Sesosok mayat perempuan ditemukan di halaman belakang rumah kosong yang ada di depan rumahku.Mang Ujang yang biasa membersihkan rumah tersebut merasa ketakutan.
Berdasarkan hasil penyelidikan dari kepolisian ,sosok mayat wanita tersebut diperkirakan meninggal 7 hari yang lalu.Mayat tersebut hampir membusuk.
Namun ada kejanggalan di sana,terdapat bunga kamboja berguguran dan masih segar. Padahal tidak ada tumbuhan bunga kamboja di sekitarnya.
Siapa sebenarnya perempuan itu?Apa yang sudah terjadi sebelumnya? Bagaimana kasus ini dapat diselesaikan?
Yuk kita simak kelanjutan ceritanya!Semoga berkenan..
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian dan alur cerita ,ini semua murni karangan author saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Ada apa mas?"tanyaku.Mas Wirya masih dengan senyumannya tanpa berkata.Aku pun duduk di bangku sebelah mas Wirya yang terhalang meja.
"Dek,mengenai masalah yang kemarin itu, tolong dipikirkan baik-baik ,aku serius!"kata Mas Wirya.
Aku pun menarik nafas dalam-dalam,jantungku berdegup kencang.Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku jadi grogi seperti ini?Ku beranikan diri menatap mata mas Wirya.Disana hanya ada ketulusan darinya.Memang sejak aku datang ke rumah ini,aku tidak pernah melihat mas Wirya dekat dengan perempuan .Apa karena memang dia sudah tertarik denganku? seneng donk akunya.Jadi Ge Er kan aku..
"Maaf mas.. kita kan bersaudara?aku nggak enak hati sama ayah dan Mami yang sudah menganggapku sebagai putrinya sendiri!" aku berkata sesopan mungkin ,agar tidak menyinggung perasaan Mas Wirya.
"Tapi aku sudah bilang pada ayah dan mama Sebelumnya.Dan mereka sudah memberikan restu untuk kita!" kata Mas Wirya menatapku dengan tatapan yang mendalam.
"Apa? Jadi sebelum Mas Wirya bilang padaku, Mas Wirya sudah bilang sama ayah dan Mami duluan?"aku sangat terkejut kok bisa-bisanya mas Wirya minta restu terlebih dahulu.Padahal kan mas Wirya belum tahu tentang perasaanku?Pe De amat!
Padahal hatiku seneng banget sih!
gak bisa!
gak bener ini!
"Aku berangkat besok pagi dek ! bisakah kamu memberikan jawaban sekarang atau aku tunggu sampai nanti malam!"
Ini ancaman !mana bisa secepat itu? Kenapa Mas Wirya seperti memaksa begini? ini kan tentang hati. Bagaimana mungkin bisa dipaksa dan harus memberi jawaban secepatnya!
"Kasih aku waktu ya mas.. biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu!"aku pun berdiri dari tempat dudukku dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa pamit lagi pada Mas Wirya. Mas Wirya hanya diam tanpa mencegahku ,dan juga tidak berkata apa-apa.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar,namun saat melewati dapur kulihat mami sendang memasak. Aku langsung menghampiri beliau dan memeluknya dari belakang ,aku pun menangis.
"Sayang.. kamu kenapa? Kok nangis? Ayo ceritakan pada mami!"Mami mematikan kompornya dan mengajakku duduk di kursi meja makan.
"Ceritakan pada Mami apa yang sudah membuatmu tidak nyaman?"tanya mami.
Aku pun menceritakan semuanya tentang mas Wirya kepada Mami. Sebenarnya aku sangat sungkan dan tidak enak hati karena keluarga ini sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri .Mami pun tersenyum mendengar ceritaku.
"Kembalikan semua pada hati kamu sendiri sayang, jangan memaksakan diri jika tidak sesuai dengan hati kamu.Mau jadi menantu atau bukan, kamu tetap putri kesayangan mami"nasehat mami yang membuatku lega.
"Jadi selama ini mami sudah mendukung keinginan mas Wirya?"
"Kamu juga suka kan sama mas Wirya? Mami bisa lihat itu loh!mami sudah merestui jika kalian berhubungan!" ternyata selama ini Mami memang sudah setuju dengan hubungan aku dan Mas Wirya.
" Lantas bagaimana dengan ayah mi?".
" Justru sejak awal,ayah ingin menjodohkan kalian."
"Apa??"
- - -
Malam ini aku tidak ikut makan malam bersama ,karena tadi sore aku sudah mengambil makan malamku terlebih dahulu. Aku beralasan harus menyelesaikan tugasku malam ini, karena besok akan dikumpulkan.
