NovelToon NovelToon
Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Selingkuh / Pihak Ketiga / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:451.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Noormy Aliansyah

'𝐽𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑜𝑜𝑚 𝑙𝑖𝑘𝑒 𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑠𝑟𝑎 𝑘𝑖𝑡𝑎, 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑏𝑜𝑜𝑚 𝑙𝑖𝑘𝑒 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑢𝑏𝑖-𝑡𝑢𝑏𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑎𝑦a!'🙏😊

𝐶𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑖𝑛𝑖 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝐴𝑢𝑡ℎ𝑜𝑟. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑎𝑡𝑎𝑝 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑡𝑜𝑘𝑜ℎ, 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑑𝑙𝑙, 𝑖𝑡𝑢 ℎ𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑏𝑒𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛!🙏😁


Apa jadinya jika wanita yang kau cintai bertahun-tahun ternyata telah menduakanmu?

Saat bukti sudah di perlihatkan, berulang kali wanita itu menampik dengan mengatakan bahwa mereka hanya berteman dan kau langsung percaya.

Saat kau tersesat akan cinta yang tidak bisa kau raih lagi, terpuruk asaan membuatmu hilang kendali, dan menyakiti seseorang yang baru saja kau temui. Menorehkan luka yang begitu dalam dan membekas, meninggalkan sesuatu untuknya seumur hidup hingga membuat orang itu malu berkepanjangan hingga kembali depresi juga sulit memaafkanmu.

Menyesalinya tapi tidak dapat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noormy Aliansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Usai mengerjakan Sholat, Rahimah buru-buru keluar Mushola karena telepon genggamnya yang berdering. Segera diraihnya Hp yang berada di dalam tasnya, Membaca nama si penelfon Ia kemudian menjawabnya.

"Assalamualaikum."

📞"Wa'alaikumussalam, Imah kata Mbak Dizah Rahman sakit dan di rawat di rumah sakit ya?" Suara seseorang ikut khwatir.

"Iya tadi malam alerginya kambuh lagi, jadi di sarankan dokter nginap buat ketemu dokter spesialis kulit, tapi cuman sampai siang nanti aja kok, karena dokternya akan datang." Tuturnya menjelaskan.

📞"Ya udah nanti Siang Aku kesana, sekalian bareng Nurul sama Soraya." Ujarnya kepada Rahimah, yang ternyata itu adalah Dinda.

"Iya baiklah."

📞"Kalau gitu sampai ketemu nanti siang, jangan lupa sms kamar inapnya yang mana biar langsung OTW. Assalamualaikum"

"Wa'alaikumissalam." Menggelengkan kepala Rahimah menghembuskan nafasnya pasrah, Ia berniat menelpon Khadizah untuk tidak memberi tahu teman-temannya tapi rupanya Ia terlambat.

Khadizah sudah lebih dulu menghubungi teman-temannya, tadi malam Ia lupa berpesan karena sedang fokos pada Rahman yang menggaruk-garuk tangannya.

Dengan segera jarinya pun dengan lincah bergerak-gerak merangkai kalimat di keyboard Hp nya, lalu mengirimnya kepada Dinda.

Menonggakkan kepala melihat langit yang mulai menampakkan cahayanya terlihat terang menderang menejukkan mata yang memandang.

Rahimah berniat pergi kekantin ingin membeli sesuatu untuk mengisi perutnya. Ia yakin walau masih sangat pagi tapi pasti kantin rumah sakit sudah buka, dan benar saja dugaannya kanti sudah di isi beberapa pembeli walau tidak terlalu banyak.

Memilih beberapa kudapan dan selalu menanyakan apakah di dalam makanannya mengandung udang karena Ia tidak akan tega melihat anaknya tidak ikut makan, Rahimah juga membeli teh hangat yang di bungkus dalam kresek putih terang bersama sedotannya.

Selesai dengan pembayaran Rahimah langsung kembali ke kamar inap Rahman. Ia masuk dan mengucapkan salam kepada Rahman.

"Maaf kalau Mama lama keluarnya soalnya tadi Mama ke kantin dulu." Rahimah menata kue kedalam sebuah piring plastik yang tadi juga sempat Ia beli.

"Gak lama sama sekali." Kata Rahman sembari duduk.

"Ini minum dulu teh hangatnya." Rahman menerimah kantung teh hangat yang di sodorkan Mama nya.

