NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Liontin di Gerbang Belakang

Alarm keamanan mansion masih meraung keras di seluruh rumah. Suara nyaring itu memantul di lorong-lorong besar Mahendra hingga membuat suasana malam terasa semakin mencekam. Lampu darurat merah berkedip pelan di dinding, menciptakan bayangan gelap yang bergerak menyeramkan di sekitar kamar Arkana.

Kemuning langsung tersentak panik. Tangannya refleks memeluk Agam lebih erat di atas ranjang besar itu. Tubuh kecil adiknya gemetar ketakutan sambil menangis pelan, sedangkan jantung Kemuning sendiri berdetak begitu keras sampai terasa sakit di dada.

Arkana berdiri lebih dulu dalam hitungan detik. Seluruh ekspresi hangat yang tadi sempat muncul di wajah pria itu menghilang begitu saja, berganti aura dingin dan tajam yang membuat udara kamar terasa menekan. Tatapan Arkana langsung menuju pintu kamar dengan penuh kewaspadaan.

Reno masuk bersama dua pengawal membawa senter dan senjata pengaman. Wajah pria kepercayaan Mahendra itu terlihat tegang saat melapor bahwa sensor keamanan di area gerbang samping aktif beberapa detik sebelum listrik mansion kembali normal. Seseorang diduga mencoba masuk ke area private mansion.

Tubuh Kemuning langsung menegang mendengar itu. Jemarinya otomatis semakin mengerat memeluk Agam. Ancaman itu terasa begitu dekat sampai membuat napasnya sulit stabil.

Arkana menoleh cepat ke arah Kemuning. Tatapan pria itu langsung berubah lebih gelap saat melihat wajah pucat gadis tersebut. Arkana bergerak mendekat lalu berdiri sedikit di depan ranjang seperti refleks melindungi mereka berdua.

“Jangan keluar kamar.”

Nada suara Arkana rendah dan tegas, tidak memberi ruang untuk dibantah sedikit pun. Namun justru karena itulah dada Kemuning terasa semakin sesak. Karena sekarang dirinya sadar, semua kekacauan ini datang karena masa lalu keluarganya.

Reno kembali melapor bahwa beberapa pengawal sedang menyisir area taman belakang mansion. Ada jejak lumpur di dekat pagar samping yang menunjukkan seseorang memang sempat masuk sebelum alarm berbunyi.

Arkana langsung mengambil pistol kecil dari laci meja kerja di sudut kamar. Gerakannya tenang dan terbiasa, tetapi justru itu membuat Kemuning semakin ketakutan. Gadis itu tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sampai sejauh ini.

Semua ancaman ini datang karena dirinya dan Agam. Semakin Arkana melindungi mereka, semakin takut Kemuning jika suatu hari pria itu ikut terluka karenanya.

Namun sebelum Arkana benar-benar keluar kamar, jemari kecil Kemuning refleks menangkap lengan kemeja pria itu. Arkana langsung berhenti melangkah.

Dalam cahaya merah samar dari lampu darurat, wajah Kemuning terlihat pucat dan rapuh. Matanya dipenuhi rasa takut yang tidak berhasil disembunyikan.

“Jangan pergi sendiri.” Suara Kemuning lirih dan gemetar. Kalimat sederhana itu membuat Arkana membeku beberapa detik. Gadis itu meminta dirinya tetap tinggal bukan demi dirinya sendiri, tapi karena takut sesuatu terjadi pada Arkana.

Tatapan Arkana langsung berubah lebih dalam. Perlahan pria itu kembali mendekat lalu berjongkok di depan Kemuning dan Agam. Tangannya naik mengusap rambut pelan sebelum berhenti di pipi Kemuning cukup lama.

“Aku akan kembali.”

Nada suara Arkana rendah dan tenang. Namun justru karena itulah jantung Kemuning semakin kacau. Gadis itu hanya bisa mengangguk kecil walau jemarinya masih mencengkeram lengan pria itu seolah enggan melepaskan.

Arkana akhirnya keluar kamar bersama Reno dan para pengawal. Begitu pintu tertutup, kamar itu langsung terasa jauh lebih dingin bagi Kemuning. Gadis itu memeluk Agam sambil berusaha menenangkan tangis kecil adiknya, tetapi pikirannya terus dipenuhi bayangan buruk.

Di luar kamar, mansion Mahendra berubah seperti benteng darurat. Pengawal berjaga di setiap sudut lorong, sementara suara komunikasi radio terdengar bersahutan di tengah malam. Arkana berjalan cepat menyusuri koridor dengan ekspresi setajam pisau.

Reno melaporkan bahwa pagar belakang mansion ditemukan sedikit terbuka. Tidak ada barang hilang, tetapi seseorang jelas berhasil masuk cukup jauh sebelum alarm aktif. Hal itu membuat suasana semakin tegang.

Namun kemarahan pria itu bukan karena mansion Mahendra diterobos. Semua orang bisa melihat jelas bahwa yang memicu sisi paling berbahaya Arkana adalah fakta bahwa Kemuning dan Agam terancam.

