Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak
~Satu bulan sebelum hari pernikahan....
"Saya benar-benar tidak ingin punya menantu perempuan selain putrimu Boy." Dilan berdiri di dekat jendela kaca sembari memasukan tangannya ke dalam saku celana.
Sedangkan Boy sendiri masih berdebat dengan batinnya. Disatu sisi ia juga ingin hal yang sama dengan tuannya. Di sisi lain, sebagai ayah dia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada sang putri, karena ia sudah berjanji tidak akan memaksa Ara menikah dengan Lano jika Ara setuju menjadi asisten pribadi tuan muda itu.
Dilan dan Boy pikir, seiring berjalannya waktu mungkin Ara dan Lano akan jatuh cinta dengan sendirinya karena sering bersama, tapi mereka tidak menyangka bahwa Gisela tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Ara dan Lano dengan begitu cepat.
Yang lebih mengagetkan, bahwa ternyata Lano tidak menolak wanita itu hadir di kehidupannya. Hancur sudah impian Dilan dan Boy untuk menyatukan dua anak mereka jika Gisela dan Lano benar-benar menikah.
"Hanya satu cara agar Ara mau menikah dengan tuan muda, Tuan." Sepertinya Boy harus mengkhianati putrinya kali ini.
"Apa itu, Boy?" Dilan menoleh asistennya.
"Berikan Ara tanggung jawab penuh atas hubungan Gisela dan Lano."
"Maksudmu, Boy? Apa tidak apa-apa kita memanfaatkan, Ara? Dia putrimu?"
"Saya juga tidak ingin menyesal nantinya. Bagaimanapun, Lano adalah calon menantu yang sempurna. Saya juga tidak ingin pria seperti tuan muda memilih istri yang belum tau asal usulnya."
"Apa tidak apa-apa, Boy?"
"Saya yakin, Tuan. Dan saya akan pastikan bahwa Ara dan Lano akan menikah secepatnya tanpa mereka sadari."
"Saya hargai ketulusan kamu untuk keluarga ini, Boy. Saya pastikan putrimu akan menjadi menantu berharga di keluarga Danuarta." Dilan menepuk pundak asistennya.
Dilan sangat tau dan mengerti sekali bahwa sang asisten pasti punya banyak cara untuk bisa mencapai sesuatu yang ia inginkan.
.
.
.
.
.
Jika Boy sudah turun tangan, tentu saja semua akan berada di dalam genggaman pria yang selalu bisa membolak-balikkan keadaan tersebut.
"Saya tidak suka berbasa-basi. Ingin berada di pihak saya atau Ara?" Boy menatap tajam Selebgram cantik yang ia ajak bertemu di sebuah restoran siap saji.
"Apa maksud Anda, Pak?" Gisela masih tidak mengerti arah pembicaraan pria yang ia ketahui adalah ayah dari Arabella. Wanita yang sudah mengenalkan dirinya dengan tuan muda kaya dan rupawan.
"Jika Anda memilih ada di pihak saya, maka saya bisa jamin Anda akan mendapatkan uang yang tentu jumlahnya tidak sedikit. Namun bila Anda memilih di pihak Ara, maka bisa dipastikan Anda tidak akan dapat apa-apa, tidak tuan muda dan tidak uang."
"Apa maksud Anda? Bukannya saya dan Lano sudah sepakat untuk saling mengenal lebih jauh? Tuan Dilan juga sudah setuju dengan hubungan kami?" Gisela masih belum menyerah.
Jelas saja dia tidak menyerah begitu saja, apalagi yang ia pertaruhkan adalah pria sesempurna Dilano, hanya memandang wajahnya saja membuat Gisela terasa berdebar-debar, apalagi bila pria itu menjadi suaminya?
"Jangan bermimpi, Nona! Sejak kecil keluarga Danuarta sudah memilih calon istri untuk tuan Lano." Boy melipat tangan di depan dada. Dia sangat tau Gisela begitu mendambakan pria tampan yang sebenarnya calon menantu idamannya.
Hanya saja, sifat keras kepala putrinya membuat Boy mau tak mau harus sedikit memaksakan keadaan supaya anak gadisnya berhenti keras kepala.
"Lalu, kenapa tuan Dilan tidak menolak sewaktu Ara memperkenalkan saya dengan putranya?" Gisela masih bersikukuh.
