Giovanni El Nino adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pekerja seni di dunia hiburan, namun karena kepribadiannya yang angkuh dan tak acuh terhadap sesamanya membuat sang ayah terpaksa menjadikannya seorang guru di SMA Harapan Bangsa dengan harapan anaknya mengalami perubahan sikap yang lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, kepribadian Nino tidak juga berubah, justru ia menjadi guru yang dibenci oleh murid-muridnya.
*****
Rhodophyta Algavian seorang pemuda yang lugu namun cerdas, selalu menjadi bahan perundungan teman-temannya di SMA Harapan Bangsa.
****
Suatu ketika hal besar menimpa Nino, ia mengalami kecelakaan hebat dan diberikan kesempatan oleh malaikat untuk memperbaiki hidupnya dan berbuat baik dengan masuk ke dalam tubuh Vian dan mengubah hidup pemuda tersebut.
Apakah Nino akan berhasil membantu Vian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat Colongan Vian-Kecurigaan Anna
Dan di sinilah mereka berdua, tepatnya di sebuah taman. Vian sengaja mengajak Anna kemari karena ingin menanyakan suatu hal, namun ia bingung harus mulai dari mana.
“Jadi kenapa kau menghubungiku tadi?" tanya Vian pada akhirnya.
“Aku berniat kabur dari mamaku?" jawab Anna tak yakin.
“Kabur?" beo Vian, Anna mengangguk.
“Apa mamamu melakukan kekerasan terhadapmu?" tanya Vian cemas karena sudah pikiran aneh sudah melintas di kepalanya.
“Tidak, mamaku bukan orang jahat seperti Ibu Tiri Cinderella atau pun Bawang Putih, tetapi mama bersikeras mengajakku ke salon siang ini, dan aku tidak mau," jelas Anna.
“Hanya karena itu, apa kau merasa kesal karena kau harus menunggu untuk waktu yang lama?" tanya Vian lagi.
“Lebih parah daripada harus menunggu berjam-jam lamanya. Pasalnya aku juga akan di makeup dan rambutnya ditata sedemikian rupa," keluh Anna.
“Bukankah itu kegiatan favorit para kaum hawa?" tanya Vian merasa heran. Mengapa Anna tidak mau memoles wajahnya, Vian pikir semua wanita tidak akan bisa hidup jika tanpa makeup.
“Aku tidak terbiasa memakai barang yang selalu dipakai oleh wanita kebanyakan," jawab Anna. Vian hanya mengangguk saja, berdebat dengan Anna menghabiskan banyak waktu.
“Wah, ada Kelinci!" seru Anna riang. Anna segera lari mengejar kelinci-kelinci gembul berwarna putih dan berbulu lembut itu.
Vian hanya tersenyum tipis, tak ia sangka jika Anna bisa bersikap manis dan menggemaskan seperti ini.
Setiap pergerakan Anna tak luput dari pandangan Vian. Dan itu membuat Vian semakin jatuh dalam pesona Anna.
“Jangan melihatku seperti itu, nanti kau jatuh cinta. Dan aku tak ingin kau jatuh cinta padaku, karena aku hanya menganggapmu sahabat, tidak lebih!" seru Anna dari kejauhan.
Nah, kan. Bagaimana mungkin Anna mengetahui apa yang sedang Vian pikirkan, apakah Anna merupakan seorang paranormal?
“Ck, selalu saja merusak suasana," decak Vian.
Merasa bosan, Vian pun melangkahkan kakinya menyusul Anna yang sedang bermain dengan sekawanan Kelinci.
“Lihatlah mereka menggemaskan sekali, coba kau pegang mereka!" ujar Anna menyuruh Vian.
Vian menggendong Kelinci itu dengan memegang telinganya menggunakan satu tangan. Melihatnya cara menggendong Vian membuat Anna membolakan kedua matanya.
“Bukan begitu cara menggendongnya, kau bisa membuat kelinci mengalami cacat!" pekik Anna histeris.