Di sisi lain mansion, Ratih berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memperhatikan situasi keamanan yang kacau. Wanita itu mulai sadar ancaman terhadap Kemuning ternyata jauh lebih besar dari yang dibayangkan dan yang paling membuatnya takut adalah Arkana kini jelas siap melawan siapa pun demi gadis itu.

Sementara itu di kamar, Agam mulai tertidur lagi dalam pelukan Kemuning setelah kelelahan menangis. Namun Kemuning sendiri tidak bisa memejamkan mata sedikit pun, tatapannya terus tertuju ke pintu kamar sambil menunggu Arkana kembali.

Mansion sebesar ini terasa kosong hanya karena pria itu tidak berada di ruangan yang sama dengannya. Kesadaran itu membuat dirinya semakin takut pada perasaannya sendiri.

Hampir satu jam kemudian, pintu kamar akhirnya terbuka perlahan. Arkana masuk dengan wajah dingin dan sedikit basah terkena hujan malam. Napas Kemuning langsung terasa lega tanpa sadar begitu melihat pria itu kembali dengan selamat.

Arkana langsung menangkap perubahan ekspresi Kemuning. Gadis itu terlihat seperti baru bisa bernapas normal lagi setelah dirinya kembali masuk ke kamar, membuat dada Arkana menghangat dengan cara yang berbahaya.

“Kenapa belum tidur?” Suara Arkana rendah sambil melepas jas hitamnya. Kemuning langsung menunduk gugup karena merasa reaksinya tadi terlalu jelas. Namun sebelum ia sempat menjawab, Arkana sudah berjalan mendekat ke sisi ranjang.

“Takut?”

Kemuning terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. Jawaban jujur itu membuat tatapan Arkana sedikit melunak. Pria itu lalu duduk di sisi ranjang tepat di dekat Kemuning tanpa menjaga jarak lagi.

“Semua aman sekarang.”

Nada suara Arkana jauh lebih lembut dibanding biasanya. Kemuning langsung menggigit bibir kecil menahan sesuatu di dadanya. Anehnya, hanya dengan mendengar suara pria itu saja rasa takutnya perlahan menghilang.

Arkana memperhatikan tangan Kemuning yang masih sedikit gemetar di atas selimut. Tanpa banyak bicara, pria itu perlahan menggenggam jemari gadis tersebut erat.

Kemuning langsung menahan napas. Jemari besar Arkana terasa hangat membungkus tangannya dengan begitu natural seolah pria itu sudah terbiasa melakukannya dan karena itulah jantung Kemuning berdetak semakin kacau.

“Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu.”

Kalimat itu keluar rendah dari bibir Arkana sambil terus menatap Kemuning intens. Tidak ada nada main-main di sana, hanya kesungguhan yang terlalu jelas sampai membuat dada Kemuning terasa sesak.

Kemuning mulai sadar satu hal yang jauh lebih berbahaya dibanding ancaman di luar mansion. Dirinya sudah mulai mempercayai Arkana sepenuhnya. Jika suatu hari pria itu pergi dari hidupnya, Kemuning takut dirinya tidak akan sanggup kembali berdiri sendiri lagi.

Suasana kamar kembali sunyi, hanya suara hujan malam yang terdengar samar dari luar jendela. Tatapan Arkana turun perlahan ke wajah Kemuning yang terlihat begitu dekat sekarang. Terlalu dekat.

Napas Kemuning langsung tercekat ketika pria itu perlahan mengangkat tangan lain untuk menyentuh ujung rambutnya lembut. Jemari Arkana menyelipkan helaian rambut Kemuning ke belakang telinga dengan gerakan pelan yang terasa terlalu intim.

“Kenapa selalu menatapku seperti itu?”

Suara Arkana terdengar lebih rendah dari biasanya. Kemuning langsung salah tingkah dan buru-buru menunduk malu. Namun sebelum gadis itu sempat menjauh, Arkana sudah menahan dagunya perlahan agar tetap menatapnya.

Jarak mereka kembali memanas. Tatapan Arkana semakin gelap saat matanya turun tanpa sadar ke bibir Kemuning sekali lagi. Dan kali ini, tidak ada suara alarm ataupun gangguan lain yang memotong suasana.

Kemuning bisa merasakan napas pria itu semakin dekat. Jantungnya berdetak begitu keras sampai terasa menyakitkan, sedangkan Arkana mulai sadar dirinya benar-benar berada di batas terakhir kendali yang masih ia miliki.

Namun tepat ketika wajah mereka tinggal beberapa senti lagi, suara ketukan keras tiba-tiba terdengar dari pintu kamar.

Reno masuk dengan ekspresi serius. “Tuan.”

Arkana langsung menoleh dingin karena terganggu, sedangkan Reno terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kami menemukan sesuatu di gerbang belakang.”

Suasana kamar langsung berubah dingin kembali.

Reno lalu menyerahkan sebuah liontin lama berlumur lumpur ke tangan Arkana. Saat Kemuning melihat liontin itu, wajah gadis tersebut langsung pucat pasi.

Liontin itu... milik mendiang ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!