Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah Tanpa Alasan.
Hari berlalu dengan cepat, roda kehidupan terus berputar silih berganti. Terkadang kita pernah ada diatas, terkadang juga berada di bawah. Gwiyomi mengisi hari-harinya dengan aktivitas biasa, pagi kuliah dan siangnya biasanya ia akan pergi kerumah orang tuanya atau tidak kerumah sahabatnya Jingga.
Tapi siang itu berbeda karena Hazel akan mengajaknya pergi liburan ke Bogor selama dua hari. Kampus sedang libur nasional, jadi mereka memutuskan untuk pergi mengisi waktu dengan berlibur.
"Hazel, kita nggak mungkin pergi naik motor 'kan ke Bogor?" Tanya Gwiyomi seraya mengernyit.
"Ya enggaklah Sayang, kamu kan lagi hamil, mana mungkin aku bawa naik motor. Tadi aku udah ambil mobil di rumah Om Jofan," ujar Hazel.
"Kamu kan punya mobil, kenapa suka naik motor?" Gwiyomi kembali bertanya dengan wajah herannya.
"Suka aja, ini masih ada barang lagi nggak yang perlu kau bawa?" Hazel menjawab seraya melihat-lihat isi koper yang akan dibawa Gwiyomi liburan.
"Udah sih, cuma tinggal satu yang belum," ujar Gwiyomi melihat-lihat kembali barang bawaannya.
"Apa?"
"Cemilan, aku nggak bisa kalau nggak makan nanti saat kita perjalanan," ujar Gwiyomi.
"Astaga, nggak ada kenyangnya ini perut kamu." Hazel tertawa kecil, ia mengusap-usap perut Gwiyomi dengan gemas.
"Bukannya kamu malah seneng kalau kau makan terus?" sahut Gwiyomi mengerucutkan bibirnya.
"Iya dong, seneng banget malah. Gendut nggak apa-apa asalkan kamu sama bayinya sehat," ucap Hazel menatap Gwiyomi penuh cinta.
"Tapi kegendutan juga jelek tahu Haz."
"Enggak, kamu mau cemilan apa? Kita beli sambil berangkat aja ya? Nanti bisa pilih sendiri," kata Hazel.
"Oke." Gwiyomi mengangguk dengan senang.
Mereka berdua lalu segera bersiap untuk melakukan perjalanan liburan ke Bogor. Sebenarnya Gwiyomi ingin pergi ke Jogja melihat pantai, tapi Hazel mengatakan kalau nanti dirinya akan kecapekan karena lokasinya jauh. Akhirnya mereka memutuskan liburan ke Bogor saja.
Seperti janjinya tadi, Hazel mengajak Gwiyomi mampir ke salah satu supermarket terlebih dulu untuk mencari cemilan yang wanita itu inginkan.
"Ambil apa aja yang kamu suka, jangan sampek anak aku kelaparan nanti," ujar Hazel entah membiarkan saja Gwiyomi membeli apa saja yang wanita itu suka.
"Hahaha, dengan senang hati," sahut Gwiyomi justru kesenangan.
"Kamu pilih dulu aja, aku mau rokok di depan," kata Hazel merasa mulutnya asam karena sejak tadi belum merokok.
Gwiyomi mengangguk singkat, ia mendorong troli belanjaannya menuju ke tempat aneka makanan ringan. Bayi dalam perutnya ini baru berusia enam bulan, jadi Gwiyomi menjadi lebih cepat lapar dibanding biasanya. Ia juga tidak pernah diet, ia memakan apa saja yang ia inginkan.
"Apalagi ya?" gumam Gwiyomi memilih lagi makanan yang ia inginkan, trolinya terlihat hampir penuh tapi ia masih menginginkan makanan lain.
"Ah iya, ini kan makanan yang viral itu. Aku ambil aja deh." Gwiyomi berseru senang saat melihat coklat yang belakangan ini sering muncul di iklan. Gwiyomi mencoba mengambilnya, tapi letaknya cukup tinggi.
"Tinggi banget lagi," gerutu Gwiyomi kesal, ia melirik sekelilingnya untuk melihat benda yang sekiranya bisa ia gunakan untuk memanjat, tapi tidak ada, Hazel juga belum kembali.
Karena sudah tidak sabar, Gwiyomi akhirnya nekat memanjat rak makanan itu untuk mengambil coklat yang ia inginkan. Ia sama sekali tidak berpikir jika hal itu akan sangat membahayakan karena rak itu tidak terbuat dari besi dan hanya berisi makanan ringan.
"Susah banget sih." Gwiyomi menjinjit seraya menggapai-gapai coklat yang ia inginkan hingga tidak sengaja kakinya terpeleset lalu tangannya reflek menarik rak makanan itu.
"Akhhhhhhh!!!!" Gwiyomi berteriak keras saat tubuhnya merosot jatuh, ia memejamkan matanya rapat-rapat dan bersiap menghantam lantai, tapi ...
Seseorang tiba-tiba datang lalu memeluk Gwiyomi dan menjadikan punggungnya sebagai tameng yang terkena rak yang roboh itu.
