Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia Bagiku?
“Ra, kamu ….” Sena menatap Lyra dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan cemas sekaligus bingung. “Kamu kabur dari rumah?”
“Bisa dibilang begitu.” Lyra meringis sambil mendorong temannya itu masuk ke dalam rumah. “Aku nggak bisa pulang ke rumah Ares lagi, Na. Aku numpang di sini sementara, ya.”
Sena melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 4.35 pagi. “Rumah Ares kebakaran atau kerampokan?”
Lima menit yang lalu Lyra menghubunginya berkali-kali untuk memberitahu kedatangannya, membuat Sena terkejut setengah mati karena takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.
Lyra hanya menggaruk tengkuknya, bingung harus menjelaskan bagaimana pada Sena tentang apa yang terjadi dan mengapa dirinya kabur dari rumah di pagi-pagi buta seperti ini.
“Ra, cerita dong.”
“Nanti aku cerita, Na. Sekarang kita tidur lagi yuk, aku masih ngantuk sebenarnya.” Lyra sudah merebahkan diri di sofa tapi Sena menariknya, memaksa wanita yang membungkus tubuhnya dengan jaket besar itu untuk duduk.
“Cerita dulu, kamu telepon aku jam empat pagi loh, Ra. Aku udah ketakutan takut kamu kenapa-napa.” Sena mendengkus kesal. “Habis cerita, kita tidur lagi di kamarku. Di sini dingin, nggak akan nyaman kamu tidur sofa apalagi pakai jaket tertutup gitu.”
“Aku ….” Lyra memeluk dirinya sendiri, teringat kembali bagaimana Ares melakukannya tadi malam.
Pria itu benar-benar seperti orang kelaparan yang tidak mengenal kata kenyang, membuat Lyra menyesal menawarkan diri karena Ares hampir membuatnya pingsan.
Dengan sedikit ragu, Lyra melepaskan jaketnya yang seketika membuat Sena terbelalak. “Ra, ka-kamu … siapa yang melecehkan kamu, Ra? Ayo lapor polisi terus ke rumah sakit untuk visum.”
“Ah?” Lyra tercengang.
Ia bercinta dengan Ares atas dasar suka sama suka, bahkan bisa dibilang ia yang menawarkan diri terlebih dahulu.
“Lyra?” lirih Sena dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia menarik Lyra dalam pelukannya, mengusap punggung Lyra yang masih terdiam bingung. “Jangan khawatir, Ra. Apa pun yang terjadi, aku akan di pihakmu, aku akan mendukungmu, aku juga akan memastikan bajingan yang melecehkanmu itu_”
“Ares yang melakukannya.”
“Ares akan masuk penjar_APA?” Sena memekik, matanya membulat sempurna mendengar apa yang Lyra katakan. “A-Ares yang melecehkanmu?”
Lyra menggeleng lemah. “Tadi malam Ares pulang terus aku ….” Lyra menunduk sambil meremas celananya. “Aku ngajak dia gituan,” akunya dengan malu-malu, wajah Lyra bahkan sudah lebih merah dari kepiting rebus.
“Oh my ….” Sena yang kehabisan kata-kata hanya bisa menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
Melihat reaksi sahabatnya itu, Lyra mendengkus kesal. “Seharusnya nggak apa-apa dong, Na. Lagian kita suami istri sah di mata hukum agama dan negara. Nggak ada paksaan juga.”
Sena geleng-geleng sambil berdecak, tak percaya sahabatnya ternyata bisa seberani itu.
“Tadi malam kamu memutuskan hubunganmu dengan Ryan secara resmi lalu saat pulang ke rumah kamu tidur sama kakaknya? Selain itu, kamu bilang mau membicarakan perceraian tapi malah ngajak dia bercinta?” Sena mengacungkan dua jempol diiringi senyum lebar. “Bagus, Ra. Jangan mau rugi, lagian Ares tampan, badannya juga bagus, seharusnya dia … bikin kamu puas, kan?”
“Ahh, Senaa!” Lyra menutup wajahnya yang semakin memerah sedangkan Sena cekikikan.
