Cerita 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Haidar Wiratama, pemuda berumur 22 tahun. Ia yang lahir di keluarga biasa mungkin tidak bisa menikmati hidup layaknya anak lain. Namun, Haidar tidak pernah menyerah untuk membahagiakan sang ibu yang sudah merawatnya, kenakalannya saat kecil membawanya pada Audrey, ibu dua anak di mana salah satu anaknya yang satu kelas dengan Haidar sering bertengkar dengan pemuda itu.
Lavina Aurora Mahavir, putri Audrey sering bertengkar dengan Haidar saat kecil. Namun, siapa sangka di balik kenakalan gadis kecil itu, ia hanya ingin diperhatikan Haidar karena bocah itu dulu sering di puja-puja para gadis seumurannya.
Lalu, akankah Haidar mencintai Nana dan juga sebaliknya? Cari jawabannya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dejavu
Nana terlihat berjalan cepat setelah turun dari mobil, ia pergi ke sekolah anak asuhnya. Nana ditelpon Sarah jika Iqbal terlibat perkelahian dengan beberapa teman sekelasnya. Karena Sarah harus mengurus Lintang membuat dirinya terpaksa meminta tolong Nana.
Gadis itu sudah sampai di ruang wali kelas Iqbal, di sana ada Indah dan Amir juga, ketiganya terlihat menundukan kepala. Nana melihat bibir Iqbal berdarah.
"Anda orangtua mereka?" tanya wali kelas Iqbal.
"Saya orangtua asuh Iqbal, Amir, dan Indah," jawab Nana masih menatap ketiga anak asuhnya.
"Oh, silahkan duduk!" Wali kelas itu mempersilahkan Nana duduk.
Haidar ikut turun dari mobil, ia berdiri di luar seraya menyandarkan punggung di tembok, kedua tangannya ia masukan ke saku celana, bersiap mendengar bagaimana Nana menghadapi situasi itu.
"Iqbal memukul salah satu siswa hingga pingsan, orangtua siswa itu tidak terima dan meminta kami untuk menghukum Iqbal. Namun, selepas dari itu kami juga tidak bisa ambil tindakan sembarangan, karena itu kami memanggil Anda," ujar wali kelas.
Nana menoleh pada ketiga anak asuhnya yang masih menunduk, ia bisa melihat Indah menangis dan mencoba menerka pasti ada alasan kenapa anak asuhnya melakukan kekerasan.
"Boleh saya meminta alamat siswa itu, saya akan berbicara secara kekeluargaan," pinta Nana.
"Oh tentu," sahut wali kelas Iqbal, wanita itu menulis sebuah alamat di secarik kertas lalu memberikannya pada Nana.
"Terima kasih," ucap Nana setelah melihat alamat yang tertera di kertas itu.
Akhirnya Nana pamit undur diri, ia membawa serta ketiga anak asuhnya untuk pulang karena Iqbal terluka. Sepanjang perjalanan terasa hening, tidak ada yang bicara atau mengucapkan kata sepatah kata pun.
Sesampainya di rumah Sarah, wanita itu terkejut karena Iqbal terluka, sedangkan Nana langsung menarik tangan bocah itu dan membawanya ke kamar lantas menutup pintu dan tidak membiarkan siapapun masuk.
Iqbal duduk di tepian ranjang, kepalanya menunduk takut kepada Nana. Sedangkan Nana sendiri sudah memegang obat dan kapas di tangannya, ia berjongkok di depan bocah itu lantas mulai mengobati ujung bibir Iqbal yang terluka. Iqbal hanya meringis merasakan perih, ia tidak berani bicara atau berteriak.
Nana hanya sesekali melirik ekspresi bocah itu, setelah selesai ia duduk di samping Iqbal dan mulai bicara.
"Kenapa berkelahi? Mami sudah bilang untuk belajar yang benar, kenapa harus berkelahi dan membuatmu terluka?" tanya Nana.
"Mereka memukul Indah," jawab Iqbal yang membuat Nana terkejut.
"Memukul gimana?" tanya Nana.
Iqbal menceritakan kronologinya. Para siswa itu awalnya meledek Indah jika dia hanya anak miskin yang tidak punya orangtua, Indah membela diri dan mengatakan jika mereka dirawat oleh orang kaya, tapi para siswa itu tidak percaya dan malah memukul sisi wajah Indah. Iqbal yang melihatnya tentu saja tidak terima, bocah laki-laki itu langsung membalas siswa yang memukul Indah dengan begitu keras, hingga akhirnya mereka terlibat perkelahian, pukulan terakhir Iqbal membuat siswa itu jatuh pingsan.
Nana menghela napas, ia menangkup kedua sisi ajah Iqbal kemudian memeluk bocah itu.
"Lain kali abaikan saja, jangan buat masalah yang bisa membuatmu terluka," ujar Nana seraya mengusap punggung bocah itu secara konstan.
"Aku nggak terima jika mereka mengatai kami miskin dan tidak punya orangtua. Meskipun itu benar, tapi setidaknya mereka bisa 'kan tidak membahasnya," ucap Iqbal yang membuat Nana tertegun.
Apa yang dikatakan Iqbal membuat Nana merasakan de javu. Ia teringat akan bocah laki-laki yang dulu sering ia katai seperti itu.
"Apa perasaannya sama seperti yang Iqbal rasakan sekarang?" Nana bertanya-tanya dalam hati.
Tanpa Nana sadari, Haidar berdiri di dekat pintu dan ia bisa mendengar percakapan Nana dan Iqbal, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
-
-
Indah yang melihat Nana keluar dari kamar pun langsung menghambur ke arah gadis itu, ia menundukkan kepala seraya meremas ujung roknya.
"Mi, jangan marah sama Iqbal. Aku yang salah," ucap Indah dengan nada suara penuh rasa takut.
Nana menghela napas, ia lantas mengulurkan tangan dan mengusap sisi wajah Indah.
"Tidak, Mami nggak marah. Tapi jangan diulangi, ok! Abaikan mereka yang mencibir dan menghina, jangan biarkan itu mengganggu kalian," pesan Nana pada Indah.
Gadis kecil itu menganggukan kepala, akhirnya Nana bisa bernapas lega, kini tinggal urusan dengan keluarga siswa yang pingsan.
Haidar terus memperhatikan Nana, tidak menyangka jika gadis itu bisa bersikap dewasa. Haidar menerka-nerka dalam hati, apakah Nana ingat jika dia pernah melakukan itu kepadanya, mengejek dan meledek dirinya yang miskin.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
lanjut..
tp sbnrnya aq juga masih Penasaran ma kisah cintanya mama SL sama arlan chika.
apa judul nya?
aq lupa.
udh klik profil author juga ga nemu.