[Season 1 (Tamat) : Bab 1 - 136 + Extralove]
[Season 2 (On-Going)]
Season I
Tidak pernah kusangka pada akhirnya aku akan menikah.
Kehilangan keluarga tercintanya dalam satu kecelakaan tragis menjadi satu alasan yang sangat cukup bagi Nana untuk menutup dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalunya.
Menghilang bertahun-tahun dan siap melupakan apa itu cinta, hingga akhirnya satu telepon mendadak dan tanpa disangka menjadi awal dari langkah bangkitnya hingga berujung pada pertemuannya dengan pria antah berantah yang juga sama kelamnya dengan dirinya dan berakhir pada perjodohan tidak terduga.
Nana adalah seseorang yang sudah siap melupakan masa lalu dan terpuruk pada masa depannya, sedangkan Al adalah pria gila kerja yang lupa pada kebutuhan hatinya sendiri.
Mereka berdua terbenam dalam pusaran rasa yang sama hingga di satukan dalam sebuah perjodohan. Lantas, mampukah mereka berdua untuk belajar saling membuka diri? Belajar saling menerima?
Mampukah mereka pada akhirnya merengkuh cinta yang telah lama dilupakan?
Season II
Tak pernah kusangka, berawal dari tak suka namun berakhir cinta. Namun, apakah jalan cinta akan semudah itu untuk kita? [Alesha]
Di antara dua hati, manakah yang harus kupilih? [Atha]
Jika jatuh cinta padanya adalah suatu kesalahan, maka kumohon, hapuskan rasa cintaku padanya. [Zahra]
Salahkah jika aku mencintainya? [Zahran]
Dia bilang kami berbagi apapun, lantas, apakah aku juga jatuh cinta pada orang yang sama? [Zayyan]
Bagiku, cinta bukanlah segalanya. [Alvarendra]
Aku mencintainya! [Maxmillan]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. GAGAL
N A N A POV
Detak jantung ku berdenyut kencang lalu ku teguk ludah ku kasar. Arghh! Sudah lah, memang nya Aku mampu untuk menolak?
Hati ku berdesir dan kemudian bibir ku hampir melengkung sempurna hingga…
Drrrttt…Drrrrrtttt…Drrrrrttt.
Getar ponsel Abang.
Ia kemudian melonggar kan pelukannya yang mengurungku erat, tangan kanannya kemudian mencoba meraih ponsel berwarna hitam yang berada di atas nakas. Namun, akhirnya ia beranjak berdiri dan melangkah dua kali menuju nakas—tidak sampai kalau pakai tangan ternyata.
Ku lihat ibu jari nya yang bersih itu menekan ikon berwarna hijau. Tampak gurat serius dalam wajah nya. Arggghh, muka serius nya membuatnya tampan berkali-kali lipat, sungguh.
“Iya Pak. Baik, segera Saya kirim.” balas Abang kemudian setelah beberapa saat berbincang dengan si penelepon.
Aku hanya mampu diam—ah tentu saja. Hem entah lah, Aku merasa sedikit bernapas sekarang dari denyutan jantung ku akibat tingkah Abang beberapa menit yang lalu. Oh sungguh, hem, Aku menginginkannya juga, hanya saja Aku seperti merasa belum siap atau arghhh entah lah.
“Seminggu Pak, dalam seminggu semuanya siap. Baik, terima kasih Pak.” ucap Abang kemudian seraya mengakhiri panggilan teleponnya.
“Hah,” desah nya kemudian.
Ia pun berbalik dan kemudian duduk di samping ku. Dengan manja ia menyandarkan kepala nya yang hem cukup berat pada bahu kanan ku. Jemari nya kemudian menggenggam tangan kananku.
“Ah, maafin Abang ya, Sayang.” ucap nya.
“Hem, untuk apa?” tanya ku jujur.
Ia pun tampak sedang menghela napas dan mengusap-usap kecil punggung tangan ku, lalu “Abang nggak tahu kalau kita bakal dijodohin terus nikah dalam waktu singkat, jadi pas di Makassar, Abang dapat proyek perumahan baru, terus ya seperti biasa Abang ambil tanpa ragu,” tambah nya lagi.
Ah, karena itu ternyata. Senyum ku pun terulas tanpa ku sadari lalu, “Nggak apa-apa loh, Bang. Nana juga nggak tahu kalau kita bakal nikah, haha.” tawa ku kemudian.
“Hah, iya juga, cuma kan jadi nya kita nggak bisa,” sebelum ia lanjutkan apa yang ingin di ucap kan nya, jari tangan ku sudah membungkam bibir nya.
“Iya, nggak apa-apa.” ucap ku lembut. Sebenarnya Aku malu jika ia meneruskan ucapan nya tadi.
“Yang, Abang bakal sibuk seminggu ini. Kamu bisa sabar kan?” tanya nya kemudian.
“Sure, Honey.” ucap ku.
“Soal nya ini proyek perumahan besar, Kamu bisa nunggu kan?” tambah nya lagi.
