NovelToon NovelToon
Bima

Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:351.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Sekuel dari novel Abang Penjual Sate, Imamku dan Ibu pengganti. Selamat membaca.

Seorang bayi yang masih merah, terlempar ke dalam jurang yang dalam. Ia ditemukan oleh wanita paruh baya, istri seorang preman pasar yang disegani. Ia dirawat sepasang suami istri itu dengan penuh kasih sayang walaupun cara didikan keduanya berbeda. Bayi itu diberi nama BIMA.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki wajah hampir serupa dengannya. Dengan mempercayai sebuah mitos bahwa jodoh itu pasti memiliki kesamaan, keduanya pun menjalin hubungan pertemanan.

Namun, hal itu membuat ayah angkat Bima ketakutan. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung dan menetap di kota. Hal itu membuat mereka harus mempelajari cara hidup di lingkungan baru itu.

Sampai sebuah pertemuan tak terduga terjadi, menguak siapa sesungguhnya Bima.

"Kak, kenapa wajah kita terlihat sama?" Gadis misterius.

"Kata Nyak gua kalo muka kita mirip ntu artinya kita jodoh. Neng, lu mau kagak jadi bini gua?" Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 18

"Pamit dulu, Nyak, Babeh. Assalamualaikum!" Bima mengayuh sepedanya di jalanan. Semangat belajar yang terus berkobar menjadikannya yang terdepan. Tak tertinggal apa pun dan selalu update setiap apa yang terjadi di sekolah.

Setelah pembegalan di tengah jalan itu, tak ada yang berani mengancam apalagi melawan Bima. Ia bahkan tak segan menegur mereka yang sering melakukan penindasan. Bersahabat baik dengan Revan, tanpa gangguan apa pun.

"Bima, Ayah dan Ibuku mengundangmu ke rumah. Apa kau bersedia datang? Mereka sangat ingin mengenalmu," ujar Revan ketika jam istirahat dan mereka berdua duduk di bangku taman sekolah.

"Aku tidak tahu sampai aku meminta izin orang tuaku. Sepertinya, tidak hari ini karena aku harus membantu Ibu, tapi kapan-kapan aku pasti akan memenuhi undangannya." Bima tersenyum, menampakkan lesung pipinya yang kecil di kedua sisi bibirnya.

Revan tetap menganggukkan kepala meskipun kecewa, tapi ia juga tidak dapat memaksa karena itu adalah hak orang lain menolak atau menerima.

"Bagaimana kalau kau yang berkunjung ke rumahku? Ibuku pasti senang. Aku selalu bercerita tentangmu. Bukankah kau bisa meminta izin pada ayahmu lewat supir yang selalu menjemput?" saran Bima penuh harap.

Ia menunggu, Revan berpikir. Menimbang dalam hati tawaran dari Bima.

"Aku akan mencoba." Bima mengangguk. Bel masuk berbunyi. Keduanya beranjak meninggalkan bangku taman sekolah ikut berdesakan dengan yang lain.

******

Bima mengayuh sepedanya menuju rumah, setiap hari selalu seperti itu tak jemu ia melakukannya. Ia sosok yang disenangi teman dan para tetangga, juga semua orang yang ia jumpa. Di belakangnya duduk dengan takut Revan yang akhirnya menerima tawaran Bima untuk berkunjung ke rumah setelah diizinkan ayahnya.

Ia memeluk erat pinggang anak yang mengayuh sepeda di depannya tanpa lelah dengan kuat. Menyembunyikan wajah di punggung Bima yang terpejam ketakutan.

"Apa kau tidak bisa pelan-pelan saja mengayuhnya? Aku takut!" pekiknya terbawa udara yang menerjang.

Bima tersenyum, kakinya bergerak semakin cepat mengayuh. Kedua tangan yang melingkar di pinggangnya semakin mengerat.

"Kau harus melawan rasa takutmu mulai hari ini, Revan! Jangan biarkan dia menjadi kelemahanmu!" ucap Bima tak peduli pada gemetar yang ia rasakan di tubuh bagian bawahnya.

Anak itu, mungkin saja meneteskan air mata karena tak biasa menaiki sepeda.

"Bima-"

"Diamlah! Cukup berpegangan yang kuat dan jangan pernah kau lepaskan kedua tanganmu itu!" tukas Bima dengan cepat.

