Mahalini Lembong menatap tajam Rae Sitha Dewi. ia berjalan memutar menuju ke meja Rae dan menulis cek seratus juta rupiah. Rae mengambil cek itu acuh dan memasukkan ke kantong celana jeannya. Ia berharap dengan uang ini ia bisa mengobati ibunya yang lagi butuh pertolongan.
Dengan senyum licik Mahalini menyodorkan selembar kertas putih untuk ditandatangani oleh Rae. Walaupun agak ragu, Rae dengan cepat menggores kan pulpen hitam itu diatas kertas.
Mahalini Lembong adalah gadis kaya berusia dua puluh lima tahun. Dia putri pemilik Cafe Gaul tempat Rae mengais rejeki setiap hari. Kebetulan postur tubuh mereka juga hampir mirip yang membuat Mahalini lebih leluasa menguasai Rae. Ia punya rencana jitu untuk bertukar posisi dan mengelabui ibunya, serta calon suaminya.
Apakah rencana Mahalini Lembong dibalik pemberian uang seratus juta?
***
Hallo guys, ini buku baruku. Jangan lupa like, comment dan gift. Trimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DERITA ITU BAGIAN KU
Semakin malam suasana semakin ramai, Rae bersyukur banyak tamu yang datang. Cafe ini memang di gandrungi anak muda dan bule, karena tempatnya di tebing serta menjorok ke laut.
Ada beberapa tempat privasi di cekungan tebing yang dibuat seperti ruangan untuk pasangan. Kalau sore sampai malam tempat ini indah sekali, karena permainan lampunya yang semarak.
Dibawah terbentang lautan biru, terdengar deburan ombaknya yang menantang. Jika malam tiba suara ombak membuat hati bertambah suasana
"Beb, Dewa dan nyonya Agung pasti menelponmu."
"Mungkin, mereka tidak bisa menghubungi karena hapeku low bat."
"Kamu akan mendapat masalah, apalagi kalau mereka tahu aku menemanimu."
"Masalah apa, aku ke Cafe bekerja dan kita cuma perlu bohong sedikit, jangan katakan kamu nemenin aku, bilang kamu ada di Cafe dan kebetulan melihat aku pulang. Setelah itu kamu nganterin aku pulang."
"Tidak baik bohong, toh kita tidak ada berbuat aneh-aneh. Apa kita salah kalau berteman."
"Mereka selalu berpikiran negatif."
"Wajar, karena kamu sudah punya suami, cantik dan aku pemuda ganteng."
"Hahaha...benar itu, aku setuju dengan pendapatmu."
"Mari kita periksa ke dalam, setelah selesai kamu boleh bercerita tentang dirimu." kata Benedictine berdiri.
"Okee..."
Mereka kembali kedalam ruangan, Rae hampir berteriak kaget, karena suaminya sudah duduk di depan pak Ketut sambil memeriksa surat-surat serta memarahi pak Ketut dan bu Sri. Suasananya lagi panas.
Melihat pemandangan itu Bened balik keluar untuk menghindari keributan. Ia yakin Dewa sudah lama di dalam dan mendengar serta melihat tingkah mereka berdua. Untung ia dan Rae tidak berbuat aneh-aneh.
Kini tinggal Rae gemetaran. Rasanya nyawanya melayang saat tangan kekar itu menariknya keluar dan melangkah pergi dari hadapan pak Ketut dan Bu Sri.
Setelah sampai di mobil, Dewa mendorong tubuh Rae dengan kasar ke jok mobil itu. Wajah Dewa merah padam menahan sakit hati dan marah. Air mata Rae bercucuran ketakutan luar biasa sampai ia bingung memakai sabuk pengaman. Dewa menepis tangan Rae serta memakai kan sabuk.
Lamborghini itu melaju dengan kecepatan tinggi, Rae terus berdoa supaya selamat sambil berteriak-teriak ketakutan.
"Huhu...huhu...bunuh saja aku, jantungku hampir copot...huhu..huhu..."
"Lebih baik mati, daripada kau main gila dibelakangku!!"
"Aku minta maaf...huhuhu...seribu maaf..."
Dewa terus ngebut seperti kesetanan, ia tidak peduli pada nyawanya. Tangis Rae tambah keras mendengar bentakan kasar dari mulut Dewa.
Untung sudah sampai, mobil sudah masuk garasi Puri. Rae menghapus air matanya dan turun dari mobil.
"Cepat keluar!!" bentak Dewa kembali menarik Rae menuju Puri.
Mendengar Dewa datang, semua mata pelayan memandang gadis itu dengan perasaan kasihan, kecuali bibi Nur. Ntah kenapa nyonya Agung sekarang ikut memusuhinya juga. Apa karena Dewa selalu membelanya atau ada sebab lain.
