DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejayaan di atas penderitaan
##BAB 18 - Kejayaan Di Atas Penderitaan
Peristiwa mengerikan dan tabu di dalam kamar itu berlangsung dengan sangat lama, hampir satu jam lebih tanpa henti. Hal tersebut benar-benar membuat Ratna kewalahan dan tersiksa luar biasa saat melayaninya. Apalagi, makhluk jahanam yang menyamar sebagai suaminya itu memperlakukan tubuh Ratna secara teramat kasar, liar, dan brutal, jauh berbeda dari sentuhan suaminya yang biasanya.
Wanita malang itu hanya bisa menggigit bibirnya erat-erat, sekuat tenaga menahan rasa sakit, perih, dan panas yang luar biasa di area intimnya. Rasa tersiksa itu kian berlipat ganda karena saat ini Ratna sedang mengalami menstruasi yang baru berjalan tiga hari. Darah kotor yang mengalir keluar justru membuat hawa di dalam kamar itu mendadak tercium sangat anyir dan mengundang gairah mistis yang semakin pekat.
Namun, di tengah siksaan fisik yang mendera, Ratna tetap memilih diam dan pasrah menerima perlakuan brutal tersebut. Di dalam benaknya yang mulai linglung, ia mengira bahwa ini hanyalah luapan nafsu berahi suaminya yang sedang menggebu-gebu, atau mungkin ini adalah bagian dari perintah sesat Mbah Cahyo untuk ritual penyempurnaan ilmu penglaris pemanggil tamu yang sering suaminya katakan belakangan ini.
Pada akhirnya, daya tahan tubuh Ratna mencapai batasnya. Kondisi fisiknya yang sudah sangat lemas karena kurang tidur sejak semalam, kini harus dipaksa melayani permainan brutal berjam-jam tanpa ampun. Ratna tidak sanggup lagi bertahan; pandangannya mendadak gelap, kesadarannya hilang seketika, dan ia pun akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri di atas ranjang.
Namun, makhluk gaib penjelmaan penguasa hutan fajar itu sama sekali tidak peduli dengan kondisi Ratna yang sudah tidak berdaya. Dengan ego kelamnya, ia terus saja meneruskan hasrat bejatnya di atas tubuh ringkih yang sudah pingsan tersebut, memeras darah rahim Ratna sampai tuntas hingga ia mencapai klimaksnya.
Setelah melampiaskan seluruh hasrat jahanamnya, makhluk itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia perlahan bangkit, berdiri di tepi ranjang sembari menatap dingin ke arah tubuh Ratna yang tergeletak pasrah tak berdaya. Sedetik kemudian, sudut bibir makhluk itu tertarik ke samping, menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat aneh, senyuman yang penuh dengan kemenangan gaib dan keangkuhan yang mengerikan. Tanpa membenahi apa pun, ia langsung berbalik arah dan melangkah pergi begitu saja keluar dari rumah mewah itu, meninggalkan pintu kamar tidur utama dalam keadaan terbuka lebar.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, suasana di kios bakso utama milik Rahmat justru berbanding terbalik dengan pemandangan sunyi bin maut di rumah gedongannya. Rahmat tampak sedang duduk santai di atas sebuah kursi kayu di sudut warung sembari menikmati sebatang rokok yang asapnya mengepul tebal ke udara. Matanya berbinar penuh kepuasan saat menyaksikan gelombang pembeli yang semakin siang justru semakin membeludak datang memadati kiosnya.
Suasana kios begitu riuh dan penuh sesak. Deretan meja dan kursi hampir tidak pernah kosong, bahkan antrean pelanggan yang ingin membungkus bakso tampak mengular panjang hingga ke area parkir. Four orang karyawan baru yang ia rekrut benar-benar dibuat kewalahan dan mandi keringat. Mereka harus bergerak cepat memotong daging, meracik mangkok, dan menuangkan kuah tanpa sedetik pun memiliki waktu untuk beristirahat karena pesanan pelanggan sedari tadi terus mengalir tanpa henti.
"Akhirnya... masa kejayaan itu bisa saya rebut kembali. Tak sia-sia saya menuruti semua ucapan Simbah," gumam Rahmat di dalam hati sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan keangkuhan.
Sambil mengetukkan abu rokoknya, Rahmat merasa dirinya kini sudah berada di puncak dunia. Ia merasa keputusan bersekutu dengan kegelapan adalah langkah paling cerdas yang pernah ia ambil dalam hidupnya. Pria itu benar-benar tidak pernah tahu—atau mungkin menutup mata—bahwa pada detik yang sama, istrinya tercinta tengah tergeletak pingsan tak berdaya akibat raga dan rahimnya diperas habis oleh makhluk jahanam yang selama ini ia puja-puja demi penglaris tersebut. Rahmat tidak menyadari bahwa ledakan omzet dan keramaian luar biasa di kios baksonya hari ini tidak datang dari bumbu racikannya, melainkan sebagai upah instan karena iblis penguasa hutan fajar baru saja selesai berpesta pora menagih tumbal darah kotor di atas ranjang mewah rumahnya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, di tengah riuhnya kepulan asap rokok dan tumpukan rupiah di laci kasir, perasaan Rahmat mendadak menjadi tidak enak. Hatinya tiba-tiba didera rasa cemas yang ganjil. Terbayang kembali wajah pucat pasrah istrinya tadi subuh, membuat Rahmat akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal karena khawatir dengan keadaan Ratna yang sedang sakit di rumah. Ia menyerahkan sisa operasional kios kepada empat karyawannya, lalu lekas memacu mobil mewahnya membelah jalanan siang.
Namun, sesampainya di rumah gedongan mereka, suasana sepi senyap yang menyambutnya seketika menumbuhkan firasat buruk. Rahmat melangkah cepat menaiki tangga menuju lantai atas. Pintu kamar utama yang terbuka lebar membuat jantungnya berdegup kencang.
Betapa kaget dan hancurnya Rahmat saat melangkah masuk ke dalam kamar. Matanya membelalak sempurna menyaksikan sang istri terbaring lemas tak sadarkan diri di atas ranjang dengan kondisi telanjang bulat. Yang membuat bulu kuduknya meremang hebat, kasur mewah mereka telah berlumuran darah segar yang sangat banyak di bagian intim Ratna, memancarkan bau anyir yang teramat pekat memenuhi ruangan.
Saat itu juga, akal sehat Rahmat seolah runtuh. Dengan tangan yang bergetar hebat menahan rasa takut dan ngeri, ia buru-buru menyambar pakaian dan memakaikannya ke tubuh lemah Ratna yang lunglai seperti boneka kain. Tanpa membuang waktu lagi, Rahmat langsung membopong tubuh istrinya turun ke lantai bawah dan memasukkannya ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
Di dalam kabin mobil, suasana berubah menjadi mencekam. Dengan perasaan panik yang campur aduk dan dada yang sesak, Rahmat menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Ia memacu mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan lain secara ugal-ugalan tanpa menghiraukan keselamatan dirinya sendiri lagi.
Di dalam otaknya yang sudah terlanjur gelap, Rahmat terus merapalkan doa agar istrinya bisa bertahan hidup. Namun, di balik kepanikan itu, terselip sebuah niat yang teramat keji. Rahmat begitu ketakutan kehilangan Ratna bukan semata-mata karena rasa cinta sebagai seorang suami, melainkan karena ia tahu betul, rahim Ratna adalah satu-satunya wadah pesugihan dan sumber rezeki utamanya saat ini. Jika Ratna mati, maka seluruh kemewahan, rumah gedongan, dan gurita bisnis bakso miliknya akan ikut musnah dalam sekejap.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