NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelangi di Balik Etalase

Kios bumbu Arumi kini tidak hanya melayani eceran. Berkat ketelatenannya, ia mulai menyuplai bumbu untuk beberapa restoran menengah di kota. Pagi itu, Arumi sedang sibuk mengecek pesanan saat seorang wanita modis dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos berhenti di depan kiosnya.

"Jeng! Ini bumbu rendang yang katanya viral itu ya? Saya pesan lima kilo, buat acara arisan di rumah!"

Wanita itu bernama Maya. Ia adalah pemilik butik di seberang pasar yang baru saja pindah. Maya tipe orang yang enerjik dan langsung merasa "cocok" dengan ketenangan Arumi.

"Boleh, Mbak Maya. Sebentar ya, saya siapkan yang paling segar," jawab Arumi ramah.

"Duh, jangan panggil Mbak, panggil Maya saja. Kita kan seumuran kayaknya. Kamu hebat ya, jualan sambil momong anak cantik begini," puji Maya sambil mencubit gemas pipi Kinan yang sedang asyik mewarnai di sudut kios.

"Halo, Tante Maya! Nama aku Kinan," sapa Kinan sopan, matanya berbinar.

"Halo sayang! Besok-besok main ke butik Tante ya, ada anak Tante juga namanya Leo, seumuran sama Kinan lho!"

Arumi tersenyum tulus. Kehadiran Maya membawa warna baru yang ceria. Namun, suasana pasar yang bising mendadak berubah tenang saat sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang pasar—pemandangan yang sangat langka.

Seorang pria keluar dari mobil itu. Tubuhnya tegap, mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tegas namun memiliki sorot mata yang teduh. Ia adalah Adnan, pemilik jaringan restoran hotel berbintang yang sedang mencari pemasok bahan organik lokal.

Adnan berjalan menyusuri lorong pasar, mengabaikan tatapan kagum orang-orang, hingga langkahnya terhenti tepat di depan kios Arumi. Ia terpaku melihat cara Arumi menjelaskan jenis-jenis rempah kepada pembeli dengan sangat detail dan penuh gairah.

"Permisi," suara Adnan berat dan berwibawa.

Arumi mendongak. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Bukan karena ketampanan pria itu, tapi karena ada aura "pelindung" yang sangat kuat terpancar darinya—sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari Baskara.

"Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Arumi berusaha tetap profesional.

"Saya Adnan. Saya sedang mencari bumbu dasar dengan standar kualitas tinggi untuk dapur hotel saya. Saya dengar di sini tempat yang terbaik," ucap Adnan sambil menatap mata Arumi lurus-lurus.

Arumi tersenyum tipis, kali ini senyumnya mengandung rasa percaya diri.

"Bapak datang ke tempat yang tepat. Silakan dicium aromanya, Pak. Bumbu saya tidak pakai pengawet sama sekali."

Adnan mendekat, namun bukannya mencium bumbu, matanya justru tertuju pada Kinan yang sedang menunjukkan hasil mewarnainya pada Arumi.

"Ibu! Lihat, aku gambar bunga matahari!" seru Kinan bangga.

Adnan berjongkok di depan Kinan, sebuah senyuman langka muncul di wajahnya yang kaku. "Bunganya bagus sekali. Seperti ibumu ya?"

Kinan tertawa kecil. "Ibu bukan bunga, Ibu itu pahlawan Kinan!"

Adnan tertawa, tawa yang hangat. Ia kembali berdiri dan menatap Arumi dengan tatapan yang berbeda—bukan hanya sebagai rekan bisnis, tapi sebagai pria yang kagum pada kekuatan seorang wanita.

"Saya ingin memesan sampel untuk minggu depan. Dan... jika tidak keberatan, saya ingin mengundang Anda dan putri Anda makan malam di restoran saya, sebagai tanda perkenalan bisnis."

Arumi tertegun. Maya yang masih ada di sana langsung menyenggol lengan Arumi sambil berbisik, "Ambil, Rum! Ini bos besar!"

"Hanya untuk bisnis, Pak Adnan?" tanya Arumi hati-hati, bayang-bayang kegagalan masa lalu masih sedikit menghantuinya.

Adnan tersenyum tipis, tatapannya sangat tulus. "Mari kita mulai dengan bisnis, dan biarkan waktu yang menjawab sisanya, Arumi."

Di kejauhan, di balik tumpukan kardus kosong, Baskara melihat pemandangan itu. Ia melihat Arumi yang tertawa kecil, melihat Kinan yang tampak nyaman dengan pria asing itu. Hati Baskara terasa remuk. Ia sadar, Arumi tidak hanya sudah move on, tapi Arumi sudah menemukan "dunia" di mana pria seperti Baskara tidak akan pernah bisa menjangkaunya lagi.

Baskara membuang sisa rokoknya yang sudah pendek, lalu berjalan menjauh dengan bahu yang semakin merosot. Ia merasa seperti debu di bawah sepatu mengkilap pria bernama Adnan itu.

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!