NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32_ Jeritan di Sangkar Emas

...BAB 32_ Jeritan di Sangkar Emas...

Pernyataan mutlak yang keluar dari bibir Julian bagaikan vonis mati bagi seluruh jiwa dan raga Lea. Darahnya mendidih, membakar setiap sel di tubuhnya hingga akal sehatnya benar-benar lenyap ditelan amarah dan rasa sesak yang teramat sangat. Pengorbanannya, air matanya, penyamaran melelahkan yang ia jalani selama berbulan-bulan, kini terancam musnah begitu saja hanya karena keegoisan pria di hadapannya.

`Tidak. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi!`

Dengan gerakan spontan yang penuh ledakan emosi, kedua tangan Lea terulur maju. Ia mencengkeram kerah kemeja mahal yang dikenakan Julian dengan kuat, menarik tubuh tinggi pria itu hingga jarak di antara mereka nyaris tak bersisa. Napas Lea memburu, dadanya naik-turun dengan hebat, dan manik matanya menatap tajam penuh kebencian bercampur keputusasaan tepat ke dalam manik mata Julian.

`"Kamu enggak bisa kurung aku, Julian Edgar!"` bentak Lea dengan suara bergetar hebat, urat-urat di lehernya menegang. `"Aku manusia! Bukan hewan peliharaan yang bisa kamu kurung sesuka hatimu di dalam sangkar emas ini!"`

Julian sedikit tertegun, bukan karena cengkeraman tangan Lea di kemejanya, melainkan karena keberanian luar biasa yang tiba-tiba ditunjukkan oleh gadis itu. Namun, ekspresi wajahnya tetap dingin, seolah bentakan itu tidak lebih dari angin lalu baginya.

Melihat Julian yang bergeming dan tetap menatapnya dengan tatapan posesif yang menjerat, pertahanan terakhir di dalam diri Lea mendadak runtuh. Rasa lelah, ketakutan luar biasa, kemarahan yang membuncah, serta kepedihan masa lalu yang belum tuntas melebur menjadi satu di dalam dadanya.

`"AKU GAK MAU DIKURUNG!"`

Teriakan itu meluncur begitu saja dari tenggorokan Lea. Suaranya pecah di udara, tepat di depan wajah Julian. Hantaman emosi yang begitu pekat membuat suaranya serak dan melengking pilu.

Dan pada detik berikutnya, pertahanan itu benar-benar hancur.

Air mata yang selama ini ia tahan dengan susah payah, air mata keangkuhan yang selalu ia sembunyikan di balik topeng dingin 'Alia', tumpah begitu saja tanpa bisa dicegah. Lea menangis. Benar-benar menangis dengan sejuta kepedihan yang teramat sangat.

Isakannya pecah, menggema di dalam penthouse yang luas dan sunyi itu. Tangisan tersebut bukanlah tangisan palsu untuk menarik simpati atau sandiwara murahan yang biasa ia mainkan; itu adalah ratapan jiwa yang tersiksa, sangat menyayat, dan menyesakkan dada siapa pun yang mendengarnya. Bahunya bergetar hebat di balik gaun hitam elegan yang ia kenakan.

Tangannya yang semula mencengkeram kerah kemeja Julian perlahan melemah, melorot turun, hingga akhirnya jemari itu terkulai lemas di sisi tubuhnya. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya membasahi dada bidang pria itu, menyerahkan diri pada kehancuran yang diciptakan oleh dunianya sendiri.

Di hadapan pemandangan itu, untuk pertama kalinya, rahang Julian yang tadinya mengeras hebat sedikit mengendur.

Meskipun sifat posesif dan obsesinya mendarah daging, melihat wanita yang paling dicintainya menangis hancur separah ini tetap meninggalkan efek hantaman telak di dadanya. Julian bukanlah pria yang lembut, tapi air mata Lea—air mata yang tumpah bukan karena orang lain, melainkan karena kungkungannya sendiri—berhasil menyayat sudut hatinya yang paling dalam.

Namun, apakah Julian akan melepaskannya?

`Tidak.` Cengkraman Julian justru perlahan terangkat, membawa kedua tangannya untuk menangkup wajah Lea yang basah oleh air mata, memaksa gadis itu mendongak agar bisa menatap manik matanya yang berkilat penuh dilema namun tetap mutlak.

Isakan Lea terus mengalir, memecah kesunyian malam yang membungkus penthouse mewah tersebut. Tangisannya begitu pilu, menyayat hati, dan sarat akan keputusasaan yang teramat dalam. Setiap tetes air mata yang jatuh membasahi dada kemeja Julian, meninggalkan noda basah yang terasa panas membakar kulit pria itu.

Bagi Lea, tangisan itu adalah bentuk pelepasan atas segala penderitaan yang ia simpan rapat-rapat. Selama ini ia memaksakan diri menjadi sosok yang kuat, dingin, dan penuh perhitungan demi membalas dendam masa lalunya. Ia mengenakan topeng Alia, menyusup ke sekolah elit, menghadapi teror Teo Ozawa, dan menanggung beban hidup yang berat seorang diri. Namun, benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah itu mendadak runtuh berkeping-keping di bawah kungkungan absolut Julian.

Ia merasa terperangkap. Hidupnya direnggut, kebebasannya dirampas, dan impian terbesarnya untuk menuntut balas kini dikunci rapat di balik pintu besi sangkar emas ini.

