Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Pagi itu aku kembali terbangun lebih awal dibanding biasanya. Cahaya matahari bahkan belum sepenuhnya masuk melalui jendela besar kamar ketika aku sudah berdiri di dapur, mengenakan apron sederhana di atas pakaian rumahku. Aroma kopi mulai memenuhi ruangan perlahan, bercampur dengan wangi roti panggang dan telur yang sedang kumasak di atas kompor. Sejak menikah dengan Mason, entah mengapa aku mulai terbiasa melakukan hal-hal kecil seperti ini, meskipun aku sendiri belum tahu apakah semua usahaku benar-benar berarti baginya.
Aku menuangkan kopi hitam hangat ke dalam cangkir favorit Mason yang diam-diam kutanyakan pada salah satu pelayan beberapa hari lalu. Setelah semuanya selesai, aku menarik napas kecil sambil menatap meja makan yang sudah tertata rapi. Rasanya sederhana, tapi anehnya aku tetap berharap Mason akan menyukainya. Atau setidaknya, tidak menolaknya.
Beberapa menit kemudian aku berjalan menuju kamar Mason. Lorong rumah itu masih sunyi, hanya terdengar langkah kakiku sendiri di atas lantai marmer. Aku berhenti di depan pintu kamarnya, lalu mengetuk perlahan.
“Masuk.”
Aku membuka pintu pelan dan mendapati Mason sudah rapi dengan setelan kerjanya. Jas abu gelap membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna, sementara rambutnya masih sedikit basah seolah baru selesai mandi. Ia sedang memasang jam tangannya ketika menoleh ke arahku.
“Aku sudah menyiapkan sarapan,” kataku pelan. “Kalau kau tidak terlalu sibuk… sebaiknya makan dulu sebelum berangkat.”
Mason menatapku beberapa detik. Ekspresinya tetap tenang seperti biasa, sulit dibaca dan sulit ditebak. Namun kali ini ia tidak menolak.
“Baik,” jawabnya singkat.
Dan entah kenapa, jawaban sesederhana itu saja sudah cukup membuatku merasa lega.
Kami turun bersama menuju ruang makan. Aku menarik kursi untuknya sebelum duduk di seberang meja. Sinar matahari pagi jatuh lembut di atas meja makan yang panjang, membuat suasana rumah terasa jauh lebih hangat dibanding biasanya.
“Aku membuat kopi seperti kemarin,” ucapku mencoba membuka percakapan. “Pelayan bilang kau memang lebih suka kopi tanpa gula.”
Mason mengambil cangkirnya lalu menyeruput sedikit. “Hm.”
Aku menahan senyum kecil. “Bagaimana rasanya?”
“Tidak buruk.”
Kalimat itu terdengar biasa saja. Namun untuk ukuran Mason, itu sudah lebih dari cukup.
Aku mencoba menikmati sarapan sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Pria itu makan dengan tenang dan rapi, hampir tanpa suara. Bahkan cara ia memegang sendok dan garpu terlihat terlalu sempurna.
“Kemarin aku pergi bersama Sarah,” kataku lagi setelah beberapa saat. “Kami ke salon dan pusat perbelanjaan.”
Mason mengangguk kecil tanpa mengangkat wajahnya. “Sarah memang suka ke salon dan berbelanja.”
Aku tertawa kecil. “Ya. Sarah terlihat sangat antusias.”
“Itu memang sifatnya.”
“Aku senang menghabiskan waktu dengannya,” lanjutku pelan. “Sarah membuatku merasa nyaman.”
Kali ini Mason berhenti makan sebentar sebelum akhirnya menatapku. “Sarah memang mudah dekat dengan orang.”
Aku mengangguk kecil. “Aku bisa melihat itu.”
Setelah itu suasana kembali hening beberapa saat. Tidak benar-benar canggung, tapi juga tidak hangat. Seperti dua orang yang masih sama-sama belajar hidup berdampingan di dalam rumah yang sama.
