Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah Maya Berjuang?
Siska terdiam cukup lama setelah mendengar seluruh cerita Maya. Sejak tadi ia hanya mendengarkan tanpa menyela, tetapi semakin jauh Maya bercerita, semakin jelas perubahan pada wajahnya. Rasa terkejut perlahan berubah menjadi marah.
"Jadi selama ini kamu menghadapi semuanya sendirian?" tanyanya dengan suara tertahan.
Maya hanya mengangguk pelan.
Siska menghela napas kasar. Ia masih sulit percaya keluarga yang selama ini terlihat begitu terpandang ternyata menyimpan begitu banyak persoalan di balik rumah mewah mereka.
"Aku benar-benar tidak menyangka," gumamnya. "Padahal kalau di hotel, Mahesa selalu terlihat baik. Aku bahkan pernah melihat dia membantu karyawan yang sedang kesulitan."
Maya menundukkan kepala.
"Mungkin dia memang baik kepada orang lain."
"Justru itu yang membuatku kesal," jawab Siska. "Kalau memang dia tahu kamu mengandung anaknya, seharusnya dia berani bertanggung jawab. Bukan membiarkan kamu pergi dalam keadaan seperti ini."
Siska juga teringat pada Naura. Selama bekerja di hotel, ia beberapa kali melihat bagaimana Naura memperlakukan para karyawan.
"Dan soal Naura..." Siska menggeleng dengan wajah kesal. "Aku memang tidak pernah menyukainya. Sikapnya sering membuat karyawan merasa kecil. Cara bicaranya seperti semua orang yang bekerja di bawahnya tidak punya harga diri."
Maya hanya diam. Ia tidak ingin memperpanjang kebencian kepada siapa pun.
Namun Siska masih belum bisa menahan emosinya.
"Kalau dulu aku tahu masalah kalian sampai seperti ini, mungkin aku sudah menyuruhmu pergi lebih cepat."
Maya tersenyum tipis.
"Aku juga tidak pernah membayangkan semuanya akan berakhir seperti ini."
Siska memandang perut Maya yang semakin besar. Rasa marahnya perlahan bercampur dengan rasa iba.
"Yang paling membuatku sedih adalah kamu masih memikirkan perasaan mereka, sementara mereka membuatmu merasa tidak berarti."
Mata Maya kembali berkaca-kaca.
"Aku hanya ingin anakku lahir tanpa membawa kebencian."
Siska terdiam mendengar jawaban itu. Ia kemudian menggenggam tangan Maya.
"Kalau begitu, jangan habiskan hidupmu untuk membenci mereka."
Ia tersenyum kecil.
"Mulai sekarang, pikirkan dirimu dan anakmu. Kamu sudah sampai di sini. Anggap saja ini kesempatan untuk memulai semuanya dari awal."
Maya mengangguk perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kota, ia merasa memiliki seseorang yang berdiri di sisinya tanpa meminta apa pun sebagai imbalan.
Sementara di dalam hati Siska, satu hal sudah bulat: ia tidak akan membiarkan Maya menghadapi masa kehamilannya sendirian. Jika keluarga Pratama memilih meninggalkan Maya, maka di tempat baru ini, Maya setidaknya masih memiliki seorang sahabat yang bersedia menjadi tempatnya bersandar.
Sepuluh tahun berlalu.
Di sebuah daerah yang masih dikelilingi pepohonan hijau dan hamparan tanah luas, suasana siang itu tiba-tiba menjadi lebih ramai dari biasanya. Beberapa kendaraan besar berhenti di kaki bukit. Sejumlah kontraktor, developer, dan pekerja terlihat turun sambil membawa peta, alat ukur, serta berbagai dokumen.
Dari atas bukit, segerombolan anak-anak yang sedang bermain mendadak berhenti. Mereka berdiri berjejer sambil memperhatikan orang-orang asing itu dengan rasa penasaran.
"Itu siapa?"
"Mereka mau bikin apa?"
"Katanya mau dibangun hotel!"
Salah seorang anak yang paling kecil menunjuk ke arah kendaraan-kendaraan tersebut dengan mata berbinar.
"Serius? Hotel?"