"Rahman Mama mau nanya sesuatu sama kamu Nak?" Seketika atensi nya tertuju penuh pada Mama nya.

Rahman diam menunggu apa yang akan di tanyakan Mama nya, apakah ada hubungannya dengan permintaan maaf Pak Rt dan warga tadi malam yang sempat Ia curi dengar.

"Ini tentang tadi malam." Benar tebaknya.

"Karena ada kesalah fahaman para warga di masalalu terhadap Mama, jadi tadi malam mereka meminta maaf dan menawarkan Mama juga Rahman untuk tinggal kembali di komplek itu." Rahimah teringan tentang tawaran Pak Rt yang memintanya untuk tinggal kembali.

"Karena kesalah fahaman itulah Mama dan Kakek pergi dan tinggal di rumah kita sekarang."

"Dulu Kakek pernah ceritakan sama Rahman? Kalau Mama dan Kakek sempat tinggal disana..!" Rahman sangat ingat Kakek nya sempat menceritakan tentang masa kecil Mamanya yang ikut ke ruko milik Kakeknya. ia pun mengiyakan.

"Dan Mama ingin bertanya sama Rahman, apakah Rahman ingin kita tinggal di sini?" Rahman diam sejenak Ia menjadi penasaran dengan kesalah fahaman apa yang mengharuskan Mama dan Kakek nya pindah.

Belum Rahman berucap kembali Mamanya berseru. "Tapi kalau kita tinggal di sini, Rahman akan kehilangan teman-teman sekolah disana. Kamu juga akan berhenti dari latihan taekwondo.." Rasa penasaran yang Ia rasakan saat ini lebih dominan dari pada semua yang ada disana.

"Gak apa-apa kok Ma.. kalau Rahman tinggal disini, taman-teman juga bisa di carikan? Kalau taekwondo Rahman berhenti aja dulu, nanti gampang kok lagian Rahman belum berkunjung ke rukonya Kakek." Menatap manik mata bening sang putra Rahimah menghela nafas pasrah, Ia pikir jika Rahman menolak untuk tinggal itu akan menjadi alasan yang tepat, tapi nyatanya Rahman sudah berniat inggin tinggal.

Memanggut-manggutkan kepala lalu Ia berujar. "Baik, kalau memang Rahman mau tinggal di sini. Nanti kita pulang langsung mengurus kepindahan Rahman."

Walau tidak tau bagaimana caranya agar Ia tau rahasia di balik ke pindahan Mama dan Kakek nya dulu Ia akan berusaha mencari tau.

"Nanti siang teman-teman Mama akan dateng jenguk Kamu, sebaiknya Kamu pindah sekolah di tempat Rayan saja? Jadi Kamu sekalian ada temannya. Mama nanti yang ngomong sama tante Soraya."

Mengambil kembali minuman yang berada di tangan Rahman, dan menawarkan kue untuknya.

"Makan kuenya." Terlihat sangat lejat kue yang berlapis itu. Rahman pun hendak segera memakannya tapi tiba-tiba ada suara.

"Kakak makan apa?" Rahimah dan Rahman pun menoleh, hanya kepala yang muncul.

"Eh ada ada adik manis ya di sini?" Intan tersenyum malu mendapatkan pujian, Rahimah berdiri dan menyibak dindingnya.

"Hehe makasih tante, Kakak makan apaan?" Kembali Ia bertanya.

"Makan kue, kamu mau?" Anggukan Intan menjadi jawaban pertama yang mereka tangkap.

"Emang boleh tante?" Katanya.

"Boleh, Kamu sama siapa?"

"Sama Mama, tapi Mama masih di kamar mandi." Yang di balas Rahimah dengan ber oh ria.

"Intan.. kok ganggu Kakak ya?" kembali mereka menoleh.

"Ma, Intan boleh gak makan kue ini?" Dengan semangat menunjukkannya.

"Boleh, Intan minta ya sama tantenya? Sudah bilang makasih belum?"

"Hehe lupa, makasih ya tante."

"Sama-sama."

"Permisi selamat pagi semua." Suster masuk menyibak semua gorden menjadikan ruangan telihat luas. Terlihatlah suster bersama seorang dokter muda. Rahimah tepaku memandang dokter lelaki di hadapannya.

