evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 tahun lalu
“Lalu Mathias sekarang di mana?” tanya Cristian pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap biasa.
Pak Mario menggeleng pelan. “Tidak ada yang tahu pasti.” Ia menghembuskan asap rokoknya perlahan. “Yang jelas dia langsung dipecat tanpa diberi uang sepeser pun.”
Pria tua itu menatap kosong ke taman di depan mereka. “Sudah lama sekali… mungkin sekitar dua puluh tahun lalu.”
Kalimat itu membuat tubuh Cristian sedikit menegang.
Dua puluh tahun lalu. Tahun yang sama ketika hidupnya hancur. Saat itu Cristian baru berusia sepuluh tahun.
Tatapannya perlahan berubah dingin. Ia kembali bertanya, kali ini lebih hati-hati.
“Kalau dua puluh tahun lalu…” suara Cristian terdengar rendah, “apa Bapak pernah melihat seorang wanita datang ke rumah ini meminta keadilan?”
Pak Mario mengernyit, mencoba mengingat. “Wanita meminta keadilan…?”
Beberapa detik ia terdiam. Lalu matanya sedikit melebar seperti menemukan ingatan lama yang terkubur. “Sepertinya pernah.”
Jantung Cristian berdetak lebih keras.
“Ada seorang wanita datang ke depan gerbang,” lanjut Pak Mario pelan. “Dia berteriak-teriak meminta keadilan.”
“Teriaknya… katanya Tuan Alberto sudah membunuh suaminya.”
Angin siang mendadak terasa panas di dada Cristian.
“Tapi tidak lama kemudian,” lanjut Pak Mario, “para pengawal diperintahkan mengurus wanita itu.”
Wajah pria tua itu tampak tidak nyaman mengingatnya. “Dia dipukuli beberapa kali sampai diseret keluar.”
Cristian diam. Sangat diam. Namun tangannya perlahan mengepal kuat di atas lututnya hingga urat-urat di lengannya tampak menegang. Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah gelap. Karena wanita yang dimaksud Pak Mario… Adalah ibunya. Dan pria yang disebut dibunuh… Adalah ayahnya.
Semua ingatan lama yang selama ini ia tekan mendadak muncul begitu saja. Ibunya yang menangis. Rumah kecil mereka yang berantakan. Tubuh ayahnya yang tak pernah kembali. Dan dirinya yang hanya bisa berdiri ketakutan sebagai anak kecil tanpa daya.
Napas Cristian mulai terasa berat. Baginya, Alberto adalah tokoh utama dalam kehancuran hidupnya.
Cristian terdiam membisu di bawah pohon apel itu. Tatapannya kosong menatap halaman mansion Alberto, namun pikirannya jauh kembali ke masa lalu—masa yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.
Dua puluh tahun lalu. Saat dirinya masih berusia sepuluh tahun.
Hari itu seharusnya menjadi perjalanan menyenangkan. Ia masih ingat bagaimana ayah dan ibunya tertawa di dalam mobil. Mereka akan pergi mendaki ke pegunungan untuk liburan kecil keluarga. Cristian kecil duduk di kursi belakang sambil memegang camilan kesukaannya, sesekali ikut tertawa mendengar candaan kedua orang tuanya. Sampai semuanya berubah dalam hitungan detik.
Sebuah mobil hitam melaju kencang dari arah berlawanan.
Brakkkk!
Benturan keras menghancurkan segalanya. Tubuh kecil Cristian terhempas ke samping. Suara kaca pecah memenuhi telinganya. Kepalanya berdenging hebat. Dan saat ia membuka mata…
Ayahnya sudah tidak bergerak. Darah mengalir dari kepala pria itu. Ia mati di tempat.
“I-ibu…” Cristian kecil menangis ketakutan.
Ibunya yang wajah dan lengannya penuh luka berusaha keluar dari mobil dengan tubuh gemetar. Wanita itu berjalan tertatih menuju mobil lain yang juga berhenti tak jauh dari sana. Mobil milik Alberto.
Cristian masih mengingat jelas kejadian itu. Ibunya menggedor pintu mobil sambil menangis histeris meminta pertanggungjawaban. Lalu pintu mobil itu terbuka. Alberto keluar dalam keadaan mabuk alkohol. Tatapan pria itu dingin dan penuh amarah karena merasa diganggu. Bukannya menolong… Ia justru mendorong ibu Cristian dengan kasar.
