Sekuel Hujan dari Langit untuk Bumi + Sold.
#Romcom
#Cerita Ringan
Kisah petualangan seorang gadis mencari 'rumah' yang mampu memberinya kebahagiaan dan bisa menerima kehadirannya.
Kisah remaja dan semua liku percintaan dan juga persahabatan yang diwarnai tangis dan tawa. Hingga sosok Duda tampan masuk dalam kisah Olin.
Hidup Rain, Duda muda nan tampan yang selama ini menutup diri terhadap wanita sejak kematian istrinya, harus porak-poranda ketika bertemu dengan gadis cantik dan selalu ceria di sekolah tempatnya menjadi dokter di UKS sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Merayu
"Gue cabut dulu," ucap Rain bangkit dari duduknya dan memasukkan ponsel ke saku celana. Ibunya baru saja memintanya untuk datang, dia tentu saja mencari alasan untuk menolak, tapi Sky tidak akan semudah itu menyerah atas penolakannya, berbagai bujukan tetap tidak berhasil hingga pada akhirnya diancam dengan tidak akan mau bertemu Rain dalam sebulan ini.
Ingatkan, Sky adalah poros dalam hidup Rain? Dia tidak mungkin membuat ibunya itu bersusah hati.
"Lo baru nyampe, Nyet," ucap Deri menatap kesal. Padahal mereka baru saja berkumpul lagi. Kai bahkan baru tiba lima menit lalu.
"Gue ada urusan bentar, nanti gue balik lagi," jawab Rain tersenyum, sekaligus menenangkan sahabat-sahabatnya.
"Serius, Lo?"
"Iya, kalau ingat," lanjutnya membuat semuanya kesal.
Sky tidak mengatakan alasan Rain dipaksa pulang. Dia hanya mengatakan Rain harus segera pulang ke rumah, ada hal penting yang ingin Sky sampaikan.
"Nanti aja deh, Ma. Ini baru ngumpul sama teman," jawab Rain menolak.
"Gak bisa, ini penting banget. Mama sampai bingung harus menyampaikan gimana," sambar Sky cepat. Kening Rain yang me dengar tentu saja mengkerut. Apa yang sudah terjadi, mengapa ibunya tampak sangat misterius, suaranya pun terdengar begitu cemas.
"Kalau begitu, nanti malam aku pulang," putus Rain.
"Gak bisa Rian! Harus detik ini juga kamu pulang. Kalau kamu gak sampai setengah jam lagi, mama gak akan mau ketemu sama kamu sebulan ini!" Sky sudah menutup teleponnya. Dia yakin, putranya itu akan datang.
Rain tiba di rumah, tepat hanya setengah jam waktu tempuh yang dia pakai. Entah sudah seperti apa tadi dia menyetir di jalanan.
"Ada apa Mama?" Rain langsung mencecar Sky yang ada di ambang pintu dapur.
"Anak Mama sudah datang. Kamu memang selalu menjadi anak kesayangan Mama yang paling the best," sambut Sky tersenyum.
"Maaaaa...,"
"Oke fine," jawab Sky kala tahu maksud panggilan mama dari Rain lengkap dengan raut wajah kesalnya itu. "Mama mau minta tolong kamu antarkan Olin pulang," jawab Sky memundurkan tubuhnya agar Rain bisa melihat Olin yang sedang duduk di kursi makan.
Rain dan gadis itu saling laga pandang untuk beberapa menit sebelum Rian mengalihkan tatapannya saat gadis itu menarik bibirnya mengembangkan senyum dan memperhatikan barisan giginya yang putih.
"Ma-" pekik Rain menghela napas. Ini yang dimaksud mamanya hal penting? Dia sampai memangkas waktu tempuh hanya ingin cepat sampai ke rumah ini karena begitu khawatir pada ibunya. Dan ternyata, hal penting yang dimaksud justru untuk mengantarkan gadis ingusan itu?
"Apa? Menurut mu Olin bukan hal penting? Gimana kalau dia kenapa-napa di jalan? Siapa mau tanggung jawab?"
Rain menyerah. Tidak mungkin menang beradu argumen dengan Sky, bisa seri aja syukur.
Malas mendebat, Rain akhirnya mengalah, segera menuju mobilnya. "Olin, cepat masuk mobil Rain. Makasih ya, Sayang udah datang," ucap Sky mengantar Olin sampai depan pintu rumah, mengecup pipi Olin sebelum dihantarkan masuk dalam kandang singa.
***
Makasih udah mengantar ku, Om," ucap Olin memecah keheningan. 10 menit berjalan, keduanya hanya diam, dan Olin merasa kaku sekaligus basi. Bukankah dia menunggu momen ini? Kapan lagi mereka bisa berduaan? Kalaupun dia bisa mencuri waktu melihat Rain di UKS, itu hanya beberapa menit saja.
