Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Lampu start buatan dari lambaian bendera kumal berkibar di udara.
VROOM!
Motor ZX-25R milik Alexa melesat bak anak panah hitam yang membelah kegelapan malam di kawasan industri pinggiran Jakarta. Alexa tidak peduli lagi pada keselamatannya. Setiap kali ia menaikkan gigi dan memutar gas lebih dalam, bayangan wajah Clarissa yang tersenyum merendahkan dan ucapan Zyan soal elegan seolah terbakar oleh api knalpotnya.
"Gue nggak butuh jadi elegan buat jadi hebat!" teriak Alexa di balik helmnya, suaranya teredam oleh angin yang menghantam tubuhnya di kecepatan 140 km/jam.
Di belakangnya, cowok yang menantangnya tadi seorang jagoan lokal bernama Xavir berusaha mengejar dengan motor ninja modifikasinya yang berisik. Mereka saling salip di tikungan tajam yang hanya diterangi lampu jalan yang remang-remang. Alexa mengambil risiko besar dengan melakukan late braking di setiap tikungan, membuat ban motornya sedikit selip namun tetap terkontrol berkat insting teknisnya yang tajam.
Namun, di tengah aksinya itu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil yang sangat terang, bukan lampu mobil biasa. Tiga buah SUV hitam besar melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, lalu dengan manuver taktis, mobil-mobil itu melakukan drift dan menutup jalanan sirkuit liar tersebut.
CITTTTTTT!
Alexa terpaksa melakukan pengereman mendadak. Ban belakang motornya terangkat sedikit (stoppie) sebelum akhirnya berhenti tepat beberapa sentimeter dari bemper mobil SUV paling depan.
"Woi! Siapa sih yang cari mati nutup jalan?!" teriak Xavir yang juga berhenti di belakang Alexa.
Pintu SUV hitam itu terbuka. Dari dalamnya keluar beberapa pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam tim keamanan Arsalan Group. Dan dari mobil paling tengah, keluarlah sosok yang membuat nyali semua anak motor di sana mendadak ciut.
Zyan Arsalan.
Pria itu keluar tanpa jas, hanya kemeja abu-abunya yang sekarang lengan bajunya digulung sampai siku. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat gelap, rahangnya mengeras, dan matanya memancarkan amarah yang bisa membakar siapa pun yang menatapnya.
"Selesai main-mainnya, Alexa?" suara Zyan rendah, tapi bergema di tengah keheningan malam itu.
Alexa membuka kaca helmnya, napasnya masih terengah-engah. "Kenapa lo bisa ada di sini?"
Zyan tidak menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah Alexa, mengabaikan Xavir yang mencoba berlagak jagoan di sampingnya.
"Heh, Om-om kantoran! Jangan ganggu urusan kita! Ini taruhannya motor, lo jangan ikut campur!" gertak Xavir.
Zyan berhenti melangkah, ia menoleh sedikit ke arah Xavir. Tatapannya begitu dingin sampai Xavir refleks mundur satu langkah. "Kamu baru saja membahayakan nyawa istri saya dengan taruhan sampah ini. Jika kamu tidak ingin besok melihat motor ini dan bengkelmu rata dengan tanah, pergi sekarang. Sebelum saya berubah pikiran."
Salah satu pengawal Zyan maju dan menunjukkan lencana serta senjata di balik jasnya secara sekilas. Xavir dan kawan-kawannya langsung pucat pasi. Tanpa kata lagi, mereka segera menyalakan motor dan kabur kocar-kacir meninggalkan lokasi.
Sekarang, tinggal Zyan dan Alexa di tengah jalanan yang sepi.
"Turun," perintah Zyan singkat.
"Nggak mau! Gue mau lanjut jalan!" balas Alexa keras kepala.
Zyan maju satu langkah besar, ia mematikan kunci kontak motor Alexa dan mencabutnya dengan paksa. "Saya bilang turun, Alexa. Sekarang."
Alexa akhirnya turun dari motor dengan perasaan kesal yang memuncak. Ia melepaskan helmnya dan membantingnya ke aspal. "LO MAUNYA APA SIH, OM?! Tadi lo rendahin gue di depan mantan lo, sekarang lo dateng kayak pahlawan kesiangan! Lo malu kan punya istri kayak gue yang balapan liar?!"
Zyan menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya yang meluap. "Saya tidak pernah malu memiliki kamu, Alexa! Saya takut! Kamu tahu berapa kali jantung saya hampir berhenti saat melihat GPS kamu bergerak dengan kecepatan segila ini di jalanan seperti ini?!"
"Bohong! Lo cuma takut reputasi lo rusak kalau ada berita, Istri Direktur Arsalan Tewas di Balapan Liar! Lo lebih peduli sama itu daripada perasaan gue!"
Zyan mencengkeram kedua bahu Alexa, memaksanya untuk menatap matanya. "Dengarkan saya baik-baik. Saya memang salah karena membandingkan kamu dengan Clarissa. Saya bodoh karena tidak langsung membelamu saat dia menghina kamu. Tapi jangan pernah, sekali lagi, jangan pernah gunakan nyawamu sebagai bahan taruhan hanya untuk membalas dendam pada saya."
Suara Zyan melembut di akhir kalimat, ada nada gemetar yang jarang terdengar. Alexa terdiam, ia melihat ada ketakutan yang nyata di mata pria kaku ini. Bukan takut kehilangan harta, tapi takut kehilangan dirinya.
"Om..."
"Kita pulang sekarang. Mama dan Clarissa sudah menunggu di rumah untuk makan malam. Dan kamu akan tetap ikut," ujar Zyan tegas.
"Gue nggak mau ketemu dia dengan baju kayak gini! Gue kotor, gue bau aspal!"