"Arghhhhhhhh!!!" Pria itu berteriak keras saat punggungnya dihantam rak yang cukup berat itu.
"Rain?" Gwiyomi terbelalak lebar melihat sosok pria yang memeluknya dengan erat.
Semua orang terkejut dengan kejadian itu, apalagi Hazel yang langsung berlari masuk kedalam supermarket. Ia kaget bukan kepalang saat melihat rak makanan yang roboh itu.
"Gwi!"
Para penjaga supermarket dan pengunjung lain langsung mencoba membantu mengangkat rak itu. Mereka kaget saat melihat dua orang yang tertimpa rak. Rain langsung melepaskan pelukannya pada Gwiyomi, ia mengerang memegang punggungnya yang sakit.
"Rain, aku tidak apa-apa?" Gwiyomi bertanya begitu panik, matanya berkaca-kaca melihat Rain yang mengerang kesakitan.
"Aku tidak apa-apa," sahut Rain masih bisa menahan rasa sakit itu.
"Punggung Tuan berdarah, kita harus membawanya ke rumah sakit," ujar penjaga supermarket panik melihat darah yang merembes dari kemeja Rain.
"Tidak perlu," ujar Rain menolak.
Hazel sendiri langsung mendatangi istrinya lalu memeluknya erat. "Gwi, kau baik-baik saja 'kan? Mana yang sakit? Kenapa bisa jadi seperti ini?" Hazel mencerca Gwiyomi dengan segala pertanyaan, wajahnya sangat cemas memikirkan nasib istrinya.
"Aku tidak apa-apa Haz, dia yang sudah menolongku," kata Gwiyomi menunjuk Rain yang masih terduduk disampingnya.
Hazel langsung menoleh, ia sedikit terkejut saat melihat wajah Rain, sedetik kemudian wajahnya sangat kesal.
"Untuk apa kau disini? Kau sengaja mengikuti istriku dan menggunakan trik ini untuk membuatnya simpati?" Hazel tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas.
"Hazel!" seru Gwiyomi kaget melihat hal itu.
"Ayo ngaku, ini semua pasti ulahnya Gwi," sergah Hazel menatap Rain begitu tajam.
Rain sendiri tak kalah kesalnya mendengar tuduhan itu. "Aku pikir kau pria yang cerdas, untuk apa aku mencelakai diriku sendiri hanya untuk menarik simpati istrimu? Aku tidak selicik dirimu asal kau tahu," sahut Rain menatap Hazel tak kalah tajamnya.
Setelah tahu alasan pria ini hanya memainkan Gwiyomi, entah kenapa ia menjadi begitu membencinya, padahal ia tidak sedekat itu dengan Gwiyomi apalagi pria ini. Ia hanya tidak suka dengan cara ini mendapatkan hati Gwiyomi.
"Brengsek! Aku yakin ini bukan sebuah kebetulan." Hazel sendiri tidak tahu kenapa ia bisa membenci pria ini, ia hanya merasa jika Rain akan merebut Gwiyomi darinya, sudah itu saja.
"Kau keterlaluan Haz!" Bentak Gwiyomi ikut tersulut karena kelakuan Hazel ini, harusnya pria itu berterimakasih karena Rain telah menyelamatkannya.
"Gwi-"
"Cukup, kita bicara nanti di rumah. Ayo, aku akan mengobati lukamu," kata Gwiyomi tiba-tiba melepaskan dirinya dari Hazel lalu menarik tangan Rain dan mengajaknya pergi.
"Gwi!" Hazel semakin kesal melihat tingkah istrinya, ia bergegas menarik tangan Gwiyomi dengan kasar.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengannya," ujar Hazel marah.
"Lepas! Aku akan pergi dengannya atau kau ikut denganku?" kata Gwiyomi memberikan pilihan.
Hazel mengumpat kesal, ia menatap Rain dengan tatapan penuh kebencian. Baru beberapa hari bertemu, pria itu sudah menjadi perusak dalam hubungannya dengan Gwiyomi.
"Sudah, tidak perlu ribut, aku bisa pergi sendiri," ujar Rain tahu posisinya, lagipula ia memang tidak ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Tadi ia hanya tidak sengaja kesana untuk membeli barang.
Gwiyomi terdiam, ia menatap Rain yang tiba-tiba berjalan pergi meninggalkan mereka. Ia lalu melirik Hazel yang hanya mengulas senyum sinis saat melihat kepergian Rain.
"Aku tidak tahu kenapa kau jadi seperti ini Haz," kata Gwiyomi masih kecewa dengan sikap Hazel.
"Aku hanya khawatir padamu, Gwi," sahut Hazel.
"Tapi sikapmu menunjukkan hal lain, entahlah kadang kau membuatku bingung," ujar Gwiyomi ikut beranjak meninggalkan Hazel.
Hazel berdecak kesal, ia harus memberi pelajaran pada pria itu agar tidak mengusik kehidupan rumah tangganya dengan Gwiyomi.
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa