NovelToon NovelToon
My Love My Bride

My Love My Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:484.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: el nurmala

Visual cast di eps 20.
_______

Menikahi adik sahabat, mengapa tidak?
Kisah cinta beda usia antara Riky dan Alena.

Ikuti kisah mereka ya.
Selamat membaca!
Cerita ini merupakan sekuel 'Permainan Takdir 1&2'.

-------------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama. Itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dibalik selimut

Happy reading...

Malam Minggu di kediaman Salman sangatlah ramai. Akhir pekan ini tidak hanya keluarga Amiera yang menginap di rumah itu, tapi juga Laura dan putrinya.

Sayangnya Salman dan Alvin tidak bisa ikut berkumpul. Eksekutif muda itu harus berangkat ke Timur Tengah karena sudah terjadwal di setiap bulannya. Sementara Salman sengaja ikut karena ada yang ingin diurusnya. Tentu saja ia pergi bersama dokter pribadinya.

Alvin bertanggung jawab ikut andil di setiap sektor di perusahaan pusat. Kehadirannya mewakili Zein, putra sulung Meydina. Sang pewaris selanjutnya.

Malam ini mereka berencana akan ber-barbeque-ria, namun hujan gerimis membuat mereka mengurungkan niatnya. Alhasil, menu makan malam anak-anak malam ini adalah pizza dan pasta. Yang sangat disukai Zein dan saudara-saudaranya.

"Kita nonton film hantu yuk," ajak Queena.

"Ayo," sahut Amar.

"Ayo, siapa takut." Fatima tak mau kalah.

Ketiganya pun menoleh pada Zein, karena hanya anak lelaki itu yang belum menyanggupi. Menyadari tatapan saudaranya, Zein nyengir sambil menjawab, "Kakak juga nggak takut kok." Gelengnya.

Rendy yang sedang membiarkan Arkana terduduk di perutnya mengulumkan senyum melihat ekspresi Zein.

"Uncle, tolong carikan film hantu anak-anak dong. Yang seru," pinta Queena dan Amar yang membawakan beberapa tempat compact disk film anak.

"Boleh, yang mana ya? Mmm, ini lumayan seru. Fantasy Island, mau?" tawar Rendy.

"Boleh. Iya kan Amar?" tanya Queen dan diangguki Amar.

"Mau ke mana, Kak?" tanya Rendy yang menoleh pada Zein yang berlalu meninggalkan mereka.

"Kakak mau pipis, sebentar ya." Pamitnya.

"Cepetan, Kak! Keburu di play nanti," pekik Amar.

"Biarin, play aja." Sahutnya.

"Bisa nggak?" tanya Rendy.

"Bisa dong," sahut Amar dan Queen bersamaan.

"Mami, mau popcorn!" pekik Amar.

"Siap..." sahut Meydina.

Ketiga anak itu mulai memposisikan diri senyaman mungkin. Mereka menunggu Zein untuk memulai filmnya.

"Kak, cepetan!" pekik Fatima.

Tak lama kemudian Zein datang menghampiri mereka. Ketiganya menatap horor pada Zein yang mengambil posisi di samping Fatima. Yakni terduduk di ujung sofa.

"Kakak kenapa bawa selimut?" tanya Fatima heran.

"Dingin. Memangnya Baby nggak kedinginan? Di luar kan hujan," sahut Zein santai.

"Bilang aja mau sembunyi," goda Rendy tanpa menoleh.

"Uncle sok tahu." Sahutnya sambil menyelimuti Fatima.

"Play ya," ujar Queena.

"Oke," sahut yang lainnya.

Anak-anak mulai terlihat fokus menatap pada layar televisi 55 inch. Selain layarnya yang lebar, suara yang terdengar pun cukup menggelegar. Menciutkan nyali seseorang di salah satu sisi sofa itu.

"Ih, Kakak. Fatum mau lihat, jangan ditutupin," protes Fatima karena sang kakak menghalangi pandangannya dengan selimut.

"Serem tahu, nanti Baby nggak bisa tidur lho." Kilahnya.