Zyan melepaskan kemeja abu-abu mahalnya, menyisakan kaos dalam putih yang memperlihatkan otot tubuhnya yang proporsional. Ia memakaikan kemeja itu ke tubuh Alexa yang mungil sebagai luaran jaketnya. "Kamu pakai ini. Harumnya adalah harum saya. Dan di meja makan nanti, kamu tidak perlu jadi orang lain. Jadilah Alexa, istri saya. Jika ada yang berani menghina kamu lagi, saya yang akan membawa kamu keluar dari sana."
Alexa tertegun. Aroma parfum Zyan yang maskulin dan hangat menyelimuti tubuhnya, perlahan menenangkan badai di hatinya. "Beneran? Lo bakal belain gue?"
"Sampai mati," jawab Zyan sambil mencium kening Alexa dengan lembut.
Satu jam kemudian, mereka sampai di kediaman utama keluarga Arsalan. Sebuah rumah mewah yang lebih mirip istana dengan pilar-pilar besar.
Di ruang makan, Bu Ratna dan Clarissa sudah duduk manis dengan gaun-gaun cantik mereka. Meja sudah penuh dengan makanan ala Perancis yang sangat ribet cara makannya.
"Zyan, kenapa lama sekali? Kami sudah menungg—" Kalimat Bu Ratna terhenti saat melihat Zyan masuk bersama Alexa.
Alexa masuk dengan masih memakai celana kargo pendeknya, sepatu boots penuh debu, dan kemeja Zyan yang kedodoran di tubuhnya. Wajahnya hanya dicuci sekilas, tapi sorot matanya kembali tajam.
Clarissa menutup mulutnya dengan tangan, seolah kaget melihat penampilan Alexa. "Oh my god, Zyan... apakah telah terjadi kecelakaan? Alexa, kamu terlihat seperti baru saja... merangkak dari kolong truk."
Bu Ratna menghela napas panjang. "Alexa, Mama kan sudah bilang ini makan malam resmi. Kenapa kamu tidak ganti baju dulu?"
Zyan menarik kursi untuk Alexa, mempersilakan istrinya duduk tepat di hadapan Clarissa. "Alexa baru saja membantu saya menangani masalah lapangan. Bagi saya, dia terlihat luar biasa apa adanya."
Clarissa tersenyum sinis sambil memotong foie gras-nya. "Tentu, Zyan. Setiap orang punya selera unik. Tapi mungkin di Milan, penampilan seperti ini hanya cocok untuk... pembantu bengkel. Eh, maaf, aku lupa Alexa memang suka bengkel ya?"
Alexa baru saja mau membalas dengan kata-kata kasarnya, tapi Zyan lebih dulu meletakkan tangannya di atas tangan Alexa di bawah meja, memberikan kekuatan.
"Benar, Clarissa," ujar Zyan tenang sambil menatap Clarissa dengan tajam. "Alexa memang sangat mahir dengan mesin. Berkat keahliannya, saya belajar bahwa kecantikan sejati bukan soal apa yang kita pakai, tapi soal apa yang bisa kita selesaikan. Ngomong-ngomong soal Milan, bukankah kamu pulang karena studimu sempat tersendat karena masalah finansial keluargamu?"
Skakmat. Wajah Clarissa mendadak pucat.
"Zyan! Apa yang kamu bicarakan?" tegur Bu Ratna.
"Hanya menyatakan fakta, Ma. Clarissa kembali ke Jakarta karena Arsalan Group adalah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya melalui proyek kolaborasi ini. Jadi, saya harap Clarissa tahu bagaimana cara menghormati nyonya rumah di sini," Zyan menuangkan air putih ke gelas Alexa dengan santai.
Suasana makan malam menjadi sangat kaku. Clarissa hanya bisa menunduk, kehilangan taringnya seketika. Alexa yang melihat itu merasa sangat puas. Ia mengambil sepotong daging besar dengan garpunya, lalu memakannya dengan cara yang tidak elegan sama sekali, hanya untuk memancing emosi mereka.
"Wah, dagingnya enak ya, Tante Clarissa. Mau? Oh iya, gue lupa, desainer Milan biasanya makan angin doang ya biar tetep langsing?" celetuk Alexa santai.
Zyan menahan tawa, sementara Bu Ratna hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setelah makan malam yang menyenangkan itu selesai, Clarissa pulang dengan perasaan malu yang luar biasa. Bu Ratna pun masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal.
Kini tinggal Zyan dan Alexa di teras depan.
"Om, lo gila ya? Lo buka kartu dia di depan nyokap lo sendiri?" tanya Alexa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Zyan.
"Saya sudah bilang, saya tidak akan membiarkan siapa pun menghina istri saya lagi. Termasuk masa lalu saya," jawab Zyan sambil merangkul pinggang Alexa.
"Tapi lo tahu nggak, Om? Tadi pas lo nyamperin gue di balapan... lo keren banget. Mirip bos mafia di film-film yang gue tonton."
Zyan terkekeh. "Oh ya? Jadi sekarang kamu mulai jatuh cinta dengan bos mafiamu ini?"
Alexa mendongak, menatap Zyan dengan senyum jahil. "Nggak tahu ya... mungkin sepuluh persen. Sisanya masih gue simpen buat motor gue."
"Akan saya pastikan sepuluh persen itu jadi seratus persen malam ini," bisik Zyan sambil menggendong Alexa ala bridal style menuju ke dalam rumah, mengabaikan teriakan protes Alexa yang malu-malu kucing.
Namun, di kegelapan malam, seseorang sedang mengawasi mereka dari dalam mobil yang terparkir jauh di depan gerbang rumah. Seseorang yang tidak suka melihat Zyan bahagia dengan gadis teknik itu.
Bersambung....