Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Pertunangan dan Hati yang Terluka
Kediaman Tuan Mahendra malam itu bak istana kerajaan yang sedang mengadakan pesta dansa. Dekorasi yang indah dan gemerlapan membuat kediaman Tuan Mahendra terlihat lebih megah dari biasanya.
Para tamu terlihat mengalir berdatangan memenuhi ruang tamu yang sudah di sulap menjadi area pesta yang mewah. Nyonya Mahendra dan Nyonya Lestari terlihat sedang menyambut tamu dengan senyum sumringah di wajah keduanya. Tuan Mahendra dan Tuan Laksono terlihat mendampingi isteri mereka.
Angkasa sudah berdiri di dekat tangga, menanti Nia keluar dari kamarnya. Angkasa terlihat menatap ke arah pintu kamar Nia beberapa kali, terlihat tidak sabar.
"Mari, silakan, Nona," kata Cita, sambil membuka pintu kamar Nia.
Angkasa seketika menatap pintu kamar Nia yang terbuka. Matanya terpaku pada sosok indah yang keluar dari dalam kamar itu.
"Nggak cocok ya?" tanya Nia pada Angkasa saat sudah berdiri di depan Angkasa.
Angkasa mengerjapkan matanya seolah tersadar dari hipnotis keindahan Nia. Angkasa lalu menggelengkan kepalanya. Nia tersenyum, menambah keanggunan yang terpancar dari dirinya. Angkasa mengulurkan tangannya, meminta tangan Nia. Nia menatap Angkasa. Jantungnya begitu riuh hingga membuatnya cukup sulit bernapas.
"Para tamu sudah menunggu," kata Angkasa.
Nia mengangguk perlahan lalu meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Angkasa. Nia yakin, Angkasa pasti merasakan tangannya yang begitu dingin akibat gugup yang berlebihan.
Angkasa dan Nia berjalan perlahan menuruni tangga menuju ruang tamu dimana para tamu berkumpul. Pandangan para tamu tertuju pada pasangan muda yang begitu menawan itu.
"Jangan takut," bisik Angkasa.
"Pasang senyum mu," lanjut Angkasa.
"Ada aku," kata Angkasa sambil menatap lurus ke depan.
Nia menoleh, menatap wajah dingin Angkasa lalu tersenyum. Nia merasa lebih tenang sekarang meskipun jantungnya masih saja riuh berdetak. Nia mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke depan seperti yang Angkasa lakukan dengan menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.
Alunan musik syahdu mengiringi langkah Nia dan Angkasa menuju ruang tamu. Mata para tamu terpaku pada sepasang anak muda yang menawan. Pembawa acara terdengar mulai membuka acara, mempersilakan para tamu untuk duduk di tempat yang disediakan.
Angkasa dan Nia berjalan lurus menuju tempat yang disediakan untuk mereka di depan para tamu undangan. Tuan dan Nyonya Mahendra pun duduk disana bersama Tuan Laksono dan Nyonya Lestari.
"Baik, di malam yang indah ini, Tuan dan Nyonya Mahendra akan mengikatkan janji putera semata wayangnya dengan puteri dari Tuan Laksono dan Nyonya Lestari," kata pembawa acara setelah Angkasa dan Nia sudah berdiri di depan para tamu undangan.
"Silakan, Tuan Muda Angkasa, menyematkan cincin pertunangan di jari manis Nona Dunia," kata pembawa acara.
Angkasa mengambil cincin dari kotak cincin yang disodorkan padanya. Dia menatap Nia sesaat sebelum akhirnya memasukkan jari Nia ke dalam cincin pertunangan itu. Tepuk tangan meriah para tamu menyambut calon pasangan suami isteri dengan penuh suka cita.
Di sudut paling belakang kursi tamu, Mentari tengah menatap penuh kebencian pada Nia. Dia begitu terkejut ketika mendengar kabar dari ayahnya bahwa Nyonya Mahendra akan mengadakan pesta pertunangan puteranya malam itu. Menurut kabar yang Mentari dengar, pesta pertunangan akan diadakan setelah Angkasa lulus.
'Sial! Kalo kek gini, gimana gue mau gerak buat ngrebut posisi calon mantu keluarga Mahendra?'
***
Malam itu, Bayu terdiam di ruang kerjanya. Papa dan mamanya sudah lama berangkat menuju ke pesta pertunangan Nia. Meski Bayu sudah berjanji pada Nia akan datang ke pesta itu, Bayu merasa berat untuk beranjak dari kursi tempat duduknya.
