Apa yang terjadi jika hubungan yang dibina sejak lama hancur dalam sekejap mata ?
Itulah yang dirasakan oleh Aira. Ia sungguh tak menyangka jika suami tercintanya akan membawa wanita lain masuk ke dalam rumah tangganya.
Lalu, akankah Aira mempertahankan rumah tangganya ? Atau mengakhiri semua yang telah dibangun ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mommy Maudy dan Bu Widya
Aira hanya diam saat berada di dalam mobil bersama Kay. Hal ini membuat Kay mengernyitkan dahinya. Sesekali Kay melirik ke arah Aira yang memandangi ke luar dari kaca jendela.
" Apa yang kamu pikirkan ? " tanya Kay merasa tak nyaman dengan sikap diam Aira.
Aira hanya menggeleng pelan.
" Maaf Tuan, jika saya melewatkan sesuatu. Saya hanya berpikir mengenai schedule hari ini. Seingat saya hanya ada agenda meeting saja tidak ada agenda lain..."
Kay mengangkat sebelah alisnya.
" Jadi sejak tadi kamu diam memikirkan hal itu ? " tanya Kay dibalas anggukan kepala oleh Aira.
" Bukankah hari ini kamu yang ada agenda lain ? " tanya Kay lagi.
" Agenda lain ? Hm... Apa ya ? " gumam Aira mencoba memecahkan teka-teki pertanyaan yang dilontarkan Kay.
" Kamu masih belum mengingatnya ?" tanya Kay kemudian.
Aira menggelengkan kepalanya. Ia masih memikirkan sesuatu hal yang ia lupakan.
" Bukankah hari ini, kamu meminta ijin untuk menghadiri sidang perceraianmu " ingat Kay.
Ya ampun... Bagaimana aku bisa lupa soal itu ? Aira mengingat jika hari ini merupakan sidang kedua proses perceraiannya.
" Sepertinya kamu sudah mengingatnya. Jadi apa sudah terlambat sekarang ? " tanya Kay kemudian.
" Masih ada waktu setengah jam lagi. Saya turun disini saja Tuan. Biar saya ke pengadilan naik taksi saja " ucap Aira sambil melihat jam tangan di tangan kirinya.
" Kalau begity saya antar kamu pengadilan " tutur Kay sambil terus melajukan mobilnya.
" Tapi... "
" Tidak ada penolakan, Aira. Lagi pula, bukankah kamu sendiri yang menyatakan jika tidak ada lagi agenda lain selain meeting kita tadi " papar Kay tanpa menoleh pada Aira.
Ish... Tuan Kay ini, selalu saja memaksa. Tak ada penolakan... Hah... Bos mah bebas mau ngapain aja. Cibir Aira dalam hati sambil melirik ke arah Kay.
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan pengadilan agama. Aira segera keluar dari dalam mobil setelah berpamitan pada Kay.
" Terima kasih, Tuan sudah bersedia mengantarkan saya sampai disini. Setelah selesai, saya akan segera kembali ke kantor " ucap Aira.
" Tidak perlu, kamu sudah bekerja keras akhir-akhir ini. Setelah selesai, nanti kamu langsung pulang saja tidak perlu kembali ke kantor. Semoga semua urusanmu cepat selesai " timpal Kay.
" Tapi Tuan... "
" Tidak ada tapi, Aira. Saya tidak..."
" Tidak menerima penolakan... Ya, ya... Baiklah Tuan, saya mengerti. Terima kasih atas perhatian anda " potong Aira lalu keluar dari mobil milik Kay.
Kay tersenyum saat Aira memotong ucapannya. Sepertinya wanita itu sudah mulai hafal dengan kebiasaannya yang tidak ingin menerima penolakan.
Kay melajukan mobilnya setelah melihat Aira masuk ke dalam gedung pengadilan agama.
" Semoga proses perceraian kamu berjalan lancar. Aku akan menantikan saat status kamu berubah " ucap Kay dengan senyum tersungging di bibirnya.
