NovelToon NovelToon
Mutiara Di Balik Lumpur

Mutiara Di Balik Lumpur

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:272.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arion Alfattah

Season 1

Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.



Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.

Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?

Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.

Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

"Kak, aku balik ke hotel ya? sebentar lagi Nathan pasti pulang dan aku harus ada di dalam. Takutnya dia khawatir nyariin aku." (Meski ku tahu jika pria bad boy itu tak akan mengkhawatirkan diriku.) batin Bian.

Sean yang baru saja menghabiskan minuman menghelakan nafas. (Di saat dia meninggalkanmu kau masih memikirkan dia.)

"Iya. Tapi, apa kamu sudah kenyang? Kakak lihat kau makan hanya sedikit." Hanya dirinya yang makan banyak sedangkan Bian sedikit.

"Waktu kau datang aku sudah makan, abisnya capek nunggu Nathan dan capek ngedumel kesal." Bian mengambil tasnya lalu di sematkan di pundak sebelah kiri. Sean mengangguk seraya memandang wajah cantik adiknya yang tertutup dengan warna hitam.

"Bi, kalau kau membutuhkan sesuatu aku siap membantumu. Kau bisa menghubungiku."

"Mau menghubungi mu bagaimana? Aku tidak punya ponsel, Kak. Ponsel dan dompet ku hilang. Untungnya KTP ada di rumah, kalau hilang bisa gawat darurat."

"Masa sih? kau kecopetan?" Sean khawatir adiknya di hati orang.

"Bukan kecopetan melainkan ketinggalan di mobilnya Nathan saat aku di paksa turun di tengah jalan." Bian memang selalu terbuka dalam hal apapun pada Sean. Pria itu tahu betul setiap apa yang terjadi padanya. Entahlah, gadis itu merasakan kenyamanan tersendiri. Dirinya merasa di lindungi oleh Kakaknya sendiri.

Menghelakan nafas. "Nanti kakak belikan. Sekarang kamu balik saja ke kamar hotel." Sean melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 9 malam. "Sudah malam."

Bian mengangguk, mereka berdua berjalan saling berdampingan. Sean mengantarkan adiknya ke depan kamar dan ia juga masuk kamarnya yang tak jauh dari sana.

***********

Baru saja selesai membersihkan diri bel hotel berbunyi. Bian pun membukanya dan ternyata itu adalah Nathan. "Nathan, kau sudah pulang?"

Nathan masuk melewati Bian berjalan sempoyongan dalam keadaan mabuk. Gadis itu membuang nafasnya secara kasar lalu menutup pintunya kemudian mendekati Nathan yang sudah terbaring dengan kaki menjuntai ke lantai.

"Eliza, kenapa kau mengkhianati ku? apa salahku? apa kekuranganku?" Nathan meracau akibat pengaruh alkohol.

Sejenak Bian memperhatikan wajah Nathan lalu berjongkok membuka sepatunya. (Menyusahkan sekali, aku tidak tahu dia kenapa pulang dalam keadaan mabuk seperti ini.) dalam hatinya, gadis itu menggerutu kesal.

Bian menyimpan sepatunya di tempat yang di sediakan. Kini ia beralih menatap wajah suaminya. (Sepertinya sedang patah hati, kasian.)

"Hei, kau yang berdiri di hadapanku. Kau tahu, aku dikhianati oleh kekasihku, sungguh sakit hatiku ini," racau Nathan menunjuk gadis yang berdiri di hadapannya.

"Aku tidak tahu." Jawab Bian masih memperhatikan suaminya yang sedang meracau mengeluarkan unek-unek nya.

Nathan bangkit berdiri di hadapan Bian memandangnya dengan tatapan sayu "Aku pikir semua gara-gara kau yang tiba-tiba hadir di kehidupanku, ternyata aku salah. Dia selingkuh dariku, dia sudah menikah dua bulan yang lalu dan kau tidak salah." Nathan mengikis jarak di antara mereka. Meski dirinya sedang mabuk, Nathan masih sadar jika dihadapannya adalah Bian Almeta istri yang ia nikahi 4 hari yang lalu.

(Oh, rupanya Nathan sudah tahu kekasihnya sudah menikah. Sepertinya wanita itu istri dari Bosnya Milla. Tapi, kenapa dia ada di sini ya?) monolog dalam hati melamun seraya berpikir tanpa mengetahui kalau Nathan sudah berada tepat di hadapannya.

"Bian, apa aku kurang tampan?" yang membuat Nathan tidak bisa berpaling dari Bian adalah gadis itu terlihat sexy dengan handuk yang melilit di tubuhnya hanya menutupi intinya saja.

Eh...

Bian tersadar ketika nafas Nathan menerpa wajahnya. (Ngapain dia deket-deket?) Bian mendongak memundurkan tubuhnya. "Ka-kau tampan," balasnya gugup belum menyadari kondisinya.

"Apa aku kurang kaya?" tanya Nathan lagi seraya terus mendekati Bian.

"Kau kaya, sangat kaya." Gadis itu bringsut mundur lagi.

Dug... tubuhnya sudah mentok di dinding tak bisa lagi mundur.

"Lalu mengapa Eliza mengkhianati ku dan lebih memilih dia?"

"Mana ku tahu, aku bukan Ibunya. Tanya saja sama dia!" Gadis itu mendorong pelan dadanya Nathan merasa tidak nyaman berada di kungkungan suaminya. Nathan malah mencekal kedua tangann Bian mengangkatnya ke atas, menguncinya.

"Na-Nathan, kau ma-mau apa?" Gadis itu begitu gugup dan juga terkejut.

