INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ruang tamu itu luas dengan design modern minimalis, dinding berwarna abu-abu muda berpadu dengan panel kayu gelap.
Lantai marmer mengkilap memantulkan cahaya lampu gantung berbentuk geometris, aroma kopi dan rokok masih tersisa di udara.
Aditya duduk santai di sofa panjang berwarna krem, mengenakan kaos warna hijau tua polos, dan celana panjang warna navy.
Penampilannya kasual karena keadaan sudah mulai aman, tapi auranya masih kejam dan tetap terkendali.
Satu tangan bersandar di sandaran sofa, yang lain memegang gelas kaca berisi wine bening.
Aditya Suradinata tengah menunggu anak buahnya masuk.
Pintu ruang tamu terbuka.
Ceklek.
Yuka masuk lebih dulu, gadis berwajah Cina-Indonesia ini mengenakan Crop top warna hitam, jacket jeans cerah, dan celana jeans warna senada.
Langkahnya cepat tapi hati-hati.
Di ikuti Raffi, di belakangnya yang juga melangkah masuk.
Raffi mengenakan kaos singlet putih memperlihatkan lengannya yang penuh tatoo.
Postur tubuhnya tegap namun tetap waspada.
Keduanya berhenti beberapa langkah dari Aditya---yang sudah dianggap ayah bagi mereka.
"Pedro," ujar mereka hampir bersamaan memberikan hormat singkat.
Aditya mengangkat alisnya, jarang di panggil begitu kecuali dalam konteks tertentu.
"Ini sandi yang melibatkan urusan lintas negara," batin Pedro menaruh gelas yang berisi wine di meja.
Matanya menatap Yuka dan Raffi secara bergantian.
"Tunggu dulu," ucap Aditya.
"Kemana Nayla dan Gani?" tanya Pedro sambil menyalakan rokoknya.
Yuka maju satu langkah, wajahnya lebih serius karena terkait bisnis yang di pegangnya juga.
"Pedro, Nayla dan Gani tengah mengurus soal tujuh perempuan yang akan di kirim ke Mexico," jawab Yuka.
Aditya menghela napas, menghisap rokoknya lalu menyembulkan asapnya ke udara.
Tatapannya tajam namun tak tergesa-gesa.
"Urusan kolega di Mexico, biar saya yang urus. Kalian cukup pantau apa aparat bergerak dengan agresif?" tanya Aditya.
"Baik Pedro," sahut Raffi mewakili Yuka.
Aditya kembali menghisap rokoknya, lalu menarik napas panjang.
"Gadis ini, selalu ingin balas dendam dan ambisinya untuk menguasai bisnis," ucap Aditya kembali menghisap rokoknya.
"Pedro bukankah itu bagus," kata Raffi.
Aditya menatap tajam Raffi. Pria yang rambutnya sudah sedikit putih itu, menatap tak suka Raffi.
"Saya tak mau jika Nayla menguasai kita semua apalagi lebih berkuasa dari saya," ujarnya.
"Dan ingat kalian semua saya beli, dan saya latih untuk membantu saya," lanjutnya dengan menunjuk ke arah Yuka dan Raffi.
Aditya menghela napas dalam, lalu Yuka maju untuk mengalihkan pembicaraan.
"Pedro, urusan bisnis prostitusi dan jual beli sabu aman, namun aparat tetap memantau."
Aditya menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Yah itu bagus, dengar jika Nayla semakin bertindak jauh, aku akan membuat siasat menyingkirkannya bukan di bunuh," ucap Aditya.
Aditya mematikan rokoknya dan mengambil gelas berisi wine lalu pergi berlalu.
Sebenarnya apa yang Aditya rencanakan untuk Nayla, dan kenapa pria paruh baya itu terlihat sangat iri kepada Nayla.
Padahal yang mendidik Nayla, Yuka, Gani dan Raffi adalah dirinya.
Seharusnya Aditya bangga mengetahui anak didiknya sukses, bukan malah iri.
