NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Angin pagi yang berembus melintasi koridor SMA Nusa Bakti terasa lebih menggigit dari biasanya. Bagi Dereen Hilton, rutinitas pagi tak lagi sekadar tentang datang terlambat, tidur di UKS, atau nongkrong di kantin belakang. Sejak seminggu yang lalu, rutinitas favoritnya telah berubah: menunggu kedatangan seorang gadis mungil berjilbab putih, memberinya perintah konyol yang tak masuk akal, lalu menikmati omelan barbar bernada melengking yang keluar dari bibir gadis itu.

​Pagi ini, Dereen sudah bersandar santai di samping ambang pintu Kelas 12A. Jaket kulit hitamnya tersampir di sebelah bahu. Tangannya memutar-mutar kunci mobil dengan ritme konstan. Mata elangnya mengawasi ujung koridor.

​Tak lama, siluet yang ditunggunya muncul. Nadiva berjalan menyusuri lorong dengan ransel biru mudanya.

​Namun, ada sesuatu yang janggal.

​Biasanya, begitu melihat Dereen dari kejauhan, langkah gadis itu akan melambat, bibirnya mulai mengerucut sebal, dan matanya akan memancarkan kilat permusuhan yang lucu. Namun hari ini, Nadiva berjalan lurus dengan pandangan tertuju ke lantai. Wajahnya datar, sepucat pualam, seolah seluruh energi kehidupan baru saja tersedot habis dari tubuhnya.

​Dereen menegakkan tubuhnya saat Nadiva berada dalam jarak dua meter. Cowok itu melangkah maju, memblokir jalan masuk ke kelas dengan tubuh jangkungnya. Seringai jahil otomatis terbit di bibirnya.

​"Lo telat tiga menit, Babu. Argo penalti jalan. Taruh tas gue di meja, terus beliin gue bubur ayam di depan gerbang. Nggak pakai kacang, sambalnya dipisah," perintah Dereen dengan nada dominan yang sengaja ia buat-buat untuk memancing keributan. Ia menyodorkan tas ransel hitamnya ke arah Nadiva.

​Dereen bersiap mendengar rentetan protes. Ia sudah menunggu Nadiva memanggilnya 'bos tirani' atau 'tiang jemuran'. Ia bahkan sudah menyiapkan balasan sarkas untuk mematahkan argumen gadis itu.

​Namun, balasan itu tak pernah datang.

​Nadiva menghentikan langkahnya, menjaga jarak sejauh mungkin. Alih-alih merampas tas itu sambil mengomel, gadis itu membiarkan tangan Dereen menggantung kaku di udara.

​Perlahan, Nadiva mendongak. Mata cokelat terangnya yang biasa berbinar penuh semangat, kini tampak redup, kosong, dan sedingin bongkahan es di kutub utara. Tak ada kilat jenaka. Tak ada amarah. Hanya kekosongan yang mengerikan.

​"Maaf, Kak Dereen," ucap Nadiva. Suaranya mengalun sangat pelan, datar, dan teramat formal. "Mulai hari ini, saya tidak bisa lagi menjalankan perjanjian konyol kita. Saya sibuk. Permisi."

​Kak Dereen. Saya.

​Perubahan diksi itu menghantam telinga Dereen layaknya godam. Seringai di bibir cowok itu luntur seketika. Keningnya berkerut dalam, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

​"Lo ngomong apa barusan?" desis Dereen, suaranya merendah, menahan gejolak aneh yang tiba-tiba meremas dadanya. "Perjanjian kita belum selesai, Nadiva. Lo kalah taruhan, ingat?"

​"Anggap saja saya pengecut yang lari dari utang," balas Nadiva tanpa nada. Gadis itu bahkan tak repot-repot menatap mata Dereen saat berbicara. Fokusnya hanya tertuju pada dada bidang cowok itu, atau lebih tepatnya, pada lantai marmer di bawah sepatu mereka. "Silakan lapor ke seluruh sekolah kalau saya melanggar janji. Saya tidak peduli. Tolong beri saya jalan."