“Ngapain malu sih, usiamu sudah 25 loh, bukan 15.”
“Tapi ‘kan itu pertama kaliku, Na. Ya malu lah.”
“Pertama kali tapi ….” Sena menatap jejak yang Ares tinggalkan di leher, dada hingga lengan Lyra. Ia meringis, tak mampu membayangkan bagaimana ganasnya pria dingin itu di atas ranjang. “Aku belum pengalaman juga, Na. Tapi kok aku merinding liat tubuh kamu.”
Lyra menghela napas berat lalu kembali memasang jaketnya. “Eh, kalian ‘kan gituannya suka sama suka, terus kenapa kamu kabur di pagi-pagi buta begini?”
“Aku tiba-tiba malu dia.”
Sena kembali terkikik sementara Lyra merasa benar-benar malu hingga rasanya ingin menangis. Sekarang ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Ares nanti apalagi masih ingin membicarakan perceraian.
“Eh, tapi kayaknya samar-samar aku dengar dia ngomong aku miliknya sejak 15 tahun yang lalu, Na.”
Tadi malam Ares membisikkkan sesuatu di telinganya setelah pergumulan yang intens dan penjang, tetapi Lyra tidak benar-benar mendengar karena sudah kelelahan dan sangat mengantuk.
“15 tahun yang lalu?” ulang Sena yang hanya Lyra jawab dengan anggukan kecil. “15 tahun lalu kamu masih umur 10 tahun kali, Na. Waktu itu kamu bahkan nggak kenal Ryan apalagi Ares.”
Sena mengangguk setuju sambil berusaha mengingat apalagi yang Ares bisikkan, tetapi yang diingatnya hanya kata-kata itu.
***
“Lyra?”
Ares langsung membuka mata saat meraba ranjang tapi tidak ada siapa pun di sisinya. Ia melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 5.50.
Sembari memungut celananya di kaki ranjang, pria itu kembali memanggil sang istri yang dipikirnya ada di kamar mandi, tetapi tidak ada jawaban. Tak menemukan sang istri di kamar, Ares segera turun dengan langkah lebar nan cepat.
Ia mencari keberadaan istrinya di setiap sudut rumah tapi tak membuahkan hasil. Sekarang berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, apakah Lyra dalam bahaya? Apakah ada yang menculiknya.
Dalam keadaan panik hingga tangannya gemetar, Ares menghubungi Vano, meminta pria itu segera mencari Lyra.
“Tenang dulu, Tuan. Tidak mungkin Nyonya tiba-tiba menghilang dari rumah.”
“Nggak ada yang nggak mungkin, Vano.” Ares menggeram tertahan, saat ini rasa takut telah menguasai jiwanya, membuatnya hampir hilang kendali. “Bagaimana kalau mereka tahu keberadaan Lyra? Mereka pasti mengincar Lyra, mereka akan membalas dendam_”
“Coba periksa GPS-nya, Tuan.”
“GPS, ya, benar.”
Ares segera melacak ponsel Lyra dan ia bernapas lega saat menemukan Lokasi keberadaan sang istri bersamaan dengan Vano yang memberi kabar dari Seberang telepon. “Posisi Nyonya saat ini ada di rumah Sena, Tuan.”
“Aku tahu.” Ares berbisik lemas.
Ares merasa sangat bodoh karena tidak langsung memeriksa Lokasi sang istri dari GPS ponselnya akibat terlalu panik. Namun, meski saat ini Ares mengetahui keberadaan sang itu ia tetap merasa tidak tenang. “Pastikan keberadaan Lyra di sana lalu Kirim beberapa orang untuk berjaga di sekitar rumah Sena.”
“Baik, Tuan.”
Ares menjatuhkan diri ke sofa, jantungnya berdebar tak karuan hanya karena tidak melihat Lyra di sisinya saat ia bangun tidur. Lantas, apa yang akan terjadi dengannya jika ia ditinggalkan?
“Aku akan gila.” Ares menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Selama 32 tahun menjalani hidup, hanya ada bebebapa hal yang bisa membuatnya lepas kendali dan salah satunya adalah Lyra.