Kepergian Aditya membuat Raffi dan Yuka saling bertukar pandang satu sama lain, sungguh ini di luar prediksinya.
"Sebenarnya apa yang di pikirkan Pedro, Kak?" tanya Raffi.
Yuka menghela napas, dirinya mengatakan tidak tahu.
"Jika Nayla di singkirkan tak masalah toh, ortunya masih mau nerima. Lah Kita mau lari kemana Fi," ujar Yuka menatap Raffi.
"Iya juga sih," sahut Raffi yang terkekeh.
Raffi dan Yuka menganggap Nayla beruntung, lantaran orangtuanya masih mencari bahkan menyelamatkannya.
Berbeda dengan Gani, Raffi dan Yuka. Orangtua mereka seolah tak ada kabar, bahkan Raffi juga tak di cari oleh ibu dan ayahnya.
"Yaudahlah, gua mau pantau bisnis gua yang di club, lu samperin pedro noh," ujar Yuka yang pergi berlalu meninggalkan Raffi.
Raffi hanya bisa menghela napas panjang lantaran dirinya di tinggal sendiri.
"Lah gua sendiri, ama kuntilanak dah," ujar Raffi.
Di lain sisi, Nayla dan Gani tengah di kejar-kejar oleh suruhan Shekh Khalid bin Muhammad.
Keduanya sedang kejar-kejaran di jalanan, membuat Gani menginjak gas.
Malam yang sunyi, tanpa ada orang lain.
Aparat terlihat tak berpatroli, mereka saling kejar-kejaran satu sama lain.
"Mhlaan, tawquf!" ("Hey berhenti!") teriak suruhan Khalid.
Sementara Gani terus menginjak gas menuju tempat yang aman, dan Nayla memejamkan matanya---dirinya tak menyangka ayah biologis yang tak pernah hadir dalam hidupnya akan kembali.
"Gan, gua rasa please jangan ke tempat bisnis kita dulu deh," ujar Nayla yang wajahnya tenang.
"Iya gua paham kok," sahut Gani yang fokus menyetir.
"Njirrlah, persetan dengan dua tua peyot sok suci yang mau ngambil gua!" umpat Nayla menghina kedua orangtuanya.
Gani mengangguk karena dirinya bisa mengerti akan masalah yang dialami Nayla, sama seperti Gania---Nayla juga di jual oleh ibunya sewaktu kecil.
"Terus tuh si sundal gimana? Mak lu?" tanya Nayla.
Mendengar Nayla mengatakan jika si Gundik adalah ibunya, mata Gani menatap tajam.
"Jangan sebut nama tuhh sundal nyokap gua!" marah Gani yang malah mempercepat setirnya.
Nayla hanya tertawa mendengar reaksi Gani begitu, dirinya tak takut jika Gani menambah kecepatannya.
Malah Nayla bahagia, semakin cepat mobilnya, maka akan semakin suruhan Khalid tak bisa membawanya.
Gadis berwajah Arab dan Indonesia keluar jendela, lalu mengarahkan jari tengah ke gerombolan mobil yang mengejarnya.
"Persetanan buat lu suruhan dua orang peyot!" teriak Nayla sambil tertawa.
Setelahnya masuk kembali ke dalam mobil, Gani yang tadi badmood.
Menjadi tertawa melihat tingkah Nayla.
"Gua suka gaya lu Kak," ujar Gani tertawa sambil mempercepat setirnya.
Karena mereka harus sampai di diskotik yang menjadi transaksi narkotika jenis ganja, dan tentu ganja itu akan di ekspor ke Filipina.
"Gani nyalain musik, noh pasukan udah ilang!" teriak Nayla tertawa lepas seolah tanpa beban dosa.
Keduanya sangat riang dan terus berbahagia, tanpa mereka sadari kelakuan mereka ini akan menghancurkan kehidupan banyak orang.
Narkotika, prostitusi, dan dendam masa kecil mereka yang di lampiaskan kepada orang-orang yang dulu menyakiti mereka.
*