Bibirnya membentuk senyuman, sebuah kesenangan sendiri baginya menggoda sahabatnya itu. Sepeda melambat saat memasuki kawasan kontrakan di mana Bima tinggal.

Bima menyapa Ibu-ibu yang selalu berkumpul di pos kamling dekat tempat tinggalnya. Pelan-pelan Revan membuka matanya ketika ia merasakan laju sepeda yang melambat. Pegangan tangannya pada pinggang Bima pun mengendur, tatkala sepeda semakin melambat.

Ada bau khas yang menyeruak di udara begitu sepeda mulai berhenti. Bima turun, bocah itu masih memegangi sepedanya menunggu Revan turun. Bocah itu tertegun sejenak sebelum menggerakkan kakinya menuruni sepeda.

"Kau membuat jantungku serasa mau lepas. Aku tidak terbiasa kau tahu?" sungut Revan sembari memegangi dadanya yang kembang-kempis.

Terkekeh tanpa dosa Bima melihatnya. Ia membenarkan posisi sepedanya sebelum mengajak masuk anak gedongan itu.

"Mulai hari ini kau harus membiasakan diri," katanya enteng sambil melengos. Duduk membuka sepatu dan meletakkannya di rak.

"Buka sepatumu dan letakkan di sini!" Ia beranjak dan mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum! Nyak, Bima pulang!"

Revan termangu mendengar panggilan Bima untuk Ibunya. Tersenyum ditahan, sebutan itu terdengar lucu di telinganya.

"Wa'alaikumussalaam ... eh, anak Nyak udah pulang." Tina membukakan pintu, memeluk tubuh Bima usai disalami anaknya itu. Ia tertegun melihat anak lain berdiri di belakang tubuh Bima.

"Ngapa lu kagak bilang kalo bawa temen?" bisiknya di telinga Bima. Ia tersenyum saat melempar pandang pada anak itu lagi. Mengurai pelukan dan menghampiri Revan yang masih berdiri di teras tanpa alas kaki.

"Hallo, apa kau temannya Bima? Saya Tina, ibunya Bima." Tina mengulurkan tangan hendak berjabat dengannya.

Revan tersenyum, menyambut tangan Tina dengan pelan.

"Revan, Tante. Namaku Revan," katanya membalas senyum Tina yang tersemat sejak melihatnya. Ia beranjak dan mengelus kepala anak itu sebelum mengajaknya masuk.

"Baiklah, Revan. Silahkan masuk! Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri karena memang tidak apa-apa di rumah Bima." Ia terkekeh, "kalian pasti lapar, Ibu sudah memasak untuk kalian," ujarnya sambil mengajak kedua anak itu memasuki rumah.

"Ibumu ramah sekali," bisik Revan di telinga Bima. Bocah tengil itu tersenyum bangga, tanpa berucap ia menepuk dadanya yang membusung. Nyak gua! Dalam hati.

"Bima, ganti baju dulu, gih! Ajak sekalian temanmu itu!" Suara Tina memerintah segera dilaksanakan Bima tanpa mengulur waktu. Bima meminjamkan bajunya kepada Revan.

"Apa tak apa aku memakai bajumu?" Bima menggeleng. Keduanya duduk di atas lantai berhadapan dengan berbagai macam menu sederhana ala Tina.

"Ini semua Nyak aku yang buat. Sekali kau cicipi, tak akan berhenti mulutmu mengunyah," katanya jumawa. Tina tersenyum, merasa senang karena Bima memuji dirinya di hadapan orang lain.

Keduanya makan dengan lahap, hampir menghabiskan nasi sebakul saking enaknya. Bocah gedongan itu bahkan nambah dua kali dari porsi biasanya.

"Mmm ... ini enak. Aku belum pernah memakan masakan seperti ini," katanya setelah menghabiskan sisa nasi di piring, "ternyata lebih nikmat jika makan tanpa sendok," ucapnya lagi menjilati jari-jari yang dipenuhi bumbu dan sambal. Tina dan Bima saling pandang dan tersenyum.

"Sambalnya juga enak, ada baunya, tapi aku suka. Kenapa masakan Tante bisa seenak ini?" Terus saja mengoceh tanpa henti memuji masakan Tina yang baru saja mendarat di lidahnya.

"Kalau kau suka, kau boleh makan di sini setiap hari," ucap Tina yang disambut binar bercahaya dari matanya.

