'' Rani Marissa ''
Seorang gadis cantik, yang mandiri baik hati.
'' Leonardo Pratama ''
Pria tampan ,pewaris tunggal perusahaan Pratama . sekaligus pria yang menjadi kekasih Rani Marissa.
'' Disa Andini ''
Sahabat Rani yang menyukai Leon, sejak pertama kali bertemu. Ketika Leon diperkenalkan oleh Rani, sebagai kekasihnya. Tapi demi persahabatan mereka , dia menyimpan perasaan itu dalam htinyaa.
Ada sebuah kejadian yang menyebabkan Leon menikah dengan Dissa
Apa kejadian itu?
penasaran ?.
yuk!! bacaa😍😌
jangan lupa like, comen, vote nya yaahh
😍😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raquini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pagi itu Rani masih berbaring di tempat tidurnya, itu karena hanya sedikit yang memesan kue jadi tidak perlu bangun subuh untuk membantu ibunya membuat kue. Rani tersentak saat namanya di panggil ibunya, makin lama makin sering jadi dia memutuskan untuk bangun dari tidurnya.
"Raniiiiiiiiii....." teriakan keras tepat di telinganya membuatnya langsung bangun dengan wajah bodoh. Ternyata yang memanggilnya dari tadi itu Disa sahabatnya itu. Rani mendengus kesal saat melihat sahabatnya itu, Disa memandang Rani dengan senyum menyungging di bibirnya tanpa rasa bersalah.
" kamu ngapain ke sini?" tanya Rani malas dan membaringkan tubuhnya kembali. Disa yang melihat itu menepuk jidatnya. Bagaimana Rani melupakan jadwal seorang dosen kiler.
" yaampuunnn Raniiii.... hari ini jadwalnya Pak Ricard mau ngumpulin tugas trus tanda tangan juga." ujarnya dengan penuh tekanan.
Perkataan Disa sontak membuka lebar mata Rani.
" aduuuhhh mampusss ." gumamnya pelan dan langsung masuk ke kamar mandi. Disa terkikik melihat tingkah sahabatnya itu, dia membantu Rani membereskan tempat tidur yang masih berantakan.
Rani langsung menarik tangan sahabatnya itu dan berpamitan pada kedua orang tua Rani mereka juga melewatkan sarapan.
Mereka tiba di kampus tepat waktu Rani lupa membawa HP nya jadi dia tidak mengangkat telepon dari kekasihnya. Di sana sudah ada Leon, Arga , Dito dan yang lainnya.
" sayangg aku telepon kok gak di angkat-angkat" tanya Leon saat Rani sudah duduk di kursi.
" aduuh, maaf sayang aku lupa bawa dehh kayaknya." ujar Rani dengan tatapan bersalah pada Leon.
Leon yang melihat itu pun tersenyum, kekasihnya memang sangat menggemaskan. Leon mendekati Rani dan mencubit hidung mancung Rani. Hal itu membuat seisi ruangan langsung ber cie cie... dan mengatakan jika mereka benar-benar serasi.
Tidak dengan Disa yang memang tersenyum tapi dalam hatinya ingin menutup mulut teman-teman sekelasnya, dia juga iri dengan Rani yang bisa meluluhkan hati seorang Leonardo Pratama. Dia juga pernah mengatakan cinta langsung kepada Leon tapi Leon menolaknya mentah-mentah. Dia tidak ingin menduakan Rani apalagi Rani dan Disa memang bersahabat sejak lama.
"Apakah kalian pikir ini pasar!!!" tegas Pak Ricard saat sudah berada di dalam kelas dan tidak disadari para mahasiswa. Kelas yang semula terdengar memekakan telinga langsung senyap.
Setelah selesai kelas Rani mengajak Disa untuk pergi ke taman sekolah bersama Leon dan kru-nya.
Disa menolak dan mengatakan kepada Rani jika dia harus buru-buru pulang karena orang tuanya sudah kembali dari luar kota. Rani bisa merasakan jika sahabatnya itu berbohong tapi setelah bujukan-bujukan dari Disa akhirnya dia terpaksa menyetujuinya.
Leon dan Rani mampir ke taman kampus sedangkan Arga dan Dito menolak untuk bersama keduanya karena hanya akan menjadi nyamuk. Leon juga sudah menelepon ibu Maya meminta izin untuk pergi bersama Rani.
"Leon... aku cinta sama kamu." ujar Rani dengan tatapan sendunya. Dia ingin sekali berteriak saat ini dia sangat sangat mencintai Leon. Leon tidak bisa banyak bicara dia hanya berusaha menghibur Rani jika tidak akan terjadi apa-apa.
***
Besok adalah hari terkahir 1 minggu yang telah di tentukan Rani. Dan hari ini Disa yang sedang berbelanja tidak sengaja bertemu dengan bu Nani, nyonya Pratama Corp. Dia tersenyum jahat dalam hatinya dia sedang merencanakan sesuatu karena Rani memang sudah menceritakan apa yang menjadi permasalahannya. Dia merasa ini adalah peluangnya jadi bagaimana pun harus berhasil.
