Semuanya telah selesai, selamat melewati kehidupan baru
WANT YOU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SILAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Hari ini luisa hadir kembali ke sekolah dengan syarat tidak boleh melakukan pekerjaan berat meski dirinya adalah panitia festival olahraga dan tentunya syarat itu dari justin.
Justin menautkan jemarinya dengan jemari luisa seakan mereka adalah sebuah puzzle yang di satukan pada tempatnya. Lelaki itu membawa luisa ke lapangan basket karna hari ini jadwal pemain basket yang beraksi.
“Lo duduk yang tenang dan tunggu waktu mainnya gue” ucap justin dan luisa baru menyadari jika kekasihnya itu memakai baju basket nengan nomor pungung 55 dimana itu dalah tanggal jadian mereka, bulan lima tanggal lima. Luisa tersenyum membayangkan.
“Lo mau ikut tanding?”
“Tadinya sih nggak tapi gue mau nunjukin ke elo kalau gue juga bisa main basket dan kabar baiknya sobat lo juga ikutan loh”
“Janis?” justin mengangguk “beneran!?”
“Iya, nah tuh dia” justin menunjuk keberadaan Janis yang berjalan kearah mereka berdua. Justin langsung menarik leher Janis dengan lengannya.
“Jadi apa kita sekarang terlihat kompak” ucapnya meminta pendapat.
“Kalian sangat kompak, semangat ya gue dukung kalian” ucap luisa menyemangati, kedua lelaki itu tersenyum lalu menuju ke lapangan saat nama kelasnya di sebut.
Justin melambaikan tangannya kearah luisa, gadis itu menggeleng pelan.
Peluit sudah berbunyi beberapa anak laki-laki di lapangan itu mulai mengoper bola ke sana kemari untuk memasukkannya ke dalam ring.
Sekarang bola ada di tangan justin semua orang terlihat tegang saat justin membawa bola itu ke ringnya sendiri mereka kira justin akan memasukkan ke dalam ring sendiri tapi mereka salah saat justin sudah dekat dengan ring lelaki itu mengopernya kearah Janis dan Janis melemparkan ke dalam ring lawan.
Dua poin langsung mereka terima, luisa memberikan tepuk tangan semangatnya, justin dan Janis memberikan tos karna berhasil mendapat poin.
Permainan kembali di lanjutkan hingga beberapa menit kemudian tim kelas yang di pimpin justin lebih unggul dua poin.
Hingga di menit kelima justin melakukan flyng up ke ring lawan dan dia langsung mendapatkan poin double lagi, peluit di bunyikan menandakan kelas mereka berhak masuk ke babak final.
Justin dan Janis berjalan ke pinggir lapangan tapi mata justin tak henti-hentinya melihat kearah luisa yang tersenyum bangga. Justin mengedipkan sebelah matanya dan tanpa di sangka para cewek yang ada di dekat luisa jadi salah tingkah.
“Dia main mata kearah gue”
“Gak dia main mata ke gue bukan elo”
Luisa menggeleng pelan dia tidak mau berkomentar jika dirinya adalah kekasih orang yang sedang kedua cewek itu bicarakan.
Luisa bangkit dari tempat duduknya menghampiri kedua lelaki itu “Kalian keren tau gak” di acungkan dua jempolnya ke udara.
“Siapa dulu dong kaptennya”
“Janis” sambar luisa. Justin berdecak.
“Gue bukan Janis”
Janis terkekeh
“Iya deh lo ambil aja jabatan itu di depan sobat gue” katanya dengan jahil. Katakan jika luisa sedang mimpi, Janis sedang membela justin di depannya bukannya hal ini agak aneh? Tapi dirinya senang jika kedua lelaki yang gak pernah akur itu berbaikan.
“Yee emang gue kaptennya kok” protes justin. “Ya udah karna tim kita menang gue mau traktir kalian berdua”
“asiik baru kali ini gue di traktir. Yuk beb makan yang banyak mumpung Janis yang bayarin” dengan semangat mereka bertiga berjalan menuju kantin.