Kay sangat sadar jika mengharapkan kejadian tidak baik pada orang lain itu tidak dibenarkan. Tapi, kini ia justru mengharapkan hal itu demi memperjuangkan perasaannya. Jatuh cinta, ya Kay sudah terlanjur mencintai wanita yang masih bersuami. Toh menurutnya ia tidak bersalah, ia hanya mencintai seorang wanita yang sudah bersuami dan akan berpisah.
Lagi pula perpisahan mereka bukan disebabkan oleh perasaannya. Bahkan ia menyadari jika mungkin perasaannya bertepuk sebelah tangan dan Aira tidak mengetahui itu. Namun, ia bersedia menunggu untuk mendapatkan hati seorang Aira meskipun ia tahu itu tidak akan mudah.
*
*
Sebuah mobil alphard warna putih berhenti di ujung jalan tempat Aira tinggal. Di dalamnya, seorang wanita dengan serius menerima panggilan telepon.
" Kamu yakin rumahnya di sekitar sini ?" tanyanya.
" Iya, nyonya besar. Saya sering melihat mobil Tuan Kay berada disini. Ia tidak turun dari mobil, hanya saja sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Dan kemarin saya melihat mobil Tuan Kay berhenti mengantarkan seorang wanita di depan rumah yang bercat hijau, nyonya besar " jelas seseorang di sebrang telepon.
" Ok, terima kasih atas infonya " jawabnya lalu mengakhiri panggilan telepon.
Wanita itu nampak memperhatikan lingkungan sekitar.
Kay... Kay... Jadi kamu menyembunyikan ini pada mommymu. Baiklah, mommy akan mencari tahu sendiri siapakah wanita yang sudah membuat kamu jatuh cinta.
Itulah yang ada dalam kepala wanita itu, yang tak lain adalah Bu Maudy, mommynya Kay.
Salah satu sudut bibirnya terangkat. Ia lalu keluar dari dalam mobil. Dengan mengenakan topi juga kaca mata hitam, ia mulai berjalan menyusuri jalan dan mencari rumah bercat hijau sesuai yang dikatakan orang suruhannya.
Dan akhirnya ia tiba di depan sebuah rumah bercat hijau. Rumah dengan pekarangan yang cukup luas dan dihiasi taman mini yang asri.
" Hem... Sepertinya ini rumah yang dimaksud " gumamnya.
Ia berjalan mendekat, lalu membuka pagar rumah yang tidak terkunci.
" Bayu hati-hati... ! " teriak seorang wanita dari depan rumah.
Tak lama seorang anak laki-laki menggunakan sepeda roda tiga melaju dengan kecepatan tinggi tepat ke arah Bu Maudy.
Dengan sigap Bu Maudy menghentikan laju sepeda dan memegangi bocah tampan itu agar tidak terjatuh.
" Hati-hati ya anak ganteng " ucap Bu Maudy sambil berjongkok mensejajarkan diri dengan Bayu.
Bu Widya menghampiri Bayu yang hampir saja menabrak orang dan akan terjatuh jika saja wanita tersebut tidak menolongnya.
" Terima kasih, anda sudah menolong cucu saya " ucap Bu Widya sambil memeluk Bayu.
" Bayu lain kali kalau naik sepeda jangan kebut-kebut ya " Bu Widya menasehati cucunya itu dengan lembut.
Bu Maudy memperhatikan wanita yang tengah memeluk bocah tampan itu, merasa mengenal wanita itu. Bu Maudy, membuka kaca mata hitamnya.
" Widya... " pekik Bu Maudy sambil melihat wajah wanita di hadapannya.
Bu Widya mengerutkan keningnya, tak lama wajahnya berubah terkejut.
" Mba Maudy ? Ini betul mba Maudy ? " tanyanya ragu.
Bu Maudy langsung memeluk Bu Widya yang masih terkejut.
" Akhirnya kita bertemu lagi. Kamu apa kabar ? Jadi anak ganteng ini cucu kamu ya ? Cucu kamu ada berapa ? " Bu Maudy memberikan banyak pertanyaan.
Bu Widya hanya tersenyum. Ia sudah hafal dengan sikap Maudy yang merupakan sahabat sekaligus pemilik butik tempat ia bekerja dulu.
