"Menikahlah denganku, aku akan memberikanmu uang untuk balas dendam. Habiskan semua uang, bahkan semua uang yang ada di rumahku..." Kalimat yang diucapkan oleh seorang pemuda rupawan, dengan tubuh sempurna, mengecup bibirku. Harum parfumnya yang maskulin telah menyatu dengan tubuhku.
Semalam kami memang melakukannya, benar-benar melakukannya. Pria yang paling sempurna di kantor tempatku bekerja, tampan, pintar, karier cemerlang. Apa yang kurang darinya? Kenapa dia mau-maunya tidur dengan si cupu muka jerawatan sepertiku.
Keberuntungan yang gila-gilaan!
*
Namaku Valentino, manager pemasaran. Tidak memiliki ambisi maupun cinta. Tapi ketika gadis berkacamata ini berani menentang dan menamparku di hadapan umum, saat itulah aku sadar. Aku membutuhkan gadis ini, predator yang akan aku bawa ke dalam rumah untuk melawan ayah dan ibu angkatku.
Memberinya cinta, dia akan menjadi kesatria. Sedangkan aku akan memeluknya dari belakang. Itulah aku, yang ingin bersembunyi di bawah rok istriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setidaknya Berusaha
Rumah terbesar yang ada di desa tersebut, itulah rumah sang kades. Halaman yang luas dengan berbagai tanaman bonsai. Sekitar lima orang berada di sana, pegawai-pegawai di warung sembako milik sang kades. Berbagai usaha dimilikinya termasuk penggilingan padi.
Bisa dibilang desa ini sudah didominasi oleh keluarga besar sang kepala desa.
"Hai! Sudah lama menunggu?" tanya Subarjo pada dua orang temannya yang menunggu kedatangannya. Lebih tepatnya rekan-rekannya yang sesama hobi memancing dan berjudi.
"Lumayan..." jawab Diman.
"Dasar! Mentang-mentang punya istri cantik! Gandengan terus!" Arifin tertawa, meminum kopi hitam yang disajikan seorang asisten rumah tangga.
"Punya istri cantik, ya harus dinikmati! Tidak seperti istri kalian yang cuma bisanya jaga anak." Subarjo tertawa kecil, merangkul Dania, kemudian mencium pipinya.
"Sayang... nakal!" Ucap wanita itu manja, memukul-mukul dada bidang suaminya. Benar-benar pasangan serasi, rasa iri hati dan dendam pemicunya.
Bagaimana ini dimulai? Sejatinya karena Dania yang saat itu menganggap Jantayu yang lebih rupawan adalah pilihan terbaik, sehingga menolak mentah-mentah Subarjo sebagai kekasih.
Namun, lambat laun setelah menjalin hubungan dengan Jantayu dirinya menyadari materi juga penting. Pemuda yang tidak bisa diajak bersenang-senang sama sekali, karena berasal dari keluarga tidak mampu. Saat itulah Subarjo hadir kembali, membuatnya memalingkan wajah dari Jantayu.
Rasa dendam dalam diri Subarjo pada Jantayu masih ada mengingat Jantayu yang sempat menjadi pilihan Dania. Karena itu Subarjo ingin Dania membuktikan cintanya dengan membuat Jantayu berhutang 150 juta. Tentu saja, uangnya mereka yang menikmati hasilnya, hanya untuk bersenang-senang. Dendam, rasa iri bercampur menjadi satu, membuat Subarjo benar-benar membenci Jantayu dan keluarganya, walaupun dirinya sudah berhasil merebut Dania.
Wanita yang juga tersenyum tanpa rasa bersalah. Pernikahan termegah di desa ini dengan 2000 undangan 1 tahun yang lalu, semua menggunakan uang yang dipinjam di bank atas nama Jantayu. Anggap saja Jantayu bodoh, atau mungkin terlalu percaya Dania kembali pada dirinya.