Sesampainya di kantin dan memesan banyak makanan terutama makanan ringan Janis dan justin selalu melempar canda tawa sesekali luisa menimpali alhasil meja yang mereka tempati adalah meja teribut di antara meja yang di tempati siswa lainnya.
Mereka tidak peduli karna tempat itu berasa punya mereka bertiga, jika orang lain mengatakan dunia milik mereka berdua maka berbeda dengan ketiga orang itu.
Luisa tak henti-hentinya tertawa saat justin menceritakan kenakalannya tanpa malu mulai dari dia kecil belajar naik sepeda jatuh ke got depan rumahnya sampai nabrak pohon besar karna remnya blong.
Sedangkan Janis lelaki itu juga tak mau kalah dia menceritakan masa kecilnya yang tidak di ketahui luisa dimana saat dirinya bermain di ayunan tali sebelah ayunan terputus dan dirinya terjatuh dengan bokong mendarat duluan.
Satu persatu kisah masa kecil mereka mengalir begitu lancarnya luisa merasa terhibur tapi dia tiba-tiba menutup hidungnya dan berlari.
“Sa!”
Justin menahan lengan Janis.
“Biar gue aja” setelah itu justin menyusul luisa.
**
Jika hari minggu biasanya justin akan kerumah luisa mengajak pacarnya itu jalan-jalan tapi saat dirinya mengatakan pada luisa melalui smartphone gadis itu mengatakan sedang pergi dengan keluarganya.
“Kak justin” teriak fera sambil membuka pintu kamar justin dan gadis kecil itu melompat ke tempat tidur justin lalu menaiki punggung kakaknya yang memang sedang tidur tengkurap kaya kura-kura.
“Fera punggung kakak ntar patah gimana” seru justin, fera malah tertawa.
“Kak justin kan kuat macam mana mau patah” ucap fera dengan lagak menirukan suara upin ipin yang sering dia tonton.
Justin berusaha bergerak fera yang di punggungnya terjatuh di tempat tidur gadis kecil itu tertawa karna setelah terjatuh dari punggung kakaknya dia bergerak menggelitik telapak kaki justin.
“Fera stop, geli. Nih kakak balas ya” justin menggelitik fera di bagian perut gadis kecil itu. Fera tertawa namun justin segera menghentikan aksinya atau sebentar lagi adik kecilnya itu akan menangis.
Fera masih tertawa sembari memegangi perutnya, justin membantu fera berdiri lalu memeluk adik kecilnya itu dengan sayang.
“Kak justin makin ganteng deh” puji fera.
“kakak kan memang ganteng. Fera mau jalan-jalan gak hari ini”
“Mau kak, fera mau ke time zone main boneka capit. Nanti kakak yang main terus hadiahnya buat fera”
Justin mengusap kepala fera “Ya udah kakak siap-siap dulu ya”
“Oke. Fera tunggu di bawah sama bi iyem” fera turun dari tempat tidur justin lalu berlari keluar tak lupa menutup pintunya kembali.
**
Fera sudah akan menangis saat justin selalu gagal bermain bola capit bahkan sampai koinnya habis tak satupun boneka yang berhasil dia dapatkan.
“fera jangan nangis ya, yuk kakak ajak beli boneka yang lebih besar” justin menggandeng tangan kecil fera ke toko boneka tanpa di sengaja dia melihat Janis dengan seorang cewek yang juga sedang memilih boneka.
“Wes bro gak nyangka gue ketemu lo di sini” panggil justin, Janis menoleh kearah justin dan anak kecil yang di gandenganya.
“Wah lo udah punya anak just, gak nyangka gue” Janis berucap dengan nada tak percaya, justin menjitak kepala Janis.
“Ini adek gue, ya kali gue udah punya anak segede ini”
“Gue kira anak lo”
“Eh nis, siapa tuh” bisik justin sambil mengode cewek di samping Janis.