Terkejut dengan suara pekikan Anna sontak membuat Vian langsung melepaskan Kelinci tersebut.
“Bu-bukankah itu tadi sudah benar, di mana salahku?" tanya Vian.
“Itu cara memegang yang salah!" sentak Anna.
“Salah bagaimana? Banyak kok orang yang memegang Kelinci seperti ini," ujar Vian membela diri.
“Akan tetapi, itu masih salah," sentak Anna, lalu memberikan contoh pada Vian cara menggendong Kelinci yang baik dan benar. “Pegang bagian bawah depan dan punggung kelinci seperti ini."
Vian mengangguk, “Oh, seperti itu. Maaf aku baru tahu."
Vian mencoba mempraktikkan apa yang dicontohkan oleh Anna, dan berhasil. Ia bisa menggendong Kelinci itu. Kelinci tersebut tampak nyaman dalam gendongan Vian.
“Sepertinya kau sangat menyukai Kelinci?" tanya Vian sambil memandangi Anna yang masih bermain.
“Karena Kelinci itu hewan yang lucu, makanya aku menyukainya," jawab Anna tanpa memandang Vian, “bagaimana denganmu?"
“Dibandingkan dengan Kelinci, aku lebih menyukaimu saja," jawab Vian dengan sedikit menggoda Anna.
“Begitu? Ha-ha-ha," jawab Anna dengan tawa yang keras, “tetapi, aku tidak menyukaimu."
Nyes
Perih berulang kali dirasakan oleh Vian. Mendengar penolakan Anna yang dilontarkan beberapa kali, kala ia melempar umpan. Apa ini artinya ia harus mundur dan melupakan perasaannya?
Mungkin ini pula yang dimaksud dengan definisi sakit namun tak berdarah.
Vian akui Anna cukup pandai membuatnya merasa nyaman dalam waktu singkat. Akan tetapi, ia juga pandai menjatuhkan harapan Vian dalam sekejap.
“Papa, apa aku harus menyerah saja saat ini?" batin Vian merasa pilu.
“Ayo kita cari makan! Aku sudah mulai kelaparan," ajak Anna.
“Baiklah," jawab Vian pasrah.
Mereka meninggalkan kawanan kelinci tersebut dan mulai mencari kudapan yang sekiranya dapat mengganjal perut mereka. Beruntung mereka menemukan penjual bakso bakar di sekitar taman itu, mereka membeli bakso bakar tersebut.
“Misi Pak, Bakso bakar tujuh tusuk ya!" ujar Anna.
“Siap, Nona. Mau yang rasa apa?" tanya si penjual.
“Mau rasa keju," jawab Anna.
“Siap. Kalau Tuan Muda!?"
“Samakan saja, tujuh tusuk," jawab Vian.
“Siap, Tuan. Rasa apa!?"
“Rasa cinta yang kembali kandas, Pak," jawab Vian.
“Ha-ha-ha.. ada apa Tuan Muda. Tuan Muda sedang patah hati, kah?" tanya si penjual.
“Hati saya baru saja terjun bebas masuk ke dasar jurang, Pak," jawab Vian.
“Yang sabar Tuan Muda, coba lagi saja, kalau ditolak lagi baru cari perempuan lain," ujar penjual itu.
“Belum menemukan yang pas, Pak. Saya baru saja ditolak untuk yang kesekian kalinya," jawab Vian dengan wajah memelasnya.
Sementara Anna hanya mendengus kesal. Ia tahu jika Vian sengaja menyindirnya, tapi mau bagaimana lagi, yang namanya tidak cinta masa harus dipaksa?
“Padahal Tuan Muda itu memiliki paras tampan, loh. Kok tetap ada yang menolak, ya?" tanya penjual dengan nada gurauan.
“Mungkin baginya saya masih kurang tampan jika dibandingkan dengan Cangcimen itu," Vian menjawab dengan asal.
“Ha, Cangcimen. Mana ada orang yang namanya Cangcimen Tuan Muda?" heran si penjual.