Tubuh wanita itu tersungkur keras di atas aspal.
“Ibu!!”. Teriakan Cristian kecil pecah saat melihat ibunya jatuh sambil menangis kesakitan. Namun Alberto hanya masuk kembali ke mobilnya. Seolah nyawa manusia tidak berarti apa pun baginya.
Napas Cristian saat ini terasa sesak mengingat semuanya.
Setelah kejadian itu, ibunya memang melapor pada pihak kepolisian. Tetapi kasus tersebut ditutup begitu saja. Tidak ada keadilan. Tidak ada hukuman.
Karena Alberto terlalu kuat. Ia pengusaha kaya. Sponsor banyak pejabat. Orang yang punya relasi dan uang untuk membungkam semuanya.
Sejak hari itu hidup Cristian hancur.
Ayahnya meninggal.Sedangkan Ibunya berubah menjadi wanita yang terus sakit-sakitan akibat tekanan dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Hingga beberapa bulan kemudian… Ibunya ikut meninggal. Dan Cristian kehilangan segalanya.
Jemari pria itu mengepal semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Selama bertahun-tahun ia hidup membawa dendam. Sampai akhirnya ia datang ke rumah ini. Untuk membalas semuanya.
Pak Mario memperhatikan Cristian beberapa saat. Kerutan di wajah pria tua itu semakin dalam saat melihat perubahan ekspresi Cristian yang mendadak begitu gelap.
“Hey, Nak… apa kamu baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.
Suara itu membuat Cristian tersadar dari lamunannya. Ia berkedip pelan. Rahangnya yang tadi mengeras perlahan mengendur kembali. Tatapan penuh amarah itu menghilang secepat kilat, digantikan ekspresi tenang seperti biasa. Cristian bahkan memaksakan senyum tipis.
“Oh, iya. saya tidak apa-apa,” jawabnya santai.
Ia mengusap tengkuknya pelan lalu menambahkan, “Hanya… lapar.”
Pak Mario langsung tertawa kecil, ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Memang ini sudah jam makan siang.”
Pria tua itu bangkit perlahan dari duduknya sambil menepuk-nepuk celananya yang terkena tanah. “Ayo, kutunjukkan dapurnya,” katanya ramah. “Saya juga lapar.”
Cristian ikut berdiri. “Boleh pak.”
Mereka berjalan berdampingan melewati taman belakang menuju bagian dalam mansion. Beberapa penjaga sempat melirik Cristian sekilas, namun tidak ada yang menghentikannya karena mereka tahu ia orang baru yang bekerja untuk Evelyn.
Saat memasuki area belakang rumah, suasana terasa berbeda dibanding bagian depan mansion yang mewah dan sunyi. Di area dapur, aroma masakan hangat langsung memenuhi udara. Beberapa pelayan tampak sibuk membawa makanan dan menata hidangan.
Pak Mario tersenyum kecil. “Nah, ini tempat paling nyaman di rumah ini,” gumamnya.
Cristian memperhatikan sekitar dengan tenang. Dapur itu besar dan bersih, namun suasananya jauh lebih hidup dibanding ruang utama mansion. Suara obrolan pelayan dan dentingan alat masak membuat tempat itu terasa lebih manusiawi.
Seorang koki wanita menoleh saat melihat Pak Mario masuk. “Pak Mario, akhirnya datang juga. Saya kira Bapak lupa makan.”
Pak Mario terkekeh. “Mana bisa lupa makan?”
Lalu ia menunjuk Cristian. “Ini ada anak baru.”
Beberapa pelayan langsung melirik penasaran pada Cristian. Wajah tampan pria itu memang cukup mencolok bahkan dengan pakaian sederhana. Cristian hanya mengangguk kecil sebagai sapaan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan menyajikan makanan sederhana di meja kecil area dapur. Pak Mario langsung duduk tanpa sungkan. Cristian ikut duduk di depannya. Namun meski aroma makanan terasa menggoda, pikirannya masih dipenuhi bayangan masa lalu. Dan wajah Evelyn.