Tapi sekali lagi nasi sudah menjadi bubur, ditambah dengan irisan daging sapi Wagyu dan Volgograd yang akan segera datang. Beserta siraman kuah kari lezat, maka akan jadi hidangan restauran ternama.
Itulah yang akan terjadi kali ini, tanpa satu orangpun menyadarinya. Sang pemuda tengah menyetir mobil menuju balai desa, guna menanyakan rumah kepala desa.
"Adiknya Jantayu mau menikah, adikku mendapatkan undangannya. Katanya cuma seratus undangan. Apanya yang menikah dengan orang kaya, palingan juga penipu dari kota." Ucap Arifin memakan kacang goreng.
"Makanya aku bilang, keluarga Jantayu tidak ada yang beres! Mereka itu cuma aib. Syukur-syukur tidak diusir warga kampung sini." Subarjo tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Omong-ngomong adiknya Sita lumayan cantik. Bagaimana kalau aku ajak selingkuh saja? Kalau ketahuan Yusuf kan lumayan bisa cerai terus aku jadikan istri kedua rangkap babu..." Diman tertawa sumbang.
Jantayu keluarga yang paling dibenci Subarjo karena masa lalu Dania yang sempat lebih memilih Jantayu. Matanya sedikit melirik ke arah Dania. Pemuda yang kembali mencium istrinya, kali ini tepat di bagian bibir dihadapan kedua temannya.
"Sayang nanti aku minta uang ya? Untuk beli baju baru? Bajuku sudah banyak yang lusuh." Ucap Dania manja.
"Tentu saja..." Subarjo tersenyum, hendak merogoh dompetnya. Hingga suara yang tidak mereka kenal mengejutkan mereka.
"Id*ot! Aku kesini untuk menagih hutang." Kata-kata dari seorang pemuda yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu. Pintu gerbang dan pintu depan memang terbuka. Menyebabkan ulat karung ini masuk dengan mudah.
Dania membulatkan matanya. Pemuda yang begitu rupawan, terlihat bagaikan orang kantoran. Sudah pasti pemuda dengan dompet tebal, mobil di depan rumah yang terparkir bukan mobil biasa. Namun mobil yang sering dipakai selebriti-selebriti kaya di televisi. Wanita yang menelan ludahnya sendiri, sedikit melirik ke arah suaminya yang memang tidak ada apa-apanya.
Otak Dania kelu sesaat, memikirkan harga mobil yang terparkir di depan rumah. Mungkin saja jika dijumlahkan, totalnya sama dengan seluruh kekayaan yang dimiliki Subarjo.
"Anda siapa ya? Ada perlu apa kemari?" tanya Dania mendekat, tertunduk malu, bagaikan gadis desa lugu.
"Mau menagih hutang! Kamu yang bernama Dania? Lalu siapa yang bernama Subarjo!?" pertanyaan darinya tanpa salam dan adab sama sekali.
"Benar saya Dania." Dania mengulurkan tangannya hendak berkenalan, menyelipkan anak rambut di telinganya
"Saya Subarjo suaminya." Tiba-tiba Subarjo merangkul istrinya. Tapi dengan cepat Dania melepaskan rangkulan tangan suaminya. Tiba-tiba sang merasa risih di depan calon suami masa depannya.
"Kamu yang memukul kakak iparku? Dasar rendah! Badan saja yang besar seperti gajah! Tapi otak sekecil ayam! Bukan! Salah! Seharusnya aku mengatakan otak udang! Karena yang ada dalam otakmu hanya k*toran! Tidak tau diri, jika bisa dibandingkan sampah yang dimuntahkan kucing lebih baik darimu." Mulut berbisa itu benar-benar berucap. Kedua teman Subarjo masuk ke dapur hendak mengambil balok kayu dan parang.
Senyuman di wajah Subarjo menghilang."Kamu calon suami si muka menjijikkan?" tanyanya.