Nathan menempelkan kedua benda kenyal itu. Mengecupnya, melu matnya, menye sapnya, menyusuri setiap rongga mulut Bian.

(Tidak, ini salah. Aku tidak boleh terbuai, Nathan sedang mabuk. Tapi kenapa tubuhku tidak menolaknya?" hati, pikiran, dan badan saling berperang. Pikiran berpikir kenapa tubuhnya tidak menolak, hati ingin berkata tidak, namun badan terbuai menerima ciumannya.

(Aku kecewa Eliza mengkhianati ku, tapi aku tidak merasakan kesedihan. Mungkin aku sedikit mabuk namun, aku masih memiliki akal dan sadar apa yang ku lakukan. Entah kenapa hati kecilku, mataku, tertarik akan sosok istriku.) Nathan terpejam menelelami perasaan yang ia rasakan. Entahlah...

Pria itu melepaskan tautan mereka dan juga melepaskan cekalannya. Tubuhnya mulai merasakan hawa panas. Bian yang sudah di lepaskan menunduk malu tak dapat lagi menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ketika menunduk, matanya melotot. (Ya Tuhan..!)

Dia tersadar masih mengenakan handuk dan segera mencekal handuk itu dengan erat. Bian mendorong dada Nathan berlari ke lemari pakaian lalu beranjak menuju ruang ganti. Nathan memperhatikannya, sudut bibirnya terangkat melengkungkan senyuman miring. Namun, senyuman itu seketika sirna mengingat jika dia meninggalkan istrinya sendirian.

"Bodoh, kenapa kau melupakan dia. Apa dia sudah makan?" umpatnya kesal pada diri sendiri.

"Nanti aku tanya dia setelah selesai mandi." Pria itu berjalan ke kamar mandi untuk mendinginkan senjatanya yang sudah mode om dan membersihkan badannya yang terasa lengket. Kesedihan dan kekecewaannya seketika sirna saat melihat istri halalnya.

*********

Kedua insan itu tengah dilanda kecanggungan, keduanya terdiam tak berbicara apapun. Nathan yang terlentang di kasur dan Bian yang terlentang di sofa pura-pura tidur. Keduanya sama-sama menatap langit-langit yang sama.

Nathan beringsut untuk duduk, matanya memandang Bian. "Kenapa kau tidur di sana?" Bian tidak menjawab.

"Saya tahu kau belum tidur, kalau kau tidak menjawab aku tak akan segan-segan melakukan hal yang tadi!" ancamnya dan itu berhasil membuat Bian menoleh.

"Kau sendiri yang bilang tidak mau berbagi ranjang."

Nathan menghelakan nafas. "Kemarilah!" Katanya.

Bian mengerutkan keningnya. "Ngapain?"

"Jangan banyak tanya, kemarilah! Aku mau bicara sama kamu."

"Kan disini juga kedengeran."

"Aku bilang kemari, Bian Almeta! Mau ku ajak jalan-jalan tidak? tapi besok." Sergah Nathan dengan kesal menaikkan nadanya satu oktaf.

Bian menghelakan nafasnya lalu beranjak menghampiri pria itu. "Ada apa?" tanyanya setelah berdiri di dekat Nathan.

Nathan tak menjawab, dia malah menarik tangan Bian menjatuhkannya ke samping lalu ia memeluk pinggang istrinya menelusupkan wajahnya ke ceruk leher.

"Nathan..! Apa yang kau lakukan?" Bian terkejut ingin berdiri namun Nathan semakin mengeratkan pelukannya.

"Diamlah! Kalau kau berontak, kau akan berakhir di bawah kungkunganku mengerang nikmat." Seketika Bian terdiam tak lagi ingin melepaskan diri. Nathan menarik sudut bibirnya terpejam menghirup aroma Vanila.

Aroma parfum yang cukup manis, hangat, dapat memancarkan aura feminin, dan mencari dari sisi manis seorang perempuan. Aroma ini juga mampu membuat Nathan lebih tenang dan nyaman ketika berada di dekat Bian.

(Eliza memang wangi, tapi tidak senyaman ini.) Batinnya.

Bersambung....

1
Devi Novita
kyk dr Indonesia ke Amerika aja 19 jam 😂 kyknya pesawatnya bolak balik berhenti deh mknya 19 jam
juwita
mampir
Dyah Oktina
Luar biasa
Dyah Oktina
lah daddy sendiri datang k pusat pelacuran... bagaimana ngak memberi contoh... 🤭
Yanti Yanti
Luar biasa
Indah Maya Sari
orang tia serakah .. seperri hartax dia bawa mati saja, 🤭
Putri Minwa
Dibalik kesetiaan Nayla mampir ya thor
Def-rehanQu
lanjut
Daniela Whu
jangan" bapkx kandung x bian ini
Unknown
Nevada itu Amerika Thor hahaha, lu kira Nevada itu Meksiko
Unknown
apa bedanya las Vegas sama Amerika serikat Thor 🥴🥴🤣🤣 soalnya las Vegas juga USA
Ashraf Syafikah
wow banyaknyaaaa
Novianti Ratnasari
harus nya Anggelia jangan.mau melakukan hubungan suami istri klw blum nikah
Novianti Ratnasari
kaya nya kekasih nya Sean lg hamil ank orang
Novianti Ratnasari
cinta belum kelar
Novianti Ratnasari
knp ya laki2 pd takut am kecoa ketimbang tikus.
Novianti Ratnasari
tinggal Sean yg nikah am Mila
Novianti Ratnasari
Billi keren
Novianti Ratnasari
jangan2 Aiden mantan nya Nathan
Novianti Ratnasari
gila si Austin.bukan nya menjaga dn melindungi istri ini malah di jadikan pelacur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!