Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 18.
Pagi hari di hari Minggu datang dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sekolah. Tidak ada bunyi alarm yang memaksa untuk segera bangun, tidak ada kesibukan menyiapkan seragam atau tergesa mengejar waktu. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma tanah yang masih basah oleh embun semalam.
Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai, memantulkan warna keemasan tipis ke sudut-sudut kamar. Jalanan di depan rumah masih lengang, hanya sesekali terdengar suara motor lewat atau sapaan tetangga yang mulai membersihkan halaman.
Di dapur, ibu tidak sibuk berteriak memanggil anak anaknya untuk bersiap siap. Hari minggu hari kedamaian yang paling di nantikan oleh semua orang, yang selalu beraktivitas di luar rumah. Ayah yang sedang bersantai di teras rumah dengan cangkir teh hangat dan koran harian di ke dua tangan, meski zaman sekarang sudah moderen ayah Damar masih suka membaca koran.
Hari Minggu selalu memberi jeda sejenak dari rutinitas yang melelahkan. Waktu berjalan lebih lambat, memberi ruang untuk menikmati pagi tanpa terburu-buru, membiarkan tubuh dan pikiran beristirahat sebelum kembali menghadapi kesibukan esok hari.
Aurora terlihat masih bergelung di selimut berleha leha, rambut yang masih acak acak-acakan, beler dimana mana, Aurora benar-benar sedang malas malasan. Setelah kemarin cape karna syukuran ulang tahun adiknya.
Karna perut yang sudah keroncongan Aurora akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya, menemui ibunya yang sedang di dapur.
"Eum... ni perawan jam segini baru keluar dari singgasana." Sindir ibu Larasati.
Aurora hanya cengengesan menggaruk kepala yang tidak gatal." Kan cuman seminggu dua kali aku kayak gini." Aurora membela diri.
"Eh ada gembel di sini." Hina Arkan kepada kakak perempuannya karna melihat penampilan Aurora yang berantakan.
Aurora berbalik menatap Arkan dengan tatapan kesal, Arkan yang di tatap oleh kakaknya hanya cuek saja melanjutkan langkahnya menuju dapur dimana ibunya sedang memasak.
"Bener kan bu liat tuh penampilannya kayak gembel, udah jelek makin jelek." Arkan makin menghina Aurora.
Aurora yang sudah terlanjur kesal berlari ke arah Arkan, karna Arkan tahu kakaknya berlari ke arahnya. Arkan dengan gesit menghindar terjadilah kejar kejaran di dapur, Arkan yang menghindar dari serangan Aurora, dan Aurora yang terus ingin memukul adiknya.
Sampai sang ibu yang sedang memasak membanting piring yang terbuat dari seng sampai terdengar gema nyaring “PRANGG”Aurora dan Arkan berhenti berlari terkejut atas tindakan ibunya barusan.
Ayah Damar yang semula damai di teras rumah dan mendengar keributan di dalam bergegas masuk untuk melihat apa yang terjadi, melihat ke sekeliling tidak ada barang yang berantakan hanya piring seng yang terjatuh. Aurora dan Arkan yang diam mematung yang berlawanan arah.
"Keluar! kalau mau berantem jangan di sini! udah besar juga masih aja suka ribut, bukannya bantuin orang tua malah bikin keributan!." Marah ibu Larasati.
Aurora dan Arkan diam menundukan kepala seolah merasa bersalah, meski dalam hati masih ada rasa kesal terhadap adiknya.
Ayah Damar akhirnya tahu keributan yang terjadi barusan karna ulah anak anaknya, menghela napas ayah Damar menghampiri istrinya yang masih terlihat emosi menatap anak anaknya.
Mengusap punggung istrinya dengan lembut seolah menenangkan amarahnya dan berkata lembut penuh kasih sayang." Udah sayang, biar aku aja yang nasehatin anak anak kamu lanjutin aja masaknya ya." Setelah mengatakan hal tersebut ayah Damar tak lupa selalu mencium kening istrinya, ayah Damar selalu melakukan hal tersebut di saat ibunya sedang marah.
"Nanti kalau ayah sudah habis tehnya ayah yang cuci baju dan piring, kamu tinggal sapu sama ngepel aja. Karna kan halaman rumah depan belakang nggak terlalu berserakan karna kemarin udah ayah beresin." Terang ayah Damar.
