Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puanas Puanas
"Lho? Kok ada tukang ojek di sini?" tanya Austin dengan gaya merendahkan.
Alden terdiam mendengar ucapan yang lebih seperti penghinaan menurutnya. Seketika dia teringat, ternyata laki-laki itu adalah orang yang pernah memandang ia penuh kebenciaan saat dirinya menggendong Raya dulu.
Tunggu?
Kenapa dia melihat dengan tatapan penuh kebenciaan saat itu? Sedangkan dirinya sendiri tidak pernah melakukan kesalahan pada laki-laki itu.
Alden langsung menatap Rara, kemudian kembali menatap laki-laki bule tersebut.
"Seperti orang idiot," lirih Rara memutar matanya dengan malas.
Rara lalu berjalan mendekati Austin. Tanpa basa-basi ia langsung memeluk laki-laki itu.
"Kangen," rengek Rara dengan memajukan bibirnya lucu.
Austin mati-matian menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir merah milik Rara. Sungguh Rara sangat menggemaskan di matanya sekarang ini.
Cupp
Karena merasa tidak mungkin mencium bibir manis itu, Austin terpaksa hanya mencium pucuk kepala Rara. Dirinya masih tau batas, meski pun bisa saja ia mengambil kesempatan itu, tapi dia tidak akan melakukannya, karena bisa saja apa yang ia lakukan justru membuat Rara menjauh darinya.
Rara mengerjab-ngerjabkan matanya dengan lucu. Merasa sedikit terkejut dengan ulah Austin yang tiba-tiba menciumnya. Ini adalah kali ketiga Austin mencium pucuk kepalanya.
Austin terkekeh lucu dengan sikap Rara. Rasanya ingin sekali dirinya menghujani wajah cantik Rara dengan ciuman. Ah tapi itu hanya ada di dalam mimpinya saja.
Rara benar-benar susah untuk didapatkan. Tapi itu semua wajar saja, mengingat wanita itu pernah terluka dengan sangat dalam. Jadi, tidak ada kata menyerah di dalam kamus kehidupan Austin. Selama janur kuning belum melengkung, semuanya masih bisa menikung.
"Kangen ya sama, Mas?" tanya Austin dengan mencolek hidung Rara.
"Iy-"
"Kalian ada hubungan apa?" tanya Alden dengan napas memburu, bahkan tangannya kini sudah terkepal dengan sempurna.
"Suami istri!"
"Pacaran!"
Rara dan Austin kompak menjawab dengan jawaban yang berbeda, sehingga membuat Alden tersenyum, karena tau jika mereka sedang berbohong.
Rara menatap tajam Austin. Sementara Austin hanya mampu tersenyum.
"Kita sudah menikah, tetapi kita masih bergaya seolah-olah kita sedang berpacaran. Percayalah itu terlihat lebih romantis. Kami dulunya menikah dengan perasaan sama-sama suka, bukan dijodohkan!" jelas Rara dengan tenang.
Alden merasa sedikit tertohok mendengar kalimat terakhir yang diucapkan istrinya. "Jika kalian sudah menikah, lalu kenapa tidak ada cincin pernikahan?" tanya Alden dengan sinis.
"Karena Rara selalu ingin ganti cincin setiap sebulan sekali, dan yang pastinya cincin keluaran terbaru. Karena cincin keluaran terbaru tersebut lagi dipesan, maka kami berdua kompak melepaskannya, dan menunggu cincin itu ada," jawab Austin.
"Saya mencintai Rara dengan tulus. Bahkan saya rela memberikan apa pun untuk kebahagiaan dia, sekali pun itu adalah nyawa saya sendiri. Diandra adalah wanita pertama yang membuat saya merasakan jatuh cinta. Jadi dapat disimpulkan jika dia adalah cinta kedua saya, setelah bunda. Saya tau kalau Rara sedang tidak baik-baik saja. Saya tau kalau dia sedang sakit, oleh sebab itu saya ingin menjadi penyembuh hatinya. Memberikan dia hari-hari yang penuh dengan canda tawa," ucap Austin dengan menatap mata Rara dengan tatapan tulus.
Rara terdiam, ia sontak menunduk, merasa bersalah pada Austin karena tidak bisa membalas perasaan laki-laki itu.
'Gue udah berusaha untuk buka hati gue kambali. Tapi gue nggak bisa! Hati gue bahkan nggak pernah bergetar meski pun Kak Austin memperlakukan gue dengan baik' Rara berteriak dalam hati.
"Nggak! Kalian nggak mungkin sudah menikah! Itu nggak mungkin! Aku yakin Rara nggak semudah itu ngeluapin aku," jawab Alden dengan penuh percaya diri.
"Cih ... pede sekali Anda. Emangnya lo siapa sampai-sampai membuat gue nggak bisa ngelupain lo?" sahut Rara dengan sinis.
Austin sedikit tertegun mendengar ucapan Rara yang terdengar sinis. Apakah Rara sudah benar-benar melupakan Alden?
Seketika senyum Austin semakin melebar. Ah, sepertinya dia masih memiliki harapan untuk mendapatkan hati wanita itu.
"Ra, apa kamu benar-benar udah ngelupain Mas?"
"He'em." Rara hanya berdehem, dari tadi pertanyaan Alden itu melulu.
"Jika kalian benar-benar sudah menikah, maka tunjukkanlah buktinya!" ucap Alden yang masih belum percaya.
"Apa bukti yang bisa membuatmu percaya?" tanya Rara. Sepertinya jika ia menunjukkan bukti itu, Alden akan berhenti untuk mengganggu hidupnya.
"Berciumanlah!" perintah Alden.
Alden tau jika Rara adalah wanita baik-baik, jadi tidak mungkin wanita itu berani melakukan hal seperti itu jika tidak ada hubungan pernikahan.
Rara sontak melotot mendengar permintaan Alden. Gila saja jika ia mau melakukan hal seperti itu. Harga dirinya terlalu mahal untuk melakukan hal serendah itu. Tapi ....
"Baiklah!" sahut Rara mantap.
Kini Austin yang dibuat terkejut mendengar ucapan Rara. Apakah wanita itu yakin ingin mencium dirinya? Rara tidak mungkin mau melakukan hal itu. Tapi Austin juga tersenyum. Ah, apakah Dewi Fortuna sedang berpihak pada dirinya?
Perlahan Rara mendekatkan bibirnya pada bibir Austin. Alden yang melihatnya hanya mampu menahan napasnya, sungguh dirinya tidak rela jika bibir itu benar-benar bersentuhan. Kenapa jawaban Rara tidak sesuai ekspektasi?
Austin menutup matanya saat wajah Rara semakin mendekat di wajahnya.
Brukk
.
.
.
.
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/