Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 16
Penundaan yang seharusnya tidak terjadi, membuat pihak perusahaan harus menyelesaikan kekacauan jadwal yang telah mereka rencanakan sejak awal. Apalagi para anggota public relations. Mereka benar-benar kewalahan melawan beberapa layangan pertanyaan dari berbagai wartawan yang terus menghubungi mereka.
Tirtha yang masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu. Tidak membuat anggota humas melihat ke arah pria itu, kecuali Sella yang meneggakan punggungnya menatap Tirtha.
"Kemarilah sebentar." Ucap Tirtha tanpa suara, yang langsung dimengerti oleh Sella. Kini beranjak dari duduknya, melangkah keluar mengikuti Tirtha. Meninggalkan anggotanya, yang masih sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Vallen yang terlihat sudah kehabisan tenaga, kini menoleh kearah Yumna sembari mengerutkan keningnya. Saat dering telepon itu tidak Yumna terima. Membuat Vallen segera mungkin mengakhiri panggilannya bersama seseorang di seberang sana. Terus menanyakan hal yang membuat Vallen terus menerus membuang napas berat.
"Kenapa kau tidak menerima panggilan itu?" Desah Vallen, yang menatap Yumna dari samping.
"Tidak ada gunanya. Mereka akan tetap melayangkan artikel opini yang akan merugikan perusahaan." Yumna memberi sahutan tanpa membalas tatapan dari Vallen. Karena pandangan matanya fokus pada layar komputer yang menampilkan satu akun anonim.
"Apa dia orang dalam?" Gumam Yumna, yang menarik perhatian Vallen. Kini mendekatkan kursi kerjanya pada milik Yumna, untuk melihat apa yang tengah Yumna perhatikan.
"Dari postingan akun itu, kita yang menjadi sengsara." Lelah Vallen. Jika dirinya bertemu dengan pemilik akun anonim itu. Vallen akan memberinya pelajaran, karena membuat pekerjaannya yang mudah menjadi berat. Hingga otaknya sulit untuk merangkai kalimat saat ingin disuarakan.
"Hah!!"
Seruan itu mampu mengejutkan ketiga anggota humas lainnya, yang begitu kompak melihat kearah wanita bersurai sebahu itu. Dengan pandangan berbeda.
"Aku tidak lagi bisa menerimanya." Monolognya dengan wajah yang terlihat sangat frustasi. Dan wanita itu memilih berjalan keluar dengan langkah tergesa, karena dia ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya.
Yumna dan Vallen kini membalikan posisi duduk mereka dengan perlahan, melihat kepergian rekan kerjanya itu. "Jika pun dia marah, tapi wajahnya tidak menakutkan." Rendah Vallen yang sedikit merasa iri dengan mimik raut milik temannya itu.
Kepala Yumna hanya mengangguk sebagai jawaban, dan kembali membenarkan posisi duduknya seperti semula. Ingin memberi balasan postingan itu, tapi dengan cepat dihentikan oleh Vallen.
"Jika kau terus mengirimnya balasan, dia akan sadar jika kau bekerja di perushaan. Jadi hentikanlah." Timpal Vallen.
Yumna membuang napas gusar, menyandarkan punggungnya pada kursi. Dengan kepala yang merasa panas. Tapi sebisa mungkin Yumna harus menahan dirinya, untuk tetap tenang di saat daksanya mulai lelah.
"Aku harus pergi ke kamar mandi." Pamit Yumna kepada Vallen yang hanya mengangguk menyetujui.
Tapi saat Yumna mulai melangkah ke arah toilet, tangannya dengan cekatan merogoh saku belakang celananya tuk mengambil handphonenya yang bergetar. Melihat pesan singkat dari sang ibu, yang meminta Yumna untuk tidak pulang lebih dulu ke rumah. Karena malam ini ibunya mengadakan acara dengan ibu-ibu arisan.
"Bukankah itu sudah dilakukan bulan lalu? Kenapa di rumah ibu lagi? Apa tidak ada tempat lain?" Gumam Yumna dengan kening mengerut samar. Tapi Yumna tidak menaruh rasa curiga sedikitpun di benaknya, karena hal itu sudah biasa bagi Yumna yang selalu mendapat kabar dari sang ibu, jika dirinya dilarang pulang kerumah lebih dulu. Di saat ibu tengah berkumpul dengan teman-temannya.