Aku baru saja hendak mengatakan sesuatu lagi ketika langkah kaki pelayan terdengar mendekat.
“Nyonya Sarah datang, Tuan.”
Aku spontan menoleh ke arah pintu tepat ketika Sarah muncul dengan senyum lebar di wajahnya. Hari ini ia mengenakan gaun berwarna krem dengan rambut yang ditata sederhana, tapi tetap terlihat elegan seperti biasa.
“Lihat siapa yang sedang sarapan bersama istrinya,” godanya begitu masuk.
“Ibu,” sahut Mason ringan.
Aku langsung berdiri menyambutnya. “Sarah.”
Wanita itu memelukku hangat sebelum duduk di kursi kosong di dekat kami. “Aku sengaja datang pagi-pagi sekali,” katanya. “Aku ingin memastikan anakku yang keras kepala ini masih ingat kalau dia baru menikah.”
Mason menghela napas kecil. “Ya. Tentu saja aku masih ingat.”
Sarah mendecakkan lidah. “Kau bahkan belum mengajak istrimu pergi bulan madu.”
Aku refleks melirik Mason. Untuk sepersekian detik jantungku terasa berdegup lebih cepat, menunggu jawabannya. Namun Mason tetap terlihat santai. “Aku pasti akan mengajaknya pergi,” katanya tenang. “Hanya saja sekarang pekerjaanku sedang sangat sibuk.”
Aku menatapnya tanpa sadar. Ada sesuatu dalam jawabannya yang membuat dadaku menghangat sedikit. Entah ia sungguh-sungguh atau hanya sekadar mengatakan apa yang ingin didengar ibunya, tapi tetap saja, aku senang mendengarnya.
“Jangan hanya bicara,” sahut Sarah tajam. “Kau harus menepati ucapanmu.”
Mason tersenyum tipis. “Aku tahu.”
Itu senyum kecil yang nyaris tidak terlihat. Namun tetap berhasil membuat wajahnya tampak jauh lebih lembut dibanding biasanya.
Tak lama kemudian ia berdiri sambil merapikan jasnya. “Aku harus pergi.” ucapnya, lalu mengecup pipi Sarah.
Sarah langsung mengangkat alis. “Begitu saja?”
Mason tampak bingung. “Apa?”
“Kau pamit pada ibumu dengan hangat,” kata Sarah sambil melirikku penuh arti. “Tapi, dengan istrimu...”
Aku langsung menegang di kursiku. Mason terdiam sebentar sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arahku. Dan sebelum aku sempat bereaksi, ia membungkuk sedikit lalu mengecup puncak kepalaku dengan singkat.
Tubuhku spontan membeku. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat seluruh tubuhku menegang. Aroma parfum Mason langsung memenuhi indra penciumanku dalam jarak sedekat itu, membuat jantungku berdetak terlalu cepat.
“Nah,” Sarah terkekeh puas. “Begitu jauh lebih baik.”
Aku masih belum bisa bergerak ketika Mason melangkah mundur.
“Jangan bersikap seperti anak remaja pemalu,” lanjut Sarah menggoda. “Kalian sudah menikah.”
Mason hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. “Aku berangkat dulu.”
Setelah Mason benar-benar pergi, aku masih duduk diam beberapa detik sambil berusaha menenangkan diriku sendiri. Sarah menatapku sambil tersenyum geli.
“Wajahmu merah sekali, Hazel.”
Aku langsung memalingkan wajah. “Tidak juga.”
“Oh, ayolah.” Sarah tertawa pelan. “Aku melahirkan Mason. Aku tahu kapan dia sedang berusaha bersikap manis.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Karena jujur saja, perlakuan kecil Mason tadi benar-benar berhasil membuat hatiku kacau.
Untuk mengalihkan rasa gugupku, aku akhirnya mengajak Sarah pindah ke halaman belakang rumah. Udara pagi terasa jauh lebih nyaman di sana. Pelayan menyiapkan teh hangat dan biskuit kecil di meja taman, sementara bunga-bunga putih di sekitar halaman bergerak pelan tertiup angin.
