Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Kini Laila, Devano dan Adam sudah berada di dalam mobil jemputan. Ke dua orang tua angkat Devano sengaja menyuruh supir mereka untuk menjemput Devano.
Dan saat ini Devano sedang berusaha keras membujuk Laila agar mau pulang ke rumah nya, tapi sebelum nya Devano ingin mengajak Laila untuk pergi ke rumah orang tua angkat nya.
"Laila, bagimana kalau kalian menginap saja di rumah ku?"
Laila langsung menggelengkan kepalanya mendengar tawaran dari Devano, walau bagaimanapun juga mereka tidak ada hubungan apa pun. Rasanya tidak pantas kalau harus tinggal serumah.
"Maaf Kak, aku rasa aku akan merasa lebih nyaman kalau tinggal di rumah orang tua ku."
Devano kenapa kecewa sekali mendengar jawaban dari Laila, padahal dia ingin memanfaatkan momen liburan ini untuk bisa bersama dengan Adam dan juga Laila.
Namun, Devano tidak mudah berputus asa. Dia langsung menolehkan wajahnya ke arah Adam, dia berpikir akan lebih mudah jika merayu anak itu.
"Boy, kamu nggak mau ikut sama Om?" tanya Devano pada Adam, yang di tanya malah tersenyum dengan sangat manis.
"Maaf Om, aku mau nya ikut sama ibu aja. Tapi besok kalau Om sempat, aku ingin jalan jalan sama Om. Bisa?"
Wajah Devano langsung sumringah mendengar apa yang dikatakan oleh Adam, karena itu artinya selama di Pulau k ada kesempatan untuk dirinya bisa bersama-sama dengan Adam dan juga Laila.
"Tentu Boy, besok siang Om pasti ke rumah kamu. Baiklah Laila, sekarang tunjukan jalan menuju rumah ke dua orang tua mu biar pak supir tak salah jalan."
"Iya Kak," jawab Laila pada akhirnya.
Dia sangat tahu jika untuk bepergian memerlukan mobil atau angkutan lainnya, sedangkan di sana dia tidak memiliki mobil. Jika Devano akan datang untuk mengajak Adam jalan-jalan, rasanya itu akan lebih baik.
Laila pun menunjukan alamat rumah nya, setengah jam perjalanan mereka pun sampai di rumah yang sederhana.
Rumah yang lumayan besar, tapi rumah nya setengah bangunan nya dari tembok dan setengah bangunan nya lagi terbuat dari kayu.
Seperti nya rumah itu sangat terawat, karna saat Laila melihat nya. Rumah itu masih nampak sama saat Laila pergi meninggal kan nya, Laila pun menghampiri rumah tetangga nya dan meminta kunci rumah tersebut.
Dengan senang hati tetangga nya yang bernama Pak Man langsung memberikan kunci rumah nya pada Laila, dengan perlahan Laila membuka kunci pintu nya dan membuka pintu itu.
'YanTuhan, sudah lama sekali rumah ini aku tinggalkan.'
Mata Laila langsung berkaca kaca, dia merasa sangat bersalah terhadap ke dua orang tua nya. Andai saja dia tak berhubungan dengan orang terkaya di kota nya, bahkan bisa di katakan jika mereka orang ternama di dalam negri.
Mungkin nasib Laila tak akan seperti ini, kehilangan orang tua dengan begitu cepat, di usir bahkan di cibir.
Sedangkan Adam terlihat sangat bahagia, anak tampan itu berlari ke sana ke mari sambil sesekali memperhatikan foto foto yang terpajang cantik di setiap ruangan.
Devano yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Laila, langsung memeluk nya dan mengusap lembut punggung Laila.
"Kamu kenapa sedih Laila? "
Laila pun berusaha melepaskan pelukan Devano, dia tak mau jika nanti nya akan ada salah paham di antara mereka.
Baru datang dan tiba-tiba digerebek warga karena disangka mesum akan aneh rasanya, Laila tidak mau itu terjadi. Cukup dulu saja dia pernah melakukan satu kali kesalahan.
"Aku hanya sedih saja," ucap Laila seraya mengusap air mata nya.
"Kalau dengan berdiam di sini membuat mu sedih, bagaimana kalau kamu dan Adam menginap di rumah ku saja?"
Devano masih saja berusaha untuk merayu Laila, tapi wanita yang sudah memiliki anak satu itu dengan tegas menolak ajakan dari Devano.
"No, kita tak ada hubungan apa apa. Aku tak mau jika nanti nya akan terjadi kesalahpahaman di antara kita," ucap Laila tegas.
Devano nampak kecewa, tapi dia sadar jika mereka memang tak memiliki hubungan apa pun. Dia tak boleh memaksakan kehendaknya terhadap wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Besok saat jam makan siang tiba, aku akan kembali sini. Aku rindu masakan mu Laila," ucap Devano seraya terkekeh.
Laila pun tersenyum, dia lebih baik memasak untuk Devano makan, daripada dia harus tinggal di rumah pria itu dengan tidak ada status di antara keduanya.
"Sepertinya mulai besok aku harus melamar kerja di rumah mu Kak," ujar Laila.
"Untuk apa kamu bekerja di rumah ku?"
"Untuk jadi asisten rumah tangga, biar setiap hari Kakak bisa merasakan masakanku."
Devano merasa tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Laila, dengan cepat pria itu pun menegur ibu dari anak satu tersebut.
"Hust, ngaco kamu. Aku akan sangat senang jika kamu melamar menjadi istri ku, "jawab Devano.
