NovelToon NovelToon
Cinta Terdinginmu

Cinta Terdinginmu

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Contest / Balas Dendam / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: ARIFA IFTITA RAHMA

Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.

Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.

Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEKAD VALLEN

VALLEN POV

 

Selasa, 04 Desember 2018

Begitu jendela dibuka, cahaya langit menyongsong rona merah fajar. Tampak secercah harapan bersama bangkitnya Sang Mentari untuk selalu bersama-sama. Gadis berwajah kuning langsat, berlesung pipit dan cantik alami tanpa sebuah make up, menari-nari dalam benakku. Memamerkan senyumnya yang bagai bidadari. Aku bertanya, bisakah aku seperti dirinya yang selalu ramah, murah senyum, memberi efek ceria pada sekitar sekolah, bebas tanpa beban sedikitpun dalam benaknya. Setelah lima tahun kami tidak ada kontak, ia kembali hadir dalam hidupku. Mewarnai kertas monokrom hitam putih yang selalu menghantuiku. Bangun sekolah, makan, belajar, tidur, begitulah keseharian hidupku selepas ayah meninggal dan juga Mer pergi dari kehidupanku lima tahun silam. Setelah itu, aku mulai bisa melupakannya nya meski ada sebersit rasa rindu yang harus kutahan. Aku bisa, aku bisa, aku pasti bisa. Namun nyatanya, begitu ia kerap mendekatiku dengan seratus ribu cara, rasa itu tak bisa ku cegah. Rasa yang seharusnya tidak boleh terjadi antara aku dengan dirinya. Buktinya, aku masih memendam perasaan itu. Ingin ku tepiskan jauh-jauh rasa aneh yang bergejolak di hati, namun aku tak akan sanggup. Aku tak sanggup memberitahukannya dan aku tak sanggup pula melihat tangisnya. Ia sungguh mencintaiku dan kalau boleh aku juga sangat mencintainya. Sangat-sangat mencintainya. Aku harus bagaimana?

Inilah sebuah penekatanku dan aku pula yang suatu saat harus menanggungnya. Kujadikan ia pacar, sungguh penekatan yang nyata. Aku sungguh tak bisa menahannya saat ia memedulikan keselamatanku. Ia menangisi nyawaku, keluar malam-malam, kehujanan, kedinginan, membahayakan nyawanya hanya untuk mencariku, aku tak sanggup berbohong seolah tak ada rasa sama sekali padanya. Meski cinta kita terlarang, aku ingin membuatnya bahagia. Masa bodoh jika pria bertopeng itu menyerangku lagi karena aku mendekati Mer. Yang jelas, saat ini aku serius ingin mendekatinya. Membuatnya tersenyum bersamaku meski harus melewati persaingan sengit sekalipun. Aku ingin bersamanya selamanya. Aku ingin bersama cinta pertamaku. Meski tidak diakhiri dengan ikatan pernikahan, tidak masalah selama kita nyaman dan masih bisa terus bersama.

 

 

---

 

 

Aku ingin membahagiakan Mer, sudah banyak tangis yang keluar dari pelupuk matanya gara-gara diriku. Banyak pengorbanan yang dikeluarkan hanya untukku seorang. Sungguh, aku sangat kecil bila dihadapkan dengannya. Meski ia masih bisa tersenyum di hari-hari biasa, jauh dari lubuk hatinya ia begitu terluka. Rela menyakiti hatinya hanya untuk menunggu  cowok bodoh seperti diriku agar membalas perasaannya.

Hari lalu biarlah berlalu, hari datang akan ku bayar tuntas semua tangisnya yang pernah keluar. Lucu apabila seorang wanita yang mengejar pria, mulai sekarang akan ku putar kisah cinta di antara kita. Aku yang mengejar, seorang pria seperti yang seharusnya.

Seperti biasa aku rutin menghampiri kelasnya. Setiap jam istirahat dan pulang sekolah, hanya sekedar makan dan pulang sekolah bareng saja sudah membuatnya bahagia. Tersadar aku tak pernah membuatnya begitu sebelum ini, aku ingin bersikap lebih dari ini. Meski hatiku masih terasa gugup sekalipun ketika aku bersamanya.

