NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Pukul 14.20 WIB, mobil Honda HR-V hitam yang dikendarai Aery akhirnya melintasi gerbang keluar dari tol, memasuki kawasan Jakarta Selatan. Namun, begitu roda mobil menapak di jalanan protokol ibu kota, langit yang tadinya mendung gelap seketika tumpah.

BZZZZRTSHHH!

Hujan deras seolah dicurahkan dari langit, mengguyur kaca depan mobil dengan begitu hebat hingga sapuan wiper Aery harus bekerja dalam kecepatan maksimal. Suara gemuruh petir sesekali menyambar dari kejauhan, memantulkan cahaya kilat di antara gedung-gedung tinggi.

"Gila, hujannya deras banget!" seru Ren sambil mengusap embun di kaca jendela belakang. "Untung kita naik mobil Aery, coba kalau naik motor, udah basah kuyup kayak itik hanyut kita!"

"Lokasi venue-nya tinggal lima ratus meter lagi di depan, Ry," kata Jasver menunjuk layar ponselnya. "Gedung Pusat Kebudayaan Jakarta. Tapi... liat deh depan situ."

Aery memelankan laju mobilnya saat mendekati gerbang utama gedung. Pemandangan di depan mereka benar-benar luar biasa ramai. Ratusan mobil dan bus rombongan sekolah dari berbagai daerah berderet antre memanjang hingga ke bahu jalan luar. Orang-orang dengan payung warna-warni berlarian membelahi hujan, sementara antrean penonton menuju aula utama mengular panjang.

"Rame banget, gila!" cetus Farah dengan mata membelalak. "Ini kan Lomba Musik Tingkat Nasional, pantes aja suporter tiap provinsi pada dateng semua!"

"Parkirannya penuh total, Ry," panggil Jasver panik, melihat petugas keamanan mengibaskan bendera merah mengode bahwa tempat parkir dalam sudah tidak muat lagi.

Aery tetap tenang. Jemarinya dengan cepat memutar kemudi, mengarahkan mobil masuk ke area drop-off VIP yang sedikit lebih luang di samping gedung.

"Kalian bertiga turun duluan di sini," perintah Aery tegas sambil mematikan tombol lock pintu. "Lari masuk ke dalam aula, cari posisi paling depan buat nonton Bumi. Gue bakal cari parkiran paralel di luar."

"Bentar, Ry! Lo sendirian hujan-hujan gini gimana?!" tanya Jasver khawatir, matanya menatap Aery tajam.

"Ngga apa-apa, Ver. Waktunya udah makin mepet nihh. Sekarang udah jam dua lewat dua puluh lima!" potong Aery penuh penekanan. "Bumi butuh kita di dalam sekarang. Nanti gue nyusul!"

Jasver menatap Aery sejenak, lalu mengangguk mantap. "Oke. Payung Papah lo gue bawa satu ya. Jangan lupa chat kalau udah dapet parkir!"

"Sip! Hati-hati, Aery!" seru Farah dan Ren serempak sebelum melompat keluar dari mobil.

Jasver, Farah, dan Ren langsung berlari menerobos derasnya hujan, menutupi kepala mereka dengan payung seadanya menuju pintu masuk utama gedung.

Di dalam gedung, suasana sangat riuh. Suara gema instrumen musik, riuh teriakan penonton dari dalam hall, dan lalu lalang panitia ber-nametag membuat atmosfer semakin mendebarkan.

Jasver merogoh ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetaran, menembus lautan manusia menuju area panggung belakang.

Jasver: Bum! Gue, Farah, sama Ren udah di depan! Aery lagi markir mobil! Lo dimana?!

Tak sampai satu menit, ponsel Jasver bergetar. Sebuah balasan masuk dari Bumi.

Bumi: Gue di lorong penampil, Ver. Sebelah kanan panggung utama. Nomor urut sembilan baru aja naik panggung. Artinya... habis ini giliran grup gue.

Jasver menatap Farah dan Ren dengan binar mata yang mendadak meledak penuh semangat.

"Guys!" panggil Jasver kencang menembus kebisingan hall. "Bumi tampil habis ini! Kita kudu jebol barisan depan sekarang juga!"

Di luar gedung, di bawah guyuran hujan deras Jakarta yang kian lebat, Aery akhirnya berhasil memarkir mobilnya di sudut jalan yang aman. Sambil memegang payung lipatnya, Aery melangkah cepat menerobos genangan air hujan menuju gedung utama, membawa seluruh doa dan harapannya untuk penampilan sahabat terbaik mereka diatas panggung impian.