"Kan ada Kakak Queen yang nemenin. Jadi Fatum nggak takut." Sahutnya sambil menyingkirkan selimut yang menghalanginya.

"Ini popcorn-nya, Sayang. Barengan aja ya," ujar Amiera yang membawa wadah cukup besar berisi popcorn.

"Terima kasih, Auntie." Sahut ketiga anak itu hampir bersamaan.

"Sama-sama. Kak, kok ngumpet?"

"Nggak kok. Kakak cuma merasa dingin aja, Auntie." Sahutnya sambil memperlihatkan wajahnya yang tertutup selimut sebagian.

Amiera mengulumkan senyum dan terduduk di samping suaminya. Ia menawarkan popcorn dalam mangkuk kecil yang terpisah.

"Kakak cemen, gitu aja takut," ujar Rendy.

"Dari pada nggak bisa tidur ya kan, Kak?" ujar Amiera dan diangguki Zein dari balik selimut.

Backsound film yang menegangkan dan terdengar menggelegar membuat siapa saja yang mendengarnya terpaku dalam ketegangan. Dan semua terperanjak saat tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Zein yang bersembunyi dibalik selimutnya.

"Dorr!!"

"Aaaa... Mami!" Zein yang terperanjak memekik dan terbirit-birit lari ke arah dapur mencari Maminya.

Gelak tawa terdengar saling bersahutan antara Rendy dan juga Maliek yang tadi mengagetkan putra sulungnya. Dua pria itu terbahak sampai memegangi perut mereka.

"Ih, Papi! Fatum juga kaget." Deliknya.

"Iya, Amar juga."

"Maaf, Sayang. Itu lihat, hahaha Zein sembunyi di belakang mami," ujar Maliek sambil terkekeh.

Anehnya diantara ketiga anak itu tak ada yang ikut tertawa. Sesaat mereka menatap heran dan kembali menonton film yang barusan sempat teralihkan.

"Queen, rewind sedikit. Ada yang kelewat tuh berapa menit," ujar Amar.

"Oke," sahut Queena yang memegang kendali remot.

Sikap ketiga anak itu membuat dua pria yang sedari tadi tergelak merasa aneh dan berusaha menghentikan tawa mereka. Maliek sampai menggaruk tengkuknya karena merasa tidak diacuhkan oleh mereka. Kini giliran Amiera yang terkekeh pelan.

Sementara itu di ruang makan, Zein memeluk erat pinggang maminya. Anak itu membenamkan wajahnya di punggung Meydina.

"Udah, Kak. Nggak ada apa-apa kok. Itu tadi Papi, cuma bercanda."

"Itu suaranya masih kedengaran, Mi." Sahutnya masih dengan posisinya semula.

"Ren, kecilin volume-nya!" pekik Meydina.

Tak lama suara itu mulai terdengar samar-samar, membuat Zein akhirnya memberanikan diri melepaskan pelukannya.

"Kak, nih pasta sama pizzanya udah mateng. Hmm, harumnya. Kakak mau nambah keju nggak? Kalau mau nanti diparutin. Mumpung masih panas," ujar Laura.

"Nggak usah, Auntie. Ini kejunya udah banyak kok. Kakak boleh makan sekarang?"

"Boleh dong, Sayang. Sebentar ya, kita potong-potong dulu. Kakak mau nyoba potong?" Tawarnya.

"Mau, mau..."

Dengan antusiasnya Zein menggerakkan alat pemotong pizza. Dari raut wajahnya, sepertinya efek film tadi sudah mulai sirna.

"Hmm, harum nih. Papi mau dong," ucap Maliek yang menghampiri Zein dan Laura.

"Nggak boleh. Papi nakal, tadi ngagetin Kakak." Deliknya.

"Ya maaf. Lagian kakak juga, nonton kok sembunyi di selimut. Memangnya nggak engap?"

"Biarin. Memangnya kalau Kakak nggak bisa tidur, Papi mau nemenin?"

"Sudah besar masa iya masih minta ditemani, malu dong sama Baby. Kan sudah ada Amar," sahut Maliek.

"Lain kali kalau daddy sama kakek pergi, Kakak mau ikut."