Bisa ditebak, Rain pastinya tidak akan mau menjawab. Pria dingin itu hanya fokus menyetir. Olin mungkin sudah geger otak, dikacangin seperti itu, gadis itu makin menyukai Rain, yang baginya sangat menggemaskan.
"Om, ajak aku ngomong dong, jangan diam aja," ujar Olin memutar tubuhnya menyamping hingga bisa menatap Rain. Terus memberikan tatapan memuja pada Rain. "Om kenapa sih cakep banget? Kalau gini, aku kan jadi jatuh cinta sama, Om," lanjutnya menggigit bibir bawahnya, sungguh gemas ingin sekali menyentuh dada bidang Rain. Hari ini pria itu memakai kaos biru langit yang membuat kulit putih semakin bersinar dan juga semakin tampan.
Kutub Utara juga kalau terus diserang terik panas matahari akan meleleh. Sama halnya dengan Rain, ucapan gadis itu mampu membuatnya gerah. Terlebih sikap gadis itu yang begitu frontal mengungkapkan isi hatinya membuat Rain mati kutu.
"Apa sedikit saja bocah ini gak punya malu?" batinnya tanpa berani menoleh ke samping.
Merasa dicuekin, jemari Olin segera bergerilya, menarik selembar tisu, lalu mulai menyeka kening Rain. Padahal pendingin di mobil itu berfungsi dengan sangat baik tapi dia bisa gugup kegerahan seperti itu.
"Apa yang kau lakukan?" hardik Rain terkejut Olin menyentuhnya, lalu mengerem mobilnya tiba-tiba.
"Apa? Aku cuma menyeka keringat Om aja," jawab Olin nyengir.
Rain jadi mingkem. Mau bilang apa tadi dia, kenapa lupa? Tatapan mata gadis itu mengalihkan sadarnya. Bola mata gadis itu begitu indah.
"Jangan melakukan hal yang tidak penting, aku lagi menyetir!" tukas Rain melanjutkan perjalanan.
"Kalau begitu, ajak aku ngomong. Aku bosan. Kenapa sih Om gak suka ngomong sama ku? Asal Om tahu ya, di sekolah banyak anak cowok yang ingin ngajak aku ngobrol, aku nya aja yang malas. Harus Om senang aku ajak Om ngobrol," celoteh nya seolah tidak ada habisnya.
"Kamu bisa diam, gak?" jawab Rain menoleh pada Olin yang sejak tadi berkotek seolah tiada lelah.
Olin mingkem. Tapi itu hanya persekian detik, lalu kembali membuka mulutnya. "Om, aku lapar," jawabnya spontan kala melihat rute jalan yang sebentar lagi akan sampai di rumahnya.
Tidak ada tanggapan. Olin jadi kesal dicuekin terus. Dia tidak akan melepaskan Rain, yang menjadi cinta pertamanya ini. "Om!" pekik mencubit pipi Rain tiba-tiba, dan lagi hasil dari perbuatannya itu, Rain jadi oleng, hingga membuat laju mobil zig-zag.
Rain ingin membentak, tapi melihat wajah Olin yang ketakutan membuatnya jadi tidak tega. Rain berpikir, mungkin kalau dia dengan cepat menuruti kemauan gadis itu, maka akan semakin cepat pula dia terbebas dari nya.
"Kau kan bisa makan di rumah. Kalau kau diam, duduk manis, kita juga akan cepat sampai," terang Rain mencoba menahan emosinya. Berupa bicara seolah pada anak kecil.
Dia tidak tahu saja, justru itu yang Olin takutkan. Sampai rumah tanpa ada kenangan yang dia bangun bersama Rain hari ini.
"Aku mau makan bakso. Temani aku, ya," pintanya tersenyum. Semakin sering di dekat gadis itu, Rain merasa dirinya semakin lemah. Tidak bisa menolak hanya karena melihat wajah, bola mata indah dan senyum yang semakin membuat wajah Olin mempesona.
"Mau makan bakso dimana?" tanya Rain kemudian.
"Jalan aja, nanti aku tunjukkan," jawab Olin gembira.
Baru mengatakan hal itu 10 menit, mereka sudah tiba di warung bakso pinggir jalan yang tidak jauh dari sekolah Olin.
"Itu Sayang," ucapnya yang membuat Rain mendelik menatapnya. Berani sekali Olin memanggilnya sayang, hamya karena disetujui makan bakso.
"Maksud aku, itu warung baksonya, Sayang namanya," ralat Olin tertawa renyah, geli melihat wajah Rain yang memerah.
padahal udah lama slalu ngecek tapi gx ada sampai sekarang.
itukan masalalu gue udah baca di judul Mak bapaknya,,
lanjutin ceritanya Olin dong thor
lanjut donk cerita olin'a
kamu sehat kan thor nggak sedang sakit kan ????
semoga sehat selalu thor ku tunggu up nya