“Pacar gue” jawab Janis dengan entengnya. Justin hanya ber-oh ria sambil mengagguk anggukkan kepala.
“Selamat ya gue kira lo masih nunggu luisa” kekeh justin.
“Kak, fera mau Sapi”
“Hah sapi?” ucap justin terkejut, fera menepuk dahinya kamudian menunjuk boneka sapi yang ada di atas.
“Mbak boneka sapinya tolong di turunkan dong”
“Janis gue pilih hello kitty ya” seru cewek yang bersama dengan Janis tadi.
“Serah lo” jawab Janis.
“Fera yang ini” justin memberikan boneka sapi tadi pada adiknya. Cewek tadi menoleh pada justin.
Justin berjalan ke kasir bersama adiknya dan Janis bersama cewek tadi.
“Cewek lo suka hello kitty” ucap justin, cewek tadi menoleh karna merasa dirinya sedang di bicarakan.
“Janis lo kenal?” Tanya cewek itu pada Janis dengan suara kaya orang korea.
“Dia teman kelas gue” jawab Janis sembari mereka menunggu antrian.
“Oh. Kenalin gue HAN YURA anak dari kakak ayahnya janis” cewek yang mengaku bernama han yura tadi mengulurkan tangannya.
“Janis bilang lo pacarnya eh ternyata sepupu. Orang korea ya”” justin membalas jabatan tangan yura sebelum antrian tiba pada Janis dan gadis itu.
“Iya, mama saya orang korea”
“Pantes ngomongnya kaya ada rasa korea koreanya” justin membayar boneka fera. Mereka berjalan berpisah setelah dari tempat boneka fera memaksa ingin pulang dan justin menurutinya sedangkan Janis dan yura mungkin pergi jalan-jalan.
***
Luisa melihat kearah pintu kelas berharap kekasihnya datang melewatinya dan mengucapkan kalimat yang tidak penting untuk menghiburnya. Tapi saat jam menunjukkan pukul dua belas lelaki itu tidak memunculkan wajahnya. Luisa sudah mencoba menghubungi ponsel lelaki itu tapi tidak di jawab sedangkan kata Janis kemarin dirinya bertemu justin di mall bersama adiknya.
Tapi kenapa sekarang lelaki itu tidak menampakkan dirinya?
Festival olah raga tinggal beberapa hari lagi besok adalah jadwal pertandingan basket timnya justin dan kelas sebelah, meskipun hari pertandingan sudah di mulai justin masih belum hadir mengikuti pertandingan alhasil kelas mereka kalah tanpa kehadiran justin.
Tak terasa sudah tiga hari justin hilang tanpa jejak dan tanpa kabar hal itu membuat luisa khawatir. Tiba-tiba luisa teringat tempat yang justin bilang sering dia datangi.
Sepulang sekolah luisa menaiki taksi menuju tempat kesukaan justin sesampainya di sana luisa tersenyum dia melihat justin duduk membelakanginya.
Dia berjalan perlahan lalu menyerukan nama kekasihnya itu.
“Justin!”
Justin memalingkan wajahnya mencoba menghindari kontak mata dengan luisa.
“Lo ngehindarin gue” luisa mencoba melihat wajah justin tetapi lelaki itu seperti menyembunyikan sesuatu, justin menundukkan wajahnya.
“Justin liat gue” ucap luisa lagi, justin menggeleng lemah. Luisa menggeram kesal lalu mencoba menarik wajah justin untuk menatapnya.
“Jauhin gue sa!” ucap lelaki itu masih dalam posisi menunduk.
“lo kenapa sih”
“Gue gak pantas buat lo, lo benar gue memang cowok berandalan jadi jangan dekati gue karna gue gak ingin lo terluka”
“dengan begini aja lo udah nyakitin gue just. Justin tatap gue!” seru luisa memaksa agar justin melihatnya dan itu berhasil tapi dia terkejut karna melihat lebam di mana-mana pada wajah justin.
*****
Vote and Comment
😘