Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Dua Kehidupan yang Berbeda
Pagi itu, Rashid berangkat ke kantor dengan suasana hati yang buruk. Pertengkarannya dengan Marissa masih membekas, terlebih setelah perempuan itu pergi meninggalkannya di meja makan tanpa memberi kesempatan untuk menyelesaikan pembicaraan.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terus kembali pada kejadian semalam. Ia sendiri tidak mengerti mengapa nama Kinara bisa terucap dalam tidurnya, tetapi semakin keras ia berusaha mengabaikannya, semakin sulit pula bayangan mantan istrinya itu menghilang.
Ketika tiba di kantor, Rashid langsung disambut asistennya yang sudah menunggu di depan ruang kerja. “Selamat pagi, Pak. Ada beberapa hal yang perlu Bapak periksa sebelum rapat dimulai.”
“Letakkan saja di meja.”
Asistennya mengangguk, tetapi tidak segera beranjak. “Satu lagi, Pak. Pihak Radjasha Group meminta jadwal pertemuan untuk membahas kelanjutan investasi mereka.”
Rashid yang baru saja meletakkan tas kerjanya langsung menoleh. “Perusahaan itu lagi?”
“Benar, Pak. Mereka meminta agar pertemuan dilakukan secepatnya.”
Rashid mengusap pelipisnya. Masalah itu belum juga selesai. Sejak perusahaan itu mengajukan peninjauan ulang investasinya, ia terus memikirkan dampak yang mungkin timbul terhadap rencana ekspansi perusahaan.
“Hubungi mereka dan katakan bahwa aku bersedia bertemu besok,” katanya pada akhirnya.
“Baik, Pak.”
Setelah asistennya pergi, Rashid duduk di kursi kerjanya. Ia mencoba memusatkan perhatian pada dokumen yang menumpuk, tetapi pikirannya kembali melayang. Nama Kinara seolah mengikuti kemanapun ia pergi, mengusik ketenangan yang selama ini ia anggap sudah berhasil ia dapatkan setelah perceraian mereka.
Ia menghembuskan napas kasar, lalu membuka berkas pertama. “Fokus, Rashid. Kau masih punya banyak pekerjaan.”
Namun, bahkan ketika ia mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri, pikirannya tetap sulit diajak bekerja sama.
Sementara itu, Kinara justru memulai harinya dengan kesibukan yang berbeda. Setelah sarapan bersama kedua orang tuanya, ia berangkat menuju toko kue yang kembali dikelolanya.
Ada banyak hal yang harus dibenahi, mulai dari persediaan bahan, jadwal pegawai, hingga rencana promosi untuk menarik pelanggan baru. Meski begitu, pikirannya sesekali kembali pada pembicaraan bersama Galendra, Kalandra, Sagara, dan Shena malam sebelumnya.
Mereka sudah sepakat untuk terus mengawasi kondisi bisnis Rashid dengan hati-hati. Kinara tahu bahwa langkah tersebut tidak akan mudah, terlebih karena ia pernah menjadi bagian dari kehidupan pria itu selama lima tahun. Namun, kali ini ia tidak berniat membiarkan perasaan menghalangi penilaiannya.
“Bu Kinara, bahan-bahan untuk pesanan hari ini sudah datang,” ujar Fara sambil menghampirinya.
Kinara mengalihkan pandangan dari layar laptop. “Baik. Tolong periksa jumlahnya sekali lagi, ya. Pastikan semuanya sesuai dengan pesanan.”
“Siap, Bu.” Fara baru saja hendak kembali ke dapur ketika ponsel Kinara bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Galendra. Aku sudah menerima beberapa dokumen yang kau kirim. Nanti malam kita periksa bersama. Jangan mengambil kesimpulan sebelum semuanya jelas.
Kinara membalas singkat, lalu meletakkan ponselnya di samping laptop. Ia kembali menatap layar, membuka berkas lama yang pernah disimpannya selama membantu Rashid mengembangkan perusahaan.
Ada banyak kenangan di dalamnya. Beberapa dokumen bahkan masih menyimpan catatan kecil yang ia tulis sendiri ketika mereka dahulu bekerja bersama.
Kinara menarik napas panjang. Dulu, ia mengerjakan semua itu dengan harapan bisa membantu pria yang dicintainya mencapai kesuksesan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dokumen-dokumen tersebut akan kembali dibuka dalam keadaan seperti sekarang.
“Bu?”
Kinara menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Begitu menoleh, ia melihat Fani berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah kotak.
“Ini ada pesanan tambahan dari pelanggan. Katanya mereka melihat unggahan toko kita kemarin dan ingin memesan untuk acara keluarga,” ucap Fani memberitahu dengan semangat.