“Mason punya halaman yang indah,” kataku sambil duduk.
Sarah tersenyum. “Mason yang mendesain ulang taman ini beberapa tahun lalu.”
Aku sedikit terkejut. “Mason?”
“Ia suka tempat yang tenang,” jelas Sarah. “Sejak kecil, kalau sedang kesal atau lelah, ia selalu mencari tempat yang sunyi.”
Aku memperhatikan wajah Sarah saat ia mulai bercerita tentang Mason. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, rasanya aku benar-benar sedang mengenal pria itu sedikit demi sedikit.
Sarah menceritakan bagaimana Mason kecil sangat pendiam dibanding anak seusianya. Bagaimana ia lebih suka membaca daripada bermain di luar. Bagaimana ia diam-diam selalu mengingat ulang tahun orang-orang terdekatnya meskipun sering terlihat tidak peduli.
“Dia juga sangat protektif,” ujar Sarah sambil tersenyum kecil. “Terutama pada Jennifer.”
Aku diam mendengarkan.
“Sejak Jennifer tinggal bersama kami, Mason selalu menjaganya,” lanjutnya. “Dia tidak pandai menunjukkan perasaan lewat kata-kata, jadi kebanyakan orang salah paham tentang dirinya.”
Aku menunduk pelan sambil memainkan cangkir tehku.
“Kadang dia terlalu dingin,” lanjut Sarah lembut. “Terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Terlalu diam. Tapi percayalah, Hazel… Mason sebenarnya pria yang sangat baik.”
Aku mengangkat wajah perlahan.
“Jangan mudah menyerah padanya.”
Kalimat itu membuat dadaku menghangat sekaligus terasa berat di waktu yang bersamaan. “Aku akan berusaha,” jawabku jujur.
Dan aku memang bersungguh-sungguh dengan kalimat itu.
Hari terus berjalan tanpa terasa. Kami mengobrol tentang banyak hal, bahkan terkadang tertawa bersama. Aku mulai memahami mengapa Mason begitu menyayangi ibunya. Sarah adalah tipe wanita yang membuat orang merasa nyaman hanya dengan berada di dekatnya.
Menjelang sore, aku sempat berpikir Sarah akan pulang. Namun ternyata wanita itu malah bersandar santai di sofa ruang tengah sambil berkata, “Kurasa aku akan menginap di sini malam ini.”
Aku hampir tersedak minumanku sendiri.
“Menginap?” ulangku spontan.
Sarah menatapku bingung. “Kenapa? Kau keberatan?”
“Tidak,” jawabku cepat. “Bukan begitu, hanya saja—”
Aku langsung panik dalam hati. Jika Sarah menginap, maka cepat atau lambat ia akan tahu kalau Mason dan aku tidur di kamar terpisah.
Namun Sarah justru tertawa kecil sambil menyipitkan mata ke arahku. “Jangan bilang kau takut aku mengganggu malam romantis kalian.”
Wajahku langsung memanas. “Sarah…”
“Oh, ayolah.” Ia terkekeh geli lalu langsung mengambil ponselnya. “Kalau begitu aku akan memastikan Mason pulang lebih cepat malam ini.”
“S-Sarah, tidak perlu—”
Tapi semuanya sudah terlambat. Teleponnya sudah tersambung.
“Mason,” katanya santai. “Aku akan menginap di rumah kalian malam ini.”
Aku menahan napas gugup.
“Dan kau harus pulang lebih awal,” lanjut Sarah tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Aku dan Hazel akan menyiapkan makan malam.”
Entah apa jawaban Mason di seberang sana, tapi beberapa detik kemudian Sarah tersenyum puas. “Bagus. Jangan terlalu malam.”
Panggilan itu berakhir. Sementara aku hanya bisa duduk diam dengan jantung yang mulai tidak tenang. Karena aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Mason sekarang.