NovelToon NovelToon
Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa pedesaan / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Smi 2008

Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.

“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.

“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”

Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:

“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Kupraktikkan pada seekor kuda!"

*malam hari*

Su Hao duduk di tepi kasur, tangannya perlahan menyapu bersih sisa debu dan pasir yang menempel pada seprai baru.

Ia menunduk, merapikan lipatan kain hingga terlihat rapi sempurna.

Tangannya terulur menyentuh bantal.

Ia mendekatkan wajah, menghirup dalam-dalam aroma bersih yang masih tersisa, lalu perlahan menepuk-nepuk permukaannya agar kembali empuk dan mengembang.

Dua buah bantal ia susun rapi, ditumpuk satu di atas yang lain dengan posisi yang pas.

Sebagai bentuk kepastian, ia sempat membaringkan tubuhnya sejenak untuk merasakan kenyamanannya.

Tangan kasarnya bergerak mengusap dagu, kepalanya mengangguk pelan-rasanya sudah tepat, sudah cukup nyaman.

Pria itu bangkit dan berjalan menuju lemari.

Jarinya teliti menyusuri tumpukan kain, memilah satu per satu hingga menemukan apa yang dicari.

Ia merentangkannya di udara.

Matanya terpaku pada kain tipis itu cukup lama, seolah membayangkan sesuatu di balik sana.

Hingga akhirnya, seulas senyum tipis terbit di sudut bibirnya.

Langkah kaki kecil terdengar mendekat.

Pintu kamar didorong terbuka, dan Jia masuk dengan wajah yang jelas-jelas masam.

Rambut hitam panjangnya masih basah kuyup, air menetes pelan membasahi bahu dan punggung putihnya.

Gadis itu berhenti di tengah kamar, lalu sesekali menunduk mengendus helai rambutnya sendiri dengan wajah kecewa.

Begitu melihat Su Hao, mulutnya sudah siap untuk memuntahkan keluhan panjang lebar.

Namun sebelum Jia sempat membuka suara, Su Hao sudah lebih dulu bicara dengan nada tenang, seolah mampu membaca pikiran istrinya.

"Besok di pasar. Di sana ada yang menjual ramuan cuci rambut."

Selesai berkata, pria itu berjalan mendekat.

Tangannya meraih selembar kain tebal yang tergantung di sisi ranjang-kusam, seratnya kasar-lalu menarik pergelangan tangan Jia, membimbingnya duduk di tepi kasur.

Dengan gerakan perlahan dan penuh perhatian, Su Hao mulai mengelap sisa air yang membasahi rambut istrinya.

Jia memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan tangan kasar yang begitu lembut menyisir helai rambutnya.

Saat matanya terbuka dan tertuju pada wajah tampan pria di hadapannya, cemberut di wajahnya perlahan luntur, berganti menjadi senyum manis.

Tak tahan berlama-lama saling pandang, Su Hao lebih dulu mendekatkan wajahnya.

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir merah itu, makin lama makin menuntut hingga ciuman itu berubah jadi liar, cepat dan basah.

Setelah puas, Jia melepas lebih dulu lalu mendongak, matanya berkilat usil.

"Ceritakan sedikit tentang dirimu," bisiknya, jari telunjuknya mulai menusuk-nusuk pelan bekas luka yang melintang di pipi suaminya.

"Aku penasaran... bagaimana bisa orang miskin sepertimu memiliki wajah sebaik ini?"

Belum sempat Su Hao menjawab, gadis itu sudah menambahkan dengan nada yakin seolah itu adalah kebenaran mutlak.

"Biasanya kan begitu. Rupa seseorang itu tergantung isi kantongnya. Kalau yang kerempeng atau melarat, badannya pasti ikut kecil, kulitnya dekil, kusam, dan pasti bau. Tapi kau..."

Jia mendekatkan wajahnya, menyelipkan hidung kecilnya ke ceruk leher dan ketiak suaminya, mengendus-endus dengan penasaran.

Su Hao yang merasa geli sekaligus jengkel, langsung bertindak cepat.

Tangannya menangkap kepala Jia, lalu dengan gerakan gesit membenamkan wajah istrinya tepat di sela ketiaknya.

"Wah! Kau ini-!" Jia memberontak kecil, berusaha melepaskan diri.

Namun perlawanannya hanya sesaat.

Rasa kesal dan kaget itu seketika berubah menjadi rasa sakit hati yang konyol.

Faktanya, pria ini bahkan belum sempat mandi sejak pulang kerja.