"Jangan banyak bertanya, Nona! Anda lebih baik menurut saja jika tidak ingin endorse Anda menghilang satu persatu." Tajam dan tepat sasaran. Boy bahkan mengepal tangannya di atas meja.
"Bahkan pengikut media sosial Anda yang tidak lebih dari satu juta pengikut itu bisa saja berubah menjadi angka nol dalam waktu semalam saja apabila saya sudah berkehendak!" Boy menaikan oktaf suaranya.
Seketika Gisela langsung menciut. Tatapan tajam Boy seolah membunuh kepercayaan dirinya yang semula begitu besar. Gadis itu mengerjap mata berkali-kali.
"Baiklah, saya akan ada dipihak Anda." Gisela menelan ludah dengan kasar.
"Bagus. Ikut saja ke dalam permainan Arabella! Buat tuan Lano percaya bahwa Anda akan menikah dengannya, dan buat Ara percaya bahwa kamu sangat ingin pernikahan ini dan Ara yang akan mengurus semua persiapan pernikahan kalian."
Lebih tepatnya mengurus pernikahan dia sendiri.
Boy berdiri. Memberi kartu namanya pada Gisela. "Hubungi saya jika kamu ada pertanyaan, dan Ingat! Jangan sampai Ara atau Lano curiga!" Boy berjalan dua langkah, tapi kemudian di berbalik kembali ke meja tempat ia dan Gisela bertemu sebelumnya.
"Ingat, Nona! Jangan macam-macam bila ingin hidup Anda tenang! Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya." Boy menaikan sudut bibirnya. Dan itu sukses membuat Gisela semakin terintimidasi.
Gisela mengangguk-angguk dengan cepat. Dia sadar, berhubungan dengan orang yang luar biasa kaya memang seharusnya tidak dia lakukan.
Mereka punya kuasa, apapun bisa mereka lakukan jika mereka mau. Kenyataannya, uang memang bisa membeli segalanya, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa kebahagiaan tidak selamanya karena uang.
Banyak orang yang juga bisa bahagia walaupun dalam keterbatasan ekonomi.
Keluarga yang sangat menakutkan.
Gisela tidak menyangka bahwa ia ternyata hanya dijadikan alat oleh keluarga tuan muda yang sudah sangat ia harapkan akan menjadi suaminya.
Ternyata harapan besarnya hanya akan menjadi mimpi belaka.
Sebaiknya dia menyerah saja sebelum dia benar-benar tamat di tangan pria dengan tatapan tajam setajam pedang yang siap membuat lawannya seketika menciut itu.
Sejak saat itu Gisela memutuskan akan ikut menjadi tokoh utama di depan Arabella, tapi sebenarnya dia hanya piguran di antara tokoh tuan muda dan gadis tomboy tersebut yang masih belum saling jatuh cinta.
***
Di pusat perbelanjaan....
"Bagaimana Ara, apa cincin ini cocok?"
tanya Gisela pada Ara. Mereka sedang berada di toko perhiasan.
"Bagus, bagaimana dengan Anda,Tuan?" Ara menoleh Lano yang samasekali tidak berniat untuk memberikan pendapat. Pria itu terpaksa ikut karena Dilan menyuruh mereka membeli cincin pernikahan.
"Terserah saja," Jawabnya.
Ara menarik jari tangan Lano lalu memasangkan cincin itu ke jarinya.
"Ini saja, Gisel. Ini pas untuk tuan Lano," kata Ara.
Seharusnya memang dia ikut karena itu adalah pernikahannya. Namun Lano hanya tokoh utama pria tanpa ekspresi. Dia hanya anak yang selalu mengikuti apapun kehendak keluarganya selama itu baik baginya.
Tidak ada ruginya bukan kalau dia menikah? Jadi dia tidak akan ditanya lagi kapan menikah. Dia juga tidak akan mendengar lagi ejekan tentang dirinya yang menurutnya sama sekali tidak benar adanya. 'Gay' Perempuan saja sulit membuatnya tergoda, apalagi laki-laki?
Membeli cincin, fitting baju pengantin serta semua perlengkapan pernikahan menjadi tugas Arabella sepenuhnya.
Tanpa gadis tomboy itu sadari bahwa sebenarnya dia sedang mempersiapkan pesta pernikahannya sendiri.
***
~Jangan pernah lupa untuk meninggalkan jejak ya!