Haiii semua.. Ini Novel karya pertamaku.. Mohon dukungannya ya, semoga kalian suka alur ceritanya. 🙏🙏
Ini menceritakan tentang romansa cinta anak sekolah. Kisah cinta yang penuh dengan berbagai perasaan.
Menceritakan seorang gadis remaja lugu dan apa adanya yang tiba-tiba menjalani kehidupan yang sangat rumit.
Febhia Putri Kusuma gadis remaja berusia 16 tahun ini tinggal bersama kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya. Febhia menjalani kehidupan gadis remaja pada umumnya, hingga suatu ketika dia mengalami sebuah situasi dimana kedua orang tuanya harus berpisah.
Dan disituasi yang bersaam Febhia harus mengalami penghianatan dari sahabatnya. Hidupnya makin rumit dan membuatnya putus asa. Cinta pertamanya berpaling darinya. Febhia merasa semua yang ia cintai mulai menghilang perlahan-lahan.
Mau tau kelanjutan ceritanya?? ayoo baca Novel pertamaku ini.. Mohon dukungannya ya.. ❤️❤️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Arida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Study Together
****
" Thanks Yo " Ucap Bhia sambil memasang sabuk pengamannya.
" Iya. "
Mobil Gio pun melaju, dan sesekali Gio melirik ke arah Bhia, ia melihat masih ada sedikit bercak kemerahan pada wajah dan tangannya.
" Serius lo nggak apa-apa? " Tanya Gio yang mencemaskan Bhia.
" Iya nggak apa-apa, tenang aja. "
" Udah lo minum obatnya?"
" Udah sih yang semalem, kalo yang pagi nggak gue minum takut ntar gue ngantuk di kelas."
" Lo kan bisa istirahat di UKS, Udah minum aja."
" Ntar aja lah, balik sekolah."
Gio sedikit kesal dengan Bhia, ia mencemaskan keadaanya namun Bhia terlihat begitu santai dan tidak mau mendengarkan saran dari Gio. Ia pun memasang wajah yang dingin lagi terhadap Bhia. Lalu Bhia menyadari ekspresi wajah pria di sampingnya yang mendadak terlihat lebih seram dari kemarin. Bhia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menatap ke arah jendela. Sesampainya di kelas Bhia menaruh tasnya dan berjalan ke luar kelas, sebenarnya ia ingin ke toilet tapi dengan sigap Gio mencegahnya. Gio mengira Bhia ingin ke kelas IPA 2.
" Apa sih Yo? " Tanya Bhia yang heran karna tiba-tiba Gio menghalangi jalannya.
" Lo mau kemana? Mau keluyuran ke IPA 2? Mau cari perhatiannya Fero, biar dia liat muka lo yang udah kayak kepiting rebus ini? " Tanya Gio yang membuat Bhia sangat kesal.
Bhia menghela nafas sambil mengelus dadanya, agar ia bisa lebih sabar menghadapi pria yang ada di hadapannya itu.
" Gue mau ke toilet..!" Jawab Bhia sambil mendorong tubuh Gio yang berada di depannya itu.
Gio pun kembali duduk ke bangkunya. Pelajaran pun di mulai, Bhia juga sudah kembali dari toilet. Saat pelajaran kedua tiba-tiba saja Guru yang mengajar memberikan pengumuman bahwa hari ini kelas akan di sudahi dan murid-murid bisa pulang lebih awal karna para Guru akan menghadiri rapat. Bhia yang senang mendengarnya lalu bergegas membereskan mejanya, memasukkan buku ke dalam tasnya dan berjalan dengan cepat keluar kelas. Gio yang masih sibuk merapikan peralatan sekolahnya tidak menyadari Bhia sudah keluar dari kelas. Ia melihat sekeliling dan tidak mendapati sosok Bhia. Gio yang khawatir dengan insting yang kuat dia berlari menuju kelas IPA 2. Benar saja ternyata Bhia ada disana. Saat Gio masuk ke kelas IPA 2, Bhia, Alin, Raisa dan Fero yang berada di sana menatap Gio dengan heran. Karna Gio berlari jadi sesampainya disana nafasnya tak beraturan dan ada sedikit keringat yang mengalir di pelipisnya.
" Lo kenapa Yo? Abis lari maraton? " Tanya Raisa yang heran.
Gio tidak menjawab pertanyaan Raisa, ia menarik sebuah kursi dan duduk di kursi itu sambil mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan.
" Woy gue nanya Yo." Ucap Raisa yang masih terheran-heran.
" Nggak apa-apa." Jawab Gio singkat.
Bhia yang melihat tingkah Gio hanya bisa menghela nafas sambil menaikkan kedua alisnya.
" Kok muka lo merah-merah Bhi? " Tanya Alin yang dari tadi mengamati Bhia.
" Oh, nggak apa-apa Lin, Gue cuma kepanasan jadi kayak biang keringat gitu. " Jawab Bhia berbohong sambil mengelus-elus wajahnya.
" Ayo balik. " Ucap Gio tiba-tiba dan menarik tangan Bhia.
" Kan kita mau belajar bareng Yo..!" Bhia pun melepaskan tangannya dari genggaman Gio.
