Vayala seorang gadis berusia 29 tahun yang gagal menikah dengan mantan kekasihnya yang toxic dan memutuskan menikah dengan pria yang baru dikenalnya selama satu bulan.
impiannya membangun rumah tangga yang bahagia nyatanya hanya membangun rumah duka,pria yang terlihat baik,royal dan perhatian itu berubah menjadi kasar,perhitungan dan silent treatment sehingga membuatnya merasa kesepian dan sedih .
bagaimana Vayala menghadapi kehidupan rumah tangga yang membuatnya menderita itu...
apakah ia bisa bahagia dengan laki laki pilihan yang baru dikenalnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyta Yulaeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 survey Rumah
Akhirnya kami tiba di kediaman pemilik developer perumahan yang kami ingin survey yang tampak sederhana berlantai satu dengan pagar tinggi yang membatasinya.
Kami segera keluar dan memberi salam pada seorang pria berumur paruh baya yang sedang asik menikmati secangkir kopi di depan teras rumahnya.
"Pa Muhsin...kenalin ini ayah aku,kakak ku Bram dan istrinya dan juga Fadil kembaranku!"ucap Fara memperkenalkan kami kepadanya.
Pria itu terlihat ramah,menyalami ayah mertuaku dan menyuruh kami duduk di bangku teras.
Ayah mertuaku mulai menjelaskan maksud kedatangan kami kerumahnya yang disambut dengan antusias oleh pak muhsin.
"iya pak..saya sudah banyak bangun perumahan di daerah sini..sepanjang kampung ini dari ujung kabupaten itu properti saya semua...dan rencana kami akan membangun di dekat pinggir jalan utama beberapa rumah cluster..nak Fara sudah saya infokan tadi dan foto foto rumah contoh yang nanti kita akan bangun"ucap pak Muhsin menjelaskan.
"Gimana kalau kita lihat lokasinya sekarang ?"tanya ayah mertuaku penasaran.
"bisa..saya hubungin menantu saya dulu..Aldi dia yang akan dampingi bapak untuk lihat lokasi dan rumah contohnya...sebentar!"sahut pak Muhsin menghubungi seseorang dari handphone didekatnya.
Beberapa menit kami berbincang bincang ,Aldi menantu pak Muhsin datang menemui kami mengenakan pakaian casual dengan perawakan gemuk berusia tidak jauh dari kami.
Dengan motor besarnya ia mengarahkan kami kelokasi dimana rumah contoh itu berada.
Kulihat rumah sederhana namun terlihat nyaman berada di dalam jalan yang berliku,rumah yang sama persis dengan foto yang ditunjukkan Fara kepada kami.
"Besar juga ya kelihatannya...berapa ini luasnya ?"tanya ayah mertuaku mengamati setiap ruangan.
"enam puluh meter pak..depan belakang habis,ada teras,shower tempat mesin cuci juga"sahut Aldi menjelaskan.
"Saya cocok ini..Bram gimana kamu suka?"tanya ayah mertuaku.
"Iya suka yah. Bagus rumahnya terlihat kekar!".
"kalau kamu dan Fara cocok nanti ayah beli sama pak Muhsin saja biar kalian juga berdeketan adik kakak!"ucap ayah mertuaku.
Setelah melihat rumah contoh ,kami beranjak ke lokasi dimana perumahan baru yang ingin kami beli dibangun,terlihat masih dalam keadaan tanah kosong yang sedang digarap,disisi sisi jalan banyak pohon bambu yang terlihat rimbun dan gelap.
"yah nanti rumahku disitu yah,sekalian aku mau buka warung buat jualan!"seru Fara menunjuk lokasi tanah yang berada di tengah bawah.
"Iya boleh...kamu Bram?"tanya ayah mertuaku lagi.
"Mas Bram jangan pilih rumah samping aku ya...terserah dimana posisinya asal jangan sampingan banget sama aku!"seru Fara tiba tiba.
"soal itu nanti Abang bisa kesini lagi untuk pilih rumahnya..disini kebetulan hanya ada dua puluhan rumah yang akan kami bangun..."ucap Aldi .
Mas Bram hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan Aldi setelah itu kami segera kembali kerumah pak Muhsin untuk membicarakan harga dan lainnya.
Dalam waktu satu sampai tiga bulan rumah yang kami akan beli selesai dibangun,Mas Bram yang ingin segera pindah membicarakan ini pada mereka secara terbuka agar secepatnya kami bisa pindah.
"Nak Bram tidak perlu khawatir nanti saya sewakan rumah contoh untuk kalian tempati sementara sampai rumah baru kalian jadi".ucap pak Muhsin dengan santai.
"pak Muhsin serius ?"tanya mas Bram tidak percaya.
"tenang saja mas Bram...saya ini punya beberapa rumah kosong yang memang belum laku terjual dari pada tidak dihuni lebih baik ditempati kalian sementara".
"Pak Muhsin baik sekali!",seru Fara merasa senang.
Kami pun berbincang bincang sebentar setelah itu berpamitan pulang karena sudah malam.
"Mas Bram pokoknya tau beres aja...Pak Muhsin itu orangnya baik dia ngerti kok kalau Mas Bram mau buru buru tempatin rumah"seru Fara dalam perjalanan pulang.
"yaudah...aku mau siap siapin pindahan aku nanti..kabarin kalau kami sudah boleh tempatin rumah sementara itu!"sahut mas Bram.
setelah sampai di rumah mertua kami bergegas pulang dan juga Fara dengan motor masing masing.
"Alhamdulilah ya mas...sebentar lagi kita punya rumah baru,aku engga sabar mau cepet cepet pindah dari sini...enggak enak numpang terus sama orang tua"ucapku bersemangat .
"iya..kamu kemas kemarin barang barang sedikit sedikit biar nanti kalau siap pindah sudah tinggal bawa semua".
"besok pagi anter aku ambil uang ke ATM..besok gajian terakhirku turun"ucap Mas Bram.
"kira kira dapet bonus gede lagi ga ya?"tanyaku penasaran.
"belum tau..kita harus hemat hemat karena aku sudah tidak bekerja lagi,apalagi kita mau pindahan,butuh uang untuk sewa mobil dll"sahut mas Bram.
"iya mas...tapi aku kepengen banget beli kulkas mas..jadi aku enggak perlu keluar rumah untuk belanja..aku kan enggak tau daerah saja udah gitu masuk kedalam rumah yang disewakan pak Muhsin itu lumayan jauh jalannya dari jalan utama".ucapku lagi.
Mas Bram tidak menjawab hanya terus menatap jalan didepannya,disekeliling kami pohon pohon besar yang rimbun dan gelap tanpa adanya lampu penerangan jalan membuatku sedikit ketakutan.
Daerah ini memang terkenal seram jika sudah malam karena rawan penjarahan,banyak terdengar kejadian pengendara yang di rampok di tengah jalan dan juga ada yang dibunuh dan dibuang ke dalam semak belukar .
Aku hanya mendekap erat suamiku dari belakang,melingkari tanganku di pinggangnya dengan erat sambil menutup wajahku di belakang punggungnya.
......................