“Iya, bisa.” ucap ku menenangkan.
...***...
^^^H A I B I POV^^^
Pikiran ku kalut. Sudah sejak entah berapa hari Aku tidak bisa tidur dengan baik dan kehilangan fokus saat berada di Rumah Sakit. Hem, sudah kah Aku berkenalan dengan baik?
Ah, baiklah, biar ku kenalkan diriku pada kalian dengan baik kali ini. Nama ku Haibi Irawan, dan Aku seorang psikolog.
Alasan mengapa Aku gundah, tidak bisa tidur dan kehilangan fokus, tentu saja karena wanita yang selama ini ku cintai sejak pertemuan pertama kami kala masa esempe dahulu ternyata sudah menikah. Ah, sial!
Entah pria mana yang sudah menjadi suami nya saat ini, arghhh!! Kalau mengingat dia sudah menikah rasa nya hati ku seperti terbakar oleh api lalu menelan ku hidup-hidup.
Aku sangat mencintai nya. Sungguh. Dia adalah wanita yang sudah ku damba sejak dahulu. Lantas mengapa? Aku yang membuat nya bisa bangkit dan akhir nya tertawa lagi sekarang, namun kenapa?
Nana bodoh! Dia tidak peka pada perasaan ku sama sekali. Arghh, rutukku geram.
Ya, wanita itu adalah Naisyila Putri, dan panggilan nya Nana.
Bayangkan! Aku sudah mencintai nya sejak esempe, hanya mencintai nya walaupun Aku tidak tahu kapan lagi Aku akan bertemu dia—karena sejak olimpiade itu antara Nana dan Haibi tidak pernah bertemu lagi. Dan ketika mereka bertemu, saat itu keduanya sudah kelas dua esema, dan bertemu kembali saat ikut olimpiade tingkat provinsi di Pekanbaru.
Entah lah, entah Aku yang bodoh karena menunggu nya dengan sabar dan tidak melamar nya juga padahal Aku memiliki banyak sekali kesempatan, entah itu salah nya Nana. Haaaaah, bagaimana Aku bisa menyalahkan ia?
Nana adalah wanita yang lembut dan juga anggun, menyenangkan dan juga menggemaskan, argggh, sial, dia sudah jadi istri orang sekarang, rutukku lagi.
Harus kah Aku menyerah?
Ah, bagaimana jika Nana justru tidak bahagia dengan pria antah berantah itu?
Haruskah Aku menyelamatkan Nana dari dekapan pria jahat itu?
Hem, tapi, bagaimana jika Nana justru bahagia? Nana, sudah lama sekali tidak tertawa lepas sejak kematian keluarga nya yang begitu mengenaskan. Bagaimana? Bagaimana Aku bisa merebut kebahagiaan dia saat ini untuk keegoisan cinta ku dan hasrat ku untuk memiliki nya?
Argggh!
Aku kemudian beranjak dari tempat tidur menuju meja belajar ku untuk mengambil ponsel ku yang tergeletak diam di sana.
Cih, Aku benci. Bagaimana bisa Nana langsung mengakhiri teleponnya pada ku begitu pria antah berantah itu memanggilnya?
Ctak, ctak, ctak.
Dengan cepat ku buka ponsel ku untuk melihat sebenarnya ada dimana Nana saat ini—Aku sudah meletakkan chip yang sangat kecil di arloji Nana sejak tiga tahun lalu, jadi jika ada apa-apa dengannya, Aku bisa langsung pergi kesana.
Ah, di Duri ya, hem. Duri, dan tepat nya di jalan pertanian, oh, baiklah.
Senyum ku puas, entah mengapa. Sebenarnya Aku pria baik, ah sungguh. Karena Aku tahu bahwa Nana adalah perempuan yang sangat baik. Ketika ia pada akhirnya memiliki seorang suami, maka hati nya, perilaku nya dan segala yang ada padanya hanya tertuju pada pria itu. Dalam pandangan, perkataan dan juga perasaan hanya ada pria itu. Dia adalah perwujudan cinta yang sesungguhnya di mata ku. Ah, indah nya jika dapat di cintai oleh wanita seperti itu.
Aku belum menyerah, ingat lah. Aku tahu Nana sangat mencintai siapapun yang akan menjadi suaminya, dan saat ini, ia sudah mendekap pria itu. Namun tetap saja, Aku, Haibi Irawan belum menyerah.
Aku akan pastikan, apabila pria tersebut menyakiti Nana, Aku akan membawa Nana apa pun resikonya. Ingat itu.
Kita lihat, apakah pria itu tahu apa yang sedang Nana genggam. Jika ia tahu, berarti Nana telah memberikan seluruh hati nya.
Namun jika belum, maka, Aku, Haibi Irawan lebih berhak atas Nana lebih dari siapapun.
Senyum ku mengembang sempurna dan hati ku berdesir kuat namun ku rasakan kelembutan di dalamnya. Awas saja jika pria itu akhirnya yang menjadi penyebab wanita ku mengenyam rasa sakit nya lagi.
...***...
Thor aku padamu