Raisa, dan Alin saling bergantian tatap menatap satu sama lain, mereka heran dengan Gio dan Bhia. Fero yang melihatnya pun merasa cemburu dengan sikap Gio kepada Bhia.
" Kenapa lo Yo? Kesambet? Kalo mau balik, balik aja sendiri, ngapain ngajak-ngajak Bhia " Tanya Fero dengan nada sewot.
Gio menatap Fero penuh emosi, namun ia menahannya. Ia tidak mau yang lain menyadari perasaanya pada Bhia. Gio pun mengalah dan ikut bersama mereka ke rumah Alin untuk belajar bersama. Sebenarnya yang Gio khawatirkan itu adalah kondisi Bhia. Ia merasa Bhia belum begitu pulih.
*** Di rumah Alin ***
Mereka masuk ke rumah Alin dan di sambut oleh kedua orang tua Alin yang kebetulan sedang berada di rumah. Lalu Alin membawa mereka masuk ke dalam dan mereka pun duduk di sebuah ruangan televisi yang berada di rumah Alin.
" Lo udah minum obatnya? " Bisik Gio peda Bhia yang duduk di sebelahnya.
" Sttt.. jangan keras-keras, tenang aja ntar juga gue minum. " Ucap Bhia balik berbisik pada Gio.
Fero yang melihat Gio dan Bhia berbisi-bisik dengan sengaja menumpahkan minum di celana Gio. Gio dengan refleks menyingkirkan kakinya namun tetap saja ia terkena air jus yang di tumpahkan Fero. Dengan wajah yang kesal Gio berdiri dan menanyakan toilet pada Alin. ia pun membersihkan bekas tumpahannya itu. Saat Gio baru kembali dari toilet ia melihat Fero yang sudah duduk di samping Bhia, dengan amat kesal akhirnya dia duduk di samping Raisa.
" Kenapa lo Yo?, ditekuk mulu tu muka." Tanya Raisa
" Lo kek nggak tau Gio. " Ucap Alin dengan santainya.
Mereka lalu melanjutkan kegiatan belajar mereka. Saat sedang berdiskusi HP Raisa berdering ia mengangkat telfon nya dan ternyata itu dari Arkan. Raisa berdiri dan menjauh dari sahabat-sahabatnya itu lalu ia segera menjawab telfon itu dan berbicara dengan nada yang berbisik-bisik. Bhia yang berniat menuju dapur untuk mengambil air mineral tidak sengaja mendengar obrolan Raisa. Dan saat Raisa menutup telfonnya dan membalikkan badannya, betapa terkejutnya Raisa yang melihat Bhia sudah berada di belakangnya sambil menatap Raisa dengan tatapan penuh curiga.
" Cieee yang ngumpet-ngumpet telfonan sama kakak gue. " Ledek Bhia pada sahabatnya itu.
" Apa sih Bhi. " Ucap Raisa malu-malu dengan pipi yang sudah memerah.
" Ehem ehem, kayaknya bakal ada yang di resmikan nih. " Bhia makin menggoda sahabatnya itu.
" Sttt..!! Belum Bhi, sabar ya lagi proses. " Ucap Raisa dengan polosnya.
Bhia yang mendengar perkataan sahabatnya itu seketika langsung tertawa. Raisa yang melihat Bhia tertawa akhirnya juga ikut tertawa. Bhia sangat gemas melihat ekspresi sahabatnya itu.
" Rai.. Rai.. lo tu ada-ada aja. " Ucap Bhia dengan sedikit menahan tawanya.
" Woy rame banget di dapur, ngomongin gue ya? " Teriak Alin dari ruang TV.
Raisa dan Bhia pun kembali ketempat duduknya mereka tadi. Bhia meraba tasnya dan mengambil beberapa obat di dalam tasnya dan meminumnya dengan sedikit memiringkan tubuhnya tanpa ada yang melihatnya. Lalu dengan cepat ia kembali ke posisi duduk normalnya. Ia tidak menyadari ternyata Fero memperhatikannya.
" Itu tadi apa Bhi? " Tanya Fero sambil mendekatkan wajahnya pada Bhia.
" Oh, itu vitamin. " Ucap Bhia berbohong.
10 menit setelahnya, Bhia merasa mengantuk dan berulangkali menguap. Efek dari obatnya sudah mulai bekerja, Bhia pun meletakkan kepalanya di atas meja dan mulai tertidur.
" Yah molor ni anak. " Ucap Raisa yang melihat Bhia tertidur.
" Udah biarin aja Rai. " Ucap Alin.
Lalu Gio yang melihat Bhia tertidur hanya tersenyum kecil, dan ia mulai merasa lega akhirnya Bhia meminum obatnya. Karna hanya Gio yang tau efek samping obat yang Bhia minum pasti membuatnya mengantuk dan tertidur.
MAKASIH YANG MASIH SETIA BACA NOVEL KU.. LIKE COMMENT DAN VOTE YA, JANGAN LUPA KLIK TOMBOL FAVORIT ❤️❤️ MAKASIH BUAT DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA.
mampir juga yuk dinovelku