" Ini rumah kamu ? Sejak kapan kamu pindah kemari ? Bukannya kamu tinggal bersama suami kamu ? Oh ya dimana Rasyid ? " tanya Bu Maudy lagi bertubi-tubi bertanya.
" Ayo kita ngobrol di dalam saja,mba. Mba tidak berubah banyak, masih cantik dan... "
" Bawel... " potong Bu Maudy sambil terkekeh geli.
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dan saling bertukar cerita mengenai kehidupan mereka selama ini. Setelah Bu Maudy dan anak lelakinya diboyong ke Inggris oleh Tuan Jeffri Kenneth, mereka hilang kontak. Terakhir kali mereka bertemu saat Aira berusia 1 tahun dan Bu Widya masih menjadi istri dari Rasyid Indra Prabawa, ayahnya Aira.
Bu Widya menceritakan nasib rumah tangganya yang harus kandas karena adanya orang ketiga. Ditambah lagi nasib pernikahan sang putri yang juga kini harus kandas sama halnya sebagaimana pernikahannya dulu.
" Maafkan aku, karena tidak bisa menemani dan membantu kalian di saat-saat sulit yang kalian jalani. Aku tidak pernah menyangka kalau Indra akan bersikap seperti itu " sesal Bu Maudy. Ia merasa bersalah karena telah mengenalkan Indra pada Bu Widya.
" Tidak apa-apa, mba. Ini sudah suratan takdir " ucap Bu Widya menenangkan sahabat sekaligus mantan bosnya itu.
" Oh iya, ngomong-ngomong mba Maudy mencari siapa ? Kok bisa sampai disini ? " tanya Bu Widya
" Anu, lagi cari calon mantu " jawab Bu Maudy asal.
" Calon mantu ? " tanya Bu Widya bingung.
" Ya, mungkin saja kan anakmu itu calon mantuku " jawab Bu Maudy lagi.
" Mba ini lucu. Mana mungkin anak mba Maudy mau sama anak saya. Kenal saja engga " elak Bu Widya.
Hem... Kamu tidak tahu Widya, mungkin anakku sudah jatuh cinta pada anakmu. Pikir Bu Maudy sambil memandangi foto cantik Aira yang terpajang di dinding.
" Siapa tahu anak kita berjodoh. Dan aku bisa punya cucu sambung seganteng ini " timpal Bu Maudy sambil meraih Bayu ke dalam gendongannya.
" Hai, anak ganteng... Mau ya jadi cucu oma Maudy ? Nanti jadi anaknya daddy Kay" ucap Bu Maudy.
" Au, oma. Ha...ha... " jawab Bayu sambil tertawa karena Bu Maudy menggelitiki perutnya.
Bahagianya jika Kay bisa memberikan cucu setampan dan selucu ini . Harap Bu Maudy dalam hati.
Aira
Menurut aku Aira hanya wanita bisa (tidak spesial tidak juga jahat), suaminya menikah lagi dia merasa dikhianati dan dia tidak bisa menerima itu dan dia memilih berpisah, dan mencari kebahagiaannya yang lain
Tasya
Korban opsesi pria, dan terjebak pernikahan dengan wanita beristri dan dia dicap pelakor yang mengakibatkan rumah tangga hancur, dia menerima status istri kedua untuk lelaki yang tida ia cinta tapi dia berusaha menerima lelaki itu, kebesaran hati seorang istri yang melihat suaminya masih berharap dan mngejar2 manta istrinya, dia berkali2 menahan sakit melihat suaminya mengharapkan wanita lain dan berjuang untuk wanita lain itu langsung dihadapannya, ingat tasya wanita kaya, dia tidak perlu suami kayak yuda, tapi karena tasya sangat menghormati pernikahan dan statusnya sebagai istri dia iklas menerima Yuda apa adanya dan selalu berjuang menahan sakit hati lihat suami mengejar wanita lain)
Coba poling pada lelaki pilih mana sosok Aira atau tasya pasti saya yakin 100℅ pilih tasya udah kaya, iklas, tidak banyak nuntut, berjuang,
selamat ya Thor... makin sukses dengan karya-karya lainnya😘🤗🤗