Malam telah larut ,aku sudah merebahkan tubuhku di atas kasur tapi aku tidak memejamkan mata.Aku sengaja tidur membelakangi pintu.Kudengar suara pintu terbuka..
Krieett..
Aku yakin itu mas Wirya. Aku merasakan hangat di punggungku.Dia memelukku,tangan kekar itu kini sudah melingkar di pinggangku. Jantungku deg-degan,aku gugup sekali.
"Mas Wirya.. jangan melakukan ini lagi! kita belum sah!" aku membalikkan tubuhku menghadap nya.Kulihat raut wajahnya yang gelagapan, keringat dingin mengucur di wajahnya.Ku usap lembut wajah mas Wirya dengan telapak tanganku.Mas Wirya terlihat semakin gugup.Ingin sekali aku tertawa ,tapi aku menahan nya.
"Kembalilah ke kamar mas, aku menerimamu! inikan jawaban yang kamu inginkan ?"kataku dengan senyum tipis.Mas Wirya hanya diam, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Matanya hanya memandangku dengan lekat, tangannya juga masih memelukku.Kami saling bertatap mata.Hingga..
"Terimakasih dek!" mas Wirya langsung beranjak pergi meninggalkanku,aku pun langsung berdiri menuju pintu dan menguncinya.Sungguh aku ingin tertawa, sangat lucu sekali dia.Padahal sih tadi aku sengaja tidak mengunci pintu dan menunggu mas Wirya datang.Untung saja dia segera pergi,jika tidak..aku tak tau apa yang akan terjadi.Wajahnya...lucu sekali! aku jadi gemas ..
Ahh.. harusnya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak.
Ehh..apa ini?kenapa ada tangan anak kecil?
"Farhannn...bikin kaget saja! hampir saja jantungku copot!" aku pun memegang dadaku karena jantungku berdegup kencang.Apa yang dilakukan Farhan disini?
"Maaf kak !"
"Loh .. bukannya kamu bilang tidak bisa masuk ke rumah ini ya?"setahuku si Farhan memang tidak bisa masuk rumah ini,tapi kenapa ada di kamarku?
"Tadi ada kakek di depan rumah yang melihatku ingin masuk ke rumah ini.Aku bilang jika aku ingin bertemu dengan kak Ana, Ternyata kakek itu menolongku untuk masuk ke dalam rumah ini! akhirnya aku bisa ketemu kakak deh!" Farhan tersenyum senang.Kakek siapa?batinku.
"Ya sudah.. jadi apa yang membuatmu ingin ketemu kakak! Bukankah kamu bilang akan menyelesaikan masalahmu sendiri waktu itu?"
"Maafkan aku!aku terlalu semangat waktu itu!"Farhan pun mulai menangis.
"Cup cup sayang..maafin kakak ya?"aku pun memeluk Farhan untuk menenangkannya.
Farhan pun menceritakan apa yang terjadi padanya saat bertemu dengan paman Ridwan. Ternyata Paman Ridwan mempunyai dukun yang sangat sakti ,yang bisa melindunginya dari makhluk gaib seperti Farhan dan lainnya.Farhan tidak bisa mendekati pamannya ,dia hanya mengamati dari jauh karena sang dukun selalu bersama pamannya tersebut.
"Lalu bagaimana dengan keinginan pamanmu yang akan mengambil tumbal di kampung sebelah itu?"tanyaku ragu.
"Itu yang membuatku ingin segera menemui kakak!kak Ana masih mau kan menantuku?"Farhan pun memasang wajah memelasnya.Duhh..imutnya! gemes deh! coba aja masih hidup!
"Tentu saja! kakak akan membantumu sampai tuntas!"
"Jadi kak,minggu depan paman akan mengirim orang-orang suruhannya. Paman akan mengirim anak buahnya sebagai mahasiswa sama seperti waktu kakak datang ke kampungku!"
"Apa?"aku pun semakin semangat untuk membantu Farhan kali ini.Besok pagi aku harus menghubungi mas Jaka.
" Ya sudah,kalau begitu sekarang ijinkan kakak istirahat ya?kakak ngantuk sekali!kamu tetap tinggal di pohon mangga apa pindah kesini?"tawarku pada Farhan.
"Jadi aku boleh tinggal disini kak?"Farhan tampak senang sekali.
" Boleh! jika kamu kuat!"kataku.
Farhan pun mengerti.Aku juga senang jika Farhan tinggal disini.Aku harus segera tidur karena besok pagi memang benar ada kegiatan di kampus.
Oh..kakakku sayang,I love you so much.
Jika hubungan kita mendapat restu seperti ini,pasti tidak akan ada masalah kedepannya.Beda dengan novelku..yang harus melarikan diri demi cinta meskipun pada akhirnya direstui karena terpaksa.