Ibu Larasati mengangguk dan melanjutkan memasaknya yang sempat tertunda.
Ini yang Aurora sukai dari ayahnya, ayahnya tidak pernah malu buat beres beres rumah meski di luaran sana mungkin banyak para suami yang tidak pernah membantu pekerjaan rumah, mereka berpikir itu hanya tugas seorang istri mereka masih menganut sistem patriarki.
Ayah Damar memberi isyarat kepada Aurora dan Arkan untuk mengikutinya.
Aurora dan Arkan yang mengetahui niat ayahnya mereka pasti akan di beri wejangan.
"Kalian bukan anak sd lagi kan?."
Mereka berdua mengangguk.
Ayah Damar tersenyum kecil berkata kembali." Kalian udah besar, terutama Aurora yang mau beranjak dewasa."
"Ayah nggak larang kalian buat nggak berantem, ayah juga tau namanya juga adik kakak pasti ada pertengkaran. Dulu juga ayah suka berantem sama saudara ayah, tapi kalian harus inget situasinya. Ibu kalian lagi masak kalian malah berantem di depan ibu kalian, gimana ibu nggak marah coba." Jelas Ayah Damar.
Aurora dan Arkan tidak ada yang berani melawan atau membela diri, karna mereka sadar ini kesalahan mereka. Mereka pantas di marahi oleh ibunya.
"Jadi apa yang harus kalian lakukan kalau kalian buat marah orang tua?."
"Minta maaf." Jawab Aurora dan Arkan serentak.
Senyum tulus terbit di bibir ayahnya mengusap puncak kepala anak anaknya dengan lembut penuh kasih sayang." Benar, sekarang setelah ibu kalian selesai masak dan waktu sarapan jangan lupa kalian minta maaf."
Aurora, Arkan mengangguk mengiyakan mereka selalu di ajarkan oleh kedua orang tuanya, kalau mereka melakukan kesalahan harus berani meminta maaf. Meski harus meminta maaf kepada orang yang di bawah umur mereka, di saat kalau mereka yang salah.
Ibu Larasati terlihat menyiapkan sarapan di meja makan sendirian karna ayah Damar masih bersama anak anaknya.
Ayah damar menyuruh anak anaknya untuk sarapan.
Setelah sampai di meja makan Aurora dan Arkan belum berani mengatakan duluan adik kakak itu malah saling sikut.
Ayah Damar yang mengetahui anak anaknya yang belum juga mengutarakan meminta maaf kepada ibunya, memberi kode kepada Aurora yang tanpa sengaja melirik ke arah ayahnya.
Aurora menghela napas." Ibu... aku mau minta maaf udah buat ibu marah."
Arkan juga mengikuti perkataan kakaknya." Aku juga minta maaf bu."
Ibu Larasati masih diam tidak menjawab permohonan maaf dari anak anaknya, masih sibuk menyiapkan sarapan.
Ayah Damar yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.
"Sayang itu anak anak bicara sama kamu."
Ibu Larasati menghela napas memandang ke arah anak anaknya yang sudah beranjak dewasa itu, ibu Larasati tidak menyangka waktu serasa cepat berjalan. Ibu Larasati masih ingat anak anaknya yang masih dalam kandungannya, saat masih bayi mereka sangat rewel. Sekarang sudah beranjak dewasa.
"Aku minta maaf bu."
"Maaf bu." Jawab mereka serentak.
Ibu Larasati memandang mereka dengan tatapan teduh yang menenangkan mengangguk pelan." Iya sayang ibu maafkan, maafkan ibu juga ya sudah marah marah tadi."
Aurora dan Arkan tersenyum lega mereka Menghampiri ibunya, memeluk erat ibu tercinta mereka dengan bergumam kata maaf.
Ayah Damar yang menyaksikan kehangatan keluarga tersenyum bahagia berdiri dan menghampiri keluarga kecilnya dengan memeluk mereka.
Kebahagian itu bukan hanya soal materi tapi hanya melihat keluarga yang harmonis itu sudah menjadi anugrah terindah yang di miliki seorang anak, melihat ayah dan ibunya yang saling sayang dan harmonis, dan selalu melimpahkan kasih sayang kepada anak anaknya.