Suasana di dalam hall utama Gedung Pusat Kebudayaan Jakarta benar-benar menyerupai lautan manusia yang meluap. Lampu gantung besar dimatikan, menyisakan sorot lighting warna-warni dari panggung utama yang megah. Dentuman bass dan riuh tepuk tangan ratusan suporter dari berbagai sekolah menggema kencang, memantul di setiap sudut ruangan.

Di tengah aksi saling dorong dan berdesakan penonton yang ingin melihat ke depan, bencana kecil itu terjadi.

"Ren, pegangan tas gue! Jangan sampai lepas!" teriak Jasver menembus kebisingan, sambil menerobos kerumunan bersama Farah di sisinya.

"Iya, Ver! Gue di belak–eh, asem! Permisi, Mas! Woy, jangan dorong-dorong!"

Bruk!

Rombongan suporter dari sekolah lain berpakaian jersey merah mendadak merangsek masuk dari arah samping untuk membawa spanduk besar. Dorongan gelombang manusia itu begitu kuat hingga memutus genggaman tangan Ren. Dalam hitungan detik, tubuh Ren yang agak kurus itu terseret arus kerumunan ke arah kanan dekat tribun.

"JASVER! FARAH! GUE TERSERET, WOY!" jerit Ren heboh, tapi suaranya langsung tenggelam oleh sorak-sorai penonton.

"REN!" Farah menoleh cepat, tapi sosok Ren sudah menghilang ditelan lautan manusia. "Aduh, tuh anak malah hilang lagi! Gimana nih, Ver?!"

Jasver yang refleks memegang pergelangan tangan Farah agar cewek itu tidak ikut terseret, celingukan panik. "Yaudah, biar si Ren nyari jalan sendiri! Anak itu mah gesit, ngga bakal hilang beneran! Kita harus tetep maju ke depan panggung!"

Jasver makin mempererat genggamannya di tangan Farah, menarik cewek itu menerobos celah-celah sempit. Farah sempat tertegun sejenak menatap genggaman tangan Jasver yang begitu erat dan protektif, sebelum akhirnya mengangguk mantap dan ikut melangkah cepat di samping Jasver.

Sementara itu, di pintu masuk VIP bagian barat, Aery baru saja melipat payungnya yang basah dan melangkah masuk ke dalam gedung. Bajunya sedikit basah di bagian lengan akibat guyuran hujan deras di luar tadi. Suara gemuruh dari dalam hall membuat jantung Aery berdegup kencang.

Ia merogoh ponsel dari sakunya untuk memberi tau teman-temannya, tapi sinyal di dalam gedung mendadak runtuh menjadi tidak ada internet gara-gara ribuan orang berkumpul di tempat yang sama.

"Aduh, sinyalnya ilang lagi..." gumam Aery pelan.

Aery mencoba keberuntungan dengan menerobos masuk lewat pintu samping. Namun, begitu pintu dibuka, ia langsung disambut oleh kerumunan penonton yang berdiri rapat seperti benteng. Aery berusaha mencari keberadaan jaket varsity Jasver atau rambut wolf cut Farah, tapi nihil. Di bawah cahaya lampu panggung yang remang-remang, wajah orang-orang terlihat sama semua.

Aery terjebak di area tribun samping kiri, terpisah total dari yang lain. Ia melirik jam tangannya. Pukul 14.55 WIB.

Gemuruh tepuk tangan membahana saat penampil nomor urut sembilan selesai membawakan lagunya dan turun panggung. Lampu panggung mendadak redup. Suara pembawa acara (MC) yang berat dan bergema mulai terdengar dari pengeras suara raksasa.

"Selanjutnya, mari kita sambut penampil nomor urut sepuluh! Perwakilan kategori Band Musik dari SMA Astra Nova... BAND THE NOVAS!"

Lampu sorot putih seketika menyala terang di panggung. Satu per satu anggota grup musik melangkah naik membawa peralatan mereka, pemain keyboard, drummer, dan pemain bass. Dan di garis depan panggung, berdiri sosok Bumi.

Bumi tampak begitu karismatik mengenakan kemeja putih rapi berbalut vest hitam. Sebagai vokalis utama yang juga memegang gitar akustik di bahunya, aura tenang namun berwibawa memancar kuat darinya. Ia menyesuaikan mikrofon di stand-nya, lalu memetik senar gitarnya sekali untuk mengecek nada.

Mata Bumi yang memancarkan sedikit rasa gugup mulai mengedar menatap lautan penonton yang riuh. Dirinya mencari sosok teman-temannya yang sempat berjanji akan hadir.