Dewa mengajak Rae ke kamar mandi dan mendorongnya kebawah shower. Dewa menghidupi shower air dingin, air mengalir seperti es menyiram tubuhnya, gadis itu menggigil ke dinginan.
Dewa mengambil tas Rae yang tergeletak basah. Ia membanting hapenya kemudian menginjak-injak sampai tidak berbentuk. Puas mengamuk Dewa keluar dengan membanting pintu.
Rae menahan dingin dan menghapus air matanya. Bibirnya gemetar dan giginya gemeletuk saking dinginnya, tapi ia tidak berani bergerak dari bawah shower.
"Braakkk!!" kembali Rae kaget mendengar pintu di tendang. Dewa datang mendekat dan merobek pakaiannya.
"Mandi kau, supaya bekas bajingan itu tidak menempel di tubuh busukmu."
Rae meloloskan semua pakaiannya yang setengah robek dan memakai sabun mandi. Ia tidak berani menoleh Dewa yang terus mengomel dan memakinya dengan kata-kata hina.
Dewa mematikan shower dan mengambil handuk serta melemparkan ke tubuh Rae. Kemudian Dewa keluar dari kamar mandi setelah memerintahkan istrinya masuk kamar.
Sampai di kamar ia melihat tiga pelayan mengambil semua pakaiannya dari almari memasukkan ke koper. Dua buah koper besar diseret keluar. Tidak satupun baju yang tersisa. Hanya ****** ***** dan bra yang tertinggal, itupun yang masih ada segelnya. Almari kosong, Rae tidak berani bertanya, ia tahu ini sebuah hukuman.
Rae tidak berani bicara sedikitpun, kala tangan Dewa melempar lipstik merahnya. Ia pasrah, membiarkan Dewa merampas semuanya.
"Pakai ini ******, jangan berharap aku menyentuh tubuh mu, kau menjijikan!" Dewa melempar piyama ketubuh Rae. Kemudian ia keluar.
Rae memakai piyama milik Dewa, ia menutup pintu tapi tidak bisa mengunci. Dewa pasti mengambil kuncinya. pikir Rae. Ia naik ketempat tidur merebahkan tubuhnya.
Air matanya kembali mengalir, membasahi bantal. Ia sesambat memanggil ibunya yang ntah berada dimana. Mungkin karena banyak menangis Rae ketiduran.
Di kamar sebelah Dewa menggebrak meja sambil berbicara lewat telepon dengan Benedictine lizarazu.
"Aku bilang jauhi istriku, apa kau tidak laku. Dasar bajingan!!" teriak Dewa memaki Bened melalui telepon.
"Istrimu? hahaha....kapan kau menjadi suaminya, yang kau nikahi Mahalini bukan gadis ini!!" teriak Bened dari seberang sana.
"Aku tidak peduli omonganmu, sekali lagi aku peringatkan, STOP mencari istriku!!"
"Dengar Dewa, jika kau berani memukul atau mencelakainya, aku akan lapor polisi dan menyuruh polisi menyeretmu ke penjara. Aku tidak segan-segan mencari dia dari rumahmu."
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan masuk penjara."
"Kau pengecut tidak tahu di untung, lepas kan dia, jangan kau siksa anak orang."
"Jangan kau menyentuhnya atau mati kau. Setan kau Bened!!"
"Hahaha....kau yang mampus Dewa." telepon di putus sepihak.
Bened melempar ponselnya ke kasur, ia mulai membuka pakaiannya. Sungguh Ia tidak menyangka reaksi Dewa berlebihan. Dewa terkenal dewasa dan bijaksana, kenapa ia menjadi posesif begini. Kasihan sekali istrinya, pasti disiksa. pikir Bened.
Benedictine bukan orang sembarangan, ia juga orang Puri dari kasta Brahmana. Hidupnya berlimpah harta benda. Lahir dari istri pertama Bapak Rafa Suryanatha lizarazu, masih ada hubungan saudara dari Dewa. Selama ini mereka berteman baik, sering berdua. Mereka sama-sama senang supercar, dan kebetulan Bened punya shoroom supercar kelas satu.
Gara-gara Bened diundang menikah, pandangan pertama itu membuat Bened tertarik kepada gadis ini, karena ia yakin itu bukan Mahalini. Karena ia pernah pacaran dengan Mahalini. Mungkin Dewa dan nyonya Agung bisa ditipu karena jarang bertemu dan tidak pernah peduli sama Mahalini. Tapi Bened tahu persis tahi lalat, tatto dan setiap jengkal tubuh Mahalini.
