Noda hitam yang sudah mengotori tak akan bisa di hapus oleh waktu. Menikahi perempuan yang pernah di sakiti tidak menjadikannya terobati. Tapi justru dendam akan menjadi bumbu rumah tangga. Tapi kini ia meminta maaf dengan kedatangan dirinya yang telah bertransformasi menjadi ustadz, apakah akan ada ujung dendam?
Simak kisahnya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Mulai membaik
Pagi itu Mina bersama Athar dalam perjalanan ke panti Asuhan. Kali ini Athar tampak menyetir mobil sendiri. Sesekali ia menoleh ke arah Mina.
"Kamu keberatan nggak kalau misalnya setiap hari harus ke panti Asuhan, melihat kondisi di sana dan mengecek keperluan di sana," tanya Athar pada Mina.
"Nggak masalah sih, lagian bosan juga di rumah terus,"
"Alhamdulillah.. makasih ya Mina,"
"Kenapa kamu yang bilang Terimakasih? aku lakuin ini karena aku emang perduli sama anak anak, bukan karena kamu,"
"Nggak pa pa, aku pengen ucapin makasih aja," Athar tersenyum menatap Mina, ia amat senang melihat Mina yang akhir akhir ini tampak akrab dengan anak panti.
Sampailah di gerbang panti asuhan.
Liana yang baru pulang dari pasar melihat mobil hitam berhenti di gerbang. Ia memperhatikan ke arah mobil itu. Tak lama Mina dan Athar turun dari mobil.
"Apa lagi? kok masih berdiri di sini, sana berangkat ke kantor," suruh Mina, ia tampak risih melihat Athar yang berdiri menatapnya.
"Ada yang kelupaan," kata Athar, senyumnya seolah menyimpan sesuatu.
"Apa?"
"Kata tante Nurul kamu harus terbiasa memperlakukan ku sebagai suami, jadi salah satu langkah paling mudah adalah..Salim dulu," lanjut Athar.
"Tante Nurul nggak bakalan tau, dia kan di rumah,"
"Tapi Allah tau, tadi pagi kamu sudah dengar ceramah ustadz Ahmad kan, kali ini kamu nggak punya alasan lagi, karena bukan aku yang mengatakan ini, tapi ustadz lain,"
"Iya..iya.. pemaksaan bangat sih," meski demikian Mina mencium tangan Athar dengan wajah tak ikhlas.
Meski hanya sebatas bersalaman, namun bahagianya Athar tak terungkapkan lagi. Ia mencium kening Mina setelah Mina mencium tangannya.
"Apaan sih, genit bangat sih, kamu ustadz apa bukan sih?" Mina tampak geram dengan perlakuan Athar yang tiba-tiba mencium keningnya.
"Ustadz juga manusia Mina, jangan galak galak lagi, aku pamit ya, assalamualaikum," ucap Athar, kemudian ia naik ke mobil untuk bergegas pergi.
Mina menatap mobil Athar yang kini berjalan semakin jauh. "Semenjak ada Tante Nurul, kayaknya dia merasa berada di puncak kemenangan, lihat aja nanti, aku akan buat kamu tersiksa," batin Mina.
Liana Sedari tadi menatap Mina dan Athar dari kejauhan, ia tak mendengar percakapan itu namun ia melihat Mina dan Athar yang tampak harmonis.
Sesekali air matanya menetes, dan selalu buru-buru di lap nya agar tidak ada yang tau kesedihannya.
"Liana.." panggil Mina, ia telah melihat Liana yang berdiri di tepi jalan.
Liana segera membersihkan air mata di pipi nya. Buru-buru ia berjalan menemui Mina.
"Iya Bu Mina.."
"Aku kan udah bilang, jangan panggil aku Bu Mina, panggil Mina aja, aku udah menganggap kamu teman kok, jadi kita biasa aja, nggak usah panggil ibu,"
"Oh iya maaf Mina, aku lupa" ucap Liana, ia tetap tersenyum di hadapan Mina.
"Nggak pa pa, oh ya kamu bawa belanjaan sebanyak ini, mau masak ya?"
"Iya,"
"Ya udah aku bantuin ya," Mina tampak bersemangat untuk membantu menyiapkan makan siang nanti untuk anak anak.
Sambil berjalan ke dapur panti, Mina dan Liana mengobrol di sepanjang jalan.