"Maaf kami mau periksa dulu paseinnya." Kata suster ramah, dokter pun berjalan mendekat ke arah Rahman.

Segera Rahimah memberi ruang untuk dokter tersebut dan masih memperhatikan tapi dokternya tidak sadar.

"Bagaimana apa masih gatal-gatal dan panas?" Kata dokter tersenyum sambil membantu Rahman berbaring. Meletakkan stetoskop di dada Rahman di beberapa titik.

"Engga Pak dokter."

"Apa ada keluhan?" Ujar dokter masih tersenyum tangannya terampil mencek tekanan darah. Rahman menggeleng.

"Katanya Rahman mau pulang hari ini ya?" Tanya dokter ramah memastikan Ramhan pun mengangkuk.

"Baik, nanti siang mungkin Rahman bisa pulang setelah botol infusnya habis." Jelas dokter suster mencatan semua pemeriksaan yang dokter lakukan.

"Keluarga pas.." Seketika suara dokter terhenti saat melihat Rahimah. Rahimah yang sadar bahwa dokter sedang mencari wali pasien segera bersuara.

"Saya dokter." Akunya.

Dokter bergeming menatapnya lekat, dari tatapannya mengatakan Ia masih ragu dengan penglihatannya.

"Rahimah?" Tanya dokter memastikan.

Rahimah tersenyum ramah ternyata dokter itu masih ingat dengannya walau sudah lama tidak bertemu.

"Iya, apa kabar Ndar? Jadi kamu sekarang sudah jadi dokter ya?" Ada keterkejutan yang Rahimah tangkap dari gelagatnya dokter tersebut.

"Kamu mengenaliku?" Rahimah tersentak kecil, Ia tidak ingin ketauan jika Ia bisa membedakan dokter tersebut dengan kembarannya, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama jelas dokter itu merasa heran.

Menurunkan pandang Rahimah pun melihat nike nama yang berada di dada kirinya.

"Itu." Tunjuknya pada dada dokter. Dokter pun mengikuti tunjuknya kemudian memanggut-manggut mengerti.

"Jadi kau keluarganya?" Tanya sang dokter.

"Iya Saya."

"Baik dari catatan medisnya, 80% keadaannya sudah membaik. Untuk 20% kalau Rahman ingin pulang dia sudah bisa pulang nanti siang setelah menghabiskan infusnya, dan bisa melakukan rawat jalan." Ujar dokter sembari membuka lembaran catatan medis.

"Baik, terimakasih Pak dokter." Balas Rahimah, Ia jadi sungkan tadi sempat memanggil namanya.

"Ya sama-sama, semoga lekas sembuh." Katanya sambil menepuk pelan bahu Rahman.

"Kalau gitu sekarang kita periksa gadis manis." Dokter berlalu melewati Rahimah.

Sama seperti Rahman dokter pun bertanya keluhan pasein kepada Intan.

Rahimah kembali mendekati Rahman tanpa berniat melihat dokter yang pernah menjadi teman sekolahnya.

"Ma.. Rahman mau pipis." Bisik Rahman ke telinga Rahimah.

Membantu Rahman turun dari ranjang Ia pun memegang botol infusnya mengangkatnya tinggi. Berjalan beriringan melewati ranjang Intan karena kamar mandi lebih dekat dengannya.

Sempat melihat kalau teman lamanya melirik sekilas dengan ekor matanya sembari tetap melakukan pemeriksaan.

"Biar Rahman saja Ma, Mama tunggu di sini." Rahman melarang Rahimah masuk.

"Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam." Sahut serempak termasuk sang dokter.

"Imah, mana anak Kamu?" Pekik Nurul yang melihat Ia berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Bisa pelan dikit gak sih nanyanya, disini lagi ada dokternya." Sungut Dinda kesal.

Rahimah melirik dokter yang sedang memperhatikan teman-temannya.

"Hehe maaf gak liat." Kilah Nurul.

"Eh, tunggu-tunggu.. itu Indra apa Andri?" Tunjuk Nurul kepada dokter tersebut.

"Baik Intan semoga lekas sembuh ya." Kata dokter mengakhiri pemeriksaan.

"Makasih dokter." Kata Maryam.