Kabar itu langsung membuat anak-anak semakin antusias. Mereka mulai membayangkan bangunan besar dengan kolam renang, taman luas, bahkan tempat bermain yang selama ini hanya mereka lihat di televisi.
"Kalau benar ada hotel, nanti kita bisa lihat dari sini setiap hari!"
Mereka tertawa riang.
Bagi para orang dewasa, kedatangan para developer itu mungkin hanya berarti sebuah proyek baru. Namun bagi anak-anak tersebut, pembangunan itu terasa seperti sesuatu yang akan mengubah tempat tinggal mereka menjadi lebih ramai dan menarik.
Sementara itu, beberapa pekerja mulai memasang tanda di sekitar area bukit. Suara percakapan mereka terdengar samar tertiup angin.
"Kalau semua sesuai rencana, pembangunan akan dimulai beberapa bulan lagi."
Anak-anak kembali bersorak.
siang itu, Maya dan Siska makan bersama di teras rumah. Suasana begitu tenang, hanya terdengar suara serangga dari kebun dan angin yang sesekali melewati pepohonan. Di tengah makan, Siska tiba-tiba membuka pembicaraan tentang sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya.
"Kontrakku juga sebentar lagi selesai," ucap Siska pelan.
Maya menghentikan makannya dan menatap sahabatnya.
"Kontrak yang di kebun?"
Siska mengangguk.
"Iya. Setelah itu aku akan pindah ke kota."
Maya terdiam. Entah mengapa, kabar tersebut membuat hatinya terasa berat.
"Kamu serius?"
Siska tersenyum tipis.
"Serius. Setelah aku bercerai, rasanya sudah tidak ada alasan lagi untuk terus tinggal di sini. Aku ingin membawa putriku ke kota."
Ada kesedihan dalam suara Siska, tetapi juga tekad yang kuat.
"Aku ingin dia mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Kalau bisa sampai kuliah nanti, aku akan berusaha sebisa mungkin."
Maya menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Berarti kamu akan pergi juga..."
Siska mengangguk.
"Justru karena itu aku ingin kamu ikut mempertimbangkan untuk pindah."
Maya mengernyit.
"Aku?"
"Iya. Jangan terus bersembunyi di tempat ini hanya karena masa lalu."
Maya terdiam cukup lama.
Siska kemudian menyebut nama yang membuat Maya semakin terdiam.
"Raffi."
Maya menatap Siska.
"Raffi sudah semakin besar. Sebentar lagi dia membutuhkan sekolah yang lebih bagus. Kamu juga harus mulai memikirkan masa depannya."
Maya menundukkan pandangan. Selama bertahun-tahun, ia memang sengaja memilih kehidupan sederhana dan jauh dari kota. Baginya, yang penting Raffi tumbuh dengan aman dan tidak pernah mengetahui luka yang pernah dialami ibunya.
"Aku takut kalau kembali ke kota..." ucap Maya lirih.
"Takut bertemu masa lalu?"
Maya mengangguk.
Siska meraih tangan Maya.
"Kita tidak bisa selamanya melarikan diri. Sepuluh tahun sudah berlalu. Kamu sudah bukan Maya yang dulu datang ke sini dengan membawa luka."
Maya tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin Raffi hidup tenang."
"Justru karena itu kamu harus berani mengambil keputusan."
Siska menatap Maya penuh keyakinan.
"Jangan biarkan masa lalu menentukan masa depan Raffi. Kalau kamu merasa kota bisa memberikan kesempatan lebih besar untuknya, pikirkan baik-baik."
Maya kembali terdiam. Pandangannya beralih ke halaman rumah yang gelap.
Di dalam hatinya, ada rasa takut meninggalkan tempat yang telah menjadi rumah selama sepuluh tahun. Namun ada pula suara kecil yang mengatakan bahwa mungkin sudah waktunya ia membuka lembaran baru.
Sementara Siska mulai membayangkan kehidupan baru bersama putrinya di kota, Maya mulai memikirkan satu hal yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mungkin suatu hari nanti, ia dan Raffi juga harus meninggalkan tempat ini.
Bukan untuk kembali kepada masa lalu
Melainkan demi masa depan yang lebih baik.