"Sekolahnya belum libur, Kak."

"Kalau libur boleh ya, Mi. Kakak mau ketemu sama Rasyid. Mau main motor cross di gurun. Seru lho, Papi nggak tahu kan?" Deliknya.

"Enggak. Papi juga mau dong. Rasyid anaknya Uncle Ahmed itu ya?"

"Iya," sahut Meydina.

"Kakak naik motor cross berani, nonton film horor kok enggak?" tanya Laura.

"Beda dong, Auntie. Kalo motor cross kan takut-takut gimana gitu... kalo hantu kan... ya gitu deh." Seringainya.

"Iya deh, gimana kakak aja," sahut Laura.

Meydina kemudian memanggil anak-anak untuk makan bersama. Mau tak mau, anak-anak itu menjeda film yang sedang mereka tonton.

Sesampainya di meja makan, giliran Rendy yang menggoda Zein. Gelak tawa kembali terdengar saat ketiga saudaranya ikut menimpali kelakaran paman mereka.

 🌿

Episode kali ini, khusus Zein bersaudara😁😁 semoga yang rindu dengan mereka sedikit terobati. Dalam cerita ini cukup kompleks ya. Walaupun ceritanya kesana-kemari pada akhirnya mereka akan saling terhubung. Jadi mohon bersabar🙏 Terima kasih untuk segala bentuk dukungan dari kalian😍

1
Sri Ariyanti
thor, aku suka karyamu. bagus.
lanjut ke cerita cucu sultan opa salman
Neva Yanti
bagus
Sari
cucok visualnya 👍
Sinta Mayapada
the best cerita mu author.
Sinta Mayapada
Kecewa
Fika
Ahh kamil..dewasa bnget jdi adik...thor carikan jodoh buat kamil...yg gak beda jauh dri ajeng
Fika
Riky sm Alena bener2 yach perpaduan pas sama2 gesrek jiwa humoris nya tinggi bngettt 🤣🤣 pasti mama widya dan papa salim awet muda krn tiap hri dengar guyonan anak sm menantu ditambah paijo 🤣🤣🤣
Eva NurMalla
oke visualnya 😎😎
TePe
ngga tau , suka bgt saam karya author ini
TePe
wah si babang ricky kebakaran jenggot deh😄
TePe
rada2 n8h si ajeng
bunda syifa
Zein sama zemima lumayan jauh y ka'El usia nya
bunda syifa
panggilan di ka'Zein sama Beby Mima pasti bikin yg baca ketawa" sendiri
bunda syifa
jangan d detail proses nya Thor, bikin merinding, jadi ke inget pas dulu lahiran padahal udah lima tahun tapi klo lagi baca kek gini kayak masih kerasa GT sakit nya, pengen d tahan tapi anak nya harus d keluarin tapi mau d keluarin takut segala macem jadi satu 😥😥😥
bunda syifa
puas banget Thor, apalagi klo yg ngikutin ceritanya dari awal pasti kerasa kayak baca cerita dunia nyata saking ceritanya terus berlanjut
bunda syifa
akhirnya aq maraton sampai selesai juga, habis cerita amiera agak ragu mau lanjut kesini, soalnya biasanya klo sekuel ke sekian itu suka beda ceritanya konflik nya kadang lebih berat, tapi karena rasa penasaran yg teramat besar akhirnya yoba lanjut baca apalagi d cerita ini harus kehilangan pak Salman, dn semoga sekuel selanjutnya kisah si cucu pak Salman cerita nya bagus kayak yg lain juga y ka'El, tapi aq tunggu episode nya banyak dulu soalnya aq kesel klo d gantung
bunda syifa
ini Zain umur berapa Thor, udah SD kn, udah besar berarti
bunda syifa
apa dia dokter yg malsuin hasil USG nya ibu Nita dulu itu kah, yg pernah jadi pengemis pas suaminya sakit
bunda syifa
udah lama gc nangis saat baca novel, sekarang d bikin nangis gara" pak Salman meninggal 😭😭😭
bunda syifa
yah mbak dokter nya d anggurin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!