"Benarkah?" Tina mengangguk meyakinkan. Kedua bocah itu membantu Tina membereskan bekas makan mereka.

"Biar Bima yang nyuci, Nyak." Bima berjongkok di dalam kamar mandi. Tangannya menari dengan lincah memainkan spon di piring.

Ia mengajak Revan bermain bersama teman-temannya seusai melakukan tugas rumahnya. Mengerjakan tugas sekolah sampai sore menjelang.

"Nyak, Bima mau antar Revan pulang, ya. Udah sore," pamit Bima pada Tina. Sayang, anak itu sepertinya tak ingin pulang. Namun, teringat akan pesan sang Ayah ia harus pulang saat sore.

"Hati-hati!"

Dengan mengayuh sepeda, Bima mengantarkan Revan ke rumahnya. Butuh waktu setengah jam lamanya sampai mereka tiba di perumahan tempat tinggal Revan.

"Wah ... apa kau tinggal di sini? Rumah di sini besar-besar dan bagus-bagus!" pekik Bima mengagumi deretan rumah besar dan megah di sepanjang komplek tersebut.

Revan tak menyahut, ia hanya tersenyum dan terus menunjukkan Bima jalan menuju rumahnya.

"Kau harus masuk ke rumahku, Bima. Aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku," ajaknya memohon.

"Maaf, Revan, tapi Nyak menyuruhku langsung pulang. Lain kali saja, ya. Sana masuk! Aku akan langsung pulang saja," ucap Bima penuh sesal.

Kecewa jelas tergurat di wajahnya. Namun demikian, ia tetap melangkah masuk melewati gerbang. Bima tersenyum, mengangguk kecil sebelum menaiki sepeda. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil datang memasuki gerbang yang sama dengan yang dilalui Revan.

"Bima!" gumam Dewa yang kala itu menjadi supir majikannya.

Dikayuhnya sepeda itu, rumah Revan sungguh menarik hatinya. Ada sesuatu yang tak asing ia rasakan saat melihat rumah besar tersebut membuatnya ingin terus datang memenuhi panggilan yang ia sendiri tak tahu apa itu. Ada apa dengan rumah tersebut?

1
菲菲 Dwi L Arema
G ingat cp dia dlu
菲菲 Dwi L Arema
Dari dlu kenapa aulia ttp bego thor
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
udah bikin aku yg pilek tambah 🤧 ,🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
lah salah bully, anak sultan itu
habis kau Yola dkk 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
si Akmal kenapa jadi arogan begini 😫
🌹🪴eiv🪴🌹
ya Allah, Ibrahim di gondol anjing 😫
Alhamdulillah masih hidup 🤗
Christina Dariyem
Ya Allah mulianya hati ni orang sekeluarga nyesek banget
Aisy Hilyah: Alhamdulillah
total 1 replies
Christina Dariyem
Sedih banget ampe ikutan mewek dada nysek jg
Aisy Hilyah: terima kasih sudah membaca
total 1 replies
Christina Dariyem
cerita ya bgs banget saya suka sekali baca ini
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Mareew
alur. kisah nya.. semua bagus
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
Mardiati Badri
good enough
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Karmilah Milah
lanjut lagih dong cerita bima seru untuk di baca ngabu burit
Aisy Hilyah: Alhamdulillah hehe terimakasih banyak
total 1 replies
Sri Juliani
akh..ngapa athor begitu romantis dan puitis islami..semoga..bima membawa oran yg dapat menyejukan pembaca...
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Sri Juliani
lama benar author tuk buat tes DNA.ya
Sri Juliani
mudah2 babeh mau berlapang dada..menerima kenyataan yg akan terjadi,jgn sampai karena ke egoisan nyak dan babeh bima jadi benci..
Sri Juliani
hati2 pak dewa..takutnya terjadi percintaan sedara,ayyra ingatkan adikmu,ceritakan pada nassya,agar dia tahu bahwa dia punya kakak laki2..
Yurniati
extra part thorr
Aisy Hilyah: hmm nanti dipikirin lagi hhe
total 1 replies
Yurniati
lanjut thorr
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
sri mindaryati
pas bima ngrokok maskernya dibuka apa ga ya
Aisy Hilyah: dibuka masa dilubangi kayak si kakek 🤭
total 1 replies
Uliana Takbir
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!