​Tanpa menunggu persetujuan, Nadiva melangkah menyamping, menghindari Dereen seolah cowok itu adalah virus mematikan. Ia masuk ke dalam kelas, duduk di bangkunya, dan langsung membuka buku paket setebal kamus, mengisolasi dirinya dari dunia luar.

​Dereen mematung di ambang pintu. Tas ransel di tangannya mendadak terasa berton-ton lebih berat. Kepalanya mendadak pening. Apa-apaan tadi itu? Ke mana perginya cewek barbar yang berani menyodorkan curut padanya? Ke mana hilangnya gadis keras kepala yang tak pernah mau kalah berdebat?

​Rasa tak nyaman mulai merayapi rongga dada Dereen. Ia merasa ada yang salah, sangat salah, tapi otaknya yang terbiasa berpikir logis gagal menemukan jawabannya.

​Keanehan itu tak berhenti di pagi hari. Sepanjang jam sekolah, Nadiva benar-benar berubah menjadi bayangan tak kasatmata bagi Dereen.

​Saat istirahat siang, Dereen sengaja mendatangi meja Nadiva dan Karin di kantin. Biasanya, Nadiva akan memukul mejanya pakai sendok, menyuruhnya pergi atau menagih uang keamanan. Namun kali ini, begitu Dereen meletakkan nampannya di meja mereka, Nadiva langsung menutup buku catatannya.

​"Rin, aku udah kenyang. Aku ke perpus dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Nadiva dengan suara dingin. Ia bangkit, meraih nampan makanannya yang baru tersentuh separuh, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arah Dereen.

​Karin yang ditinggal sendirian hanya bisa menelan ludah, menatap ngeri pada wajah Dereen yang kini sekelam awan mendung. Urat di rahang cowok itu berkedut keras.

​"Temen lo kenapa?" tembak Dereen dengan suara bariton yang berat dan tertahan, menatap tajam ke arah Karin. "Dia kesambet jin pesantren?"

​Karin mengangkat bahu dengan gerakan kaku, sungguh-sungguh tak tahu. "Sumpah, gue juga bingung, Ren. Sejak pagi dia diam terus. Jangankan ngomongin lo, gue ajak becanda soal artis Korea aja dia cuma senyum tipis. Kayak... jiwanya lagi nggak di sini."

​Tangan Dereen yang bertumpu di atas meja mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

​Dari meja seberang, Mex mengamati seluruh kejadian itu dalam diam. Cowok kalem itu mengaduk es tehnya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu persis apa alasan di balik matinya senyum Nadiva. Ia tahu gadis itu sedang berdarah-darah sendirian, membangun tembok es yang tebal untuk melindungi impian besarnya dari kekejaman ibunda Dereen. Namun, terikat oleh janjinya pada Nadiva, mulut Mex terkunci rapat.

​"Lo mau ke mana?" tanya Andrew saat tiba-tiba Dereen bangkit berdiri dengan kasar, membuat kursi kantinnya berderit nyaring.

​"Perpus," jawab Dereen singkat, suaranya sedingin es.

​Tanpa memedulikan tatapan murid-murid lain, Dereen melangkah lebar meninggalkan kantin. Amarah, kebingungan, dan rasa kehilangan yang tak masuk akal bergemuruh menjadi satu di dadanya.

​Selama ini, Dereen selalu berpikir bahwa kebisingan Nadiva adalah hal yang paling mengganggu hidupnya. Namun kini, ketika gadis itu memberinya keheningan yang ia pikir ia inginkan, mengapa rasanya begitu memekakkan telinga? Mengapa sikap acuh gadis itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik mana pun?

​Dereen mendorong pintu perpustakaan dengan kasar. Matanya menyapu deretan rak buku, mencari siluet mungil berjilbab putih itu. Ia harus mendapatkan jawaban. Ia tidak akan membiarkan Nadiva mengakhiri 'permainan' mereka begitu saja tanpa seizinnya. Karena jauh di dasar hatinya, sang bad boy tak mau mengakui satu fakta mutlak: ia telah terjerat terlalu dalam.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!