 Ini pengalaman Pertamaku berpacaran. Walau Mer adalah wanita yang kukenal sejak kami menginjak sekolah dasar, aku masih saja gugup di dekatnya.

“Mer, mmm, liburan besok...”

Aku menggantungkan kalimatku. Jujur saja, aku masih gerogi mengajaknya jalan-jalan lebih dahulu.

“Liburan besok...”

“Kenapa?”

Matanya terbilang yang besar itu menatapku dengan sorot berharap. Aku selalu mengutuk diriku sendiri yang selalu kesusahan mengatakan isi hatiku. Sedangkan Mer, ia selalu terang-terangan soal perasaannya.

“Mau ku ajak nonton?”

“Tentu saja mau!”

 Aku hampir tersentak mendengarnya yang tanpa jeda langsung menjawab tawaran ku, dengan begitu semangatnya. Lega deh ia mau, meski aku sudah tahu jawabannya sih. Mer selalu terang-terangan soal perasaannya.

“Mer,”

“Ya?”

“Ini buat kamu,”

Aku mengeluarkan kotak yang sudah ku persiapkan tadi malam. kubungkus dengan kertas kado berwarna merah muda dengan pita merah menghiasi ditengahnya. Mer kegirangan menerima hadiah dariku, syukurlah.

“Atas dasar apa nih?”

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.

“Harus ada alasan ya buat ngasih hadiah ke pacar sendiri?”

“Hehehe, Makasih Vallen sayang,”

Melihatnya bersemangat membuka kado dengan senyum-senyum sendiri, imutnya. begitu kertas kadonya terbuka sempurna, matanya berbinar penuh arti. Ia bahkan sampai tak berkedip melihat sandal bulu berwarna merah dengan bentuk kucing.

“Maaf Mer, cuma ngasih sandal, habisnya dulu aku melihat kamu sedih saat sendal sebelumnya hilang hanyut di sungai. Sampai-sampai saat aku masih menjadi pelayan di kantin, aku melihatmu menggambar sendal jepit yang kuberikan dahulu. Sampai dibikin puisi ya? apa judulnya? sandal ku yang hilang?”

Aku terkekeh mengingat kembali masa itu. Jujur saja, setengah mati aku melawan senyum ketika tanpa sengaja mendengar percakapan mereka dari jarak jauh. Seorang perempuan di dekatnya yang katanya sahabatnya Mer bernama Via tampak terbahak sambil berkata,

“Lo lagi stress ya Mer, sandal hilang aja sampai disesali,”

“Biarin, kalo emang kenyataannya sandal itu berharga mau gimana lagi,”

Sungguh, waktu itu aku senang bukan main. Mer mengatakan sandal pemberianku itu berharga. Jika bisa, dari dulu sudah ku belikan penggantinya. Satu alasan, mengapa?

Pertanyaan itu sudah tak penting lagi bagiku, jawabannya adalah ‘karena dia pacarku’ Bukankah wajar apabila memberikan hadiah untuk sang kekasih?

Pipinya merah merona memegangi sandal bulu pemberianku. Sengaja aku belikan sandal bulu agar ia mengenakannya saat di dalam rumah. Dengan begitu, tak akan ada lagi insiden sandal hanyut di sungai.

“Terus seperti ini Len, aku suka lihat kamu tertawa lepas,”

Tanpa menunggu persetujuanku, dia mendekatiku, menyandarkan kepalanya di atas dadaku. Aku membalas pelukannya. Kuusap pucuk rambutnya yang lembut.

“Makasih Len, I like you, forever I love you,”

“You’re welcome,”

Aku masih mendekapnya, memeluknya, mengelusnya. Kurasakan detik-detik momen bersamanya untukku kuabadikan suatu hari nanti, barangkali.

Aku terlalu senang bersamanya, sampai-sampai tak menyadari ada seorang gadis nan jauh di sana sedang menyaksikan kami.