Bu Nani yang saat itu sedang dalam pengawasan ketat sedang berjalan di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Namun perjalanannya terhenti saat mendengar teriakan seseorang, dia berbalik dan mendapati seorang gadis sedang mengejarnya dengan barang belanjaan yang banyak di tangannya. Para pengawal yang berjumlah 4 orang pun langsung siaga. Mereka juga menahan tubuh gadis itu saat dia mencoba memegang tangan nyonya mereka.
" Biarkan saja , mungkin dia ingin berbicara sesuatu denganku." ujar bu Nani pada para pengawalnya. Bu Nani memang tidak mengenal wanita itu.
Ketika merasa mendapat lampu hijau dari nyonya Pratama Corp, Disa mengajak beliau untuk berbicara di sebuah kafe dengan 4 pengawal berdiri di setiap sudut meja mereka. Disa merasa agak risih tapi dia menahannya demi rencananya.
" Halo nak apakah ada yang ingin di bicarakan?" tanya bu Nani sopan dan langsung ke inti. Dia juga tidak bertanya nama Disa dan apakah mengenalnya atau tidak, karena semua masyarakat tentu sudah tahu nyonya Pratama Corp.
" I..iya tante, aku ingin berbicara dengan tante. Kebetulan saya juga sekelas dengan anak ibu." ucap Disa. Disa juga tidak canggung dengan orang penting di depannya ini. Itu karena nyonya Pratama Corp terkenal sangat ramah dan bergaul dengan siapa saja.
Bu Nani mengangguk dan Disa melanjutkan perkataanya.
" Tante... Leon dan Rani itu sama-sama teman saya. Saya juga tahu mereka saling mencintai. Tapi tante apakah menurut tante Rani itu pantas menjadi menantu tante? kan...." ucapannya terputus saat bu Nani menyela pembicaraannya.
" Apakah kamu ingin mengatakan jika Rani orang miskin dan tidak pantas menjadi menantuku? kenapa denganmu kamu itu teman mereka seharusnya kamu mendukung dong, bukannya menghasut saya seperti ini. Apakah kamu ingin menjadi perusak hubungan mereka? Saya harap tidak demikian karena saya yang akan turun tangan langsung." ucap bu Nani dengan marah.
Disa sangat terkejut ketika mendengar perkataan bu Nani. Namun, dia dengan cepat menutupinya dengan senyuman dia akan tetap berusaha.
" Bu...bukan begitu tante." katanya gugup dan langsung berbicara dengan bahasa formal.
" Maksud saya, saya memang sahabat Rani udah lama. Terus kemaren saya diceritain sama Rani kalo sebenarnya dia itu gak perawan tante." ujar Disa
Bu Nani terkejut bukan kepalang. Dia menatap Disa dengan curiga.
" Siapa namamu?" tanyanya.
" Disa tante." jawab Disa. Dia sangat berharap setelah ini bu Nani tidak merestui hubungan Rani dan Leon.
" Apa yang bisa membuatku percaya jika yang kamu katakan itu benar." selidik bu Nani.
" Tante mungkin bisa melihatnya beberapa saat kedepan. ooia tante maaf yaa sudah mengganggu waktu tante aku pamit yaa tante. Ini ada nomorku jika tante ingin menghubungiku silahkan saja." kata Disa sambil menyodorkan sebuah kartu nama dan meninggalkan tempat itu.
Bu Nani mencoba memikirkan kembali perkataan Disa tadi. Dan dia menggeleng kepalanya. Tidak mungkin!!!
Di tempat yang berbeda dan waktu yang sama dengan Disa dan ibu Leon berbicara, Rani dan Leon juga sudah bersama-sama. Rani menggenggam tangan Leon dan mengecupnya. Dia sudah menyiapkan mentalnya akan keputusan Leon.
" Leon... sebelum aku mengatakannya aku harap kamu bisa menerimanya. Atau jika kamu tidak menerimanya aku juga tidak memaksa. Dan aku harap kamu tidak menyela perkataanku sampai aku selesai berbicara." ujar Rani dengan butiran bening yang sudah membasahi pipinya.
Leon menangkup wajah Rani dan menghapus air matanya menggunakan kedua ibu jarinya. Perasaannya tidak tenang.
" iya sayang." Jawabannya membuat Rani tersenyum getir. Sekali lagi dia berpikir apakah dia bisa mendengar panggilan ini lagi?
" Leon.... a..ak..a..ak..u..akku tidak perawan." Rani behenti bicara saat Leon menangkis tangannya, dia bisa melihat wajah keterkejutan Leon. Leon menarik napasnya dan duduk kembali tapi tidak menghadap ke Rani dia juga tidak memegang tangan Rani lagi.
Sekali lagi pikiran Rani sudah menebak keputusan Leon.
" Waktu aku kecil, aku diperkosa om kandung aku. Papa sama mama juga gak tau sampe sekarang. Aku takut saat mereka dengar mereka langsung struke. Aku bicara jujur Leon. Aku serahin semuanya ke kamu terserah kamu mau nerima aku atau gak." ujar Rani yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Leon melihat kepergian Rani dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi itu.
Sedangkan di suatu tempat Disa sedang menjalankan rencana B.
***
Disa juga mengatakan kepada para readers jika ingin mengetahui rencananya maka harus memberikan Like, Comen, dan votenya🙂🙏