Suasana makan siang yang semula tenang mendadak berubah ketika terdengar suara langkah kaki kecil berlari dari arah halaman.
"Ibu!"
Maya dan Siska serempak menoleh.
Raffi datang berlari bersama putri Siska. Wajah keduanya terlihat begitu bersemangat, bahkan napas mereka sedikit terengah karena berlari dari atas bukit.
"Ibu, benar katanya?" tanya Raffi antusias.
Maya mengernyit bingung.
"Katanya apa?"
"Akan ada pembangunan vila di atas bukit!"
Putri Siska langsung menyela dengan mata berbinar.
"Bukan cuma vila! Katanya ada hotel juga. Tadi banyak sekali orang membawa peta dan alat-alat."
Raffi mengangguk cepat.
"Kami melihat mobil banyak banget. Ada orang-orang yang mengukur tanah."
Maya dan Siska saling berpandangan.
Siska tersenyum kecil.
"Baru tadi kita membicarakan soal itu."
Raffi langsung duduk di samping ibunya.
"Kalau benar dibangun vila, nanti daerah sini jadi ramai, ya, Bu?"
"Mungkin," jawab Maya sambil tersenyum.
"Terus nanti aku bisa kerja di sana kalau sudah besar?"
Pertanyaan polos itu membuat Maya tertawa kecil.
"Masih lama. Kamu sekolah dulu yang rajin."
Raffi cemberut sebentar, lalu kembali bersemangat.
"Aku cuma penasaran. Katanya bangunannya besar."
Putri Siska ikut duduk sambil bercerita tentang apa yang mereka lihat dari atas bukit. Kedua anak itu saling menyahut, membayangkan bagaimana tempat yang selama ini mereka kenal akan berubah.
Maya memperhatikan Raffi dalam diam.
Sepuluh tahun lalu, ia datang ke tempat ini dengan perasaan hancur dan membawa harapan sederhana agar anaknya bisa tumbuh jauh dari segala masalah. Kini Raffi telah tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu dan tidak pernah kekurangan kasih sayang.
Namun mendengar kabar pembangunan itu, entah mengapa hati Maya terasa sedikit tidak tenang.
Raffi masih duduk di samping ibunya sambil memandangi bukit yang mulai dipenuhi para pekerja. Matanya berbinar melihat kendaraan-kendaraan besar yang hilir mudik di bawah sana.
"Kalau nanti hotelnya sudah jadi, aku mau punya hotel sebesar itu juga," katanya tiba-tiba.
Putri Siska langsung tertawa.
"Memangnya kamu punya uang?"
Raffi mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri.
"Nanti aku jadi orang kaya."
Maya yang mendengar ucapan putranya hanya tersenyum kecil.
"Terus kalau punya hotel, kamu mau tinggal di sana?"
"Iya!" jawab Raffi cepat. "Aku mau punya kamar paling besar. Terus ada kolam renang, taman, restoran, semuanya."
Putri kembali tertawa mendengar khayalan Raffi yang semakin jauh.
"Terus siapa yang kerja di hotelmu?"
Raffi berpikir sebentar sebelum menjawab dengan serius.
"Orang-orang yang butuh pekerjaan."
Maya menatap putranya dengan lembut. Ada sesuatu yang membuat hatinya hangat mendengar jawaban sederhana itu.
"Kenapa begitu?"
"Karena kalau aku punya hotel besar, aku mau kasih mereka pekerjaan bagus. Biar mereka bisa punya uang dan keluarga mereka bahagia."
Putri kembali terkikik.
"Raffi kebanyakan nonton cerita orang kaya!"
Raffi langsung memasang wajah kesal.
"Aku serius!"
Maya akhirnya tertawa kecil melihat keduanya saling bercanda.
Namun di balik senyumnya, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak pernah tahu seperti apa masa depan Raffi. Ia hanya ingin anaknya tumbuh menjadi laki-laki yang tidak menilai seseorang dari harta atau kedudukannya.
Maya mengusap rambut Raffi.
"Kalau suatu hari kamu benar-benar punya hotel, jangan lupa satu hal."
"Apa, Bu?"