 

 

---

 

 

Minggu, 09 Desember 2018

Tak terasa sudah seminggu kami jadian. Selama ini tak ada kendala dan aku berharap terus begitu. Minggu kemarin kami sama-sama sakit, aku sempat merawatnya sebentar yang kemudian ia mengusirku untuk juga beristirahat. Sehari sebelum itu, aku kerap menghabiskan waktu bersama gudang kotor tempat pelampiasanku, dikurung di sana jelas bukan keinginanku. Akan tetapi, selalu ada hikmah dibalik musibah. Aku jadi tahu betapa aku tak sendirian hidup di dunia ini. Ada Mer pengokoh ku dan ibu Reta adalah tiangku. Meski ibu Reta bukankah ibu kandungku, aku tetap menghargainya, aku tetap mencintainya, melebihi ibu kandungku sendiri yang tak pernah menganggapku ada. Hari ini, Mer memintaku menemaninya ke toko baju langganannya. Katanya, ia harus dandan cantik di hari yang spesial bagi teman karibnya. Hampir berjam-jam aku menguntit padanya. Berlarian mondar-mandir memilih gaun yang ia sukai. Jujur saja, aku bosan jika harus berlama-lama seperti ini. Hanya karena ada dirinyalah yang membuat jam demi jam tak berasa lamanya.

“Vallen, bagus yang mana putih atau merah?”

“Semuanya bagus buat kamu,”

Ia menggembungkan pipinya, mungkin tak puas dengan jawaban yang kuberikan.

“Iih Vallen, aku tahu semuanya bagus makanya aku minta saran dari kamu!”

“Yang putih,”

 “Kok yang putih sih, bukannya kamu tahu aku suka warna merah?”

“ Ya udah yang merah,”

“Tapi lucuan yang putih!” rengeknya manja.

Dasar wanita. Biar bagaimanapun, Vallen tetap suka memandang rengekkan Mer menggemaskan.

Aku mengambil kedua gaun ditangan kanan dan kirinya. Kuletakkan yang berwarna putih seraya menarik tangannya ke kamar pas.

“Pakai ini, aku tunggu di luar,”

Ia tampak tertawa kecil melihatku yang gemas padanya. Selang beberapa menit, Mer keluar dari kamar pas. Kulitnya yang putih kekuning-kuningan tampak indah bersama gaun merah selutut, rambut kecoklatan nya tergerai indah menambah pesona kecantikannya. Bahkan, aku terpana melihatnya.

“Gimana, kamu suka gaunnya?”

“Suka pemakainya,”

“Hihihi, ya udah sekarang kita cari buat kamu!”

 “Buat aku?”

Gadis itu menempelkan punggung tangannya pada dahi.

“Iyalah sayang, nanti ke sana kamu mau pakai apa?”

“Bukannya cuma teman sekelas yang diundang?”

“Tapi kamu kan sekarang pacar aku, boleh dong yang diundang ajak seseorang yang spesial,”

Aku hanya tersenyum tipis untuk mengiyakannya. Aku tidak tahu jika diperkenankan hadir juga. Sebelum ini, aku tak pernah mengunjungi acara pesta ulang tahun.

 

 

--- 

 

 

MERIKA POV

 

Hembusan silirnya angin malam menerpa wajahku, menerbangkan helai demi helai

rambut yang kupunya. Sudah siap dengan gamis merah pilihan Vallen, hanya tinggal duduk manis menunggu kedatangannya.

“Sayang kamu masih saja nungguin cowok itu?”

“Iyalah ma, dia kan sekarang pacar Mer,”

Sudah jelas terlihat dari wajah mama yang tak suka dengannya. Mendengus, seraya ikut duduk merangkulku.

“Jujur ya, mama nggak suka kamu sama cowok itu, dia aneh, misterius. mending sama cowok pilihan mama,”

“Fadil Ma?”