Setelah insiden yang terjadi sebelumnya, Fani takut toko kue yang menjadi tempatnya bergantung itu akan tutup. Tetapi ternyata tidak, alih-alih tutup, toko kue Kinara justru tetap berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Wajah Kinara langsung berubah cerah. “Sebanyak apa?”
Fani menyebutkan jumlah pesanan tersebut. Kinara segera memeriksa jadwal produksi, lalu tersenyum. “Baik. Kita terima saja, tetapi pastikan semuanya bisa diselesaikan tepat waktu. Aku tidak mau kualitasnya menurun hanya karena pesanan bertambah.”
Fani mengangguk antusias. “Baik, Bu!” sahutnya lalu pergi untuk menyiapkan segalanya bersama dengan kembarannya.
Setelah Fani kembali ke dapur, Kinara menatap toko kecilnya. Tempat itu memang belum sebesar bisnis yang dahulu ia bangun bersama Rashid. Namun, setiap sudutnya menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga baginya, sebuah kesempatan untuk memulai kembali dengan usahanya sendiri.
Untuk sesaat, ia merasa lebih tenang. Ia tidak harus membuktikan apa pun kepada Rashid hari ini. Ia hanya perlu memastikan bahwa dirinya terus melangkah. Terlebih lagi, kini ia memiliki kembali keluarganya. Bagi Kinara, hal itu saja sudah lebih dari cukup baginya.
***
Sore harinya, Rashid pulang lebih cepat daripada biasanya. Rapat yang seharusnya berlangsung hingga malam dibatalkan karena salah satu mitra bisnis meminta penjadwalan ulang. Namun, setibanya di rumah, ia justru mendapati Marissa sedang duduk di ruang keluarga dengan beberapa kantong belanja di sekelilingnya.
Marissa tampak sibuk memeriksa barang-barang yang baru dibelinya. Ada beberapa pakaian, aksesoris, serta kotak dari butik ternama yang masih tertutup.
Rashid menghentikan langkahnya seketika. “Kau belanja lagi?”
Marissa mengangkat wajah. “Iya. Memangnya kenapa?” jawabnya dengan ketus.
Rashid memandang kantong-kantong tersebut sebelum kembali menatapnya. “Bukankah kita sudah membicarakan pengeluaranmu?”
Marissa meletakkan barang di tangannya. “Aku hanya membeli beberapa keperluan saja, Mas. Astaga, kenapa kau jadi perhitungan sekali sekarang?”
“Beberapa keperluan?” Rashid mengulang dengan nada tidak percaya. “Marissa, lihat semua barang itu. Apa kau benar-benar membutuhkan semuanya?”
Wajah Marissa langsung berubah kesal, “Aku tidak mengerti kenapa kau terus mempermasalahkan belanjaku, Mas. Bukankah sebelumnya sama saja? Kau bahkan tidak pernah bertanya berapa banyak uang yang kuhabiskan. Lalu sekarang kenapa?”
“Karena jumlah tagihan kartu kreditmu sudah terlalu besar.” Rashid memijat pelipisnya, mulai memperhitungkan semua pengeluarannya akhir-akhir ini.
“Aku tidak menghabiskan uangmu untuk sesuatu yang tidak berguna.” Marissa membalas dengan malas, seolah-olah ucapan Rashid bukanlah sesuatu yang harus ia pikirkan. Apalagi Marissa sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Rashid menghela napas dengan lelah. “Aku tidak mengatakan semua barang yang kau beli itu tidak berguna. Tapi kau harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.”
Marissa menyilangkan tangan di depan dada. “Jadi sekarang aku harus meminta izin setiap kali ingin membeli sesuatu?” tanyanya dengan nada kesal.
“Bukan begitu maksud—”
“Lalu apa? Kau ingin aku hidup seperti Kinara?” potong Marissa, kembali mengungkit-ungkit nama Kinara.
Mendengar nama Kinara disinggung lagi dalam perdebatan mereka membuat Rashid terdiam.
Marissa langsung menyadari perubahan ekspresinya. Ia langsung bangkit dari sofa. “Kenapa diam? Aku benar, bukan? Kau ingin aku menjadi perempuan seperti dia. Hemat, sederhana, tidak pernah meminta apa-apa darimu.”
“Marissa, jangan membawa Kinara ke dalam pembicaraan ini.” Rashid kembali memijat pelipisnya, lelah sekaligus pening.
“Kenapa? Kau sendiri yang terus membandingkan kami!”
Rashid mengusap wajahnya kasar, berusaha menahan kekesalan yang mulai memuncak. “Aku hanya ingin kau lebih bijaksana dalam menggunakan uang.”