Untuk meyakinkan dirinya Benedictine menyewa mata-mata untuk menyelidiki dimana Mahalini yang asli. Tidak begitu sulit mencari Mahalini. Jejaknya terakhir terekam di Malang. Benedictine meluncur kesana dan pura-pura mencari rumah temannya.
Kebetulan suaminya tidak ada dan wanita itu sudah biasa liar, tapi Bened tidak mau meladeni gairahnya. Ia melihat Mahalini sudah tua dan lusuh, tidak seperti wanita penggantinya yang cantik, manis, polos dan masih belia.
"Mahalini, kamu menculik orang ya, tidak kasihan kepada gadis polos itu, ia pasti kebingungan menjadi orang kaya." Bened membuka percakapan sewaktu bertemu Mahalini.
Wanita itu terlihat ceria dan berisi, Bened yakin Mahalini hamil. Tadinya Mahalini terus mengelak akhirnya ia memberi pekerjaan kepada Bened untuk menjadi mata-mata dan melaporkan setiap gerak gerik Rae.
"Berapa kamu minta?" tanya Mahalini serius.
"Berapa kamu mampu." tantang Bened, ia sebenarnya iseng minta uang.
Supaya Mahalini percaya kesungguhannya untuk membantu, akhirnya Bened mau menerima cek seratus juta. Bagi Bened dan Mahalini itu sedikit, tapi Mahalini beralasan suaminya bangkrut dan dia butuh uang untuk melahirkan.
"Dimana ibu gadis itu?"
"Aku tidak tahu, dulu rumahnya di pinggir jalan raya, dekat balai udang di Kuta. Aku menyewa orang untuk merawatnya. Tapi aku tidak tahu nasib ibunya sekarang, karena kehilangan kontak." kilah Mahalini mencari alasan.
Bened tidak bodoh, ia merekam semua pengakuan Mahalini dan menyimpannya dalam sebuah flashdisk. Ia yakin suatu hari nanti akan berguna.
Cerita Mahalini membuat Bened tambah serius mendekati Rae. Ia juga ke rumah ibunya Rae. Walaupun ia kecewa, karena mendapatkan rumah kosong dan pintu di gembok, tapi ia tidak menyerah. Semua tetangga tidak tahu kemana bu Dedes dan Rae menghilang. Dari cerita tetangga Rae termasuk gadis baik, sopan dan tidak murahan.
Bened berhenti mencari ibu Dedes setelah setiap rumah sakit mengatakan tidak pernah kedatangan pasien yang bernama ibu Dedes. ia kini lebih fokus dengan Rae, wanita tang mencuri perhatiannya.
Benedictine sengaja memakai aplikasi tertentu supaya mudah melacak dimana Rae berada. Kemanapun Rae pergi Bened akan tahu dan berusaha dekat dengan lokasi itu.
Kalau sekarang ia berani melawan Dewa, karena ia sudah memegang kartu As. Ia bisa mengancam Dewa dengan cerita ini supaya bangkrut. Dewa, Rae dan Mahalini ada di genggamannya. Mungkin suatu hari ia akan mengatakan yang sebenarnya seandainya Dewa terlalu menyiksa Rae.
Malam ini Bened tidak bisa tidur, ia pusing memikirkan pertemanannya yang hancur akibat wanita. Seperti kata pepatah, akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Masalahnya Dewa satu team dalam setiap kegiatan Puri.
Ia sangat khawatir terhadap keselamatan Rae, dari tadi tidak bisa di hubungi. Ingin sekali ia mendatangi rumah Dewa dan mengajak Rae lari. Ia mengutuk Mahalini, demi ke egoisan nya ia menjerumuskan gadis itu kedalam permasalahan yang besar. Jika masalah ini meledak akan terjadi guncangan di perusahaan Dewa.
Di Puri, Dewa juga tidak bisa tidur. Ada air disudut matanya mengingat kebersamaan istrinya dan Bened di Cafe sore tadi. Rasa marah, kesal bercampur menjadi satu. Harga dirinya jatuh, ia terhina.
Tidak boleh seorang istri bangsawan seenak hatinya duduk berdua dengan laki-laki lain, saling bercanda membagi cerita. Istri tidak tahu attitude. gerutunya kesal.
Apa kata orang jika ada saudara atau anak buahnya melihat kelakuan istrinya. Zaman sekarang sedikit saja berulah sudah ada di Instagram, Facebook, Tribun. Mulut netizen terkenal pedas seperti bon cabe level sepuluh, bikin doweerr.
Arrgghh....Dewa menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Kurang ajar!!" ketusnya kesal, saat menonton istrìnya menampar anak buahnya.
Dewa terus menonton, dan ia kaget karena ada Benedictine di luar lapangan golf. Sungguh mati ia merasa di kadalin oleh istrinya dan Bened.
*****