Bagi Ares, Lyra seperti udara, ia merasa akan mati tanpanya.
Di sisi lain, Ryan mematung di dekat jendela sambil memainkan ikat rambut di pergelangan tangannya. Kata-kata Lyra masih terngiang-ngiang dalam benaknya hingga ia tak mampu memejamkan mata.
Ketika Ryan mencoba mengingat siapa wanita itu, kepalanya berdentum hebat seperti ada yang memukulnya dengan benda tumpul.
“Tuan Ryan.”
Mendengar suara itu, Ryan berbalik, ia menatap mata Haris lalu bertanya, “Berapa lama kamu ikut denganku, Haris?”
“5 tahun, Tuan.”
“Benar, 5 tahun.” Ryan memandangi pria berusia 35 tahun itu lekat-lekat. “Saat itu nggak ada perusahaan yang menerimamu sedangkan kamu sangat membutuhkan uang untuk operasi jantung ibumu. Jadi waktu itu aku menerimamu sebagai asistenku, aku juga mencarikan donor jantung yang cocok untuk ibumu dan menanggung semua biaya pengobatannya hingga dia sehat seperti sekarang.”
Ryan berseringai tipis sementara Haris tertunduk dalam, ia tahu apa yang Ryan inginkan dengan mengungkit masa lalu mereka.
“Haris, aku nggak minta kamu mengorbankan nyawa atau apa pun, aku Cuma minta kamu jujur, apa yang sebenarnya terjadi? Beritahu aku semua yang aku lupa dan nggak tahu.”
Haris terdiam sejenak, teringat bagaimana Tuan Tama selalu mengingatkannya agar tak memberitahu apa pun pada Ryan, tetapi apa yang Ryan katakan benar.
Selama ini pria itu tidak pernah meminta apa-apa darinya padahal berjasa besar dalam hidupnya.
“Saya akan beritahu semuanya, Tuan,” ujar Haris dengan yakin. “Tanyakan apa saja yang Tuan ingin tahu.”
“Siapa Lyra bagiku?”
“Kekasih yang sangat Tuan Ryan cintai.”
Ryan sudah menduga kemungkinan tersebut tapi ia tetap terkejut hingga hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya saat mendengar jawaban Haris. “Jadi ini pasti miliknya, kan?” Ia berkata dengan suara rendah seraya mengangkat menunjukkan ikat rambut di pergelangan tangannya pada Haris. “Saat aku sadar di rumah sakit, benda ini sudah ada di tanganku.”
“Benar, Tuan. Ikat rambut Non Lyra memang selalu ada di tangan Tuan.”
“Kamu tahu banyak tentang hubunganku dengannya?”
“Tentu, setiap kali Tuan berkencan dengannya, saya yang atur. Hadiah untuk Non Lyra saya yang antar.”
Ryan tersenyum samar, tidak tahu apakah harus senang atau tidak sekarang apalagi semua orang sudah mengira bahwa Cahaya adalah kekasihnya gara-gara wanita itu terus menempel padanya di acara ulang tahunnya.
Namun, kini ia mengerti mengapa Lyra terasa begitu familiar, juga mengapa mata wanita itu seakan menyimpan sesuatu untuk dirinya.
“Lalu apa yang terjadi dengan hubungan kami sebelum aku kecelakaan?”
“Kalian ….” Kali ini Haris sedikit merasa ragu.
“Katakan semuanya, Haris. Apa yang terjadi? Aku selalu merasa keluargaku menyembunyikan sesuatu. Terkadang aku berpikir mungkin itu demi kebaikanku yang amnesia, tetapi hati kecilku berkata ada alasan lain. Apa mereka merahasiakan sesuatu dariku?”
Haris mengangguk lemah. “Apa itu?”
“Sebenarnya Tuan Ryan dan Non Lyra akan menikah, tetapi seminggu sebelum hari H Tuan tiba-tiba menghilang dan … dan Non Lyra dinikahkan dengan Tuan Ares.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira