NovelToon NovelToon
Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Patahhati / Poligami / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: heni

Novel ini hanya lucu di awal, semakin ke ujung ada sedikit bawang. Semoga suka.

*******

Mulutmu harimau-mu. Pepatah itu sering kita dengar. Tapi sering kita lupa. Sehingga sangat gampang berucap tanpa memikirkan dampak dari ucapan kita sendiri.

Aurelia Syafitri. Gadis cantik berumur 25 tahun, pribadi yang periang, suka bercanda dan gemar melancarkan jurus bucin. Bagi orang itulah yang menyenangkan bagi Syafi. Tapi, tidak berlaku bagi calon suaminya. Ucapan calon suaminya saat menjelang hari pernikahan bagaikan air yang melunturkan semua warna pada hidup Syafi. Bukan cuma ucapan itu yang menyakitkan bagi Syafi. Tapi di tinggal saat menjelang akad nikah. Menjadi tamparan keras di wajahnya. Duka menjelang hari pernikahan itu membuat Syafi kehilangan jati dirinya.

Bagaimana nasib Syafi yang di tinggal saat menjelang pernikahan? Atau akan ada keajaiban yang bisa membuat Syafi kembali menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan? ‘’


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Rambut Basah

Dirga hanya memberikan senyumannya, apa yang telah ia katakan tidak mungkin ia Tarik lagi. “Paman, aku sangat menyayangi paman, apa yang berharga pagi paman, itu juga berharga bagi aku, ayo Paman kita tidur, besok ada persidangan bukan?”

Ardhin tersenyum, dia tidak pernah menyangka, kasih sayang yang tulus dia berikan pada keluarga majikannya, membuat anak kecil yang dulu dia sayangi sangat menyayanginya. Dirga tidur sekamar dengan Ardhin dan Kamal,

dia ingin melepas segala kerinduan selama ini.

Suara kajian dari corong-corong mushalla membuka mata yang tadi rapat berpejam perlahan terbuka. Masih pagi, tapi di depan kamar mandi sudah berkumpul. Karena kamar mandi di rumah Ardhin Cuma satu, Latihan kesabaran pagi hari adalah menunggu antrean menuju kamar mandi.

“Ma ….” Syafi memanggil Kamal.

“Masih pagi, jangan bikin mama pusing,” ucap Kamal.

“Setelah akad nikah, aku sama Arnaff tidur di mana?”

“Di mata,” potong Mayfa. Berlalu begitu saja melewati semua yang ada, dengan handuk menutup bagian kepalanya, karena di depan kamar mandi ada Dirga dan paman Ardhin. Mayfa bangun lebih awal, dia yang dapat antrean pertama ketempaat khusus, untuk setor panggilan alam dan menyegarkan diri. Setelah Mayfa keluar, Ardhin di minta Dirga untuk lebih dulu ke kamar mandi.

Kamal tersenyum. “Memangnya kenapa?” tanya-nya.

“Nggak kenapa-napa, Andai di rumah ini, baru nikah kan ini ceritanya, terus keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, kasian Arnaff, mungkin saja merasa malu sama mama dan abah.” Syafi tersenyum kaku gaya senyum iklan pasta gigi.

 Kamal menghembuskan napasnya begitu kasar, faham maksud Syafi apa. Tapi malas gelud pagi-pagi dengan Syafi. Dia lebih memilih diam. Setelah Ardhin keluar, Dirga meminta Kamal yang lebih dulu ke kamar mandi,

dengan alasan orang tua tidak kuat menahan hajat terlalu lama, padahal dia menggunakan kesempatan ini, untuk curi-curi pandang, memandangi Syafi lebih lama lagi. Setelah Kamal selesai, Dirga meminta Syafi duluan, dengan Dalih, wanita lebih dulu. Padahal hanya ingin melihat bagaimana wajah Syafi setelah menyegarkan diri.

Seorang wanita yang dia kagumi, keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Dirga segera membuang pandangannya sebelum Syafi menyadarinya, melihat Syafi sudah keluar, Dirga segera masuk kedalam kamar mandi.

Semua orang fokus dengan tugas pagi mereka, selesai dengan kewajiban subuh, Stafi dan Mayfa membantu Kamal di dapur untuk mempersiapkan sarapan. Sesekali keributan terdengar dari arah dapur, membuat sunggingan

senyuman terukir di wajah Dirga.

“Kamu pasti pusing kalau tinggal di rumah ini, begitulah Aul, nak.” Ugkap Ardhin.

“Sama sekali tidak pusing, saya malah bahagia dan merasa sangat terhibur,” jawab Dirga.

Sarapan kali ini lebih ramai daripada biasanya. Walau semua saling diam, entah kenapa terasa lebih bermakna. Selesai membantu Syafi membereskan piring bekas makan pagi, Mayfa segera pamit pulang. Sedang Ardhin, Dirga, dan Kamal bersiap menuju pengadilan menanti keputusan Hakim hari ini. Sedang Syafi memilih diam di rumah, mengerjakan semua pekerjaan rumah bibinya.

 

Hari menjelang siang. Udara mulai terasa panas, tidak kalah panas dengan ruangan siding hari ini. Dua kubu yang berlawanan saling membela diri dengan bukti-bukti yang dimiliki. Akhirnya sampai di titik yang paling menegangkan, yaitu menunggu keputusan Hakim.

 

Suara ketukkan palu hakim, bagaikan air yang melegakan dahaga bagi Ardhin dan Kamal. Akhirnya mereka memenangkan kasus ini, walau menang pun mereka tidak di untungkan. Karena keponakan mereka masih menderita gangguan mental akibat pemerkosaan itu, sampai kini masih di rawat di Rumah Sakit Jiwa. Setidaknya keadilan berpihak pada mereka. Kebahagiaan menyelimuti kubu Ardhin, sedang kubu lawan terlihat sedih dan kesal.

Dirga menepuk punggung Ardhin. “Ayo paman, kita pulang, saatnya fokus mempersiapkan pernikahan Syafi.”

Merasa urusan mereka selesai, Ardhin, Dirga dan Kamal, segera pergi meninggalkan ruang sidang. Tanpa Dirga sadari, ada sepasang mata yang menatap sinis kearahnya.

*

Harapan Ardhin, pernikahan Syafi lancar dan dia Bahagia dengan pernikahannya. Juga keponakannya yang satu bisa bangkit Kembali dari keterpurukan mentalnya. Mendekati hari ijab Kabul, suasana kediaman Ardhin semakin ramai. Warga membantu gotong-royong untuk Syukuran pernikahan Syafi. Warga sekitar sangat bahagia, Ardhin mengadakan acara sederhana lebih dulu di rumahnya, karena warga sekitar enggan kalau menghadiri pernikahan ke Gedung. Selama berada di rumah Ardhin, setiap hari ada saja polah Syafi yang membuat Dirga tersenyum.

Hari demi hari berlalu begitu cepat, tidak terasa dua hari lagi acara Akad Nikah Syafi. Sesuai Jadwal hari ini acara ‘Main Kuntau,’ mengisi hari ini. Suara serunai terdengar jelas di area itu. Kadang suara teriakan dan suara tawa warga pecah mewarnai suasana. Semua warga sekitar sangat terhibur dengan hiburan dengan hiburan saat ini.

“Rame banget ya paman? Seperti acara karate pada umumnya, hanya saja ada komedinya.” Dirga juga tertawa lepas menikmati hiburan yang ada di depan matanya.

“Iya, Main kuntau adalah hiburan daerah sini. Besok akan kita adain acara Bajapin, mirip Jaipongan. Padahal paman pengen adain acara Bamanda, seperti acara wayang orang, tapi waktunya mepet, ya sudah dua acara untuk hiburan warga sekitar,” terang Ardhin.

Mereka Kembali menikmati hiburan. Sesekali Dirga mencuri pandang kearah tujuh orang gadis yang juga asyik memperhatikan acara Main Kuntau. Hanya satu yang menyita perhatiannya, yaitu Syafi. Melihat Syafi tertawa lepas, suatu kebahagiaan besar bagi Dirga.

Suasana gotong-royong sangat terasa. Sambil menikmati hidangan yang di masak secara gotong royong juga mereka nikmati bersama. Pengalaman baru bagi Dirga. Selama ini dia hanya mengatur acara, dan menyerahkan segalanya pada WO.

Keseruan main kuntau baru saja di lewati, gelapnya malam sudah menyelimuti bumi bagian itu. Setelah selesai makan malam, Dirga meminta izin untuk ke Hotel, sebab besok dia harus datang bersama Arnaff ke rumah Ardhin.

Di Rumah Ardhin kini hanya tinggal mereka bertiga. Suasana rumah sedkit berantakan karena tumpukkan priring dan yang lain ada di sudut rumah itu.  Besok piring-piring itu Kembali di gunakan. Untuk hidangan saat acara Bajapin nanti.

“Abah, cincin nikah Aul dan Arnaff ketinggalan, Abah ….” Lengkingan teriakan itu menggema di rumah itu.

“Kenapa sih mak. Malam-malam teriak,” protes Syafi.

“Cincin nikah kamu, Dirga lupa bawa.” Kamal melihat penampilan Aul dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Mau kemana kamu?”

“Mau ketempat teman yang Aul percaya untuk menghias hantaran.” Mata Syafi masih fokus membaca pesan di layar ponselnya.

 “Pamali calon pengantin kelayapan,” ucap Kamal.

“Kalau aku gak boleh keluar, ya sudah paman saja sama bibi.” Aul menyebutkan alamat rumah temannya itu.

“Pakai apa kamu ke sana?” tanya Ardhin.

“Pinjam motor Pamanlah ... masa ngesot, Mak ....”

“Kalau begitu, kamu pergi ke Hotel tempat Dirga menginap. Antarkan cincin ini.”

“Lah … besok kan, kak Dirga kesini lagi, kenapa aku harus ke Hotel?”

“Aul ….” Bujuk Kamal.

“Ya sudah, sini nomer telepon Kak Dirga,” pinta Aul.

Ardhin segera memberikan nomer ponsel Diga pada Aul. “Aku pamit ya ….” Aul menyalami paman dan bibinya, lalu menerima cincin yang akan diatar, dan menyimpan cincin itu kedalam tasnya.

Sesampai Hotel, Syafi menjelaskan tujuannya untuk menemui Dirga, alasannya di terima setelah salah satu petugas selesai berbicara di telepon. Seorang pegawai hotel mengantarnya ke kamar Dirga. Dirinya sangat gaptek kalau masuk hotel. Karena tidak pernah masuk hotel sama sekali. Dirga sangat Bahagia, Ketika membuka pintu melihat sosok yang selalu ceria, Aurelia Syafitri. Tadinya dia mengira yang mengantar cincin utusan Paman Ardhin.

“Aul?” Dirga seakan tidak percaya denga napa yang dia lihat.

Syafi hanya tersenyum. Pegawai hotel itu langsung pergi setelah memastikan pelanggan hotel dan tamu yang berkunjung saling kenal.

“Terima kasih, mbak,” ucap Aul. Pegawai hotel itu hanya memberi senyuman.

“Maaf ya kak ganggu istirahat kakak.”

“Enggak kok, ayok masuk.”

“Jangan kak di luar saja.” Aul mencari benda yang dia simpan dalam tasnya tadi. “Cincin nikahnya ketinggalan, aku Cuma antar ini, kak.” Syafi memberikan box beludru warna merah pada Dirga.

“Terima kasih, maaf saya benar-benar lupa.”

“Lupa apa lupa, kak?” Dirga hanya tersenyum. Tidak punya bahan untuk melawan Aul.

“Kak, aku pamit ya,” ucap Aul. Dirga hanya menganggukkan kepalanya, menjawab perkataan Syafi alias Aul. Syafi segera pergi meninggalkan kamar Dirga. Saat yang sama dia hampir menabrak seorang wanita cantik. Bukan

saling senyum, keduanya beradu tatapan sinis. Tidak saling sapa, dan sama-sama melanjutkan Langkah kaki mereka.

 

Saat di depan lift, Syafi sengaja tidak masuk. Dia tidak mau satu lift dengan saudara dari laki-laki yang telah menodai sepupunya. Walau keadilan telah berpihak padanya, tapi mengingat sepupunya masih terpuruk, membuat Syafi sangat sedih. Lumayan lama berdiri di depan lift, akhirnya pintu lift Kembali terbuka. Syafi melanjutkan tujuannya.

 

“Syafi!”

Merasa dirinya di panggil, Syafi menoleh kearah sumber suara itu.  “Kak Athan?” Syafi tidak kalah terkejut, beretmu vokalis band yang sering manggung di Restoran Indah Rasa.

“Ngapain kamu di sini?” Pertanyaan yang sama terlontar dari keduanya.

“Aku tadi mengantar barang, milik anak angkat paman aku.”

“Aku manggung di Restoran hotel ini, ikut yuk ….”

Kelemahan Syafi, dia tidak bisa menolak kalau diajak bernyanyi. Syafi menganggukkan kepalanya, mereka melangkah bersama menuju Restoran hotel itu.

 

Saat yang sama, Arnaff tengah menikmati makan malamnya di Restoran Hotel. Ada kekhawatiran yang Arnaff rasa, karena kedua orang tuanya baru bisa mendarat besok pagi di Banjarbaru. Walau Ardhin memaklumi, ada rasa tidak enak bagi Arnaff. Bagaimana juga, karena itu tuntutan pekerjaan. Selama di Hotel ini saja dirinya sibuk berkutat dengan laptopnya.

“Arnaff?” Suara sapaan itu mengejutkan Arnaff dari lamunannya.

“Alvi?” Arnaff terkejut melihat sahabatnya ada di depan matanya.

“Alvi, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Arnaff.

“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu bisa ada di sini?”

“Aku akan menikah, lusa. Di Hotel ini. Maaf aku gak undang kamu, karena untuk Resepsi besar aku akan mengadakannya lagi di kota kita.”

“Kau bilang aku sahabatmu, berita sebeharga ini kau tidak berbagi denganku.”

“Bukan begitu, Al.” Arnaff mulai menceritakan tentang perjodohannya.

“Semoga acaranya nanti lancar,” ucap Alvi.

“Kamu kapan Kembali?”

“Mungkin seminggu lagi.”

 

“Kalau begitu, kamu harus datang di resepsi besok malam, di Hotel ini.” ucap Arnaff.

 

“Iya, aku usahakan.”

“Kamu, kenapa sampai di sini?”

“Ingat kasus adikku kemaren? Nah aku menghadiri sidang di sini.”

“Bagaimana kasusnya?” Terlihat Arnaff begitu serius.

“Kami kalah.” Wajah Alvi tampak sedih. “Aku tidak bisa membuktikan kalau adikku tidak bersalah.”

“Sabar, nanti ajukan banding.” Arnaff berusaha memberi semangat pada Alvi sahabatnya. Alvi dan Arnaff makan malam bersama. Arnaff jadi pendengar yang baik bagi Alvi.

 “Assalamu’alaikum.”

 “Wa’alaikum salam.” Sahutan salam menggema di ruangan itu.

Suara salam dari arah panggung musik menyita perhatian Arnaff dan Alvita. Melihat sosok wanita yang duduk di samping seorang laki-laki, membuat senyuman sinis terukir dari wajah Arnaff.

*Besambung.

Mohon maaf baru bisa up, OH ya ... maaf banget juga untuk typo yang bertebaran karena belum bisa edit.

1
Dida Riyada
mangatoon
Yanti Yuli Anti
tengkiwww thor atas cerita nya..udh aku kasih hadiah yaa😘😘
Yanti Yuli Anti
sebel nya sam dirga...selalu menyerah sama keadaan..coba perjuangkan hati mu dirga..jangan lembek kayak tahu gitu ihh
Yanti Yuli Anti
harus nya dirga jujur sm syafi..pasti syafi mengerti dengan keadaan dirga..klo ga jujur ya syafi akn sakit hati terus
Yanti Yuli Anti
lha..kenapa jadi begini😭😭
Yanti Yuli Anti
terima kasih mba author karena sudah menyuguhkan cerita yg sangat bagus..tp aku berharap semoga ada kelanjutan nya d part 2...ngarep.com🤭
Yanti Yuli Anti
semoga yg ada d pikiran ku ga terjadi...Aamiin
Yanti Yuli Anti
kaka author berhasil bikin aku penasaran 🥴🥴
Yanti Yuli Anti
semangat Dirja semoga lelah mu menjadi lillah
Yanti Yuli Anti
semangat kk...
Yanti Yuli Anti
mantap samm....
Yanti Yuli Anti
aku jd terbawa suasana ..syafiii ohh syafii
Yanti Yuli Anti
cerita yg sungguh sangat sanagt luar biasa..👍
Yanti Yuli Anti
visual semua pemeran sangat cocok dengan karakter masing"...good job mba author
Yanti Yuli Anti
cerita nya sangat bagus...alur cerita mudah d pahami dan menghidupkan suasana
Yanti Yuli Anti
suka banget cerita nya...bikin hidup suasana
Yanti Yuli Anti
assalamualaikum...ikut manteng
Khairul Azam
aku gak respek banget sama si lala dan romi ini
Khairul Azam
lala sama romi ini model orang yg mementingkan dirinya sendiri.
Khairul Azam
nolong boleh baik boleh tp gak harus mengorbankan kluarga, diri sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!