Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Menggembala Sapi
"Hei, Sapi Manis, kemarilah! "
"Wah, lihat ini, kantung susumu besar dan penuh sekali! Pantas saja anakmu montok dan sehat!"
Suara Shen Rui memecah keheningan Ladang Ginseng Spiritual pagi itu. Pemuda berelemen es tersebut berjongkok di bawah perut seekor Sapi Spiritual Bertanduk Besi betina, tangannya dengan nakal menarik-narik puting sapi raksasa itu sementara si anak sapi menjilati rambutnya dengan manja.
"Shen Rui! Apa yang kau lakukan, dasar orang gila cacat mental?!" jerit Wang Jian dari kejauhan, berlari mendekat sambil membawa tongkat gembala dengan wajah memerah ngeri. "Itu sapi pusaka sekte! Jangan sentuh bagian pribadinya, tanganmu itu penuh kuman!"
"Siapa yang menyentuh bagian pribadinya, Babi Hutan?!" balas Yui tanpa rasa bersalah, masih memegang ambing si sapi. "Aku sedang melakukan inspeksi gizi! Kak Yuan baru saja sembuh dari keracunan semalam. Kalau dia mengemut langsung susu ini dari sumbernya, dia pasti akan bertambah gemuk, Qi-nya meluap-luap, dan imun tubuhnya sekuat badak! Susu segar ini mengandung energi murni alam semesta!"
"Mengemut langsung dari sapinya?! Kau benar-benar menjijikkan!" sahut Li Mo yang ikut mendekat bersama Zhao Qi, wajah mereka berkerut jijik. "Kau pikir kakakmu itu anak sapi liar?! Lagipula, sapi itu bisa menendang kepalamu sampai putus kalau kau terus menariknya begitu!"
"Sapi ini menyukaiku! Lihat, dia bahkan mengedipkan matanya padaku," kilah Yui dengan sombong. Ia lalu berdiri dan berkacak pinggang menatap ketiga musuhnya. "Kalian saja yang tidak punya pesona. Kalian mendekat setengah meter saja, sapi-sapi ini langsung membuang kotoran. Itu artinya aura kalian setara dengan pupuk kandang basi!"
"KAU! Jaga mulutmu, gembel desa!" raung Zhao Qi kehabisan kesabaran. Ia membuang tongkatnya, menerjang maju, dan langsung menjambak rambut Yui dengan brutal.
"AW! Beraninya kau menarik rambut suciku!" Yui membalas dengan ganas, meraup rambut Zhao Qi dan menariknya kuat-kuat hingga lawannya meringis kesakitan.
Wang Jian dan Li Mo tidak tinggal diam, mereka berdua ikut melompat, menahan tangan dan leher Yui. Keempat pemuda itu akhirnya bergulingan di atas tanah berlumpur dan rerumputan, saling jambak, saling cakar, dan saling menggigit layaknya anak-anak jalanan di pasar, melupakan sepenuhnya status mereka sebagai kultivator dan bangsawan.
"Lepaskan rambutku, dasar monyet rabies!" teriak Yui sambil menendang perut Wang Jian tanpa ampun.
"Kau yang lepaskan dulu, parasit es!" balas Wang Jian sambil menarik telinga Yui sekuat tenaga.
"Awas kau! Kubekukan ketiakmu sampai rontok bulunya!"
"Bakar saja celananya, Kak Wang! Biar dia tahu rasa!"
Sementara keributan konyol nan memalukan itu terjadi, Shen Yuan hanya duduk bersandar dengan tenang di bawah rimbunnya Pohon Bodhi Daun Perak. Daun-daun berwarna keperakan itu sesekali berguguran tertiup angin sejuk musim gugur. Yuan melipat tangannya di dada, matanya setengah terpejam memperhatikan sapi-sapi yang memakan rumput, sama sekali tidak berniat melerai adiknya yang sedang adu jambak. Tubuhnya sudah kembali pulih, meski kepalanya masih sedikit pusing karena sisa asap obat nyamuk laknat buatan adiknya semalam.
"Kak Yuan?"
Sebuah suara lembut membuat Yuan membuka matanya. Lin Yue berdiri di depannya, mengenakan gaun kuning cerahnya yang sudah bersih dari noda lumpur kemarin. Gadis itu tersenyum manis, menyodorkan sebuah botol porselen kecil berwarna putih giok.
"Lin Yue? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yuan, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.
"Kudengar semalam kau pingsan keracunan dupa rawa," kata Lin Yue, ikut duduk bersila di atas akar pohon, tepat di hadapan Yuan. "Ini Pil Penempa Esensi Roh racikan buatanku. Telanlah satu. Ini sangat bagus untuk membersihkan sisa racun di meridianmu dan mengembalikan kekebalan tubuhmu. Kau terlihat sangat pucat saat dibawa ke Tabib tadi malam."
Yuan menerima botol itu. Hatinya menghangat. "Terima kasih banyak. Ini murni karena kebodohan adikku. Dia benar-benar berniat membunuhku secara perlahan, sepertinya."
Lin Yue tertawa renyah, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang indah. "Yui memang selalu penuh kejutan. Oh ya, Kak Yuan, nanti malam kami para gadis akan mengadakan acara bakar-bakar jagung manis di halaman belakang sekte. Kau dan Yui harus ikut! Kita rayakan kesembuhanmu."
Yuan menaikkan sebelah alisnya, menatap wajah ceria gadis itu. "Bakar jagung? Bukankah kalian seharusnya sedang menyalin kitab hukuman di asrama? Lagipula, aku heran. Kenapa kau dan gadis-gadis Asrama Teratai Selatan belum kembali ke Perguruan Induk Teratai Salju? Kalian sudah berminggu-minggu di sini. Tidakkah guru kalian mencari murid-muridnya yang nakal?"