Dokter beranjak dari ranjang Intan dan mendekati teman-temannya yang masih berdiri di depan pintu keluar. Dengan diam Ia ingin mengetes, berdiri dari jarak yang sama seperti Rahimah tadi apakah temannya yang lain juga memperhatikan Nike name nya.

"Eh berarti benar si kembar, tapi Indra apa Andri ya?" Seru kegirangan Nurul.

"Coba sini lebih dekat, Aku gak bisa baca nike name Kamu." Tarik Nurul, dokter melirik pada Rahimah, tapi Rahimah segera melihat ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.

"Rahman lagi di kamar mandi ya? Sini biar Tante bantu." Soraya berjalan mendekati Rahimah yang memapah Rahman.

"Wah Indra ternyata, kadang Aku masih gak bisa bedain Kalian. Terakhir kita ketemu di resepsi pernikahannya Aya kan Din?" Rahimah melewati mereka yang membahas pertemuan dulu tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Nurul.

"Pas nikahan Dinda sama Aku, katanya kalian lagi lanjut kuliah di luar negri ya gak?" Nurul masih tetap bertanya.

"Nurul, bisa gak kamu berhenti nanyain dokternya? Itu dokternya lagi sibuk mau periksa pasein lain." Rahimah menghentikan Nurul yang selalu mengoceh.

"Hehe ya udah selamat bekerja ya dokter Indra."

"Terimakasih, emm kalau bisa jangan lama-lama berkunjungnya karena pasein perlu istrahat yang cukup. Saya permisi dulu."

"Baik Pak dokter." Soraya ikut menimpali.

"Eh Imah bukannya kamu jago bedain mereka, tadi langsung ngenali gak?" Belum dokternya jauh Nurul sudah menanyainya.

"Nurul udah jangan berisik, kita kesini mau jenguk Rahman bukan bahas teman sekolah." Tegur Dinda.

"Maaf ya Mbak kalau mengganggu." Sambung Dinda meminta maaf pada Maryam.

"Gak apa-apa kok Mbak, emang dokter tadi temannya ya?" Maryam ikut penasaran dengan percakapan yang Ia dengar.

"Iya Mbak itu tadi teman semasa SMP dan SMA kita. Dan dokter itu kembar." Terang Nurul menyela.

"Bisa reunian dong?"

"Iya kalau ada kembarannya, kalau yang ini irit ngomongnya." Kata Nurul lagi.

"Masa sih Mbak? Prasaan tadi banyak lo ngomongnya." Tanyanya mengerutkan kening karena berpikir.

"Ya itu karena profesi yang Dia jalani, kalau di luar itu Saya yakin pasti gak berubah sama yang dulu." Kini Nurul mendekati Rahman.

"Gimana Man, udah sehatkan?"

"Anak kamu gak ikut Rul?"

"Gak mungkinlah Aku ajak dia kesini, gak di kasih izan sama mas Ari." Sungutnya kesal sambil cemberut.

"Iya sebaiknya memang gak usah di bawa, kan kasihan kalau ketularan sakit."

"Iya juga sih."

"Loh, kalian gak bareng Mbak Khadizah?"

"Bareng, tapi ketinggalan di lampu merah tadi." Kata Dinda.

"Ibu Ustazah ikut gak?"

"Awalnya pengen ikut, tapi kata beliau Rahman cuman sampai siang aja disini, jadi beliau memutuskan menunggu di rumah."

...****************...

Cristian berjalan menyusuri lorong rumah sakit memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana sedang yang satunya tengah sibuk mengotak atik Ponselnya.

"Hallo.. lekas kemari dan bawa baju ganti."

📞"Iysa bawel.. ini gue udah di depan. Dari subuh gue udah brangkat."

"Emm Aku tunggu di depan toilet umum." Ujarnya langsung mematikan telepon sebelum Adit menyahut.

Berjalan tegap menuju toilet sambil menunggu kedatangan Adit. Tidak sampai lima menit Adit sudah berada di hadapannya.

BERSAMBUNG....

Maaf kalau kependekan.

Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏

Tinggalkan jejek, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊

Salam sayang ....