Aku mengingat wajah pria anaknya teman mama itu. Ia pernah main ke rumah. Tampan sih iya, tajir iya, pintar iya, kutebak ia juga kebanggaan di sekolahnya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi jika hati ini tidak berpihak padanya.

“Mama kan tahu Mer cinta matinya sama Vallen,”

“Ah kamu mah seleranya aneh! Ya udah, mama masuk dulu. Awas aja kalau cowok itu itu bikin putri pama lumutan di ruang tamu!”

Selepas kepergian mama ke lantai atas, aku membuka ponselku.

Vallen di mana?

Iya Mer OTW

Begitu kutaruh kembali ponsel milikku, Vallen sudah sedia di depan pintu dengan baju merah yang ditutupi jas hitam dan juga rambut rapi disisir ke belakang, sungguh menawan pacarku yang satu ini.

“Maaf Mer, tadi tante Reta heboh, maksa aku buat dandan dulu,”

Aku tertawa kecil melihat ekspresi wajahnya yang kecut.

“Nggak masalah,”

Hebatnya tante Reta bisa bikin pacarku ini tampan tiada tanding

“Ya sudah, ayo berangkat, kamu bawa mobil kan?”

“Ada dirumah, mobil almarhum Papa,”

“Nggak kamu bawa ke sini?”

Vallen tampak diam ketika pertanyaan terakhirku kulontarkan. Bibir bagian bawahnya ia gigit untuk menyembunyikan rasa malunya.

“Mer, maaf,”

“Kenapa?”

“Aku, mmm, aku, Aku... nggak bisa nyetir mobil,”

 

 

---

 

 

Lengkap sudah pesta yang telah disiapkan di dalam rumah Via. Dengan dekorasi-dekorasi nan ramai, di ulang tahun Via kali ini, ia jadi kan acaranya dengan tema persahabatan. Tentu tema tersebut tertuju padaku, katanya sih. Karena Via suka warna biru, dekorasi ini dipenuhi dengan perpaduan warna biru dan merah sebagai tanda persahabatan kita yang sudah terjalin selama setengah tahun. Walau hanya setengah tahun, kami sudah seperti saudara kandung. Saling mendukung dan menghargai. Via sama seperti Vallen, kedua orang tua kandungnya telah meninggal. Bepedanya, ia kini tinggal bersama papa tirinya, sedang Vallen bersama mama tirinya. Papa tiri Via tidak berniat menikah lagi, beliau sudah sangat mencintai almarhumah mama Via. Sedangkan para cewek yang berusaha memikat hati papa tiri Via hanya mengincar hartanya. Itulah salah satu yang membuat Papa tiri Via enggan untuk menikah lagi.

Ia memelukku begitu kami sampai. Cantik sahabatku ini dengan balutan gaun biru muda panjang yang dilapisi bertumpuk-tumpuk kain kaca putih, juga dengan kerlap-kerlip bertaburan di sekitar area bawah gaun yang menambah kemewahan.

“Kak Vallen datang?”

Sudut pandang Via teralihkan ke sosok tinggi di sampingku. Entah kenapa, tatapannya Itu membuatku tak nyaman. Vallen merendahkan kepalanya, memberi sapaan. Tersenyum tipis hanya untuk menghargai senyum Via.

“Selamat ulang tahun Via,”

“Terima kasih kak,”

Senyum Via semakin mengembang saja, nampaknya, ah sepertinya itu hanya firasatku saja.

 

 

---

 

 

Acara telah dimulai. Para tamu undangan termasuk aku dan Vallen berdiri menyaksikan gadis manis blasteran china-indonesia hendak memberikan sambutannya. Vialah orangnya. Almarhumah mamanya seorang mualaf dari Cina sedang Papanya asli Indonesia. Menciptakan wajah Via yang setengah China setengah Indonesia.

“Terima kasih sudah mau datang di acara ulang tahun gue yang ke-16. Gue harap ulang tahun ini menjadi ulang tahun yang paling istimewa dari sebelum-sebelumnya. Ulang tahun bersama sahabat gue yang paling spesial. Di mohon untuk gadis yang menyukai warna merah, Merika, agar maju ke depan,”

Aku sedikit tersentak mendengar namaku disebut, aku ingin mengajak Vallen untuk menemaniku di depan tapi ia tak mau. Vallen justru mendorongku pelan agar aku maju seorang diri.