Laila nampak terpaku dengan ucapan Devano, sedangkan Devano nampak sedang menyelidik raut wajah Laila.
"Laila?"
"Eh, maaf Kak. Aku malah melamun, Kakak pulang sanah. Aku mau istirahat, aku lelah."
Devano pun langsung kecewa, ternyata nama nya tak sedikit pun terlintas di hati Laila pikir nya. Terbukti dari wajah Laila yang nampak kaget dan sangat terlihat jika Laila tak menyukai nya dari sorot mata nya itu.
Namun, dia sangat sadar kalau pertemuan mereka belum lah lama. Laila juga seperti punya trauma di masa lalunya, pasti akan sama sulit jika ada pria yang mendekati wanita itu.
"Baiklah," ucap Devano, pandangan mata nya pun tertuju pada Adam. "Boy, Om pulang dulu. Besok Om ke sini lagi, kita jalan jalan."
Adam pun langsung berlari dan melompat ke dalam pelukan Devano, anak itu terlihat begitu bahagia saat bersama dengan Devano.
"Thank you Om, kamu selalu menjadi orang yang terbaik untuk kami."
"Hem, Om pulang. Jangan lupa kasih kabar kalau ada apa apa, Ok?!"
Adam pun mengangguk, Devano pun langsung mencium kening Adam dengan sayang. Laila yang menyaksikan kedekatan mereka pun langsung tersenyum, Devano pun pergi setelah itu.
Selepas kepergian Devano, Laila langsung masuk ke kamar nya. Nampak sama dan begitu terawat, bahkan saat dia membuka laci nakas pun, Laila masih menemukan foto kebersamaan nya dengan Arkana.
"Mas, kamu apa kabar. Aku selalu rindu sama kamu, kamu tahu? Anak kita sudah besar, dan juga begitu tampan seperti mu. Semoga kamu selalu bahagia, tanpa aku tentu nya." Laila berucap dengan lirih, tak lama kemudian dia mengucap air matanya.
Adam yang hendak menghampiri ibu nya malah mengurung kan niat nya, dia malah penasaran dengan apa yang di pegang oleh Laila.
Tak lama Adam melihat jika Laila menyimpan foto ke dalam laci nakas, Adam pun berniat akan melihat nya nanti jika ibu nya sedang tak ada.
'Aku harus tahu foto siapa yang disimpan oleh ibu di sana,' ujar Adam dalam hati.
*
Keesokan hari nya, Devano benar benar datang ke rumah Laila. Dia pun datang tepat di saat Laila dan Adam hendak makan siang, Laila pun langsung mempersilahkan Devano untuk makan bersama.
Devano nampak senang dan langsung makan dengan lahap, padahal Laila hanya memasak ikan goreng, sambel terasi dan lalap daun singkong .
Tapi bagi Devano, makan apa pun jika Laila yang memasak nya sudah sangat enak dan tentu nya spesial.
"Makanan yang kamu buat itu selalu enak, Laila." Devano berkata dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Laila hanya terkekeh melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Devano, dia tak bisa memberikan komentar apa pun dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Selsai makan siang, Devano mengajak Laila dan Adam untuk jalan jalan. Tapi Laila menolak, akhirnya Adam lah yang pergi dengan Devano.
Saat di perjalanan, Adam pun bertanya pada Devano. Karena anak itu terlihat begitu penasaran sekali.
"Om akan mengajak aku ke mana? "
"Kamu mau nya ke mana? "
"Om, boleh kah aku bertanya? "
"Boleh dong Boy, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Emmm,, sodara Om itu sekarang tinggal di mana?"
"Siapa? Maksud kamu adik Om? "
"Hem em," jawab Adam dengan deheman saja.
Anak itu lucu sekali, terkadang bersikap seperti orang dewasa, terkadang bersikap seorang pebisnis besar yang tidak bisa diganggu, terkadang bersikap seperti anak-anak pada seusianya.
"Dia di rumah Om, kata mama nya Om. Dia selalu mengamuk kalau di rumah utama, jadi dia di bawa ke rumah Om agar lebih tenang."
"Apa dia sakit?"
"Bisa di bilang seperti itu, kamu mau bertemu dengan nya?"
Devano sebenarnya merasa aneh kenapa Adam terus saja bertanya tentang adik angkatnya, tetapi dia juga tidak bisa menahan Adam yang ingin bertemu dengan adik angkatnya tersebut.
"Mau Om," jawab Adam Cepat.
Devano pun langsung tersenyum, dia pun langsung melajukan mobil nya menuju kediaman nya. Tak lama sampailah mereka di sebuah rumah yan terlihat begitu besar, Adam pun terlihat sangat kagum saat melihat rumah Devano.
"Suka sama rumah Om? "
"Suka Om, di mana adik nya Om? "
"Kamu ternyata orang nya memang tak sabaran, dia ada di taman belakang bersama dua orang perawat nya. Ayo."
Devan pun mengajak Adam ke taman belakang, tatapan Adam langsung tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di bangku taman dengan tatapan kosong.
Pria itu terlihat sangat tampan walau badan nya terlihat kurus, namun di wajah nya terlihat jika dia begitu tertekan. Dia seperti memiliki trauma yang begitu besar yang sudah terjadi di dalam hidupnya.
Adam pun melangkah kan kaki nya ,dia menghampiri lelaki yang sedang duduk terpaku itu. Adam pun kini sudah berdiri tepat di hadapan nya, Adam memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah.
'Dia begitu mirip dengan ku, aku harus segera mencari tahu kebenaran nya. Aku ingin tahu, apa kah dia Ayah ku atau bukan?'