"Jadilah orang baik. Jangan pernah membuat orang yang bekerja untukmu merasa tidak berharga."
Raffi mengangguk dengan polos.
"Iya, Bu. Kalau aku punya hotel, semua orang boleh kerja di sana."
Putri kembali tertawa.
"Termasuk aku?"
Raffi berpura-pura berpikir.
"Kalau kamu rajin."
"Dasar!"
Tawa kedua anak itu kembali memenuhi teras rumah. Maya hanya memandangi mereka dengan senyum hangat.
Ia tidak menyadari bahwa khayalan sederhana seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu suatu hari mungkin akan berubah menjadi cita-cita yang benar-benar ia perjuangkan.
Raffi dan Putri kembali berlari menuju bukit setelah makan malam selesai. Rasa penasaran mereka belum juga hilang. Dari kejauhan, beberapa arsitek dan pekerja masih terlihat sibuk memeriksa tanah, membuka gambar rancangan, serta berdiskusi mengenai pembangunan hotel dan vila yang akan berdiri di kawasan tersebut.
Kedua anak itu berdiri di balik pepohonan sambil memperhatikan dengan mata berbinar.
"Kelihatannya besar sekali," gumam Raffi kagum.
Putri mengangguk cepat. "Mungkin nanti ada kolam renang juga."
Sementara itu, Maya dan Siska masih duduk di teras rumah. Siska memandangi kedua anak tersebut dari kejauhan sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Maya..."
"Hm?"
"Kadang aku masih tidak habis pikir."
Maya menoleh.
"Raffi sebenarnya punya hak untuk mengetahui siapa dirinya."
Maya terdiam.
Siska melanjutkan dengan suara lebih serius.
"Kalau benar dia anak Mahesa, berarti darah keluarga Pratama mengalir di tubuhnya. Seharusnya dia bukan hidup dengan pertanyaan seperti ini. Dia berhak mendapatkan pengakuan."
Maya menundukkan wajah.
"Aku tidak ingin mengejar harta mereka."
"Aku tahu."
Siska menggenggam tangan Maya.
"Tapi ini bukan cuma soal harta. Ini soal masa depan Raffi. Kalau suatu hari keluarga itu mengetahui keberadaannya, setidaknya dia tidak datang sebagai orang asing."
Maya menghela napas panjang.
Selama sepuluh tahun, ia sengaja mengubur semua cerita tentang keluarga Pratama. Ia tidak pernah menunjukkan foto Mahesa kepada Raffi, tidak pernah menceritakan bagaimana ayahnya, dan tidak pernah mengajarkan anak itu untuk menuntut sesuatu yang bukan miliknya.
"Aku takut," bisik Maya.
"Takut apa?"
"Takut kalau aku kembali, semua luka itu terbuka lagi."
Siska terdiam.
"Aku sudah membangun kehidupan di sini. Raffi bahagia. Dia tidak kekurangan kasih sayang."
"Aku tahu."
"Tapi kalau aku mencari mereka..." Maya menelan ludah. "Bagaimana kalau mereka kembali menolaknya?"
Siska menatap Maya dengan penuh iba.
"Kalau itu terjadi, setidaknya Raffi sudah tahu bahwa ibunya pernah berjuang untuknya."
Maya memandang bukit. Di sana Raffi sedang menunjuk sesuatu pada Putri dengan wajah penuh semangat.
Untuk sesaat, Maya membayangkan putranya berdiri di sebuah hotel besar yang selama ini hanya menjadi khayalan. Ia membayangkan Raffi tumbuh menjadi seorang laki-laki yang sukses, memiliki kehidupan yang baik, dan tidak pernah merasa bahwa dirinya lebih rendah dari siapa pun.
Namun, hati kecilnya masih menolak kembali kepada keluarga Pratama.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," ucap Maya lirih.
Siska tersenyum tipis.
"Jangan buru-buru mengambil keputusan. Tapi jangan juga mengubur hak Raffi hanya karena kamu pernah disakiti."
Maya kembali terdiam.
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk melindungi Raffi dari masa lalu, sampai lupa bahwa suatu hari anak itu berhak memilih sendiri apa yang ingin diketahuinya tentang asal-usulnya.