"Ah, itu..." Lin Yue memainkan ujung rambutnya dengan telunjuk sambil terkikik. "Perguruan kami sedang direnovasi besar-besaran, jadi kami dititipkan di sini sementara waktu. Lagipula, kami sangat nyaman di Perguruan Cang Yue. Makanannya enak, pemandangannya bagus, dan..." Lin Yue tersenyum jahil, "...banyak tontonan menarik. Sebenarnya, Tetua Pertama tidak pernah keberatan kami berada di sini. Dia itu hanya bersikap galak karena Yui selalu saja memancing emosinya. Kalau Yui bisa diam sehari saja, Tetua pasti sudah membelikan kami semua manisan."
Yuan mendengus pelan, seulas senyum tipis akhirnya terbit di bibirnya. "Mengharapkan Rui diam sama saja mengharapkan matahari terbit dari barat. Dia adalah malapetaka yang bernapas."
"Tapi dia sangat menyayangimu, Kak," bela Lin Yue lembut. "Tadi pagi kudengar dia mengemis pada kepala dapur sekte untuk membuatkanmu bubur ayam jahe, meskipun akhirnya bubur itu tumpah di tengah jalan karena dia tersandung kakinya sendiri saat berlari menemuimu."
Yuan tertegun. Ia menunduk menatap botol obat di tangannya, perasaannya campur aduk antara ingin marah dan terharu.
Tiba-tiba, mata Lin Yue terbelalak menatap lurus ke arah dahi Yuan. Wajah gadis itu berubah sangat serius.
"Kak Yuan, sst... jangan bergerak."
"Eh? Ada apa?" Yuan yang terkejut berniat memundurkan kepalanya, tapi Lin Yue mencondongkan tubuhnya lebih dulu.
"Kubilang diam," bisik Lin Yue dengan nada memerintah yang pelan.
Wajah gadis itu mendekat, sangat dekat hingga Yuan bisa melihat pantulan dirinya sendiri di manik mata Lin Yue yang jernih. Hembusan napas beraroma manisnya teh melati menerpa hidung Yuan. Jantung pemuda yang selalu tenang bak air danau itu mendadak berdegup kencang tak karuan. Tangannya berkeringat dingin. Tubuhnya membeku kaku. Apakah... Lin Yue akan meniru kelakuan Su Yin dan menciumnya di sini?
Pikiran Yuan sudah melayang jauh ke awan, semburat merah yang kentara mulai menjalar di pipi dan telinganya, ketika tiba-tiba...
PLAK!
Lin Yue menampar dahi Yuan dengan cukup keras.
"Aduh!" Yuan mengaduh kaget, memegangi dahinya yang seketika terasa perih.
"Kena kau!" Lin Yue tertawa kegirangan, menarik tangannya dan menunjukkan telapaknya yang kini terdapat bangkai seekor nyamuk hutan berukuran besar. "Ada nyamuk raksasa di keningmu, Kak! Kalau dia menggigitmu, darahmu bisa habis disedotnya sampai kau pingsan lagi!"
Yuan menelan ludah, menahan rasa malu yang luar biasa karena sudah berharap terlalu jauh. "O-oh... begitu. Terima kasih."
Tanpa mereka sadari, dari balik semak-semak tak jauh dari pohon itu, empat kepala yang berantakan penuh rumput dan sisa lumpur sedang mengintip. Perkelahian antara Yui, Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi rupanya telah berhenti total demi menonton adegan baper di bawah pohon tersebut.
"Lihat itu," bisik Wang Jian sinis namun berbisik pelan. "Kakakmu ternyata diam-diam pintar merayu wanita di tengah hukuman."
"Jangan remehkan darah pesona mematikan dari keluarga kami," bisik Yui bangga, menyeringai jahil tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan habis dijambak. "Tapi mereka terlalu lambat dan membosankan. Biar kubantu mempercepat proses asmaranya."
Yui merangkak diam-diam memutar ke belakang batang Pohon Bodhi Daun Perak. Dengan menahan napas dan menekan fluktuasi Qi-nya agar tidak terdeteksi, pemuda itu mengumpulkan tenaga, lalu melompat keluar tepat di samping telinga Lin Yue layaknya hantu di siang bolong.
"DORRRR!!!" teriak Yui sekeras-kerasnya.
"KYAAAA!"
Lin Yue menjerit histeris karena terkejut setengah mati. Tubuhnya terlompat ke depan, keseimbangannya hilang seketika. Tanpa bisa ditahan, tubuh gadis itu jatuh menabrak dada Yuan.
Karena posisi Yuan yang sedang duduk bersandar santai, ia tak sempat menghindar maupun menopang dengan benar. Tubuh Lin Yue mendarat mulus tepat di atas pangkuan Yuan, sementara kedua lengan gadis itu secara refleks memeluk erat leher Yuan untuk mencari pegangan agar tidak terguling ke tanah.
Wajah mereka kini berhadapan tak lebih dari dua sentimeter. Napas mereka yang memburu saling beradu. Yuan mematung dengan mata melotot lebar, sementara Lin Yue mengerjap-ngerjap dengan wajah yang seketika berubah merah semerah tomat rebus.
"Aih, aih, pemandangan yang sangat menyilaukan mata bujangku yang suci ini," goda Yui sambil bersiul nakal, berkacak pinggang menatap dua orang yang membeku di bawah pohon itu. "Bagus, Kak Yuan! Pertahankan posisi romantis itu! Dan jangan lupa, malam ini traktir aku tiga porsi bakar jagung sebagai imbalan jasa mak comblang terbaik abad ini!"
***
Likeeeew