`"Kenapa... kenapa kamu harus ikut campur dalam hidupku, Julian...?"` bisik Lea di sela-sela isakannya, suaranya terdengar sangat parau, patah-patah, dan begitu menyayat hati. Ia mengangkat kedua tangannya yang terasa lemas, memukul pelan dada bidang Julian dengan kepalan tangan kecilnya, melampiaskan seluruh amarah dan rasa frustrasi yang sudah mencapai puncaknya. `"Aku benci kamu... aku benci pria sepertimu... hiks... biarkan aku pergi... biarkan aku menyelesaikan semuanya..."`

Julian sama sekali tidak melawan. Ia tidak menepis tangan Lea, tidak juga membalas bentakan gadis itu. Pria bermata tajam itu tetap berdiri tegak bagai patung batu, membiarkan dadanya dipukul lemah oleh wanita yang paling dicintainya di dunia ini.

Namun, di balik wajah dingin dan rahangnya yang kembali mengeras, badai besar sedang menghantam batin Julian.

Ia adalah penguasa mutlak, pria yang terbiasa mendapatkan segala hal di dunia ini hanya dengan menjentikkan jarinya. Ia terbiasa ditakuti, dipatuhi, dan disembah.

Tidak ada seorang pun yang berani membentaknya, apalagi memukul dadanya sambil menangis histeris seperti ini. Tapi Lea... gadis ini adalah satu-satunya kelemahan fatal yang bisa meruntuhkan seluruh pertahanannya tanpa perlu mengeluarkan sebutir peluru pun.

Melihat bahu Lea yang bergetar hebat dan wajah cantik itu basah oleh air mata penyesalan serta amarah, ada bagian di dalam dada Julian yang terasa ngilu. Rasa sakit itu asing, namun nyata.

Namun, keraguan itu langsung ditepis mentah-mentah oleh sifat posesif mendarah daging yang telah berakar di jiwanya. `Tidak.` Julian tidak akan pernah melepaskan Lea.

Lebih baik gadis itu membencinya setengah mati di dalam penthouse ini daripada membiarkannya pergi di luar sana dan terluka—atau bahkan direbut oleh pria lain seperti Ethan. Bagi Julian, keselamatan dan keberadaan Lea di sisinya adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar dengan nyawa sekalipun.

`"Sudah..."` bisik Julian akhirnya, suaranya terdengar serak, jauh lebih lembut dari biasanya namun tetap mengandung otoritas yang tak terbantahkan.

Julian bergerak cepat. Sebelum Lea sempat melayangkan pukulan lemahnya sekali lagi, kedua lengan kokoh pria itu langsung melingkar erat di pinggang ramping Lea, menarik tubuh gadis yang bergetar itu masuk ke dalam dekapannya secara paksa namun penuh perlindungan.

`"Tidak, Julian! Lepasin aku! Aku bilang lepas!"` teriak Lea histeris, meronta-ronta dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia memukul bahu Julian, mencakar lengan pria itu, berusaha mati-matian melepaskan diri dari kungkungan yang terasa bagaikan jerat maut. `"Aku mau pulang! Aku mau keluar dari sini!"`

`"Sssshh... diam, sweetheart,"` bisik Julian penuh penekanan. Ia semakin mengeratkan pelukannya, mengunci tubuh Lea sepenuhnya di dalam dekapannya, menenggelamkan wajah gadis itu di dada bidangnya agar tidak bisa kabur kemana-mana.

Salah satu tangannya naik, mencengkeram lembut tengkuk Lea sementara tangan yang lain mengusap punggung gadis itu dengan ritme yang lambat namun kaku.

`"Kamu tidak akan pergi ke mana pun,"` lanjut Julian dengan suara rendah yang berbisik tepat di samping telinga Lea, dingin dan mutlak.

`"Menangislah sepuasmu di sini, keluarkan semua amarahmu padaku... tapi jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari sisiku lagi. Tempatmu ada di sini, di dalam genggamanku."`

Mendengar ucapan itu, tangisan Lea awalnya semakin menjadi-jadi. Ia terus meronta, memprotes, dan memukul dada bidang pria itu dengan sisa-sisa tenaga yang kumal. Namun, seiring berjalannya waktu, pertahanan fisik Lea mulai terkikis habis.

Isakannya yang tadinya meledak-ledak perlahan berubah menjadi helaan napas pendek yang gemetar. Tenaganya benar-benar habis terkuras oleh amarah, ketakutan, dan air mata yang tercurah tanpa henti sepanjang malam.

Tubuh gadis itu perlahan melunak di dalam dekapan Julian. Rontaan-rontaan kecilnya melemah, hingga akhirnya benar-benar berhenti.

Berat badan Lea sepenuhnya bersandar pada tubuh Julian. Napasnya teratur dalam keheningan, menandakan bahwa pertahanan terakhirnya telah ambruk oleh kelelahan yang teramat sangat.

Akhirnya, Lea tertidur lelap di pelukan Julian, terlelap dalam keletihan setelah terlalu banyak menangis di dalam sangkar emas yang kini menjadi tempat peraduannya.

Julian merasakan perubahan ritme tubuh di dalam dekapannya. Ia menunduk, menatap wajah cantik Lea yang kini tampak begitu damai namun menyisakan jejak air mata kering di pipinya.

Tanpa suara, sang milyarder mengangkat tubuh ringan gadis itu dalam gendongan bridal style, membawanya melangkah pelan menuju kamar tidur utama, membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas ranjang king size yang luas, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Lea—menjaga ratunya tetap aman, terkunci rapat dari dunia luar selamanya.

--

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!