**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Aku Hanya Minum yang Kau Berikan
"Bagus. Sesekali besar kepala juga perlu."
Keira benar-benar membawa kalimat itu sampai malam. Saat duduk di samping kaca ICU, ia menceritakan pada Mama Liana bahwa hari ini ia berhasil mengenai lingkar tengah di latihan menembak target. Mama belum membuka mata, tetapi monitor berbunyi stabil, dan bagi Keira itu sudah cukup untuk membuatnya berani tersenyum.
Keesokan paginya, latihan bela negara memasuki hari kedua. Matahari lebih kejam daripada hari pertama. Lapangan outdoor berdebu, barisan mahasiswa mulai kehilangan rapi, dan botol minum kosong menumpuk di bawah tenda panitia.
Keira mengikuti simulasi evakuasi korban dengan wajah pucat. Tidurnya hanya tiga jam karena semalam ia menyelesaikan tugas pemrograman setelah pulang dari RS Kurnia. Ketika instruktur meniup peluit istirahat, ia duduk di bangku kayu dan menekan pelipis.
Sania menjatuhkan diri di sebelahnya. "Aku pikir bela negara itu cuma yel-yel. Ini kenapa seperti mau ikut lomba survival?"
Keira tertawa pelan. "Minum."
"Botolku habis."
Sebelum Keira sempat menawarkan miliknya, sebuah botol minuman isotonik dingin muncul di depan mereka.
Varian berdiri di sana, seragamnya sudah bersih dari insiden milk tea kemarin. Senyumnya kembali rapi, seolah penghinaan di lapangan tidak pernah terjadi.
"Keira, wajahmu pucat. Minum dulu."
Sania langsung menegang.
Keira melihat botol itu, lalu melihat Varian. "Terima kasih, aku punya."
"Botolmu tinggal sedikit." Varian mengguncang botolnya sendiri. "Ini masih segel."
"Aku tidak butuh."
Varian tetap mengulurkan botol itu. "Jangan keras kepala. Aku hanya peduli."
Keira hampir tertawa. Dulu mungkin ia akan merasa tidak enak menolak terlalu tegas. Sekarang, setelah semua yang terjadi, rasa tidak enak itu terasa mahal sekali.
"Varian," katanya pelan, "kalau kau benar-benar peduli, berhenti mendekat."
Senyum Varian menipis.
Di saat yang sama, Rayhan datang dari arah tenda instruktur dengan handuk kecil dan botol tumbler stainless di tangan. Ia tidak terburu-buru. Justru langkah santainya membuat beberapa mahasiswa yang memperhatikan langsung diam.
"Ada apa?"
Varian menatap tumbler di tangan Rayhan. "Aku cuma memberi minum. Pacarmu hampir pingsan."
Rayhan melihat Keira. "Kau hampir pingsan?"
"Tidak. Cuma pusing sedikit."
"Kenapa tidak bilang?"
"Karena aku baru duduk."
Rayhan membuka tumbler, menyerahkannya ke Keira. Di dalamnya ada air dingin dengan irisan lemon tipis dan sedikit madu, persis seperti yang beberapa hari ini ia paksa Keira minum karena Keira sering lupa makan.
Keira menerimanya tanpa ragu.
Varian memperhatikan gerakan itu. "Jadi minum dariku tidak boleh, dari dia boleh?"
Keira meneguk air, lalu menutup tumbler pelan. Saat ia mengangkat wajah, suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk orang-orang di sekitar.
"Aku hanya minum yang Rayhan berikan."
Lapangan seketika sunyi kecil.
Rayhan berhenti bergerak.
Sania yang duduk di samping Keira langsung menutup mulut, matanya membesar seperti baru melihat adegan drama favorit secara langsung. Beberapa mahasiswa di tenda panitia saling sikut.
Varian menatap Keira, senyumnya benar-benar hilang. "Kau berubah."
"Mungkin." Keira memegang tumbler Rayhan lebih erat. "Atau mungkin aku baru belajar memilih siapa yang aman."
Rayhan menunduk sedikit, menatap Keira dengan mata yang sulit dibaca. Untuk sekali ini, ia tidak langsung menggoda. Ada sesuatu yang lebih diam di wajahnya, seperti kalimat sederhana itu menyentuh tempat yang tidak ia lindungi.
"Kei," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Minum lagi."
Keira menurut. Wajahnya masih panas, tetapi ia tidak menarik kembali ucapannya.
Varian tertawa pendek, dingin. "Hati-hati, Keira. Orang yang terlihat paling aman biasanya paling pintar menyembunyikan harga."
Rayhan menoleh. "Kalau kau masih di sini saat istirahat selesai, aku minta instruktur memasukkanmu ke simulasi evakuasi sebagai korban."
"Ancaman lucu."
"Aku tidak sedang melucu."
Instruktur meniup peluit sebelum Varian membalas. Mahasiswa kembali berbaris. Varian pergi dengan rahang mengeras, botol minuman yang ditawarkannya masih utuh di tangan.
Keira berdiri, tetapi Rayhan menahan lengannya sebentar.
"Kau sadar tadi bilang apa?"
Keira pura-pura merapikan topi. "Sadar."
"Ulangi."
"Tidak."
"Kei."
"Kalau kau minta terus, aku tarik kembali."
Rayhan tersenyum akhirnya, tetapi senyum itu aneh, lebih lembut daripada nakal. "Jangan. Simpan untukku."
"Apa?"
"Kalimat tadi."
Keira menatapnya. Di bawah matahari lapangan, Rayhan terlihat seperti biasa: tinggi, kuat, dan terlalu percaya diri. Namun jari-jarinya yang memegang tumbler sempat mengencang, seolah ia takut kalimat itu hilang kalau tidak dijaga.
Keira mengulurkan tangan, mengambil kembali tumbler itu dari Rayhan.
"Kalau begitu isi ulang nanti," katanya.
"Siap, Sayang."
Sania dari barisan depan batuk keras untuk menutupi tawa.
Saat sesi berikutnya dimulai, Keira baru menyadari Rayhan tidak hanya mengisi ulang tumbler miliknya. Di bawah tenda, ada dua botol air tambahan dengan nama Sania dan Tina yang ditempel menggunakan kertas kecil.
Sania melihatnya lebih dulu dan hampir berteriak. "Mas Ray juga kasih kami?"
Rayhan menjawab dari jauh, "Kalau kalian pingsan, Keira panik. Merepotkan."
Sania langsung mengacungkan jempol. "Alasan diterima!"
Keira menunduk, menyembunyikan senyum. Rayhan memang posesif, tetapi ia belajar menjaga dunia kecil Keira, bukan hanya mengambil Keira dari dunia itu.
Keira kembali ke barisan dengan wajah merah, tetapi dadanya terasa lebih ringan. Di belakangnya, Rayhan berdiri di bawah tenda instruktur, memperhatikan sampai ia benar-benar masuk ke kelompok.
Untuk pertama kalinya, Keira mengerti bahwa memilih seseorang tidak selalu harus berupa janji besar.
Kadang cukup dengan menerima botol minum dari tangan yang tepat.