Noormy Aliansya 😘

1
Asrina Tahir
pakcik/paman/om.. tuan/encik🙏🏿
She_shevt!e®
sampe nangis baca nya apa lg thor ny nlisnya. keren jg bnyak pelajaran ny. terima kasih y outhor♥️♥️♥️
Untaian Fiksi(Hiatus): Terimakasih untuk dukungan dan komentarnya kk. saya sangat senang jika ceritanya bisa menghibur. 🙏☺
total 1 replies
Ummi Na Ssya
suami meryam.kemana ya....saya lupa dulu banget bacanya..sekarang baru baca lagi....
Untaian Fiksi(Hiatus): meninggal karena kecelakaan, kak.

terimakasih atas komentar dan dukungannya, ya. 🙏☺
total 1 replies
Kanah
bagus
Untaian Fiksi(Hiatus): Terimakasih kakak, atas dukungannya. 🙏☺
total 1 replies
ovi
👍👍👍👍
Untaian Fiksi(Hiatus): Terimakasih, kakak. 🙏☺
total 1 replies
M akhwan Firjatullah
ya iya lah nak otor seneng...wong aku klo komen d bales otor aja senang'banget
Untaian Fiksi(Hiatus): Hehe, kita sama-sama manusia biasa ya, kak. 😁
total 1 replies
M akhwan Firjatullah
iya Thor aku juga begitu berantem eh bentar dah baikan lagi... kenangan ma Abang dan Adek ku...tp sekarang abangku dah almarhum..
sedih banget...
Untaian Fiksi(Hiatus): innalillahi, turut berduka cita, kak.
total 1 replies
M akhwan Firjatullah
aku suka cenil Thor...klo pulang ke Lampung itu makanan pertama yg aku cari.pake gula merah yg d cairin gitu...behhh rasane nyami banget pokok e
Untaian Fiksi(Hiatus): samaan dong kita, kak. 😊
total 1 replies
M akhwan Firjatullah
ga papa Thor..yg penting nyambung dan masuk akal...seenak otor ajalah sebagai reader yg baik aku ikut ajalah tema nya otor...wong aku tinggal baca aja..aku suka baca novel yg penting g horor
Untaian Fiksi(Hiatus): makasih kk
total 1 replies
M akhwan Firjatullah
Adit ma Maryam ....master Candra ma Dinda terus punya anak...indahnya khayalan ku... hehehehe
Untaian Fiksi(Hiatus): terkadang, impian tak sesuai .... 😌
total 1 replies
M akhwan Firjatullah
ya Allah.... sedihnya...gegara setetes air hina jadi panjang ceritanya... bahkan berpuluh tahun ga usai juga
Untaian Fiksi(Hiatus): hehe, makasih atas dukungannya, kk. 😊🙏
total 1 replies
Ikemen
Wah, ketiban rezeki runtuh🤭
Ikemen
makin seru!
Ati Susanto
suka dengan novelnya...
Untaian Fiksi(Hiatus): terimakasih atas dukungannya kk🙏😊
total 1 replies
bungaAaAaA
dihotel ada gayung juga thor?
Untaian Fiksi(Hiatus): Gak tau, kak. Soalnya gak pernah nginap 😂
total 1 replies
bungaAaAaA
lah klo namanya "sudah memesan" harusnya ada dong kamarnya
Untaian Fiksi(Hiatus): saking banyaknya tamu kk, jadi tidak mencukupi kamar. 😁
total 1 replies
bungaAaAaA
gausah pake rb lagi thor kan udh ada 0 nya
Untaian Fiksi(Hiatus): hehe, gitu ya, kak. Aku lupa, kak.😂
total 1 replies
Adfazha
Ahlan WA sahlan Almeera yahh gk da expartnya lg kak 🤭🤭thx 4nice story Rahman tar mta dd lg yaa yg cwo 😁😁Be succes Akaak
Adfazha: Aamiin ya Allah.. stay happy n stay blessed kak
total 2 replies
Adfazha
Mas Abdar nihh cembokur melee bawaan utun ya Mas 🤣🤣muntah2 bkn kna hkmn Tuhan tp anugrah cz ada dd Rahman upcoming 😁cemburu tanda cinta ya Imah, 😁Indra udh sm aq koq mas 😋😜
Untaian Fiksi(Hiatus): terimakasih kk untuk selalu dukungannya🙏😊
total 1 replies
ZaeV92
karena cinta memang bisa membuat seseorang menjadi bodoh 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!