kebetulan seorang dokter. Setelah menelpon dokter, Zaen duduk di dekat Aulya. Zaen memegang tangan Aulya. Tangannya dingin. Sedangkan tubuh yang lain panas.
"Maaf Aulya, saya belum bisa menerima kenyataan bahwa saya punya wanita lain."
Tak lama dokter datang. Setelah di periksa, dokter Ifan memberikan .
"Ni, resep obatnya. Siapa dia?" tanya dokter Ifan
"Adikku," Jawab Zaen, masih berbohong.
"Aku permisi dulu, segera kamu tebus obatnya."
"Oke, makasih ya,"
"Sama-sama."
Dokter Ifan pun pulang, kini tinggal Aulya dan Zaen di Rumahnya.
Tak lama Aulya sadar, dia terkejut melihat Zaen yang duduk memagang tangannya.
"Apa yang terjadi dengan saya?''
"Kamu sudah sadar? Maafkan saya, sudah menyakiti kamu. Saya janji akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Dan, akan memberikan keputusan yang akan membuatmu tidak sakit hati. Saya tidak tahu apakah antara kita bisa lanjut atau tidak."
Aulya duduk dan menyandarkan tubuhnya. Aulya menatap Zaen. Wajah yang masih terlihat pucat. Tapi, mencoba tersenyum semampunya. Ingin membuktikan bahwa dirinya kuat.
"Katakan siapa wanita itu, Mas?"
"Maksudmu?"
"Saya tahu, Mas Zaen tinggal dimana selama ini, saya tahu Mas Zaen punya hubungan khusus dengan wanita itu. Jika cinta Mas, begitu dalam kepadanya, perjuang kan. Saya yang akan mundur dari kalian. Saya tidak mau jadi orang ketiga diantara kalian." Ujar Aulya dengan mata berkaca-kaca.
"jujur, Saya bingung, mau jelaskan darimana." Zaen menunduk dia tidak berani menatap aulya.
"Mas pernikahan ini sudah berjalan hampir dua bulan. batas sabar saya mungkin hampir habis ya. Saya bukan wanita tegar, yang siap melihat suaminya bersama wanita lain. Apalagi wanita itu hanya pacar Mas Zaen saja. Apa Mas tidak takut, terus-terusan tinggal seatap dengan wanita itu, karena selamanya Mas akan menanggung dosa besar, sebab orang berzina itu dosa besar Mas."
Deg Zaen terkejut dengan ucapan Aulya, karena harus mengatakan bahwa dirinya berzina.
"Cukup Aulya, dia wanita baik-baik, kamu tidak berhak menghakimi saya dan mengatakan zina." Ujar Zaen marah
"jadi menurut Mas. menggandeng tangan wanita bukan istri itu halal? Serumah dengan wanita yang bukan apa-apanya itu halal?" Aulya balik marah. Dengan mata berkaca-kaca.
"Cukup. saya tidak serendah itu. saya masih ingat sama Allah. Saya tidak serendah yang kamu pikirkan. Sela itu istriku.!!!!!"
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..