“Ada Pak. Dia ini seorang penyanyi katanya, yang kalau menyanyi bisa membuat wanita menjerit histeris," jelas Vian.
“Ada-ada saja gadis zaman sekarang," ujar penjual itu.
“Itulah, Pak," timpal Vian.
“Yang namanya perasaan cinta itu, tidak bisa dipaksakan. Kalau tidak cinta masa harus berbohong bilang cinta, yang ada justru sakit hati, nantinya," celetuk Anna.
Skakmat, Vian mendadak bungkam karena kata-kata Anna yang seolah menampar dirinya.
Penjual bakso bakar itu hanya terkekeh melihat kedua anak muda ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini, Vian dan Anna sedang duduk di sebuah ayunan yang ada di taman tersebut sambil menikmati bakso bakar yang mereka beli.
Sedari tadi Vian terus memandang Anna, dengan gelisah.
“Apa yang ingin kau tanyakan?" ujar Anna tanpa melihat ke arah Vian.
“Bagaimana kau tahu jika ada yang ingin kutanyakan?" tanya Vian sedikit terkejut.
“Gerak-gerikmu sangat terlihat, kau gelisah seperti ingin menanyakan sesuatu, jika ada yang ingin kau tanyakan, maka tanyakan saja," jelas Anna.
“Eum, kau baik-baik saja, kan. Maksudku kau tidak terluka, kan?" tanya Vian.
Anna termenung sejenak mencerna maksud Vian, “Aku baik-baik saja kalau yang kau tanyakan masalah semalam."
“Ah, begitu. Syukurlah aku lega mendengarnya," jawab Vian.
“Terima kasih sudah menolongku semalam, mungkin jika tidak ada dirimu, aku juga sudah babak belur dihajar oleh mereka," kata Anna.
“Eh, aku?" beo Vian sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Ya, semalam kau yang membawaku kabur dari kejaran anak-anak preman itu, dan kau juga yang menghabisinya," jelas Anna.
“Me-memangnya aku melakukan... apa?" tanya Vian ragu-ragu.
“Kau—tidak mengingatnya?" tanya Anna heran.
Keringat mulai mengucur deras membanjiri kening dan pelipis Vian. Sungguh dia tidak mengingat apa pun, karena memang bukan dia yang melakukannya.
Apa yang harus ia katakan pada Anna, haruskah ia berkata jujur? Akan tetapi jika ia jujur pada Anna, Anna akan menganggapnya aneh dan menjauhinya.
Hei, dia belum siap untuk itu. Dia belum siap jika sang pujaan hati menjauh darinya.
“Vian," panggil Anna.
“Ah, iya. Ada apa?" tanya Vian.
“Kau melamun?"
“Tidak—hanya saja aku betul-betul tidak mengingatnya," jelas Vian.
“Tidak mengingatnya?" beo Anna, “kau ini mengidap kepikunan atau bagaimana?"
Vian hanya menggeleng pelan menampilkan raut wajah yang aneh. Ia tak tahu harus berkata apa.
“Biar kujelaskan, kau mengebut semalam untuk menghindari mereka, dan kita bersembunyi di gang sempit. Tidak hanya itu saja, kau juga menemukan tongkat besi dan menyuruhku untuk menghajar mereka dengan tongkat itu, sementara kau menghajar mereka dengan tangan kosong—,"
“— dan terakhir kau membantuku untuk menghajar orang yang tersisa menggunakan tongkat besi itu dengan gerakan Wushu. Aku bahkan tidak tahu, kalau kau menguasai beladiri Wushu," jelas Anna panjang lebar.
“Aku tidak tahu kalau Pak Nino berbuat hingga sejauh itu," batin Vian nelangsa.
“Ada apa dengan Vian. Mengapa ia menjadi aneh dan tak mengetahui apa pun tentang kejadian semalam?" batin Anna curiga.
dah ga kuat hdup di dunia makanya buat ulah dulu sebelum ke alam lain
agak lain nih anak