Sepanjang hari sibuk di bengkel, berurusan dengan minyak dan besi, tapi tubuhnya sama sekali tidak mengeluarkan aroma tak sedap.

Hanya ada bau khas kulit pria yang bersih, bau hangat yang justru membuatnya nyaman.

Ini tidak adil!

Jia merasa dunia sedang membully dirinya.

Dia yang hampir tidak pernah menyentuh debu sekalipun.

Memasak? Su Hao yang lakukan.

Membereskan rumah? Su Hao yang urus.

Bekerja keras di bengkel? Itu pun tugas suaminya.

Satu-satunya "pekerjaan" Jia hanyalah makan, tidur, dan mengeluh.

Lalu kenapa... kenapa dia harus mandi sampai dua kali sehari tapi tetap saja tidak wangi, sementara suaminya yang seharian bekerja berat ini justru baunya lebih enak darinya?!

"Hao... kau, kau ini jelek dan menyebalkan!" seru Jia dengan nada kesal yang terdengar manja.

Dengan gerakan gesit, ia merangkak naik dan duduk di atas paha kokoh suaminya.

Su Hao tersenyum tipis, lalu membaringkan tubuhnya, menuntun Jia agar berada tepat di atas dirinya.

Tak lupa ia melepaskan baju kerjanya.

Terbukalah sosok tubuh yang kokoh dan terlatih-otot-otot yang terbentuk sempurna bukan karena kemewahan, melainkan hasil menempa besi sehari-hari.

Garis kekuatan itu tampak jelas di bawah kulit sawo matangnya.

Wajah Jia memerah, bercampur antara rasa kesal tadi dan kekaguman yang tak bisa disembunyikan.

Melihat tatapan terpesona istrinya, Su Hao kembali tersenyum miring.

Tangannya menarik kepala Jia mendekat, suaranya rendah dan berat, layaknya sedang melakukan interogasi pelan.

"Kapan kau belajar mengerti struktur tulang manusia dengan begitu cermat? Sebelum aku meminangmu, yang kudengar kau bahkan tidak tamat sekolah..."

Sambil bertanya, tangan besarnya perlahan menyingkap kain terakhir yang menutupi tubuh istrinya, membiarkan udara malam menyapa kulit mulus itu.

Jia memejamkan mata saat milik Su Hao memasukinya.

"Ughh... Aku memang terlihat lemah..." desahnya pelan.

"Tapi bukan berarti aku hidup dimanja. Aku dipaksa bekerja sejak kecil. Menanam, mengangkat beban yang jauh melebihi kemampuanku. Tubuhku sering sakit, tulangku kerap terkilir. Aku tidak punya pilihan selain mengandalkan diriku sendiri."

"Aku mulai belajar meraba posisi tulang yang salah... seperti cara kita merapikan tanaman yang tumbuh miring. Memiringkan sedikit, menggeser perlahan, menekan pada titik yang tepat. Rasa sakit itulah yang menjadi panduanku. Aku akan menunggu berhari-hari hanya untuk melihat apakah itu membaik atau justru semakin parah..."

"Ahhh... sakit, bodoh!" Jia memukul pelan pipi suaminya saat pria itu menggigit area sensitif dadanya. Pria itu malah tersenyum miring, lalu kembali melakukannya lagi dengan lebih nakal.

"Persalinan Yu Hua... apa itu pengalaman pertamamu?" tanya Su Hao, suaranya berat dan parau disela-sela aksinya.

"Bu...kan, uh... yang pertama..." Jia menurunkan suaranya, berbisik tepat di telinga suaminya. "Kupraktikkan pada seekor kuda!"

Jia bicara jujur. Memang pernah ia lakukan di dunia modern, menangani kelahiran anak kuda

Namun, kalimat polos itu terdengar begitu provokatif dan ambigu di telinga Su Hao.

Mata pria itu gelap seketika, penuh nafsu. Baginya, kata 'kuda' adalah simbol kekuatan dan kejantanan yang luar biasa.

'Jadi dia bisa menangani yang besar dan kuat...'

Terbakar api gairah, tumbukan tubuhnya menjadi jauh lebih ganas dan menghujam. Tubuh Jia tersentak hebat, napasnya tercekat. Tak mampu menahan lagi, gadis itu mencapai pelepasan lebih dulu dan jatuh lemas tak berdaya di pelukan suaminya.