Ren yang terhimpit di dekat pagar tribun kanan langsung memanjat sedikit ke atas pijakan besi sambil melambaikan tangannya heboh. Jasver dan Farah yang berhasil menembus barisan paling depan dekat pagar barikade panggung menatap lurus ke arah Bumi dengan napas terengah-engah. Sementara Aery yang berdiri sendirian di tribun samping kiri menggenggam erat tali tasnya, menatap sosok Bumi di bawah lampu sorot dengan binar mata yang teramat bangga.

Bumi menarik napas dalam-dalam, menatap mikrofon di depannya, lalu menyunggingkan senyum tipisnya. Saat petikan gitar pertamanya menggema memenuhi aula besar itu, keempat sahabatnya yang terpisah-pisah mendadak terdiam, siap mendengarkan lantunan suara terbaik dari sahabat mereka.

♧♧♧

Petikan senar gitar terakhir dari tangan Bumi berpadu sempurna dengan pukulan drum yang mantap, mengakhiri lagu aransemen akustik mereka dengan sangat megah.

Suasana di aula raksasa itu sempat hening selama satu detik karena terhipnotis oleh vokal lembut Bumi yang dipadukan dengan harmonisasi instrumen grupnya, sebelum akhirnya gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai penonton pecah memenuhi seluruh penjuru ruangan.

Dan sesuai janji mereka di warung kopi... keempat sahabat yang terpisah-pisah itu menjadi manusia paling berisik di seluruh hall.

"BUMIIIII! THE NOVAS GILAA BANGETT!"

Di tribun kanan, Ren yang masih memanjat pijakan besi berteriak sekuat tenaga sampai suaranya serak dan urat lehernya menonjol. Cowok itu melepas jaketnya lalu mengibar-ngibarkannya di udara seperti bendera victory, membuat orang-orang di sekitarnya menoleh kaget. "ITU SAHABAT GUE KANAN DEPAN! YANG JADI VOKALIS ITU SAHABAT GUE, WOY!"

Sementara itu tepat di depan barikade panggung utama, Jasver tidak mau kalah. Cowok itu melompat-lompat tinggi sambil menepuk pagar besi keras-keras.

"KEREN BANGET LO, BUM! VOKALIS TERBAIK SE-INDONESIA!" teriak Jasver heboh, lalu menangkupkan kedua tangan di samping mulutnya. "BUMIII! LIAT SINI, BUM! GUE SAMA FARAH DI DEPAN LO!"

Di samping Jasver, Farah yang biasanya bersikap dingin dan ketus, kali ini benar-benar melepas gengsinya. Cewek itu bersiul nyaring khas anak karate lalu berteriak kencang, "PRABUMI AKSHAYAA!! ASTRA NOVA PASTI JUARA SATU!"

Jasver menoleh menatap Farah yang berteriak heboh di sisinya, lalu tertawa lebar dan ikut berteriak semakin kencang sambil merangkul pundak Farah.

Di sudut lain, di tribun samping kiri yang agak sepi Aery berdiri anggun dengan senyuman paling manis yang merekah di wajahnya. Walau tidak berteriak se-histeris Ren atau Jasver, Aery menepuk kedua tangannya kencang tanpa henti.

"Bumi... kamu hebat banget," bisik Aery pelan, matanya berbinar haru menatap sosok cowok yang berada di bawah spotlight itu.

Di atas panggung, Bumi bersama anggota grupnya membungkuk dalam-dalam memberi penghormatan kepada penonton dan juri. Ketika Bumi kembali menegakkan badannya, matanya yang tajam mengedar ke seluruh aula.

Dan ajaibnya, dari atas panggung yang tinggi itu, Bumi berhasil menemukan keberadaan mereka bertiga.

Ia melihat Ren yang heboh mengibarkan jaket di tribun kanan, melihat Jasver dan Farah yang melompat-lompat paling depan sambil melambaikan tangan, dan akhirnya... mata Bumi tertahan di tribun kiri, berpapasan langsung dengan tatapan Aery yang tersenyum hangat padanya.

Rasa lelah akibat berangkat subuh, ketegangan saat latihan tadi dan rasa takut akan berjuang sendirian seketika menguap dari dada Bumi.

Bumi menyunggingkan senyum paling lebar dan tulusnya ke arah mereka semua. Ia mengangkat gitar akustiknya tinggi-tinggi ke udara, lalu memberikan gestur hormat menggunakan tangannya tepat ke arah keempat sahabatnya.

Mereka benar-benar menepati janji. Di tengah lautan ribuan manusia dan hujan deras kota Jakarta, mereka hadir sebagai penonton yang paling berisik untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!