“Ulang tahun ini menjadi istimewa karena kehadiran sahabat gue Mer. Di ulang tahun gue sebelumnya, masih ada mama yang nemenin gue, tapi setelah mama meninggal, gue kehilangan semangat hidup. Gue jadi tertutup hingga sahabat lama gue ninggalin gue seenaknya. Pertama kali masuk SMA, takdir membuat kita sebangku. Mer menyapa gue lebih dulu. Waktu itu gue masih cuek, masih tertutup, tapi Mer terus berbagi senyumnya. Seminggu kemudian, gue mulai terbuka dan mulai berani menyapa yang lain. Mulai bisa melupakan kesedihan karena mama gue udah nggak ada. Terima kasih Mer,”

Dia memelukku erat dihadapan semua orang. Aku tersentuh mendengar kata-katanya, belum ada setahun kita bersahabat tapi Via seolah membuat persahabatan kita sudah terjalin bertahun-tahun lamanya. Ia menangis dalam pelukanku.

Aku tak tahu rasanya kehilangan ibu, tapi aku tahu rasanya kehilangan orang yang kita sayang. Meski aku tak pernah melihat wajah papa, aku sungguh menyayanginya. Akan tetapi, rasa sedihku tak begitu parah apabila disandangkan dengan Vallen dan Via yang belum lama kehilangan seorang ayah.

“Gue sayang sama lo Mer. Apapun permasalahannya, persahabatan kita nggak boleh putus! are you promise me?”

“Yes, i’m promise,”

Via melepas pelukannya, tersenyum. Masih dalam isak tangisnya, ia menyenggol lenganku.

Aku mengusap air mata Via yang sempat jatuh ke pipinya. Kupegangi pundaknya untuk memberi keteguhan bahwa sesungguhnya aku bersimpati.

“Vi, jadiin ulang tahun lo ini happy. Jangan ada air mata di momen sebahagia ini,”

 

 

---

 

1
Lusiana Karangan
ditunggi up tetap semangat nulisx
Fugi Martha
😭😭😭 sesulit inikah cinta thor ? merasa terpukul endingnya 😣
Fugi Martha: kapan thor?
total 2 replies
Rize
POV 1 nya mayan bikin ngeh, hehe. nanti tak lanjut baca kak,
Arifata: terima kasih sudah mau mampir dan membaca🤗
total 1 replies
Arifata
hai cilamici👋🏻 terima kasih sudah mau membaca karya saya😀 dukunganmu sangat berarti untuk semangatku😚😇
Cila Mici
karakter via membuat cerita menjadi berwarna. aku suka cara menulisnya, enak dibaca.

aku akan lanjutin nanti... 🥰

salam cilamici
Arifata
habis baca jangan lupa like ya😊 biar author makin semangat ngelanjutin ceritanya🥰 terima kasih pada readers yang sudah mau mampir dan membaca cerita ini😀❤
Fina.zher
aaaaa😭 kok sad thor:/ ga terimaaa!!!! ditunggu buku kelanjutannya thor😭😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
manisnya mereka😍
Arifata: terima kasih sudah membaca cerita saya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
jadi sebel sama Vallen:/ narik ulur perasaan orang😭 untung Vallen kece:)
Fina.zher
lanjut buku keduanya thor 😍 kasian Mer nya:( jangan dibuat sadgirl lah thor😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Aisyah Kamila
Ma syaa Allah ta, km udah berhasil bikin aku gregetan bgt loh, gud ta, aku suka. Ada nama aku lagi 😂
Arifata: authornya ga disapa jg nih?🤭🤣💔
total 2 replies
Hulk
Baca cerita kakak kayak lilin yang terkena api.. meleleh banget..
Arifata: Terima Kasih sudah membaca cerita saya😄😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!