Melihat istrinya telah puas, gerakan Su Hao terhenti sejenak. Tanpa membuang waktu, dengan gesit ia membalikkan posisi, menjadikan Jia terlentang di bawahnya. Kini, seluruh kendali ada di tangan pria itu.

Saat mereka kembali menyatu, pertanyaan baru terlontar seiring irama yang makin deras dan mengguncang.

"Kenapa dulu kau diam saja saat keluargamu menindasmu?" desisnya, menindih tubuh mungil itu ke kasur tanpa melemahkan tempo sedikitpun.

"Karena Lu Jia yang dulu memang bodoh... Jangan tanya hal yang sudah lewat. Aku tidak ingin mengingatnya lagi."

"Selesaikan urusanmu!" teriak Jia frustrasi, mulai tak nyaman dengan permainan suaminya yang terasa lumayan kasar.

Sebagai jawaban, Su Hao kembali melahap bibir merah itu. Ia tak menjawab sepatah kata pun, melainkan meningkatkan intensitas serangannya. Tak lama kemudian, pria itu pun mencapai klimaksnya.

Keduanya ambruk ke kasur. Jia kelelahan luar biasa, matanya terasa berat bagai dipaku. Selain rambut dan kukunya, seluruh serat otot dan tulangnya terasa remuk.

Dalam kesadarannya yang mulai kabur, Jia berpikir sinis:

Ternyata suaminya ini jauh lebih ahli 'meremukkan' tulang dibandingkan dirinya.

"Berhenti..." ucap Jia lemah saat tangan besar itu kembali bergerak liar.

"Aku ingin lagi..." desah Su Hao parau.

"Boleh..." jawab Jia, matanya tetap terpejam rapat. "Tapi biarkan aku tidur dulu, aku benar-benar lelah."

Su Hao mendesah, sedikit kecewa namun tak memaksa. Ia menarik selimut, membungkus rapat kedua tubuh mereka, lalu membiarkan istrinya tenggelam dalam lelap.

Pagi menyapa

RUMAH KELUARGA SU LONG

"ARRRRRRGG-! SAKIT, KEPARAT-!!"

1
Yuni Anto
😍😍aku slalu setia menunggu nopel² KKA author 💪💪💪y kka
Latifa Ainum
ditunggu ya Thor😭🥳
Latifa Ainum
authorrrr, ini cerita nya g lanjut kah😭
Latifa Ainum: oke gpp Thor yg penting cerita nya lanjuttt,, aku tunggu ya Thor, semangat revisi sma ngetik nya Thor❤‍🔥🥳
total 2 replies
Pa Muhsid
ati ati coy kau memelihara jagal untuk tubuh mu dan cuan mu belum lagi si pandai besi kebayang kan tukang jagal dan tukang besi bersatu auto tamat disitu yicheng end sudah 😛😛😛
Yani
ayok crita nya d lanjut kan Thor 🥰🥰🥰
Yuni Anto
🙄sayang. di lewat kan🤩🤩cuan2ny🥰🥰🥰
Fahreziy
nexk
Smi
oh. Itu ucapan muslim Hui menyebut Assalamualaikum.
🌹🌼🍁embun nirmaladewi🍀🌻🌺
??????????!!!!!!!!!!
Elwana Muhamad
bagus
Yuni Anto
/Curse/hehehe/Curse/ada² aja kelakuan Jia 🥳🥳🥳 semangat 💪💪💪 ya Thor makasih update ny tiada henti selalu menanti update KKA../Pray//Pray//Pray//Kiss//Kiss//Kiss//Heart/
Fauziah Daud
hahaha... trusemangattt
Smi
👻 terimakasih 💝💝💝
Yuni Anto
😍hmn 🥰 makasih banyak KKA 🥳🥳🥳hati ku GE happy 🥳🥳🥳KKA author tersayang lagi sering banget kasih update terus 🥳/Kiss/🥳💪💪 semangat terus ya Thor 💪💪💪n sehat selalu Bwt kka 🤩🤩🤩/Determined//Angry//Determined//Angry//Determined//Determined/
Smi
hihiji, orang yg barunsaja kena apes
Fauziah Daud
lanjuttt
Smi
aku ...👋
Smi
sudah ku dagu😁
Yuni Anto
🙄saha atuh🤔tamu yg tak di undang ini bikin kita yg baca kena penyakit kepo pisan/Frown//Determined//Angry//Determined//Angry/
Lina Hibanika
siapakah tamu tak terduga itu 🤔
Lina Hibanika: kayak nya yg jari tangan nya bengkak 🤔
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!