Sedari sore dia hanya menatap dokumen yang sama. Pikirannya jauh melayang menuju masa remajanya yang manis sekaligus pahit di waktu yang bersamaan. Bahkan, Bayu masih mengingat dengan jelas pertama kali Bayu melihat wajah Nia yang sedang fokus melukis di tangga teras panti asuhan. Menawan.
Ponsel Bayu berdering, menyadarkan Bayu dari lamunannya. Bayu melirik ke layar ponsel di atas meja kerjanya. Dengan malas, Bayu menjawab panggilan telepon itu.
"Ya, Ma?" tanya Bayu.
"Kamu sampe mana? Acaranya udah mau dimulai," kata Nyonya Lestari.
"Sepertinya Bayu nggak bisa dateng, Ma. Ada yang harus direvisi untuk rapat proyek besok," kata Bayu, berbohong.
"Revisi semendadak ini?" tanya Nyonya Lestari. Nyonya Lestari tahu pasti hal itu tidak mungkin.
"Ehem... Kliennya tiba-tiba hubungin Bayu langsung buat ganti beberapa bagian yang dia kurang klik. Karena besok final meeting, ya Bayu lembur sekalian aja," kata Bayu, lagi-lagi bohong.
"Kalau bisa dateng kesini sebentar, abis itu lanjut kerja," pinta Nyonya Lestari.
"Bayu usahain, Ma," kata Bayu lalu memutus panggilan teleponnya.
Bayu beranjak dari kursinya, mengusap wajahnya. Dia berdiri menatap ke luar jendela besar ruang kerjanya. Pemandangan kota yang semarak seakan turut merayakan pertunangan Nia dan Angkasa.
Bayu menghela napas panjang. Dia berdiri lama menatap pemandangan kota dari balik jendela ruang kerjanya tanpa benar-benar menikmatinya. Bayu menengadah, menutup matanya perlahan. Bayangan wajah Nia ada disana. Cantik. Seulas senyum terkembang di wajah Bayu.
Namun, tak lama kemudian wajah Angkasa yang dingin dengan tatapan tajamnya turut muncul dalam pikiran Bayu, membuat Bayu membuka matanya seketika. Bayu melihat jam di arlojinya. Jam 20.12.
Bayu menyambar kunci mobilnya dan bergegas menuju kediaman Tuan Mahendra. Sepanjang perjalanan, Bayu berusaha menghubungi Nia. Namun, percuma saja. Meski Bayu tahu bahwa tak ada gunanya menelepon ponsel Nia, Bayu tetap menekan tombol panggilan berkali-kali.
Setelah empat puluh lima menit perjalanan, Bayu akhirnya tiba di kediaman Tuan Mahendra. Bayu baru sadar bahwa dia belum mengganti pakaiannya. Tak peduli dengan hal itu, Bayu bergegas mengenakan jas kerjanya dan masuk ke dalam kediaman Tuan Mahendra.
Penampilan Bayu yang sedikit kacau membuat petugas keamanan ragu untuk membiarkan Bayu masuk. Bayu menghela napas panjang.
"Saya ini kakak calon pengantin wanita, putera sulung dari Tuan Laksono dan Nyonya Lestari," jelas Bayu kepada petugas keamanan.
Petugas keaman masuk mengikuti Bayu, memastikan tamunya tidak membuat keributan. Bayu duduk di kursi paling belakang dan paling sudut agat dirinya tak dapat dilihat dari tempat Nia berdiri.
Petugas keamanan kembali ke posisinya, setelah memastikan Bayu benar-benar tak berbahaya. Bayu terpesona dengan Nia malam itu. Dia tidak pernah menyangka adik asuhnya akan terlihat semakin mempesona dalam balutan gaun dan make-up yang flawless. Entah mengapa, melihat Nia yang mempesona membuat hati Bayu terasa perih.
Hati Bayu bahkan semakin perih saat melihat Angkasa melingkarkan tangannya ke pinggang Nia sambil menatap dalam-dalam pada Nia. Bayu semakin yakin, bahwa Nia benar-benar jauh dari jangkauannya.
'Seharusnya... aku yang berdiri disana, bukan Angkasa. Seharusnya... aku tak datang,'
***
ternyata aku punya tanamannya, tapi gak tau namanya😅
makasih lho thor🤭
maaf malah salfok ke bunga😅