"Kenapa teman ibu lebih banyak dariku?" Heran Yumna dengan napas gusar. Kembali melangkah ke arah tujuan utamanya, sembari menyimpan handphonenya.
Yudha menyimpan handphonenya di atas meja dengan lengkungan sempurna yang pria itu tampilkan, agar insan di hadapannya saat ini tidak mengatakan kalimat yang berbau kepalsuan. Karena jika sampai itu terjadi, usahanya datang menemui orang itu akan memiliki akhir yang sia-sia. Yudha sangat tidak menginginkannya.
Bagi Yudha, usaha harus membuahkan hasil. Jika pun itu jauh dari kata sempurna.
"Bagaimana, apa kau tidak ingin memikirkannya lagi?" Ulang Yudha yang tidak akan menyerah sedikit pun. Karena Yudha bukanlah orang yang mudah mengalah pada musuhnya. Apalagi kesempatan baik yang Yudha beri diabaikan, seperti tiupan angin sore.
"Kau yakin, jika aku pemilik akun itu?" Senyum genit dari sang lawan, hanya membuat Yudha terkekeh kecil.
"Mungkin saja, aku adalah orang suruhannya." Sambungnya yang terus menyimpan seribu makna dari sorot matanya itu.
"Dia menyuruh orang lain?" Kepala Yudha mengangguk, pandangan pria itu melihat ke sembarang arah sesaat. "Apa dia orang yang memiliki banyak uang?"
Diam, menelan ludahnya. Orang itu memainkan sebentar bibir tipisnya, sebelum memberi sahutan. "Mungkin. Jika tidak, aku tidak akan menerima uang darinya." Dengan sengaja atau memang itu sifatnya, punggung tangan kirinya kini berada di bawah dagunya. Dengan tatapan satu tapi entah kenapa itu terlihat seperti ingin menggoda Yudha.
"Berapa uang yang kau terima darinya. Mungkin aku bisa memberi mu lebih untuk menemukan diriku dengannya." Sebuah tawaran yang menarik akan Yudha lakukan. Jika pun hal itu pasti akan mendapat pertentangan dari para pihak perusahaan, apalagi Tirtha. Karena Yudha bertindak sendiri tanpa berdiskusi lebih dulu dengan tim manager.
Yudha tersenyum miring. "Sepertinya kau membutuhkan banyak uang untuk kebutuhan hidup mu. Jadi aku bisa membantu mu, jika kau juga membantuku." Sekilas Yudha melihat tas branded, dan kalung berlian yang ada di leher sang lawan bicara.
Wanita itu memutar bola matanya malas, dengan kedua tangan bersedekap dada. Punggung bersandar pada kursi. Rasa kesal mulai menguasi jiwanya. Karena wanita itu merasa jika harga dirinya direndahkan. "Jika pun kebutuhan ku banyak. Tapi aku bukan perempuan yang begitu senang menerima uang dari laki-laki seperti mu."
"Aku lebih baik bekerja dari pagi sampai pagi untuk mencari uang, ketimbang menerima uang itu secara percuma dengan perkataan yang menyinggung perasaan. Kau tahu__"
"Tunggu-tunggu," bukannya Yudha ingin menyela perkataan dari lawan bicaranya saat ini. Hanya saja, Yudha merasa jika wanita itu salah paham dengan perkataannya. "Kau kira, aku merendahkan mu?"
Sebenarnya Yudha tidak mau mencetuskannya. Hanya saja, Yudha harus meluruskan permasalahan itu sebelum menjadi luar. Karena Yudha tidak mau pulang membawa masalah. Itu akan merepotkan dirinya sendiri.
"Ternyata kau sadar." Senyum pahit yang terpancar diwajah sang wanita itu mampu membuat Yudha mengusap sekilas ujung hidungnya, sembari membenarkan posisi duduknya. Rasa gugup mulai menjalar keseluruh jiwanya.
"Aku tidak merendahkan mu, ataupun menyinggung perasaan mu. Aku disini hanya memberi mu tawaran. Hanya itu." Jelas Yudha begitu sangat hati-hati. Karena tidak mau lawan bicaranya salah tangkap apa yang keluar dari mulutnya.
"Tapi perkataan mu melukai harga diriku. Seolah-olah, aku ini perempuan gampangan yang gila akan uang."