"Muka menjijikkan? Calon istriku lulusan S1 dengan nilai terbaik di angkatannya. Bekerja sebagai staf marketing selama 7 tahun. Memiliki banyak prestasi meskipun aku selalu menghalanginya naik jabatan. Sedangkan istrimu? Apa lulus SMU? Wanita penipu yang hanya bisa menggoda pria kemudian mengambil banyak keuntungan darinya. Aku puji istrimu hebat, tapi kemampuan apa yang kamu punya selain urusan ranjang? Bahkan wanita penghibur di club'malam lebih cantik daripada penampilan istrimu..." Mulut tajam benar-benar berbisa membuat bibir wanita itu kelu sesaat.
"Kamu calon suami Zizy? Aku berteman dengan Zizy." Ucap Dania berusaha menebarkan pesonanya.
"P*lacur!" Senyuman terukir dari bibir Valentino.
Bug!
Subarjo memukul perut Valentino, hingga sempat tersungkur. Kejadian yang disaksikan warga desa yang berada di warung milik kepala desa.
Pemuda yang bukannya gusar. Tapi tersenyum kemudian bangkit."Aku bukan korban, karena aku yang pertama dipukul dan tidak memiliki senjata."
Kalimat yang diucapkan Valentino merenggangkan otot-ototnya. Sudah terlalu lama tidak berolahraga, mungkin seminggu dua kali setelah jam pulang kantor. Pemuda itu akan berlatih taekwondo.
"Sombong!" Subarjo menyerangnya dengan membabi buta. Hendak menghantam tubuhnya. Tapi dengan Valentino menghindar, memanfaatkan ketidak seimbangan dan berat badan pria itu. Memegang pergelangan tangannya, kemudian menendang punggungnya hingga tersungkur. Lengan pria itu dipatahkan olehnya.
"Agghhh!" suara teriakan memekik dari Subarjo. Kejadian yang benar-benar cepat.
Dua orang lainnya datang dengan membawa balok kayu dan golok. Valentino tersenyum, wajah dingin sang manager marketing yang selalu berkata kasar di depan karyawannya.
Dengan cepat memegang pergelangan tangan yang hendak memukulnya dengan balok kayu. Golok yang hendak dilayangkan ke tubuhnya, ditangkis menggunakan tendangan. Hingga golok terjatuh di lantai. Dua orang yang dipukuli olehnya menggunakan balok kayu.
"Hentikan! Atau aku akan melapor pada polisi!" Ucap Subarjo ketakutan. Pemuda itu masih menyeret balok kayu, mencengkeram pipi Subarjo. Sorot mata yang bagaikan berniat untuk membunuhnya.
"Ikan kecil sepertimu ingin memakan predator? Laporkan saja pada polisi, asalkan kalian tidak mati aku tidak akan berurusan dengan hukum, aku adalah korban pengeroyokan disini. Sama seperti kakak iparku yang ada di rumah sakit saat ini. Jadi jika tidak ingin cacat seumur hidup. Tutup mulutmu rapat-rapat. Sampah!" kalimat yang benar-benar mengerikan. Entah darimana sifat ini diwariskan pada Valentino. Apa dari orang tua kandungnya?
"Pa...pak Valent! Ka... kamu tidak apa-apa?" tanya Zizy membawa beberapa orang bermaksud untuk menyelamatkan nyawa atasannya. Namun, dirinya tertegun menatap kenyataan di hadapan.
"Jika menikah dengan orang ini, bukan hanya mulutnya yang kasar. Aku juga bisa mati karena menjadi korban KDRT." Batin Zizy ingin menangis rasanya melihat tiga orang pria yang tidak dapat bangkit dari lantai.
Valentino meletakkan tongkat kayunya."Sudah selesai menyebar undangan? Sebaiknya kita pulang, mungkin adikmu Sita sudah memasak makan siang." Kalimat darinya dipaksakan seramah dan sedatar mungkin.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sukses ya kak💪