"Panti sepi ya, anak anak pada sekolah ya," Mina menatap ke sekeliling panti.
"Iya Mina, kalau jam segini emang agak sepi,"
Kini keduanya tampak tidak ada topik lagi untuk dibicarakan.
Tiba-tiba Liana mengucap kalimat yang membuat Mina bingung untuk menjawab.
"Gimana perasaan kamu menjadi istri ustadz? pasti senang kan?" tanya Liana.
"Hah? aku..aku biasa kok,"
"Masa sih, ustad Athar itu udah terkenal di sini, dia baik, dermawan, perduli pada anak yatim, Soleh, tampan, semua orang pasti menginginkan suami seperti dia," tutur Liana, ia seolah membicarakan dirinya yang menginginkan Athar.
"Benarkah? apa dia sebaik itu, mungkin kamu terlalu berlebihan Lia,"
"Emangnya kenapa? kamu kok kayak nggak tau tentang ustad Athar aja, oh ..mungkin dia menyembunyikan kebaikannya dari hadapan kamu, biasalah..orang orang Sholeh emang selalu begitu," lanjut Liana.
"Iya..mungkin kamu benar," Mina tak membahas lebih jauh lagi, ia tak tertarik untuk membahas Athar.
...*****...
Tante Nurul tengah sibuk membereskan rumah, ia membantu bi Siti yang juga bersih bersih.
Namun seketika tangannya terhenti mengelap meja, ketika ia tak sengaja melihat Hp Mina yang ketinggalan di sofa.
Ini menjadi kesempatan emas bagi Nurul untuk mencari tau rencana Mina dan Maya. Ia terkejut melihat chat WA Mina dan Maya. Semua isi chat itu adalah tentang rencana mencelakai Athar. Ia buru-buru menelpon Maya menggunakan Hp Mina tersebut.
"Halo sayang, gimana ..kamu udah ada rencana untuk menghancurkan Athar," sapa Maya ketika ia mengangkat telpon.
"Astaghfirullah..Maya, kapan sikap keras kamu akan berubah sih, kamu udah menyesatkan pikiran Mina, aku kira kamu udah berubah," gerutu Nurul di telpon.
"Nurul..kenapa hp Mina ada sama kamu,"
"Kamu nggak perlu tau itu, aku sebagai kakak kamu nggak akan biarin hal yang sama terjadi lagi,"
"Nurul..kamu itu nggak tau apa apa, kamu nggak tau rasa sakit Mina selama ini, kamu nggak tau bagaimana terpuruknya dia, aku yang paling tau, aku lakuin ini semata untuk mencari keadilan untuk Mina,"
"Aku tau kamu juga sayang sama Mina, tapi ini nggak benar May, aku nggak mau tau segera putuskan misi kalian," tegas Nurul, ia tak ingin adik dan keponakannya melakukan hal yang jelas-jelas salah.
"Kamu bodoh membiarkan Mina di sakiti gitu aja, kamu benar-benar bodoh," cetus Maya, lalu ia buru-buru mematikan telpon.
...***...
Aisha baru saja pulang dari sekolah, begitu masuk dari gerbang ia sudah melihat Mina yang ia anggap sebagai uminya. Mina tampak duduk di bawah pohon ceri.
Ia buru-buru berjalan ke arah Mina. Di saat yang sama anak laki-laki bernama Rizky datang menarik jilbab Aisha dari belakang hingga hampir lepas.
"Rizky..kamu tuh ya," Aisha tampak geram hingga ia mengejar Rizky.
Anak laki-laki seusia Aisha itu malah meledek Aisha dengan menjulurkan lidahnya, dengan ekspresi yang menyebalkan.
"Makanya..jangan sok cantik," ucap Rizky.
Mina melihat adegan di hadapannya itu, ia tersenyum seolah mengerti dengan kejahilan Rizky yang selalu mengganggu Aisha. Karena anak SMP biasanya memang suka mencari keributan untuk mendapat perhatian.
"Udah udah.. Rizky..sana ganti bajumu, kita akan segera makan siang," suruh Mina. "Siap Umi.." Rizky langsung pergi.
"Aku senang bangat setiap hari ada umi di sini," tutur Aisha menyambut hangat kedatangan Mina.
"Iya sayang..umi juga senang," Mina merangkul Aisha sembari berjalan ke dalam.
Makasih Thor..
aku tunggu karyamu yang lain..